Tudahan KDRT, Hariyadi Dibui

Mantan pejabat kantor pos Martapura, Hariyadi (58) didakwa melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya Yuliani (56), yang berprofesi sebagai pegawai kesehatan di satu puskesmas Kota Banjarbaru. Kasus tersebut dipaparkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Banjarbaru Jainah di Pengadilan Negri Banjarbaru, Senin, (17/12), awal pekan tadi.

Sidang yang dimulai sekitar 15.00 Wota itu diawali dengan pemaparan Hidayat selaku saksi. Dikatakan Dayat, (sapaan, red) dalam forum, korban (Yuliani) datang ke rumah terdakwa (Hariyadi) yang terletak di Komplek Graha Permai Guntung Payung, Senin 6 Agustus 2012. “Sebagai RT, saya mendapat menerima laporan dari Pak Haryadi bahwa istrinya yang sudah ia ceraikan tersebut mengamuk-ngamuk di depan rumah. Karena menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya langsung menuju rumah korban,” jelasnya kepada hakim.

Dipaparkannya, ketika ia sudah berada di hadapan rumah, korban sudah berada di dalam halam rumah terdakwa dengan cara meloncat pagar. Saat itu juga terjadi adu mulut antara Hariyadi dan Yuliana. Hariyadi berusaha keluar rumah tetapi keinginan dihalang-halangi Yuliana. “Memang sempat terjadi dorongan kecil, karena Pak Hari berusaha ingin keluar dari pagar rumah, sedangkan Yuliana menghalang-halanginya untuk keluar dengan cara membentangkan tangan di pintu pagar, sampai akhirnya Pak Hari berhasil keluar dari rumah,” ujarnya sembari memertanyakan dimana letak yang dinilai KDRT.

Sedangkan, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Banjarbaru Jainah mengatakan, kasus itu dikuatkan dengan bukti visum yang dilakukan oleh korban. Dari hasil visum tersebut, menyatakan, setelah kejadian tersebut korban mengalami luka di bagian tangan kiri, akibat dorongan yang dilakukan oleh Hariyadi sehingga tergores pagar rumah yang terbuat dari besi. “Hasil visum merupakan bukti nyata yang memberatkan terdakwa,” sahutnya.

Lebih lanjut Jainah menjelaskan, terdakwa akan dijerat dengan Undang-Undang RI No 23 tahun 2004 pasal 44 ayat 1 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 60 juta.

Menurutnya, kasus KDRT tersebut sebenarnya merupakan kasus sepele antara kedua pasangan suami istri. Namun, lantaran keduanya mempunyai ego yang tinggi dan tidak ada yang mau melemah, maka jadilah kasus tersebut ke ranah hukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: