“Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma”

Perayaan pembacaan 18 Mei dengan tema Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma yang dilaksanakan tadi malam, Jumat, (18/5) dihadiri oleh para seniman Kalsel, di Panggung Bunda Pujasera Mingguraya Banjarbaru. Acara tersebut m erupakan apresiasi terhadap karya sastra yang ditulis oleh tiga sastrawan Kalsel pada tahun 1978. Adalah D Zauhidie, Yustan Azidin, dan Hijaz Yamani.

Pembawa acara Ali Syamsudin Arsy mengatakan, digelarnya acara tersebut merupakan salah satu agenda dari seniman Banjarbaru untuk berkomitmen jalinan silaturahmi antar sastrawan dan seniman di Kalsel. Mereka yang dating ada yang dari Banjaramasin, Kota Baru, Hulu Sungai Tengah, dan lain-lain. Hadirin pun disuguhkan dengan berbagai macam kudapan dan makanan yang disediakan panitia. Kegiatan disi juga dengan penuturan dan berbagi cerita para sdeniman yang sempat bergaul dengan tiga seniman tersebut. Seniman asal Kota Baru yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjaru mengatakan, Hijaz Yamani merupakan salah seorang sosok yang focus dengan bidang yang ditekuni. “Tak hanya dalam berksenian, dalam pergaulan sehari-hari dan membina rumah tangga, beliau juga fokus untuk tetap memajukan sastra dan memimpin keluarganya,” ucap Eko ketika memberikan sambutan.

Di antara tokoh yang berhadir, Dewa Pahuluan, Darmawan Jaya Setiawan, Hamami Adaby, Ogi Fajar Nuzuli, Rico Hasyim, Arsyad Indradi, Yadi Muryadi, Kalsum Belggis, Abdurrahman El Husaini, Samsuni Sarman, Sirajul Huda, Aril M Noor, Harie Insani Putra, Zian Armie Wahyufi, Martha Ion Krishna, Enok, Rezqie Al Fajar Atmanegara, Ibramsyah Barbary, Muhammad Ramadhany Al Banjari, MS Arif, serta beberapa sastrawan dan teaterawan lainnya. Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli mengharapakan, dengan digelarnya kegiatan tersebut mampu menjadi tolak ukur kesenian yang kian berkem bang di Banjarbaru. “Dan saya harapkan terus berjalan dengan lancar dan sukses,” pungkasnya.

Berikut beberapa puisi para penyair yang pernah diterbitkan di Harian Umum Media Kalimantan

Oka Miharza S

Bintang Kecil Tanah Huma

 

Bintang kecil tanah huma

Dari mata rantai rumah Banjar

Bumbungan tinggi

Balai-balai dan bambu

Di hulu bukit

Merajut lanting

Di atas jerami Amandit

Menadah ke langit

Merengek menggantikan cahaya bintang

Aku hanya bintang kecil tanah huma

Tak lebih dari itu

Aku tergila-gila

Pada penyair

Sempat rela di parang maya

Sebagai bukti cinta kasihku

padaNya

Minggu Raya, 18 Mei 2012

Eko Suryadi WS

Jarak Kita Tak Cuma Sebatas Kenangan

 

Tanah Humamu

Kami tuguli

Hari ini kami panen puisi

Yang pohonnya kau tanam

 

Jarak kita tidak cuma sebatas kenangan

Tapi talinya terus kau bentang

Melewati ruang waktu

Dimensi hidup dan mati

Di panggun bundar ini

Kami sebut namamu

Seperti lentera, meninggalkan cahaya

Di lading, laut, dan semesta

Tuhan

      Bjarbaru, 19 Mei 2012

 

Zoel kanwa

Moksa Bersama Kata

 

Kusetubuhi Puisi

Tanah Huma dan koleksi

Menyatu dalam jiwa gadis ayu

Aku orgasme sambil mencandu

 

Pulihan puisi lelaku dan perempuan

Menikmati puisi yang menolak mati

Di mana aku dalam puisi?

Aku moksa bersama kata

 

Rizqie Muhammad Al ajar

Menebar Darah Hitam di Tanah Huma

 

Apa warna tanah huma kita?

Pada sebatang ulin merah kita diperkenalkan

Memikul keranda-keranda disobek malam

Kutitipkan rindu dirumbai kain kafannya

Maaf, jika aku terlanjur melintas ke tanah huma

Dalam lahapan dosa pualam

 

Angin bertiup tanpa irama mayat

Kita meneguk aroma cendana di pinggiran

Cangkir retak

Tiga ruh itu menyala ketika asa dilukiskan

Pada selembar kanvas malam

Satu-persatu darah disayat atas daun-daun nirwana-Nya

Mingguraya/Bjb 18 Mei 2012

 

Hari Insani Putra

Bertanah Huma

 

Bertanah-tanah Huma

Bilakah ia disapa?

“Halo selamat pagi, napa habar pahumaan kita?”

 

 

Samsuni Sarman (Barito Kuala)

Di Hulu ke Tanah Huma

 

Palak kelelatu membasahi riuh

Di altar putih penuh kenangan

Lintasan malam di hulu, menepi

Menyalami kata dan suara

Sedangkan tanah huma

Tinggi di puncak perputaran angin

Mingguraya 180512

 

Ariel Lawang

Tanah Huma

 

Selembar kertas putih

Dan sebuah pena

Disodorkan kepadaku

Di mala mini…

Tepat pukul 21.45 dan suhu 30°

Saat terakhir nikmati kata-kata

Bagi sepetak tanah…

Untuk serumpun huma…

Maafkan aku bapak…

Aku terlambat untuk tau

Siapa engkau yang duduk di dingin

Itu tangga beton, dinding tak bisa diam

Merengek bagai bayi kehabisan air susu

Dan sandal jepit

Maafkan aku bapak…

Aku terlambat untuk tau…

Engkau yang bicara padaku

Di malam hening tak punya baju…

 

Kalsum Belgis

Tanah Huma

Tanahku tanah moyangku

Dimana terdapat lembah madu

Dan lading susu

Sungai arak yang mengaliri ceruk-ceruk

Berbatu tersuling dari nira-nira kelapa

Dan buah timbatu

Terhirup aroma tanah huma tatkala

Para petani membajak sawahnya.

 

Kembang-kembang belukar menjalar

Aneka warna

Menhias tiap bibir lembah

 

Tanahku tanah moyangku

Tanahku tanah humaku

Tanahku telah luka

Miris meringis dalam tangis

 

Menjunjung gedung pabrik

Pencakar lengit

 

Tanah humaku semakin menyempit,

Sesempit parit pembatas jalan sempit

 

Fahmi Wahid

Huma-Huma

Huma-huma kering tergadai

Uma-umaku berlumpur

Dan air mata

Umai-umai narista

Kehilangan mimpi-mimpi indah

Harapan di dada benua

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s