Sebagai Bahan Koreksi

Salah seorang anggota forum supir truk, Aji, mengungkapkan, kjeadian di SPBU Trikora sangat terang-terangan melanggar peraturan. Pasalnya, sebagaimana yang dilihatnya, ada operator yang mengisikan pembeli menyodorkan corongngya ke atas bak. “Saya berharap Pak Kapolres bisa menindak tegas para pelangsir yang sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi itu. Kasian kita pak, ya bekerja sewajarnya mengangkut angkutan barang. Kadang mengantri dari pagi smpai siang malah gak kebagian. Kita juga mencari nafkah. Kalau mereka terus yang dipriorotaskan maka sudah jelas itu melanggar hukum,” katanya ketika menyampaikan di ruang Kapolres Banjarbaru AKBP Budi Santoso.

Di samping itu, ia juga mengaku bosan mengadu lewat sms. Karena tidak ada tindakan yang real terjadi di lapangan. Ditambahkan Abah Ryan, seorang supir truk lainnya, ia di SPBU Trikora mengaku paling serring rebut dengan anggota Polisi bernama Rahmat. “Dia anggota polse Cempaka Pak. Untuk masuk di wilayah itu sendiri kita diatir jadi lima baris. Tapi perbandinga 1 banding 4. Arus antrian para pelangsir 4 sendangkan kamu yang supir truk angkuran hanya sebaris. Apakah memang dilayani dengan harga tinggi, kalau memang begitu kita beli,” paparnya terlihat kesal. Menurut Abah Ryan, para pemilik armada truk yang mengisi disana harus jagoan (preman: tacut). “Karena kalau kita yang mengisi ini orang umum yang kelihatan polis seakan tidak dihiraukan. Tolong yang sperti ini ditindak Pak,” harapnya.

Selain itu pula dipaparkannya, Polisi Rahmat yang sering menjada di SPBU Trikora pernah mengatakan bahwa truk-truk yang menginap di dulukan. “Ternyata, Ketika diinapkan. Malah dibelakangkan lagi. Trus kalau menginap katanya bayar. Ya, saya bayar saja. Tetapi tetap saja saja dibelakangkan,” ceritanya. Kapolresta Banjarbaru AKBP Budi Santoso menganggap demo para supir truk adalah suara hati mereka sebagai masyarakat yang wajar serta menjadikan bahan koreksi untuk kinerja anggota kepolisian di Kota Banjarbaru. Karena polisis dinilai jauh dari menertibkan, justru ada sebagian anggotanya yang ikut membantu para pelangsir. “Ini juga menjadi tolak ukur pekerjaan kita. Bagaimana sih kinerja kepolisian di Banjarbaru ini,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.worpress.com, kemarin. Menurutnya selama ini yang sudah berjalan adalah pengaturan, tetapi dinilai masyarakat masih belum maksimal. “Soal kinerja tentu akan kita tingkatkan lagi. Terkait, soal penindakan terhadap oknum, kita harus punya bukti fisik yang kuat dulu. Kalau memang betul ada pelanggaran disiplin ya kita beri sanksi,” katanya.

Lalu, bagaimana menyikapi keterlibatan para oknum yang ikut bermain dalam pelangsiran? Dikatakannya, seperti yang terdahulu seperti yang sudah ditangkap, banyak yang mengatasnamakan anggota. “Kita selalu sharing dengan Polda untuk menindak para pelangsir yang sudah menyusahkan masyarakat,” tuturnya. Usai menyampaikan aspirasi kepada dua Polres di Martapura dan Banjarbaru, Kepala Desa Mandikapau H Abudllah Junaiddi mengaku tanggapak dua Kapolres tersebut cuku memuaskan. “Keduanya tanggap dan mendukung apa yang kita suarakan. Kita bisa terima itu, kita tinggal menuggu realisasinya di lapangan. Kalau memang ada perubahan maka kita lihat apakah sudah cukup bagus. Kalau tidak ada perubahan, kita akan menghadapi lagi. Karena masalah itu tidak mungkin dari pihak petugas. Kita sudah sangat dilemma,” pungkasnya. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s