Pedagang Keluhkan Rehab Pasar

OLYMPUS DIGITAL CAMERADinilai Tak Sesuai Dengan Fungsi Pedagang Ikan

Pasca diresmikannya los pasar ikan Pasar Bauntung Banjarbaru ternyata tak berbuah manis. Sebagaimana pantauan Media Kalimantan di lokasi, beberapa penjual terlihat harus berdiri untuk menyapa pembeli lantaran dinding-dinding los per buahnya dinilai mereka terlalu tinggi. Tak hanya itu, 3 hari berhyalan setelah diresmikan lalu, para pedagang mengaku omset dagang mereka menurun lantaran sepi pembeli. Kebanyakan masyarakat yang datang hanya melihat-lihat saja dan tidak membeli sebagaimana biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASeperti yang dikeluhkan H Sayuti, meski sudah pagi sekali pengunjung yang membeli ikan sedikit sekali. “Ya, banyak yang numpang lewat aja. Mungkin warga masih belum terbiasa. Kalau soal kondisi, keramik yang dipakai buat lantai ini terkesan licin. Bahkan beberap los sudah ada yang pecah, fungsi bak penampungan air di los yang kurang baik. Seharunya mampu menampung air dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan yang sekarang justru cepat habis lantaran bagian bawah bak mengalami rembes,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Kamis, (20/12), kemarin.

Anehnya, Sejumlah los milik pedagang ikan lain memiliki fasilitas los seperti besi penggantung daging di pedagang ikan. Menurut mereka, los penjual ikan tak memerlukan besi penggantung daging. Sebaliknya los yang ditempati pedagang daging justru tak dilengkapi fasilitas tersebut. “Seharusnya didata dulu pedagang menurut jenis dagangannya, supaya tidak asal pasang. Pada akhirnya kurang tepat fungsinya,” tutur H Nasir, salah seorang pedagang ikan lain.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAHal itu pun diamini oleh padagang ikan yang lain. Mahmud misalnya, pria berkacamata ini mengaku pengerjaannya bangunan pasar itu sekadar ada alias asal jadi. “Tampaknya belum siap betul dan sudah tiba-tiba diresmikan saja. “Terlalu sempit. Kami terpaksa masuk dan keluar los nunduk sampai jongkok. Bentuknya tak efektif untuk berjualan. Bahkan bak ikan yang dibuat terlalu tinggi, hampir 100 cm. Padahal ukuran yang ideal itu 40 sampai 50 cm saja,” paparnya.

Selain itu, ia juga mengeluhkan keramik lantai los ikan yang ia tempati sudah pecah padahal baru dua hari dipakai untuk berjualan. Begitu juga terjadi di beberapa titik lorong pasar ikan.

Sepinya pembeli pun diakui mereka tersebab oleh beberapa faktor salah satunya kondisi los yang tidak memadai. “Bahkan pembeli sempat bertanya kenapa baknya dan jalur masuknya bentuk demikian? Ya, mau bagaimana lagi, jadinya sudah begini. Sangat tidak cocok dengan pedagang ikan. Terkadang kami terpaksa duduk sesaat di dinding pembatas los untuk sekadar bertegus sapa dengan pedagang lain di sebelah-sebelah,” keluhnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memang tidak akan bertahan lama. Bahkan beberapa warga ada yang sudah melepas bak kayu yang menghalangi jalan masuk. Kemudian menambah beberapa papan meninggikan tempat duduk. Tersebab jika dibiarkan seadanya kepala mereka tak terlihat untuk menyapa pembeli. “Kalau begini kencing sambil jualan pun bisa. Gak bakalan kelihatan,” sahut pedagang lain yang duduk di dinding pembatas los ikan.

Sementara itu, Marhan, penjual ikan yang lain justru mengeluhkan masih adanya pedagang yang ikan dan daging yang amperan di depan tepatnya di depan ruko-ruko. “Padahal perjanjiannya hanya sampai pukul 08.00 Wita selesai dan diberik kewenangan lagi sampai 09.00 Wita sudah beres. Tapi nyatanya sampai pukul 11.00 Wita masih banyak yang berjualan. Kami laporkan hal itu ke kepala pasar, malah tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin sudah disuap. Kecuali ada penilaian adipura bisa baru tertib,” paparnya.

Mereka menilai rapat yang perencanaan bersama pemerintah terkesan sia-sia karena memang sulit meminta pemerintah merehab sesuai dengan keperluan pedagang. “Pernah mengusulkan, tetapi pihak Pemko mengaku tak bisa mengubah desain rehab sesuai dengan konsep pasar yang diadopsi seperti di Surabaya. Hasilnya ya begini, kita jadi kurang terbiasa. Karena tidak diperbolehkan merubah-rubah lagi. Terpaksa yang ada ini saja,” cetusnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: