Sepenggal Kisah Pembuat Pupur Basah

Dulu, pupur dingin atau pupur basah dipercaya orang sebagai satu-satunya kosmetik untuk mempercantik dan menghaluskan kulit muka. Kini, tak banyak orang yang menggunakannya. Boleh dikata keberadaan pupur dingin telah digantikan oleh kosmetik-kosmetik berbahan kimia. Meski demikian, mempertahankan tradisi warisan orang dahulu menjadi sebab orang-orang yang masih memproduksinya hingga sekarang. Seorang nenek yang tinggal di Jalan Sasaran No 14A RT 5 RW 2 Kelurahan Keraton Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar, Hj Sebbah (73) menjalani hari-hari sebagai pembuat pupur dingin telah dilakoninya selama 40 tahun. “Bahalat dua talu hari haja kada maulah, rasa sakitan awak. (Selang dua atau tiga hari saja tidak membuat. Badan rasanya sakit),” ucapnya sambil mempraktekkan proses pembuatan pupur dingin kepada penulis.

Hajjah Sebbah Sedang Mempraktikan Membuat Pupur Dingin dirumahnya
Hajjah Sebbah Sedang Mempraktikan Membuat Pupur Dingin dirumahnya

Ada yang menyebutnya sebagai pupur dingin, pupur basah, dan pupur kuning. Ada pula juga yang menyebutnya dengan pupur baras. Alhasil, semua sama jenisnya. Yang membedakan hanyalah beberapa bahan pokok dan proses pembuatannya. Sedangkan Hj Sebbah membuatnya dengan beberapa campuran bahan yang biasa disebut dengan bumbunya. Misal: Pucuk ganti, Mangsoye, Bunga Sisir, Kayu manis, Adas manis, Kulambak, Kulabat, Ragi dan Pula Santan. “Terkadang ada juga yang bikin dengan campuran tanah liat, tapi aku tidak bisa,” katanya.

Awalnya untuk membuat pupur dingin tersebut beras yang sudah dihancur. Lalu direndam dua hari dua malam. Kemudian disaring. Setelah menjadi agak lembek seperti adonan kue, digiling berbentuk bulat-bulat kecil dan dijemur. “Menjemurnya juga tak boleh terlalu lama. Karena kan mudah hancur,” tuturnya.

Sekian lama ia menjalani profesi sebagai pembuat pupur dingin, banyak orang dari segala penjuru Nusantara yang memesan atau membeli langsung dengan datang kerumahnya. Diantaranya orang Martapura, Kotabaru, Samarinda, Sungai Danau, Ujung Pandang, hingga Arab Saudi. “Orang yang membeli bermacam-macam.  Ada yang perbungkus, harganya dari 500 rupiah hingga 1000 rupiah, tergantung takaran. Ada juga yang beli sekalian 500 ribum” papar nenek.

Sehari kadang tak menentu. Ada saat laris manis, ada juga tak ada yang membeli sama sekali. Membuatnya juga tak ada batasan waktu tertentu, kalau lagi ingin, bisa pagi sekali, siang hari. Atau malam. “biasanya kita mmbutuhkan 5 liter beras. Selain tergantung situasi dan kondisi. Factor cuaca juga menentukan. Kalau msuim hujan datang, kita jarang sekali produksi karena tak bisa menjemur,” bebernya.

Selama ini ia sudah punya distributor di pasar, di rumah-rumah, atau di toko. “Terserah orang yang membeli maunya diapakan. Entah dipakai sendiri, dijual lagi, atau di gunakan sebagai obat. Tapi saya tidak pernah mau ada embel-embel namas di bungkusannya” jelas Hj Sebbah berkilah.

Pupur dingin tersebut tetap kuat untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama. “Kalau untuk menyimpan sendiri tak pernah lebih dari 3 bulan. Karena kadang ada yang datanguntuk mengambil pesananya. mEski disimpan sendiri pun, setahun-dua tahun tidak apa. Tetap bagus.” Tegasnya.

Selain digunakan untuk mendinginkan kulit muka dan menghindari kotoran di wajah. Pupur Dingi ala Hj Sebbah ini tak sedikit yang memakainya untuk oleh-oleh bagi keluarga yang senang dengan pupur dingin. “Kadang juga dijadikan sebagai oleh-oleh. Juga biasa dipakai seagai pupur Galuh Banjar. Untuk menghadiri resepsi kawinan pun saya hanya memakai pupur ini. Tak pernah yang lain,” ungkapnya.

Hj Sebbah yang lahir pada tahun 1940 ini, telah menjalani profesi sebagai pembuat pupur dingin sejak remaja sekitar tahun 1965.

Siapa sangka, barokah yang didapat nenek Sebbah. Hanya dengan menjual pupur dingin, ia sudah bias membeli rumah sendiri untuk tempat tinggalnya beserta anak dan beberapa cucunya. “Alhamdulillah ada bekatnya. Meski tidak bagus rumahnya, tapi cukup untuk tempat tinggal,” ngkap nenek. Diceritakan nenek, kalau rejekinya lagi bagus, 3 blek dalam sepekan, ada saja urang nang membeli pupurnya.

Dari hasil membuat dan menjual pupur dingin itu, ia mampu membeli rumah dan naik haji. Namun apalah daya, Hj Sebbah sudah tak lagi muda. Kemampuannya pun kini kian terbatas. “Karena terlalu capek, untuk menggiling dan membeli bahannya, saya beri upah orang yang mau menyaring dan untuk disuruh-suruh. Upahnya 3 irbu rupiah/liter. Jadi saya minta gilingkan dan sarin lima liter dengan upah 15 ribu. Sudah gak bias kelamaan duduk,” ujarnya. Ia berharap, semoga pekerjaannya ini tetap membawa barokah. Dan cukup untuk membiayai sendiri tanpa harus merepotkan anak-anaknya. []

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s