Mengintip Kehidupan Santri di Banteran Sungai Martapura

Kehidupan Santri PP Darussalam di Banteran Sungai Martapura
Kehidupan Santri PP Darussalam di Banteran Sungai Martapura

Mengungsi Ketika Banjir Datang

Sungai Martapura. Sebagai sungai terpanjang di Kalsel tentu sudah banyak membrikan banyak manfaat kepada warga banjar yang setiap hari menggantungkan keperluannya di sungai ini. Dari mandi, mencucui, dan lain hal sebagainya. Seiring tingginya curah hujan akhir-akhir ini, menyebabkan luapan air sungai yang tak lagi terbendung oleh kondisi tanah yang kian terkikis akibat erosi. Lalu, bagaimana kehidupan asarama para santri yang terpaksa harus mengungsikan perabotannya? Tersebab pondokan tempat tinggal mereka terenda banjir.

Muhammad Basir (21) terpaksa harus mengangkut kasurnya yang sudah 8 tahun menemani mondok di Antasan Senor Ilir sebagai Santri Pondok Pesantren Martapura. Lantaran air sungai martapura meluap hingga merendam kamarnya yang berbahan kayu di lantai bawah. Maklum saja, jalan menuju asrama Basir menjorok ke bawah jika kita memulainya dari jalan raya. “Sudah tiga mala mini saya ngungsi, menginap di kamar kawan di tingkat 2. Khawatir kalau-kalau banjirnya makin tinggi,” tuturnya kepada penulis

Seorang santri sedang mencuci pakaiannya di banteran Sungai Martapura
Seorang santri sedang mencuci pakaiannya di banteran Sungai Martapura

Tadi malam, tepatnya kamis, dini hari, hujan yang turun cukup lebat membuat Basir dan Fulah sangat khawatir. Lantaran arus sungai yang terlalu deras. “Kami satu malam berjaga-jaga. Takut kalau asramanya roboh di terjang air bah,” akunya. Mau bagaimana lagi, banjir yang melanda daerah ini sudah menjadi agenda rutin tahunan pagi para santri PPD yang bermukim di Antasan untuk bersiap mengangkut barang-barangnya kerumah yang lebih tinggi. “Sama saja, tahun lalu juga begini. Apalagi isu bendungan yang hampir jebol tahun lalu,” sahur Nisfullah (18) teman sekamar Basir.

Banjir Hingga ke Dalam Asrama di Antasan Senor Martapura
Banjir Hingga ke Dalam Asrama di Antasan Senor Martapura

Untuk mengatasi kondisi ini, Basir dan Pulah (Panggilan Akrab Nisfullah) mengaku harus rela memasak dengan kaki yang terendam. Tetapi untunglah, benjir di dapur mereka hanya sesaat. “tengah malam tadi sampai dapur, tapi siang ini airnya sudah turun,” beber santril kelas 2 Ulya (setara Aliyah) Lokal L ini.

Meski demikian, kegiatan belajar dan pengajian di wilayah sekitar Antasan tetap berjalan lancar sesuai jadwal. Seperti di asrama KH Zarkasyi, Majelis Sabilal Anwar pimpinan KH Sukri Unus, dan majelis ilmu lainnya di sekitar sungai Martapura

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s