Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 1)

Van der Pijl Muda, sebelum hijrah ke Indonesia
Van der Pijl Muda, sebelum hijrah ke Indonesia

Siapa sangka, Kalimantan yang kental akan tradisi adat, ragam, dan budaya ini dulunya punya seorang arsitektur handal asal Belanda. Ia mengabdikan hidupnya dengan segala keuletan artsitektur untuk membangun kota-kota di Kalimantan. Adalah Dirk Andries Williem Van der Pijl. Pria Kelahiran Brakel, Netherland 23 Januari 1901. Lalu, Bagaimana perjuangannya dalam mendirikan kota dan menatanya di Kalimantan? Berikut penelusuran wartawan Media Kalimantan, Ananda Perdana Anwar.

Pada tahun 1947, pasca tahun kedua dikumandangkannya teks Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno (Presiden pertama RI), pembangunan-pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia kian digencarkan. Tak luput dari perhatian, Kalimantan pun sempat diusulkan menjadi lokasi strategis Ibu Kota RI. Itu lantaran titik kordinat paling tengah Negara Republik Indonesia ini berada di Kalimantan. Tepatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Bung Karno kala itu menginginkan seorang yang mumpuni dalam bidang tata kota dan bangunan. Tak pelak sebagai seorang sarjana teknik dan mempunyai pemahaman luas dalam arsitektur, Van der Pijl diminta untuk datang ke Indonesia dan menetap untuk sekian waktunya. Dan kota pertama yang disinggahinya adalah Balikpapan, Kalimantan Timur.

Memang waktu tak berlangsung lama, Van Der Pijl yang kala itu menetap di Balikpapan dengan istrinya yang berdarah Ambon, Anna Gaspers (1917-1994), sedang hamil anak keduanya dari Anna (Ia mempunyai anak dari istri pertamanya di Belanda dan dikaruniai dua orang anak pula), lahirlah si bungsu, Marijke Elizabeth pada 29 Oktober 1949 yang menceritakan langsung perjalanan Papa (panggilan Van der Pijl) kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com. Didampingi suaminya, menantu Van der Pijl yang berdarahkan Yogyakarta, Djodjok Rahardjo, bertempat di kediaman pribadi Jalan A Yani Barat No 3 Banjarbaru. (Saat sekarang lahan dan rumah ini sedang bersengketa oleh pihak perusahaan otomotif dan terancam dimusnahkan, red). Kakak dari Marijke, Hj Andrea Cornelia, wafat dalam keadaan muslim pada usia 65 tahun (1946-2011).

Pada tahun 1950, Bung Karno atas nama Pemerintah RI memberikan pilihan kepada Van der Pilj untuk mengurus kewarganegaraannya. Menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau pulang ke Belanda. “Karena kalau tidak, kita sekeluarga mungkin tak akan tinggal di Banjarbaru seperti sekarang ini,” Ujar Marijke menceritakan.

Beruntunglah masa itu Van der Pijl tidak mendapati waktu yang terlampau lama untuk mendapatkan status kerawaganegaraannya. Van der Pijl menjadin PNS dan menjabat sebagai kepala Pekerjaan Umum (PU) sipil kering di Kalimantan Selatan. Tempo itu Pegawai dalam ranah teknik dibagi menjadi dua bidang yaitu Sipil Kering dan Sipil Basah. Sipil Kering khusus menangani berbagai persoalan infrastruktur pembangunan gedung dan tempat tinggal. Sedangkan Sipil Basah menangani berbagai pembangunan, jembatan, drainase dan pengairan. Meski sebagai Sipil Kering, Van der Pijl seorang artsitektur total.

“Tak hanya menggambar dan membangun gedung saja, dari drainase, jarak jalan kota, dan semua diatur papa dengan perhitungan yang akurat,” jelas Marijke. Oleh sebab itulah, ia sempat didatangi orang-orang dari Ikatan Arsitekt Indonesia untuk meberikan penghargaan dan antusias tinggi kepada Van der Pilj.

Pada masa pemerintahan Gubernur Kalsel dr Murjani (1950-1953), atas perintah Bung Karno, Van der Pijl telah menetap bersama keluarganya di Jalan Kuripan Nomor 1 Banjarmasin. “Waktu itu, Gubernur Murjani yang memimpin apel pagi, sangat resah dan gamang melihat keadaan tanah Banjarmasin yang sering terendam air. Terlebih saat musim hujan datang. Gubernur Murjani pun berpikir untuk segera memindah Ibu Kota Kalsel kala itu. Karena kondisi tanah di Banjarmasin sudah terlalu rawan akan bahaya banjir,” Djojok menuturkan.

Gubernur Murjani pun ambil sikap. Ia memerintahkan Kepala Pekerjaan Umum, Van der Pijl  mencari wilayah dataran tinggi. Dengan niat yang tulus dan pengabdiannya yang loyal kepada pemerintahan di Kalimantan Selatan, Van der Pijl berangkat menuju sebelah timur dari Kota dan menemukan wilayah yang memang berdataran tinggi di Kabupaten Banjar. Adalah Gunung Apam. (bersambung/ananda perdana anwar)

Iklan

4 comments

  1. Selamat malam, Bung Ananda Perdana Anwar. Salam kenal, saya Marco Kusumawijaya. Apakah Bung ada di Banjarmasin? Kalau ada ingin jumpa sambil menggali lebih dalam pengetahuan Bung tentang Van der Pijl, sekiranya berkanan. Saya ada di Banjarmasin hingga Selasa (2 Agustus 2016) sore. Terima kasih sebelumnya.

  2. “bungul” nya lah puluhan tahun tinggal di Banjarbaru, baru tahu kisah pembangunannya. Terimakasih telah memberikan pencerahan. Walau saat ini tinggal di Samarinda tapi masih punya tempat tinggal di Banjarbaru, jl. barito 24 rumah dinas yang di dump di lunasi selama 20 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s