TMC Kalsel Dilaksanakan

Demi menanggulangi kondisi kabut asap akbiat bencana kebakaran lahan dan hutan yang sudah terlampau parah di Kalimantan Selatan, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (UPTHB BPPT) mengambil langkah antisipasi dengan melakukan operasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan dari udara melalui pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang sering dikenal dengan istilah hujan buatan.

Penyampaian Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tersebut disampaikan di VIP Bandara Syamsuddin Noor, Rabu, (10/10) kemarin siang yang dihadiri oleh Gubernur Kalsel Ariffin, Ketua DPRD Prov Kalsel Nasib Alamsyah, Danlanud Syamsuddin Noor Letkol Pnb M MUkhson, dan beberpa staf ahli dari pemerintah daerah/kota. Dipastikan mulai hari ini, Kamis, (11/10), kemarin.

Pelaksanaan operasi TMC di Kalsel tersebut akan didukung oleh 1 unit pesawat jenis CASA 212-200 versi rain maker dengan nomor registrasi PK-TLH milik BPPT yang dioperasikan oleh PT Nusantara Buana Air (NBA). Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Drs F Heru Widodo Msi mengatakan, bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (dalam orde mikron). “Bahan ini berguna untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, telah ditempatkan personil di sejumlah lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Pleihari, Kandangan dan Batu Licin,” ujarnya.

Ia menambahkan, keperluan hujan buatan di Kalsel didasari oleh pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Bahwa memasuki bulan Juli 2012 wilayah Indonesia sudah memasuki fase El Nino lemah dan hingga akhir tahun diprediksikan akan meningkat sampai moderat sehingga dapat menimbulkan ancaman kekeringan di sejumlah daerah,” tuturnya.

Sedangkan dampak El Nino di Indonesia, Kata Heru, sudah mulai dirasakan di wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan sejak bulan Juli 2012 lalu, ditandai dengan kemunculan titik panas (hotspot) yang cukup tinggi intensitasnya.

Di sisi lain, Heru menjelaskan, pantauan Singapore Weather Information Portal, intensitas hotspot di Pulau Sumatera dan Kalimantan mulai meningkat sejak pertengahan bulan Juni 2012. “Bahkan untuk wilayah Sumatera, pada akhir Juli 2012 lalu jumlah hotspot sempat mendekati angka 700 titik, yang secara historis lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah hotspot sejak tahun 2006. Sedangkan di Kalimantan, pada dekade pertama September 2012 lalu jumlah hotspot mendekati 700 titik, yang lebih tinggi dari jumlah hotspot hitoris pada periode yang sama,” bebernya.

Sekadar diketahui, pemantauan hotspot kebakaran lahan dan hutan yang bersumber dari data satelit NOOA 18 telah dilaksanakan oleh Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan, terhitung sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan tanggal 9 Oktober 2012. Dari data itu tercatat sebanyak sebanyak 11.679 titik hotspot yang terkonsentrasi di wilayah Kalimantan. Kondisi hotspot terkini tanggal 9 Oktober 2012, di Propinsi  Sumatera Selatan sebanyak 120 titik, Kalimantan Tengah sebanyak 33 titik, Kalimantan Barat sebanyak 20 titik, Lampung 13 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 5 titik. Jumlah hotspot ini sangat fluktuatif, jika dalam beberapa hari tidak terjadi hujan, maka hotspot akan cepat meningkat jumlahnya,” ingat Heru.

Pelaksanaan operasi TMC untuk Menanggulangi Bencana Asap Kebakaran Lahan di Kalsel akan dimulai tanggal 10 Oktober sampai sekitar 15 hari kedepan berposko di di Lanud Syamsuddin Noor Banjarbaru. “Ini merupakan salah satu upaya pengurangan resiko bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang dilakukan dari udara. Operasional kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Propinsi Kalimantan Selatan. BPBD Propinsi Kalimantan Selatan sebagai elemen Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan akan menjembatani koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam hal pelaksanaan operasi udara ini,” katanya.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin keitk diwawancara menuturan, secara teknis waktu memang agak mundur dari yang dijadwalkan. “Tapi isitlahnya bukan pengunduran jadwal. Hanya secara resminya kita saampaikan hari ini,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan.

Menuruntya, pelaksanaa TMC yang memakan dana sejumlah Rp 1,73 miliar disertai dana operasional pemadaman di darat sejumlah Rp 390 juta tersebut sangat diperlukan mengingat titik hotspot yang masih terbilang cukup banyak di wilayah Kalsel sendiri. “Tadi kita sudah mendengarkan bahwa ada beberapa kebun dan lahan yang juga terbakar. Nah, termasuk juga termasuk mengeringnya waduk riam kanan kita. Maka dampaknya lebih besar. Kalau waduk Riam Kanan kering, kita bias lihat akibatnya terutama dari listrik karena menggunakan PLTA riam kanan. Kemudian juga water atack PDAM, bidang perikanan dan keperluan lainnya di masyarakat,” paparnya.

Rudy mengharapkan, fenomena cuaca skala global yang mempengaruhi kondisi iklim di berbagai tempat atau yang biasa disebut El Nino tersebut diharapkan bisa ditanggulangi dengan Penerapan TMC. “Karena Sejumlah prediksi iklim dunia memberikan peringatan bahwa ancaman El Nino kemungkinan muncul di wilayah Indonesia dengan puncaknya terjadi pada bulan Oktober, November dan Desember 2012 mendatang,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s