Relokasi Pasar Subuh Terancam Gagal (Run News)

Warga Tolak Perpindahan Pedagang Subuh dan Ikan
Keinginan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru merehabilitasi pasar tampaknya agak terhambat. Pasalnya, warga sekitar Lahan eks Inhutani di jalan Lanan RT 1 RW 1, Kelurahan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan menolak keras terhadap kebijakan relokasi sementara para pedagang subuh dan ikan ke lokasi tersebut. Rencananya, agar tidak meneghambat proses pengerjaan rehab pasar, maka keberadaan para pedagang subuh dan ikan dipindahkan sementara. “Kami dari sejumlah warga RT 01 RW 01 Kelurahan Kemuning menolak ketentuan tersebut. Karena kami yang akan merasakan langsung dampak lingkungannya,” tutur seorang warga yang namanya tak mau dikorankan kepada wartawan penulis, Senin, (18/6) siang kemarin.
Menurutunya, sebelum ada kesepakatan antara pemilik eks Inhutani dan Pemerintah, tidak ada sosialisasi terhadap warga sekitar. “Bahkan, kami tak dijadikan penampungan sementara para pedagang subuh dan ikan. Seharusnya warga diundang dan didudukan dalam satu forum agar bisa menyampaikan pemikiran. Jadi kita bisa saling tukar pikiran dan menyampaikan pendapat,” tambahnya.
Selain itu, Abdullah mewakili warga setempat juga mengakui tak hanya sekadar menolak, tapi menyarankan alangkah bagusnya para pedagan subuh dan ikan itu dipindah ke pertokoan yang sudah dibangun pemerintah di belakang bangunan pasar swalayan Hero. “Kenapa tidak bangunan yang dibelakang hero itu saja yang dipakai, kan, membangunnya juga dari uang rakyat. Bangunan itu terkesan mubazir,” paparnya.
Ia mengaku sangat kecewa pemerintah cenderung berpihak kepada pedagang tapi tidak memerhatikan tanggapan warga mengenai hal demikian. Terlebih lagi, katanya, lokasi tersebut sangat dekat dengan sekolahan MTsn Ihya Ulumuddin. Sangat tak pantas siswa (i) berangkat dan pulang sekolah lewat kekumuhan suasana pasar. “Mau belajar berjualan ikan mereka? Jangankan menjamin kebersihan, drainase yang dulu dijanjikan saja sampai sekarang tak pernah dikerjakan. Malahan duluan diaspal. Apalagi mau dijadikan pasar, kita warga disini jadi tidak tenang. Karena ini pemukiman warga,” keluhnya.
Setidaknya sudah ada 44 kepala keluarga yang menandatangai surat pernyataan keberatan direlokasikannya pasar ikan sementara. Dan surat penolakan tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua RT 1 Drs H Noerbek Noesiyus. Dengan alasan mereka warga lingkunganlah yang akan merasakan langsung dampak dari limbah pasar ikan tersebut. Ditambah lagi, drainase dilingkungan itu tidak lagi berfungsi alias mampet.

Sebelumnya Kabid Perikanan Diskantanhut Kurjiansyah memberikan pernyataan, pemilik lahan eks Inhutani telah bersedia meminjamkan lahan tersebut dan persyaratan terjamin kebersihan sementara menampung para pedagang pasar ikan. Rehab tersebut menelan dana sebesar 1,1 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementrian Perikanan dan Kelautan. Sedangkan pemindahan sementara para pedagang yang berjumlah sekitar 200 pedagang diharapakan bisa rampung sebelum 1 Juli mendatang.

Roro Setuju Dengan Warga, Pemko berunding Dulu
Terkait Relokasi Pasar Subuh dan Pedagang Ikan
Penolakan warga terhadap rencana relokasi sementara pedagang pasar subuh dan ikan di wilayah Jalan Lanan tepatnya di lahan eks Inhutani ditanggapi oleh Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarbaru Hj Roro Erna Nilawati. Dikatakannya, dampak aroma yang menyengat dari pasar ikan akan dirasakan langsung oleh warga sekitar tempat itu. “Betul kata warga juga. Kenapa waktu itu tidak ada sosialisasi ke warga kalau pasar akan direhabilitasi. Kalau memang Pemko dari dulu sudah punya wacana memindahkan pasar ke belakang Swalayan Hero, kenapa nggak sekalian juga pasar ikan ikut pandah untuk sementara atau permanen,” ujarnya kepada hirangputihhabang.wordpress.com, Selasa, (19/6) kemarin.
