Patok Dipasang Tapi Belum Dibayar

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian (paling kiri) beserta anggota DPRD Kota Banjarbaru lainnya memantau lahan dan bangunan rumah sudah terpasang patok telah dibebaskan yang justru belum dibayar PT AP I

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian (paling kiri) beserta anggota DPRD Kota Banjarbaru lainnya memantau lahan dan bangunan rumah sudah terpasang patok telah dibebaskan yang justru belum dibayar PT AP I

Sejumlah anggota DPRD Kota Banjarbaru meninjau lahan yang akan dibebaskan untuk perluasan Bandara Syamsuddin Noor, Kamis, (20/9) kemarin. Dari pantauan tersebut, dewan mengaku menemukan kejanggaalan dalam pemasangan plang patok dari PT Angkasa Pura I yang justru di atas lahan warga yang belum dibayar.

Plang yang bertuliskan ‘Aset Milik Negara Telah Dibebaskan Tertanda Angkasa Pura I Airport Bandar Udara Syamsudin Noor’ diakui warga  tancapkan oleh beberapa oknum  di atas lahan milik warga. Padahal sebagian lahan yang juga di antaranya telah berdirin kokoh bangunan rumah justru belum disetujui dengan harga yang di tawarkan.

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian beserta anggota DPRD lainnya melihat langsung apa-apa keluhan pihak warga yang telah disampaikan kepada dewan tempo lalu. “Jika dari hasil temuan ini begitu banyaknya patok yang dipasang diatas lahan warga yang belum diberi ganti untung, sudah jelas itu melanggar hukum,” ujarnya kepada wartawan penulis hirangputihhabang.wordpress.com di lokasi lahan dimaksud.

Sejumlah warga pemilik tanah menunjukkan kaplingan bandara yang bermasalah dengan tumpang tindih juga dipasang patok telah dibebaskann oleh PT AP 1

Sejumlah warga pemilik tanah menunjukkan kaplingan bandara yang bermasalah dengan tumpang tindih juga dipasang patok telah dibebaskann oleh PT AP 1

Arie menambahkan, segala keluhan warga tersebut akan ia tampung dan disampaikan ke pihak panitia. “Yang jelas, surat permohonan agar panitia bisa bertemu dengan warga membahas masalah selama ini yang telah disampaikan. Kita hanya mediasi atau jembatan untuk hubungan itu, Entah apakah nanti Senin, atau Selasa di depan untuk kembali melakukan pertemuan antara warga dan panitia. Biar semua tahu,” tegasnya.

Di samping itu, warga yang bertemu langsung dengan anggota dewan juga menyampaikan berbagai keluhan dan uneg-uneg mereka dalam satu forum di ruaangan Langgar Hidayatullah, Desa Tegal Arum.

Sudiono salah soerang perwakilan warga mengaku hingga saat ini sangat merasa  keberatand dengan nilai ganti untung bangunan yang sebelumnya di taksir senilai 107 juta. “Namun kenyataannya, setelah dipotong dengan biaya macam-macam justru hanya dibayar sebesar 35 juta panitia pembebasan tanah,” keluhnya.

Selain itu ian mengatakan, dalam negosiasi yang dilakukan sebanyak dua kali tim PPT langsung menetapkan harga ganti untung lahan untuk perluasan bandara sebesar 255 ribu hingga 340 ribu rupiah permeter. “Sementara sebagian besar warga Tegal Arum  akan melepas lahan mereka dengan harga 1,5. Dan silakan dinego. Waktu itu, tapi malah tidak ada pendekatan dan sosialisasi lagi. Ini namanya semena-mena. Panitia malah langsung menetapkan tanpa persetujuan dari kami,” akunya.

Warga menunjukkan spanduk yang dipasang berisikan 49 nama pemilik tanah yang tidak setujua dengan harga yang diputuskan panitia kepada DPRD Kota Banjarbaru

Warga menunjukkan spanduk yang dipasang berisikan 49 nama pemilik tanah yang tidak setujua dengan harga yang diputuskan panitia kepada DPRD Kota Banjarbaru

Tak hanya itu, ia juga menyayangkan bagaimana nantinya jika masyarakat jadi pindah. “Katanya soal pemindahan akan dibicarakan namun sampai saat ini tidak pernah disinggung soal itu. Belum lagi fasilitas umum yang biasa kami pakai seperti jalan, penerangan, sarana pra sarana air bersih, dan lagi sebagainya. Itu belum cukup,” paparnya.

Ketua RT 1 Nurrahman menyampaikan, sosialisasi yang dilakukan panitia kepada warga sangat minim sekali. “Nego lanjutan 2 kali eh, malah langsung dipatok harga. Itu pun sampai sekarang kita belum setuju. Karena semua masyarakat disini mempunyai hak untuk mendengarkan dan melihat kinerja panitia yang seharusnya terbuka. Kami mohon permohonan ini ditampung dan disampaikan kepada panitia,” pintanya.

Apakah dengan maksud tersebut warga tidak setuju dengan pengembangan bandara? Nurrahman membantah pertanyaan itu. “Kalau warga itu tetap mendukung. Apalagi bandara Syamsudin merupakan pintu gerbang Kalsel. Tapi masalahnya harga yang dibayar ini kita belum sepakat. Kita ingin yang layak. Layak dalam artian bias membangun kembali sebagaimana yang telah ada ini. Apalagi sampai ada persoalan tumpang tindih yang belum selesai malahan dipasang patong telah dibebaskan. Ini sudah keterlaluan,” pungkasnya.

Iklan

One thought on “Patok Dipasang Tapi Belum Dibayar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s