4 hari, Untung 1 Juta, Kisah Penjual Terompet Yang Juga Mahasiswa Hukum

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebagaimana biasanya, menjelang perayaan tahun baru akan banyak sekali para penjual terompet dengan berbagai macam jenis. Sebagaimana yang dilakoi Ahmad Rahim (25). Pemuda yang saat ini juga berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum STIH Sulktan Adam Banjarmasin ini mengaku sangat menikmati pekerjaannya sebagai penjual terompet tahunan kala menjelang pergantian tahun. “Sudah 7 tahun sejak saya lulus SMA. Uang hasilnya ya untuk kebutuhan hidup dan yar kuliah. Belajar mandiri untuk selalu minta uang ke orang tua,” tuturnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com saat melayani pembeli di Taman Air Mancur Kota Banjarbaru, Selasa, (25/12), kemarin sore.

Tak hanya terompet, ia juga meperdagangkan beberapa jenis mainan topeng berwajah jenis binatang seperti srigala, monyet, dan lainnya. Harganya pun bervariasi, dari 35 ribu rupiah sampai ratusan ribu. Tergantung bahan dan motfi yang digunakan. “Kalau terompet kita jual dengan harga yang paling murah dari 20 ribu rupiah sampai 200 ribu. Kalau bahannya kertas tentu agak murah. Resikonya tak tahan lama, mudah hancur. Kalau berbahan plastik biasanya lebih awt. Bahkwa suaranya pun bias diganti-gantinya. Bisa agak keras keras suaranya dan tak terlalu nyaring. Ada setingannya,” sahutnya.

Barang-barang tersebut didatangkan dari Pulau Jawa melalui kapal. Sepanjang 7 tahun karirnya menjadi penjual terompet, ia mengepalai atau mengkoordinir beberapa anak buah yang juga berprofesi sama di Banjarmasin. “Kita jualan mulai dari tanggal 22 Desember, 1 pekan sebelum tahun baru. Biasanya menjelang malam puncak pembeli tambah banyak. Dan bila menghabiskan semua barang dagangan sampai 1 Januari, maka ada komisi lebih dari bos yang lebih tinggi,” katanya.

Dalam satu hari pertama, keuntungan yang ia dapat pun cukup lumayan, yaitu 350 ribu rupiah. Hingga sampai hari kemarin, ia sudah mendapatkan untung uang sejumlah 1 juta dalam kurun waktu kurang lebih 4 hari. “Uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan tentunya bayar kuliah juga. Sekarang sudah menjelang tugas akhir. Sambil kerjakan skripsi kita terus berusaha, agar tak memberatkan orang tua,” paparnya yang saat ini sedang menjalani kuliah semester ke 7.

Sebagai kiat khusus, ia biasanya bersama rekan lain akan mengobral sejumlah terompet menjelang akhir tahun. Dan tak hanya di banjarbaru, bisnis berjalan terompet sudah ia jalani samapi ke Samarinda. “Saya jalan 7 tahun. Sudah. Banyuk makan hidup dari usaha ini jadi gak dilepaskan,” tandasnya.

Tak ada kendala, rasa malu, atau pun takut bersaing baginya dalam menjalani sebagaian hidup sebagai penjual terompet. Hal itu dilakukannya karena semangat yang ia miliki. “Banyak teman saya yang sudah lulus termasuk yang sarjana hukum tetapi tak berbuat apa-apa. Hanya duduk manis dirumah sembari menadah tangan kepada orang tua. Baginya pekerjaan sebagai penjual terompet justru sangat menjanjikan. Dari segi keuntungan pun besar,” terangnya sebari tersenyum ketika ditanya mengapa tidak kuliah di fakultas ekonomi saja.

Ia berkomitmen untuk meraih cita-cita sebagai pengacara. “Saya ingin jadi jaksa atau hakim. Tapi di bangku perkulihan saja, kita hanya dapatkan teori semata. Tidak ada pengalaman kalau tidak turun ke lapangan. Saya menganggap semua permasalahan itu gampang. Termasuk menjalani hidup. Berusaha mencari uang dengan berjualan terompet pun sebagai jalan hidup. Soal perdata atau pidana kita kita tak hanya membahasnya di bangku kuliah, tapi di kehidupan nyata seperti berjualan. Karena juga ada namanya hukum perusahaan, hukum tambang, dan hukum lainnya,” ungakapnya yang sempat bekerja di tambang sebagai supir ini.

Ia berharap rekannya yang lain terus semangat dalam menjalani hidup dengan belajar mandiri sejak muda. Artinya tak selalu mengharapkan pemberian orang tua. “Tak harus berjualan terompet. Banyak pekerjaan halal lain yang lebih menguntungkan. Daripada harus selalu berpenampilan borjuis dengan mobil mewah orang tua dan isi dompet 50 ribu saja. Apalagi yang sudah sarjana, hampir 3 tahun ijazah dijadikan bungkus kacang, mendingan kerja sampingan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: