Lamban Disikapi, Lenyap Disapu Banjir

Riati padrah harta bendanya lenyap disapu banjir
Riati pasrah harta bendanya lenyap disapu banjir

Hujan pada Januari ini, memang tak sesering Desember kemarin. Tetapi beberapa titik wilayah yang sempat dilalui banjir menyisakan akibat yang membuat miris hati. Seperti yang terjadi pada keluarga Syahrul (48) bersama keluarganya yang tinggal di Keurahan Guntung Manggis No 42 RT 13 RW 11. Ibu Syahrul, Riati (70) yang berjalan terbongkok-bongkok dan adik Syahrul, Samin, (18) terpaksa mengungsi kerumah tetangga yang lebih tinggi lantaran rumahnya yang berada di banteran sungai terendam banjir hampir satu meter di dalam rumah. “Sudah dua hari dua malam rumah terendam. Perabotan rumah semuanya hanyut di bawa air. Dari lemari pakaian, ranjang, sampai kakus yang diluar ikut hanyut,” ungkap Riati kepada saya.

Selama 40 tahun, Riati yang sudah tak dapat berkomunikasi dengan normal tinggal bersama anaknya mengaku baru kali ini menemui luapan air sungai yang terlalu tinggi. Diceritakan Syahrul, ia yang saban harinya bekerja sebagai buruh perabotan hanya berniat untuk mengayomi orang tua, “Mau gimana lagi. Ibu sudah tua. Pindah kemana? gak ada punya tempat lain,” ujarnya.

Lalu, mengapa air sampai terlampau tinggi merendam rumah Riati dan anaknya? Syahrul mengaku, selain lambannya pemerintah menyikapi masalah ini, juga tersebeb masalah gorong-gorong di bawah jembatan terkalang batu. Sehingga air yang mengalir tertahan. “Padahal, kita dari warga sekitar ini menunggu kebijakan dari pemerintah, apakah mau diperbaiki, atau dibiarkan begitu selamanya. Menunggu barang-barang di rumah sudah habis, barulah mereka turun tangan,” katanya.

Rumah Riati dan keluarganya yang berada di dataran rendah
Rumah Riati dan keluarganya yang berada di dataran rendah

Sebelumnya, Syahrul mengaku pernah mengontak temannya kalau-kalau bisa memberikan utangan berbentuk batu gunung. “Ya, hitung-hitung memperbaiki yang rusak sedkit,” jawabnya. “Semuanya hanyut. Termasuk persedian beras untuk makan, dan lemari tempat pakaian hancur ludes,” keluhnya sembari menunjukan ke tempat benda yang di maksud. Namun di balik keterbatasannya, Syahrul mengaharapkan bantuan dari pemerintah kota guna memperbaiki kerusakan dan mengayomi keluarganya sebagai Warga Negara Indonesia. “Tergantung pemerintah juga, sih. Semoga dibantu, entah merenovasi rumah atau mengganti. Kasihan ibu, menunggu uang dari saya lambat juga,” pungkasnya seraya mengumpulkan puing-puing papan bekas hanyut. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s