Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 3)

Menghabiskan Seluruh Waktunya Demi Pembangunan

Belanda yang sangat menjunjung tinggi Bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Itulah Van der Pijl, kepala PU Kalimantan yang telah berhasil menata Kota Palangkarya dan Banjarbaru dengan bangungan dan gedung-gedung tinggi terhindar dari bahaya banjir. Pasca pensiun dari pekerjaannya sebagai PNS yaitu kepala PU Kalimantan, Van der Pijl lebih sering menghabiskan waktunya di Kota Banjarbaru, di rumahnya Jalan Ahmah Yani Barat Nomor 3. Meski tak ada dana pensiunan untuk menyambung kehidupannya beserta keluarga, ia tak patah semangat. Mendirikan bioskop di Banjarbaru menjadi penghasilannya kala itu. Yang mana urusan sewa-menyewa dikelola penuh oleh TNI Angkatan Udara Sjamsudin Noor. “Uang tersebut dikumpulkan beliau guna mencurahkan cita-cita hati dan impiannya sejak lama. Yaitu mendirikan sekolah Teknik pada tahun 1968. Namun tak hanya itu, selain Sekolah Teknik yang kalau sekarang setara SMP, didirkan pula Sekolah Teknik Mesin (STM) yang setara SMA. Kemudian dilanjutkan lagi dengan Akademi tekniknya yaitu Akademi Teknik Nasional (ATN),” papar Djojok, menantu Van der Pijl.

Niatnya untuk membangun Akademi Teknik bukan sekadar kehendak. Kala itu, lulusan-lulusan sarajan teknik masih terbilang sangat langka. Hal itu diselaraskannya dengan semakin berkembangnya pembangunan seperi Waduk Riam Kanan, kurangnya Ketelatenan dalam membuat mesin tekstil, serta orang-orang yang bisa mengatur jaringan lisrtik untuk pemukiman di Komplek TNI, Rindam, dan lainnya.

“Maka dari itu, Papa yakin pengelola bangunan dan para komandan itu nantinya memerlukan tenaga dalam hal teknik. Melihat celah itu berdirilah STM yang sekarang menjadi STM YPK. Sekarang ketua yayasannya adalah Rico, anaknya pak Hasyim rekan Papa masa itu,” ucapnya.

Van der Pijl yang berwibawa dinilai sangat bersahaja dan ramah terhadap seluruh lapisan masyarakat. Tak pelak, diceritakan Marijke, ia sering menghadiri Undangan pernikahan atau pun perkawinan warga di Banjarbaru. “Tak peduli siapa pun. Kenal atau pun tidak kenal, kalau diundang, Papa pasti datang. Dan selalu berusaha agar silaturahmi dengan warga Banjarbaru itu tidak putus,” timpal Marijke.

Menghabiskan masa tuanya, ia tak lagi terlalu bergelut dalam ranah pemerintahan. “Ia dipercaya menjadi bendahara Masjid Banjarbaru atas imbauan dan permintaan panitia masjid waktu itu. Salah satunya bapak Zafry Zamzam. Yang tidak lain adalah orang tuan dari Fitri Zamzam yang akrab disapa Dewa Pahuluan.” Djojok membeberkan. Pembukuan Van der Pijl dinilai sangat bagus dan tertata rapi. Terlebih, Ia mempunyai kepribadian yang jujur dan tegas. “Jadi tidak ada orang berani main-main dengan Papa,” tambahnya.

Keseharian masa pensiun Van der Pijl tak lagi total dalam pembangunan di ruang lingkup pemerintahan. Meski begitu, ia tetap mengawasi pembangunan demi pembangunan terkhusus di Kota Banjarbaru. Dari Komplek pemukiman warga di wilayah PLN, sampai pembangunan gedung-gedung perkuliah Universitas Lambung Mangkurat di Banjarbaru.

Setelah itu, ia mendirikan Akademi Teknik Nasional (ATN) berlokasi di belakang rumahnya. “Sedangkan kantornya, ya di rumah ini. Ruangan beliau persis di kamar pribadinya. Seiring waktu berjalan kian tumbuh berkembang. Mahasiswanya mencapai ribuan. Pada akhirnya Papa Van der Pijl memakai 2 buah gedung di Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru (Unlam). Termasuk pak Rahmat Thohir adalah Mahasiswanya. Sampai pada pertengahan 1973, gedung di ambilalih kembali oleh Unlam,” ungkap Djojok.

Tiba pada pertengahan September 1974, Opah Van der Pijl lebih mengalami kesibukan yang meningkat. Karena waktu itu sedang diadakan Ujian Sekolah Teknik se-Kalimantan Selatan. Dan tak lain, penyelenggaranya adalah SMK Banjarbaru binaan Van der Pijl. “Papa begitu aktif. Sering saya antarakan dari rumah ke sekolah, dan balik lagi ke rumah. Dalam satu hari selama satu minggu. Semua urusan ari jumlah, data murid, arsip, dan soal-soal ujian Ppa sendiri yang mengurusnya. Sampai pada masanya ia kelelahan,” kata Djojok.

Diceritakan, Van der Pijl sempat mengalami sesak napas karena kelelahan yang luar biasa di masa-masa ujian STM. Tak lama kemudian ia memanggil dokter Mursyidi dari AURI Sjamsudin Noor yang tinggal di Landasan Ulin, untuk memeriksakan keadaan Van der Pijl. “Dokter itu mengatakan kalau Papa masih tahan, maka pada malam harinya, disuruh untuk segera dibawa ke rumah sakit,” ujarnya dengan nada lirih. Belum lagi umat muslim berbuka puasa, karena memang berbetulan dengan bulan Ramadhan waktu itu, Van der Pijl menghembuskan napas terkahirnya. Tepat di hari Jumat, 27 September 1974. Ia meninggal di rumahnya sendiri di hadapan keluarga yang begitu menyayanginya. Van der Pijl meninggal dalam usia 73 tahun. (bersambung/ananda perdana anwar)

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s