Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 2)

Katolik yang taat, perokok berat, dan Menjadi Bendahara Mesjid

Kondisi Banjarmasin kala itu sering banjir sudah tak dapat ditoleransi lagi. Maka dengan tegas Gubernur Murjani memerintahkan Kepala Pekerjaan Umum Kalimantan Selatan kala itu, Van der Pijl, untuk mencari wilayah dataran tinggi. Van der Pijl berangkat menuju sebelah timur dari Kota Banajarmsin yang kurang lebih berjarak 35 Km. Lalu bermukimlah ia di wilayah yang memang berdataran tinggi Gunung Apam, Kabupaten Banjar, yang pada akhirnya dinamakan Banjarbaru.

Perjuangan yang tak mudah, nama Banjarbaru juga sempat mendapatkan protes dari berbagai kalangan yang entah dari pihak mana. “Itu juga lantaran ada orang yang alergi terhadap Belanda. Kira-kira sekitar tahun 1970 an. Maka sempat ingin dihapuskan dan diganti, tapi untunglah. Usaha-usaha yang membuat keluarga kami iris itu sudah berakhir. Dan sudahb mulai reda akhir 1977,” ujar Marijke kepada Media Kalimantan.

Maka setelah itu, Seiring perkembangan dan pambangunan yang terus digalakkan oleh pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan lewat Gubernur Murjani didukung rekomendasi dari Bung Karno selaku Presiden RI, Van der Pijl mulai gencar merancang serta menghitung titik-titik wilayah yang memang terhindar rawannya banjir di musim hujan. Pembangunan dimulai dengan membangun gedung perkantoran, jalan-jalan, serta perumahan. Banjarbaru pun di bagi menjadi empat wilayah, Banjabraru I, Banjarbaru II, Banjarbaru III, dan Banjarbaru IV.

Merokok dan Minun Kopi kala menggambar

Keseharian Van der Pijl pun tak luput dari kebersahajaannya. “Papa merupakan orang baik, murah senyum, tapi jiwanya sangat berdispilin tinggi dari segala aspel. Sangat loyal dan serius dalam bekerja. Aktivitas di rumah pun harus mengikuti apa kata Papa. Termasuk makan malam bersama yang rutin. Harus diingat, kalau tidak pulang ke rumah jam makan malam, pasti dimarahi. Kalau dalam islam mungkin namanya makan berjamah,” ungkap Marijke sembari tersenyum.

Selain itu pula, Van der Pijl terbiasa menghabiskan waktu sore nya dengan duduk bersantai di beranda rumah dengan segalas the panas. Dan ia sangat menjunjung tinggi dalam berbahasa Indonesia. “Kami di rumah memang selalu dibiasakan berbahasa Indonesia. Dan itu juga Papa yang minta. Maka dari itu, sampai sekarang saya tidak terlalu paham bahasa Belanda,” sahut Marijke.

Namun begitu, Van der Pijl hanya sesekali menggunakan bahasa Belanda kala berbincang dengan istrinya, Anna Gaspers. Diceritakan sang menantu, Djojok, Van der Pijl terbilang seorang perokok berat. “Papa itu perokok. Merek rokoknya Kansas dan Quil. Rokok yang paling ternama dan berkualitas tinggi kala itu. Ia juga peminum kopi. Terlebih disaat menggambar desain bangunan dan menulis,” tuturnya menceritakan.

Menata Kota Palangkaraya Untuk Menjadi Ibukota RI

Belum lagi rampung sepenuhnya pembangunan di Banjarbaru IV, Van der Pijl diperintahkan kembali oleh Bung Karno untuk membangun Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk perencanan pemindahan Ibu Kota RI dari Jakarta ke Palangkaraya pada akhir tahun 1950. “Kita diberikan kapal oleh pemerintah untuk menyebrang ke Palangkaraya. Untuk sampai ke sana kita sekeluarga menyusuri sungai Barito memerlukan waktu 2 hari. Maka di dalam kapal cukuplah kiranya ada dua kamar tidur dan satu dapur darurat untuk keperluan. Daerah yang kami itu namanya Kampung Pahandut,” papar Marijke.

Sebagaimana di Kalsel, Van der Pijl pun menjabat sebagai Kepala Pekerjaan Umum Sipil Kering. Dan disanalah, Van der Pijl membangun Kota Palangkaraya dari kantor pemerintahan, jalan akses utama perkotaan, sampai perumahan. Namun sayangnya, menjelang akhir 1961, Van der Pijl mendapati masa pensiunnya. Sampai disitulah buah karya Van der Pijl di Polangkaraya. Bangunan-bangunan dari rancangannya pun mempunyai ciri khas tersendiri seperti bebatuan kecil bercampur granit yang dipadu sedemikian rupa sering didapati pada kisi dinding bangunan. “Maka tak berapa lama usai Papa pensiun, kita balik lagi ke rumah ini. Jalan A Yani Barat No 3. Rumah yang di diami empat generasi, Papa Van der Pijl, saya sebagai anak, kemudian anak saya, dan cucu saya,” ungkapnya.

Meski terbilang pensiun, Van der Pijl tak mendapatkan pensiunan sebagai PNS sebagaimana mestinya, sebagai PNS golongan IVF, jabatan tertinggi masa itu. “Dulu itu mengurus segala administrasi dan surat menyuratnya harus ke Jakarta. Tidak ada sapeserpun dana pensiun itu sampai ke Papa. Entah ada permainan apa dari pejabat di atas kami tidak tahu. Pada akhirnya, Papa bertekad keras untuk mendirikan Sekolah Teknik Mesin (STM), dan Akademi Teknik Nasional (ATN). Telah direncanakan di bangun di belakang rumah ini,” ujar Djojok menunjukan. Hal tersebut juga sempat diurus usai meninggalnya, sebagai dana pensiunan Janda. Namun kala itu pihak keluarga kembali di suruh memilih. Kalau ingin pensiunan Van der Pijl, maka tidak ada pensiunan janda. “Maka kami putuskan untuk mengurus dana pensiunan jandanya. Ya, untunglah bisa dirasa sampai ini,” katanya.

Van der Pijl juga mendirikan bioskop yang berada di tengah lingkungan pasar. Namanya bioskop ‘Sederhana’. Berkenaan dengan itu juga ia pernah mendirikan bioskop di Pelaihati, Kabupaten Tanah Laut. “Ya, sekarang sudah tidak ada lagi. Kalau yang di Pelaihari berlokasi di saping lapangan sepakbola Hasan Basri. Mungkin sekarang sudah hancur jadi pemukiman penduduk, atau fasilitas lainnya,” certita Djojok.

Ketelatenannya dalam menulis dan kecerdasannya dalam ilmu hitung membuat Van der Pijl dipercaya panitia pengurus mesjid satu-satunya di Banjarbaru, Mesjid Banjarbaru sebagai bendahara. Atas pernmintaan Zafry Zanm-zam dan kawan-kawannya masa itu. (bersambung/ananda perdana anwar)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s