Pengawas Harus Teliti

Pelaksanaan UN di SMAN 2 Banjarbaru Sempat Membuat Panik Para Pengawas Karena Kekurangan Soal dan LJK Bolong

Hari kedua pelaksanan UN di tingkat SMA/SMK sederajat untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di Jam pertama dan Mata Pelajaran Jurusan IPA Fisika/IPS Ekonomi beberapa sekolahan di Kota Banjarbaru terbilang lancar. Meski demikian, beberapa pengawas dan peserta UN SMAN 2 Banjarbaru sempat panik pada jam pertama lantaran jumlah soal yang dibagikan tidak cukup dengan jumlah peserta. “Mau Bagaimana lagi, sudah tidak ada cadangan untuk soal paket D,” ujarnya kepada hirangputihhabang.wordpress.com, Selasa, (17/4) kemarin.

Soal-soal UN tersebut diantar dengan mobil panitia Avanza bernopol DA 8751 PA dan dikawal oleh beberapa anggota polisi menggunakan sepeda motor. Pada awalnya masalah kekurangan soal itu dilaporkan oleh pengawas ruangan I ke Penanggun Jawab UN bahwa ada peserta yang tidak mendapatkan soal paket D. Ditambah lagi dengan tidak tersedianya cadangan untuk soal paket D.

Penanggung Jawab UN SMAN 2 Banjarbaru Saryono SPd mengaku sempat kebingungan. Mengantisipasi masalah tersebut ia sempat mencari-cari di setiap kelas kalau-kalau ada yang kelebihan soal. “Setelah itu saya langsung menelpon ke Dinas Pendidikan Banjarbaru meminta petunjuk. Tapi kata pegawai dari Disdik kita disuruh memfoto copy soalnya. Ternyata, belum sempat difoto copy, pengawas datang dan memberi tahu kalau kertas tersebut hanya terselip di peserta lain,” tuturnya menceritakan.

Menurutnya, soal-soal yang diberikan tidak jauh dari materi yang sudah diajarkan dewan guru di sekolah-sekolah. “Hal tersebut sudah sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) nya. Oleh sebab itu, pihak sekolah tentunya sudah ancang-ancang untuk memberikan materi yang seharusnya,” akunya.

Untuk teknis persoalan waktu mengerjakan soal, ia mengatakan seblum waktu hak siswa mengisi soal tiba yaitu pada jam 08.00 Wita, maka 20 menit sebelumnya peserta UN diberi peringatan untuk segera masuk kelas guna mengisi identitas, nama, tanggal, kode, dan sebagainya. Hal tersebut bertujuan agar hak siswa untuk mengerjakan selam 2 jam itu tidak terkurangi.

Untuk para peserta UN di SMAN 2 Banjarbaru yang berjumlah 225 siswa ini diawasi dengan 18 pengawas independen dari luar sekolah SMAN 2 Banjarbaru. Itu juga dijaga oleh keamanan dari kepolisian namun tidak memakai seragam. Dikatakan Saryono, hal itu sengaja agar tidak mengganggu psikologis siswa peserta UN dalam mengerjakan soal UN. “Kita menginginkan agar para siswa itu tidak ada rasa dikawal dengan ketat sehingga menimbulkan rasa stress dan takut,” terangnnya.

Demikian pula, sebagaimana peraturan yang sudah dimumukan bahwasannya peserta UN dilarang membawa alat komunikasi apapun. Entah itu telepon genggam, Mp3, Komputer Lipat, Tablet, atau benda elektronik lainnya. Seluruh tas yang dibawa siswa juga diletakkan dan dikumpulkan di atas meja di luar kelas. Hal itu dilakukan agar tidak mengganggu konsentrasi siswa saat belajar. “Kalau dia menyimpan hape di dalam tas lalu merasa kalau hapenya bergetar. Maka konsentrasinya terganggu lantaran terbesit hasrat ingin mengambil hape yang ada di dalam tas. Oleh sebab itulah kita mengatur agar seluruh tas diluar saja. Selain itu juga memudahkan para pengawas agar tidak terlihat sumpek di dalam kelas,” paparnya.

Usai pelaksanaan, LKJ peserta tersebut dibawa ke Dinas Pendidikan Banjarbaru untuk dikumpulkan lalu dibawa ke Unlam Banjarmasin untuk dipindai ke komputer. Setelah itu barulah pihak Unlam mengirim file-file tersebut ke pusat.

Menanggapi sistem UN yang diterpakan pemerintah di Indonesia, Suryono berharap penyelenggaraan UN tidak hanya menjadi standar kelulusan. Tetapi bisa menjadi jaminan bagi siswa yang berprestasi masuk ke perguruan tinggi. “Ya kasihan mereka juga, kan. Nanti setelah masuk dihadapkan kembali dengan program penerimaan PT seperti SENYUM, SMPTN, dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Seoarang siswi peserta UN di Kelas XII IPS 3 Ihda Rahmawati Pratiwi mengaku, soal yang diberikan standar saja. Tidak terlalu sulit dan tidak pula terlalu mudah. “Kalau menurut aku sih relative sedang. Alhamdulilah materi-materi yang diajarkan para guru itu sesuai dengan soal-soal yang diberikan,” ungkapnya Tiwi, panggilan akrabnya ketika diwawancarai wartawan MK usai mengerjakan soal.

Diakuinya, soal-soal yang berlainan jenis tersebut bukan nomor atau urutan jawabannya saja yang diacak. “Tetapi kita menemukan soal tersebut memang berbeda sama sekali dengan yang lainnya. Itu kita ketahui setelah bediskusi dengan teman di luar kelas. Semisal penggantian kalimat, angka, dan rumus-rumus yang berbeda untuk soal mapel fisika. Tapi kalau Bahasa Inggris hanya kalimat tense verbnya saja yang dibikin variatif. Pokoknya, sangat tidak sama dengan soal-soal lainnya,” jelas Tiwi.

Sedangkan menurut siswi lainnya, mengaku tidak ada sedikit pun usaha untuk menyontek. Lain lagi dengan Selvia Apriani dan Nia verawati, ia mengaku hasrat ingin mencontek memang ada. “Tapi, ya tetap gak bisa karena jenis soalnya kan, sudah berlainan. Ditambah lagi para pengawas yang setia banget sama kita-kita. Gak mau pergi gitu. Sekali-kali keluar gitu,” ungkap Nia.

Selain itu ada pula Marandani, salah seorang peserta di ruang VII membuat Lembar Jawab Komputer (LJK) berlubang alias bolong. Dikatakannya, hal tersebut karena terlalu semangat ketika menjawab soal. “Awalnya saya ingin mengganti jawaban. Rupanya karena terlalu tekan jadinya bolong. Untunglah ada gantinya. Meskipun saya harus memulai dari awal,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s