Menurutnya, jika para pedagang takut tidak laku, maka semua pedangan harus serentak pindah. Maka tak pelak, pembeli juga akan mengikuti. “Apalagi para pedagang pasar subuh dan penjual ikan itu, kan, pangsanya pedagang keliling. Tentunya mereka akan mengikuti dimana ada pasar dan terpusat. Jadi kenapa khawatir tidak laku,” tambahnya.
Selain itu, ia juga mengatakan, perlu adanya suatu sosialisasi yang terbuka kepada para pedagang bahwa pasar kita sekarang memang sudah tidak layak. “Dan keuntunganya jika dipindah ke bangunan di belakang hero, otomatis terminal juga hidup dan beroperasi sebagaimana mestinya,” papar anggota DPR yang dikenal vocal ini.
Oleh sebab itu, ia mengharapkan Pemko untuk memberi kebijakan yang tidak merugikan sebagian masyarakat. “Artinya semua harus berhak menyampaikan pendapat. Warga jangan dirugikan dengan pasar dadakan yang berkesan kumuh dan tidak sehat. Dan pedangan pun tidak bingung dia mau dipindah kemana nanti,” harapnya.
Di sisi lain, Kabid Perikanan Distanhut Ir Kurjiansyah didampingi sekretaris Dikantanhut Rieskhan Noor menuturkan, surat keberatan warga soal relokasi pasar itu sudah diterimanya. Ia membenarkan ketiadaan sosialisasi kepada beberapa warga di sekitar eks Inhutani tersebut. “Kita mendengarkan apa yang disampaikan warga. Tetapi waktu itu kita juga tidak ada kepastian dari yang si punya lahan mau meminjami atau tidak. Lucu jadinya kalau kita berunding dengan warga ini-itunya, eh, ternyata yang punya lahan malah tidak bersedia meminjami lahannya,” kata Kurjiansyah.
Dipaparkannya, timnya telah menjajaki kemungkinan-kemungkinan. Hal tersebut dimulai dari Jalan kemuning, kemudian Jalan Jati, dan terakhir lahan eks Inhutani di Jalan Lanan. “Itu juga permintaan pedangan maunya di tempat itu. Memang kita sudah memperhitungnan bagaimana nantinya dampak yang ditimbulkan semisal kemacetan, limbah, dan lain hal sebagainya,” ungkapnya.
Lalu bagaimana soal usulan warga bahwa sebaiknya para pedagang dipindah ke belakang Hero saja? Hal itu dikatakannya sudah pernah terjadi. “Dulu pernah terjadi namun hasilnya tidak efektif. Mereka para pedagang balik lagi. Maka sebab itu, kalau meraka dipindah ujung-ujugnya malah kembali, maka lebih baik yang ada ini dulu kita benahi,”terangnya.
“Kita tidak ingin menimbulkan gejolak di masyarakat setempat. Kita sekadar memfasilitasi untuk rehabilitasinya. Pedangan yang akan dipindahkan itu berjumlah 48 orang dan sekitar 200 pedagang ikan. Berunding sajalah dulu. Kita sudah rencanakan besok, (hari ini, red)untuk mengadakan pertemuan dengan pedagang guna mencari solusi bagaimana jalan keluar yang baik. Bagaimana tanggapannya nanti yang jelas kita tidak ada maksud memaksakan. Setidaknya kami sudah memperbaiki pasar kita yang sudah sangat tidak layak. Saya berharap pedagang mau berkorban. Kita tidak menutup usaha mereka. Hanya berharap proses rehabilitasi berjalan sebagaimana mestinya. Itu saja!” pungkasnya.

Masih Tunggu Keputusan Disperindag
Persoalan aksi penolakan dan keberatan warga terhadap relokasi pasar subuh dan pedagan ikan belum jua menemukan jalan keluar. Warga sekitar Jalan Lanan –Lahan eks Inhutani- yang rencananya akan dijadikan tempat menampun sekitar 200 pedagan ikan dan 48 pedagang pasar subuh itu tetap bersikeras tidak terima adanya relokasi sementara ke wilayah mereka. “Memang pada pembicaran ada disulukan soal pengelolaan parkir dan hal lainnya dipersilakan kepada warga untuk dikelola. Tetapi itu merupakan tawaran. Namun kami warga RT 1 RW 1 tetap keberatan dengan adanya relokasi sementara atau selamanya pasar subuh dan pasar Ikan disini, (Lahan eks-Inhutani, red)” tegas seorang warga yang namanya tak mau dikorankan kepada penulis hirangputihhabang.wordprees.com Rabu, (20/6) kemarin.
