Sudah Diterapkan, Antrian tak Berkurang?

Pasca diterbitkannya surat edaran berbentuk Gubernur nomot 500/00510 yang berisi tentang pembatasan pembelian BBM untuk jenis roda dua Rp 20.000 dan roda 4 Rp 100.000 tidak juga merubah kondisi antrian untuk satu hari pertama, Kamis, (26/4) kemarin. Hal tersebut begitu tampak dengan kasat mata melihat panjangnnya antrian sebagaimana biasa. Padahal dari pantauan hirangputihhabang.wordpress.com di lapangan, dari SPBU Liang Anggang, Landasan Ulin, SPBU Loktabat, SPBU Coco, sampai SPBU Simpang Empat sudah menerapkan peraturan itu dengan menempelkan surat edaran tersebut di display harga mesin SPBU dan memberi peringatan kepada pembeli yang ingin melanggar instruksi tersebut.

Menanggapi sikap pemerintah mengenai pembatasaan pada pembelian BBM di Kalsel khususnya di respon positif oleh Kepala SPBU Coco Jl A Yani Km 34 Andi Wasis didampingi Pengawas Penyaluran BBM di SPBU Coco, Wahyu. Andi mengaku justru telah lama menunggu-nunggu keputusan dimana dampaknya tentu juga akan dirasakan penyalur outlet bisnis pertamina. “Kami pihak SPBU terima surat edaran instruksi tersebut via fax ke nomor kantor sekitar jam 10 an. Tentu kami sangat mendukung sekali. Sampai ada titik jelas bagaimana perilaku bisnis premium di Kalsel. Oleh sebab itulah, surat itu kita print dan sudah kita tempel di display agar para pembeli mengerti kita menegur karena sudah peraturan pemerintah. Karena kalau melanggar sudah pasti kena sanksi,” ujarnya ketika diwawancarai penulis.

Maka dengan cara ini, tambahnya,  paling tidak konsumen yang memebeli BBM khususnya di SPBU Coco tahu peraturan pemerintah. “Kita berharap juga pihak kepolisian betul-betul mengawasi,” katanya. Sebagaimana ketentuan cara niaga premium bersubsidi, bagi SPBU selaku outlet penyalur, banyak ataupun sedikit yang membeli baginya sama saja. Di SPBU Coco sendiri jatah yang dipasok tetap saja tidak berubah. “Di sini 40 ton per hari. Mau berapapun juga orang beli, quotanya tidak bertambah. Sama saja,” terangnya.

Ketentuan itu diharapakan bisa mengatisipasi penimbunan, pelansiran, pengumpul, dan kawan-kawannya yang masih saja banyak berkeliaran belahan-belahan kota. Juga diharapakan bisa mengurangi antrian yang semakin hari makin membabi-buta. Namun, apakah ada jalur khusus dari oknum polisi untuk pembelian berlebih atau pihak pejabat yang free antre? Diakui Andi, memang dulu sempat ada oknum-oknum jalur khusus karena kepentingan. “Kalau kepentingan itu kelancaran tugas ya kami kasihkan saja. Tapi marakanya pemberitaan isu keterlibatan oknum tersebut kini sudah tidak ada lagi,” jelasnya.

Para Pelansir Menyamar

Hanya untuk membeli 2 atau 3 liter saja, masyrakat haru rela mengatre hampir 1 jam lamanya. Hampir di seluruh SPBU yang tersebar di Banjabaru para pengantri yang mengguakan tangki besar lebih mendominasi. Tarmiji salah seorang warga yang mengantri mengaku sudah setengah jam mengantri di SPBU simpang empat Banjarbaru. “Kami sengaja pagi-pagi sekali ingin mengatri karena harga di eceran sudah tidak dapat ditolerir. Ada yang menjual 7 ribu rupiah sampai 8 ribu rupiah. Namun ketika datang ternayta sudah ada pembatasan BBM dari pemerintah, ya kita ikut aja. Karena udah niat, sudah saya rela untuk menunggu,” ujarnya kepada hirangputihhabang.wordpress.com.

Meski demikian, setelah pukul 1 siang, beberapa antrian terlihat mulai berkurang karena rata-rata stok premium sudah habis menjelang sore hari. Ditemui di SBPU Coco Jl A Yani Km 34 Banjarbaru, Kasatlantas Polres Banjarbaru AKP Suparno berserta annggotanya mengaku berjaga-jaga di SPBU itu hanya sekadar mengatur kelancaran lalu lintas. “Kami hanya berwewenang untuk menjaga arus lalu lintasnya saja di 9 SPBU se-Kota Banjarbaru. Diharapakan, para pengatre tidak semena-mena membuat barisan baru yang akibatnya dapat membuat macet arus lalu lintas,” ujarnnya.

Namun apakah tidak ada penindakan langsung dari pihak kepolisian terkait keberadaan pengantri BBM yang bolak-balik SPBU menggunakan motor besar? Dikatakannya, pihak kepolisian tidak bisa secara detail mengamati para pelansir itu. “Kita sudah mengimbau kebijakan pengawasan pihak SPBU agar tidak melayani motor yang sudah bolak-balik ke SPBU tersebut. Jika kedapatan maka pihak SPBU bisa segera melapor kepolisian. Apalagi sekarang jatah pengisian, kan, sudah dibatasi,” jelasnya. Sementara itu, menurut isu yang beredar di kalangan masyarakat, menghindari kecurigaan aparat keamanan para pelansir mencoba mengantri dengan berganti-ganti motor bertangki besar. Tidak sedikit juga dari mereka yang memakai bakul dan tas punggung berisi jirgen. “Ditakutkan hal tersebut juga suruhan dari petugas SPBU. Kita akan terus antisipasi masalah ini,” pungkas Suparno.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s