Kisah Penjahit Sepatu (Bagian 1) Sering ditawar Sadis oleh yang Turun Pakai Mobil

Husaini, Penjahit Sol Sepatu di Sekitar Mesjid Hidayatul Muhajirin Banjarbaru
Husaini, Penjahit Sol Sepatu di Sekitar Mesjid Hidayatul Muhajirin Banjarbaru

Pabila melintas di Jalan Beringin Banjarbaru, Maka anda akan melihat para penjahit sol sepatu yang berjejer seperti menggelar dagangan di Sekitar Masjid Jami Hidayatul Muhajirrin. Dengan keterampilannya menjahit, bermodalkan benang dan jarum, berkat bakatnya, jadilah sandal/sepatu yang tak layak pakai menjadi baru.

Berteduh di bawah rindangnya pohon. Dengan payung berwarna warni, membuat Adi (40) betah bekerja sebagai penjahit sepatu di lingkungan masjid tersebut. “Daripada nganggur, dan ada kebisaan, kenapa tidak kita manfaatkan,” ujarnya kepada saya. Sudah berpuluh-puluh tahun ia menjalani profesi sebagai penjahit sepatu. Ia juga tidak menyangka kalau pekerjaan yang sekarang ini lebih awe dari pekerjaan sebelumnya. Memang, pernah dulu ia menjadi seorang buruh bangunan, “Gajihnya juga tak seberapa, sering disuruh-suruh pula. Kecapean, iya,” katanya.

Biasanya, para penjahit sol sepatu ini mulai menggelar standnya dari pukul 09.00 Wita hingga menjelang petang, sebelum adzan Magrib berkumandang. Mengenai pengahasilan setiap hari, mengenai upan tiap pasang sepatunya. Adi mengaku bervariasi. Dari harga 3 ribu, 7 ribu, 10 ribu, sampai 20 ribu. “Tergantun jenisnya. Kalau sekadar menjahit yang robek sedikit. Murah saja. Tapi kalau sudah menjahit sepatu larasnya tentara, tentu biaya agak mahal karena tingkat kesulitannya lebih tinggi,” tutur Adi sembari menjahit sepatu olahraga di tangannya.

Namun dibalik itu semua, Adi bersama rekannya, sering menemui pelanggan yang keras hati. Kada minta selesai cepat. Ada juga yang mau mengabil sehari sesudah diantar. Eh, ternyata malah datang sebulan sesudahnya. “Yang terkadang membuat kita iris hati. Yang turun pakai mobil. Nitip sandal buat dijahit sepasang. Eh, nawar upahnya sadis. Yang seharusnya 10 ribu, ia malah nawar sampai seribu rupiah saja,” ungkapnya. “Ya, kalau nawar itu, kan, sewajarnya saja,” Sahut Husaini (35) disebelahnya.

Meski demikian, Adi dan Husaini terkadang maklum dengan berbagai kareakter pelanggan yang bermacam-macam. “Malah, ada yang ngqanter Cuma pakai sepeda. Tapi, nggak banyak celoteh kayak yang pakai mobil. Diminta bayarnya segitu, ya, dia bayar segitu,” akunya lagi. (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s