Gelar? Penting, Gak Sih?

Tak ayal bahwa gelar terkadang menjadi tujuan utama sebagian atau selruh mahasiswa dan mahasiswi kita di Indonesia yang jumlahnya puluhan ribu jiwa. Hampi 80 persen mahasiswa kita yang baru kuliah menjadikan gelar sebagai tujuan dasar. Setelah itu barulah diiringi dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang mereka inginkan. Kebanyakan tujuan tersebut juga datangnya dari dorongan orang tua. Tuntutan pencarian gelar lebih utama daripada nilai yang didapatkan. Sebagian orang tua mahasiswa bilang, “Yang penting sarjana dulu, nak. Soal nanti bekerja atau tidak belakangan,” ujarnya.

Menurut sebagaian mahasiswa lainnnya, gelar sebagai Sarjana, Magister, atau doktor tidaklah terlalu penting. Bahkan sebagian paham ada yang berpendapat seperti ini, membuat sebutan nama semakin panjang dan menambah beban. Berbeda lagi bagi industry kreatif yang digeluti, adanya gelar tidak sepenting ketika kita berkecimpung di bidanng ekonomi, hukum, kesehatan, dan lain sebagainya.

Pada zaman yang telah lewat, sejumlah sarjana atau sebagian orang yang berhasilo meraih gelar sangat berpengaruh di masyarakat dimana dia tinggal. Pemikiran dan opinin tersebut terlahir lantaran masyarkat tahu, usaha, esensi, ongkos dan kemampuan akademis seseorang untuk memperoleh gelar tersebut tidaklah mudah. Sangat nyata dan merasuk ke dalam hati serta perlakuan setiap hari. Jadi sepantasnya lah sesorang yang telah memperoleh gelar karena mengakhiri pendidikan secara akademis mampu mempraktekan kemampuannya secara nyata.

Semisal gelar Dr bagi seorang dokter. Maka sudah seyogianyalah ia bekerjsa sepbagai profesi yang memang professional menyembuhkan, mengobati, memberi resep, praktek di rumah pribadi, puskesmas, klinik, dan rumah sakit. Begitu pula yang bergelar sebagai seorang sarjana pendidikan. Semestinya memang harus bekerjsa dan berprofesi sebagai guru yang mengajar anak didik di sekolah, les private, bimbingan belajar, dan proses belajar-mengajar lainnya. Seorang insinyur layaknya Bung Karno pun memang lihai dalam bidang arsitektur. Yang mana sanggup merancang banyak hal di Indonesia, seperti Pancasila. Meskipun belakangan nilai esensi dalam pancasila mulai menyusut, tak hanya dari segi pemerintahan tetapin juga dalam ranah perkuliahan hingga pendidikan dasar. Bahkan keberadaan Pancasila di ruamg-ruang kelas hanya berfungsi sebagai hiasan dinding simbol sahaja.

Namun kenyataan di era digital dan modern saat ini, di zaman cepatnya informasi dan teknologi didapat dan dimanfaatkan, memperoleh sebuah gelar bisa saja tidak sesulit masa dulu. Tidak sedikit pula penyandang gelar berhamburandan menambah angka pengangguran. Lalu mengertikah mereka nilai dalam gelar yang mereka sandang? Lalu bagaimana dengan kalian. Pengtingkah gelar dalam ranah perkuliahan yang sobat kampus geluti sekarang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s