Kisah Para Penjaga Sandal (Bagian 1) Sandal Tertukar, Dimarahi Hingga Sahur

Baihaqi, Penjaga Sandal Mesjid
Baihaqi, Penjaga Sandal Mesjid

Mesjid Agung Al-Karomah Martapura. Halaman yang luas, serta tamannya yang rapi menjadikan pemandangan terlihat asri. Siapa sangka, ada cerita di balik kemewahan tatanan Mesjid nan Agung itu. Mereka, adalah orang-orang yang setia menyusun dan merapikan alas kaki para umat manusia yang akan melaksanakan ibadah. Dibalik pekerjaan yang dinilai sepele, terdapat tanggungjawab yang besar. Tak pernah terpikirkan di benak mereka untuk memiliki apa yang orang-orang titipkan. Dalam benak mereka, pekerjaan adalah amanah. Dan harus dijalankan sesuai perintah agama. Saban hari, bahkan telah berpuluh-puluh tahun profesi ini dijalani. Dengan adanya mereka, tak ada lagi ke khawatiran dikala sembahyang. Akan sandal yang berkemungkinan hilang. Kalau tidak dititipkan.

Seorang pemuda berperawakan kurus. Memakai baju kaos dan berkopiah haji. Ia tampak sedang asik menyusun beberapa sandal yang di titipkan oleh tamu-tamu Allah di Mesjid Agung Al-Karomah Martapura. Baihaqi (23) telah menjalani pekerjaan sebagai penjaga sandal kurang lebih 12 tahun. “Sejak Sekolah Dasar. Dulu itu, mesjid belum sebagus sekarang. Masih bangunan kayu,” katanya sembari memasukan sepatu ke dalam rak kayu yang mengelilingi setap kisi bangunan segi enam itu.

Teriknya sinar matahari tak mengurungka niat mereka untuk bermalasan. Tanggungjawab adalah prinsip utama mereka. “Pekerjaan yang santai namun serius. Apa saja yang pengunjung titipkan disini, itu amanah. Tidak hanya berupa sandal. Ada juga yang menitipkan tas dan bawaan lainnya,” ujar Baihaqi.

Menurutnya, belasan tahun menjadi seorang penjaga sandal adalah hal yang menyenangkan bersama rekan kerja lainnya. Tidak hanya yang muda. Yang telah tua juga ada. Seperti Pak Radi (40) yang merupakan senior di satu lahan pekerjaan mereka ini. System penjagaannya sama saja dengan beberapa perusahaan yang menerapkan sistem pergantian shift. “Kalau saya masuknya siang. Kalau sudah masuk waktu sholat, maka bergiliran. Kalau yang lain ikut shalat berjamaah. Maka yang seorang harus tinggal dulu di pos sandal ini untuk jaga. Lalu bergantian. Selalu berputar seperti itu setiap hari” Jelas Baihaqi.

Namun siapa sangka. Dibalik perannya sebagai penjaga sandal, Baihaqi adalah santri tamatan Pondok Pesantren Darussalam Martapura. “Dari kecil saya sudah bekerja menjaga sandal. Sampai masuk pesantren. Hingga lulus PP Darussalam di tahun 2008 lalu,” paparnya. Disinggung mengenai gajih, Ia mengaku tak seberapa. Hasil keseluruhan diserahkan ke pengelola masjid. Kemudian 10% dari hasil akan di berikan untuk para pekerja penjaga sandal. “Tergantung musim juga. Kalau sedang ramai, mungkin sehari dapat sekitar Rp20.000. Tetapi kalau sepi, pengelola mesjid kadang tidak mempermaslahkan kalau hasilnya semua untuk para pekerja,” tuturnya.  Di musim hujan kali ini, Baihaqi mengaku sepi. Dalam sehari bias saja kurang dari Rp 10.000. “Paling Ramai di Bulan Ramadhan. Karena kami jaga sampai malam. Juga di sepuluh malam terkahir. Karena orang-orang berdatangan untuk beribadah malam hingga sahur menjelang,” cerita Baihaqi.

Tak ada gading yang tak retak. Sepanjang kariernya sebagai penjaga sandal yang sudah belasan tahun. Tak pelak, bnyak sekali peristiwa yang membuat iris hati merkea bersama rekan kerja lainnya. “Waktu itu malam hari. Ketika mengambil sandal titipan, seorang pengunjung mesjid mengaku terukar. Kami berdua rekan lainnya dimarahi dan dicai-maki mulai sepertiga malam, hingga waktu sahur menjelang,” tuturnya seraya mengingat. Kebanyakannya, kata Baihaqi, orang yang mengaku kehilangan atau sandalnya tertukar pastilah sandal baru. “Entah mengapa, pasti saja pemilik mengungkapkan kalau sandalnya yang hilang atau tertukar pasti sandal baru,” ucapnya. Rekannya mengaku, karena memang kesalahan, kurangnya cahaya di malam itu memebuat beberapa sandal yang hampir sama modelnya tertukar. “Kami diminta untuk mengganti. Ya, kami juga memohon kepada si pemilik agar di beri keringanan. Seperti separuh dari harga baru, biar kami bisa patungan dengan rekan lain. Supaya tidak terlalu berat juga,” beber Baihaqi yang menceeritakan peristiwa itu bersama rekan kerjanya. (bersambung)

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s