Kabid Perikanan Distanhut Ir Kurjiansyah mengaku, untuk sementara hasil dari pertemuan denga para pedagang sepakat untuk dipindahkan. “Namun sepenuhnya tinggal lagi Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Dinas Perikanan, Perdagangan, Pertambangan, dan Energi (Disperindagtamben) Kota Banjarbaru mengenai keputusan. Kemana nanti para pedagang diarahkan,” ujarnya ketika dikonfirmasi penulis.
Dikatakanya, pertemuan tersebut dihadiri sekitar 30 orang pedagang mewakili beberapa pedagang lainnya. Namun soal keputusan ia belum bisa memberitah saat dikonfirmasi. “Kita masih menunggu keputusan tertulis dari Disperindagtamben. Mungkin hari ini, (kemarin, red) suratnya sudah disampaikan ke Walikota dan Wakil Walikota,” pungkasnya.
Akhirnya Pemko Mengalah
Penolakan warga Jalan Lanan terhadap relokasi sementara pasar ikan dan subuh ke lahan eks Inhutani akhirnya gagal. Alias tidak jadi pemindahan sementara di eks Lahan Inhutani. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Perdagangan, dan Energi (Disperindagtamben) Kota Banjarbaru Suriansyah. Dikatakannya, hal tersebut merupakan respon terhadap surat keberatan dan penolakan warga RT 1 RW 1 yang telah diterima. “Saya telah terima informasi dari tim pelaksana Disperindagtamben bahwa relokasi pasar sementara rehabilitasi tidak jadi ditempatkan di lahan eks Inhutani,” ujarnya , Kamis, (21/6) kemarin siang.
Menurutnya, pasar subuh sementara akan digabung dengan para pedagang Pasar Bauntung. “Kita sudah sangat mengejar waktu, pasalnya pengerjaan rehabilitasi pasar Bauntung segera dimulai pada awal Juli. Soal penempatan pedagan ikan akan kita pikirkan secara bertahap. Namun untuk mudahnya akses material untuk pengerjaan nantinya dikondisikan agar tidak mengganggu baik para pekerja maupun para pedagang,” tambahnya.
Dikonfirmasi persoalan itu, Walikota Banajrbaru HM Ruzaidin Noor menuturkan, secara formal informasi perihal itu belum diterimanya. Meski demikian ia sudah mendengar aksi penolakan dan sikap keberatan warga di lokasi kejadian. “Sebenarnya, yang penting dulu adalah pendekatan sosial dengan warga. Kalau memang warga tidak terima, tentu pemerintaha akan carikan solusi untuk tempat alternative. Yang penting, kan, komunikasi dulu. Itu sangat penting,” ucapnya kepada wartawan MK di kediamannya.
Pada intinya, tambah Ruzaidin, proyek rehabilitas pasar Bauntung tersebut bertujuan untuk memudahkan dan memberikan rasa nyaman kepada para pembeli nantinya. “Kita tentu merasa riskan melihat keadaan pasar yang sekarang. Terlebih dalam penilaian pasar kita adalah yang terendah,” keluhnya.
Lalu bagaimana dengan usulan warga dan anggota DPR yang menyarankan agar dipindah ke belakang Pasar Swalayah Hero? Ia menuturkan itu sebagai alternatif. “Nanti, kalau dibilang itu sebagai pilihan malah membuka peluang. Biarlah dulu kita benahi yang ada. Kita menjaga hubungan dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Terlebihm Dana Alokasi Khusu (DAK) yang turun, kan, untuk rehabilitasi pasar. Bukan pemindahan, jadi kalau berubah, maka menyalahi prosuder yang sudah disepakati,” jelasnya.
Pada pelaksanaan kedepan ia berharap warga, masyarakat, serta beberapa stackholder yang terlibat mampu merealisasinya dengan baik. “Setidaknya dalam sosialisasi tidak hanya melibatkan RT atau pedagang, tetapi seluruh warga yang bersangkutan. Walaupun penolakan sudah direspon, tetapi kita harus berkomunikasi dengan baik. Maka insya Allah tidak ada masalah,” harapanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar bisa bekerjasama untuk membenahi pasar. “Rehab pasar harus dilaksanakan tahun ini juga jangan sampai berlarut-larut sampai ke tahun depan. Karena anggaran yang turun hanya pada tahuh ini saja. Kalau terlambat melaksanakan tentu akan menjadi masalah baru. Yang jelas, pemerintah akan melakukan solusi, komunikasi, dan pendekatan sosial yang cermat dan tepat agar tidak menciptakan polemik yang berlebihan di masyarakat,” pungkasnya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s