Kisah Para Penjaga Sandal Mesjid (Bagian-2/Habis) Barokahnya, Dititipi Sandal Orang-orang Besar

Baihaqi, sering dititipi sandal oleh ulama dan pejabat
Baihaqi, sering dititipi sandal oleh ulama dan pejabat

Namun, ada juga berkat yang mereka dapatkan selama menjalani hidup berprofesi sebagai penjaga sandal. Disaat santri-santri lain berebut ingin memperoleh berkat menyentuh atau mengambilkan sandal tuan guru. Para penjaga tak perlu repot mendatangi sang guru. Malah sebalikya, tuan guru yang menyerahkan sandalnya dengan sukarela.

Dua belas tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Manis pahitnya keseharian telah dilalui Baihaqi bersama rekannya dengan penuh kesabaran. Apalagi, tak ada tarif yang menentukan untuk pengunjung membayar jasanya. “Terserah. Disini sistemnya sukarela. Seikhlasnya pengunjung saja berapa mau memberi,” tuturnya Baihaqi.

Dalam konteks ekonomi yang pas-pasan. Ayah Baihaqi yang keseharianya bekerja sebagai penarik becak dan ibunya yag saban hari berkecimpung dengan pekerjaan rumah tangga, tidak menunda Baihaqi menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Darussalam. Tetapi, apakah ada pemasukan lain di samping gajih sebagai penjaga sandal yang tidak seberapa? Baihaqi mengaku, pernah menjual sejumlah kalender titipan rekan santrinya di PP Darussalam. “Setiap tahunnya, pondok selalu mengeluarkan kalender. Nah, sembari membantun Koperasi sekolahan, biasanya ada teman yang menitipkan kalender untuk dijual di stand sandal mesjid. Hasilnya, cukplah untuk tambahan uang saku. Disamping itu, uangnya, kan, juga menjadi amal jariyah untuk kemaslahatan pondok,” jelasnya sambil melayani pengunjug.

Demikian diceritakan, ada yang menarik semasa Baihaqi bekerja. Yaitu, dititipi sandal oleh orang-orang berdahi alias berpangkat tinggi. Seperti Bupati, Kapolres, bahkan para tuan guru yang menurut tradisi santri, apapun yang ada di diri tuan guru adalah berkat. “Pernah ada orang yang nitipkan sandal disini. Saya sempat curiga, soalnya banyak ajudan yang mendekeng di belakang beliau. Setelah tanya sana-sini, eh, ternyata Bupati Hulu Sungai ketika mau berkunjung ke Kantor Bupati Banjar. Tapi saya lupa, entah Hulu Sungai mana,” tuturnya dengan lugu sembari mengingat. Sempat juga Kapolres Banjar menitipkan sepatunya ke Baihaqi. Yang paling berkesan menurut Baihaqi, adalah dititpi sandal oleh Al Mukarram K.H Abdul Syukur. “Alhamdulillah semasa beliau hidup dan rutin shalat Jumat disini (Mesjid Al-Karomah), saya memegang sandal beliau. Tidak repot seperti santri lainnya yang mengharapkan berkat dari memegang dan mengambilkan sandal almarhum. Allahumma yarham,” tutupnya sembari dengan berdoa. Alhasil, dibalik pekerjaannya. Ia bersyukur dengan apa yang sudah diberikan. Dan ia berharap, selalu ditambahkan dan dimudahkan rezeki oleh Allah SWT. (habis)

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s