Wajar, Tapi Perhalus Bahasanya

Adanya temuan soal mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) untuk kelas 5 SD langsung disikapi oleh Wakil Komisi I DPRD Kota Banjarbaru H Bambang S Ronie. Menurutnya, kewajaran materi seks tersebut untuk anak yang berumur 5-10 tahun perlu dipertanyakan. “Apakah bias diyakinkan untuk anak seumuran kelas 5 astau 6 SD mampu memahami dengan benar dan tidak menyalah. Karena faktanya, pulang di rumah anak-anak kembali menanyakan pelajaran demikian kepada orang tua mereka. Pemahaman itu tak mungkin instan, harus ada jenjang waktu bertahap agar mereka anak pelajar setinga SD bias mengerti,” katanya kepada wartawan, Selasa, (8/1), kemarin.

Menurutnya, dilihat dari bahasa yang ada memang terlalu vulgar. “Bahasa seks memang vulgar. Tetapi kita menginginkan dalam ranah pendidikan bahasa ini bias diperhalus lagi. Kalau saya tetap tidak mendukung dengan bahasa itu, setidaknya ada bahasa lain yang lebih mengena terhadap pendidikan seks. Menurut saya jika anak itu memang sudah aqil baligh maka akan mengerti. Tak ada patokan umur harus 7 atau 10 tahun. Bisa saja sejak kelas 1 SD dia sudah aqil baligh dan cepat memahami itu,” tegasnya.

Ia mengharapkan perlu rasanya dari pusat membaca karakteristik daerah masing-masing. “Terutama sebagian orang kita kalsel yang sangat erat memegang budaya tabu demikian. Tentu tak bias disamakan dengan daerah lain seperti Jakarm Jawa Barat, Bandung, dan wilayah lain yang bisa dikatakan mudah mengerti dari pergaulan lingkungan mereka,” terangnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kota Banjarbaru Iwan Budiman SH menyatakan, bahasa demikian sudah sangat umum dan terlalu dekat di lingkungan sekitar kita. “Apalagi di era digital dan cepatnya perkembangan media eletronik dimana-mana. Sebenarnya hampir semua anak seumur SD sampai Remaja SMA sudah nikamati dan mendengarkan bahasa itu. Di televisi, majalah dewasa, internet, dan media lain yang mendukung sebagai saran informasi. Aplagi sekarang mereka anak-anak pelajar kita lebih akrab dengan lingkungan internet daripada orang tuanya. Mainnya tinggal klik, semua infornmsi bisa didapatkan,” katanya.

Namun katanya, ketika bahasa itu timbul dalam ranah pendidikan maka jadilah persoalan. “Ini sudah terlanjur. Dalam artian terlanjur dipakai, terlanjur diekspos ke media masa, dan terlanjur menjadi peraduan oprang tua. Tapi kita berharap hal demikian tidak terjadi lagi di ujian semester mendatang. Kita lihat ke depan semoga dewan bisa berikan pengawasan tertutama instansi terkait supaya hal ini jangan sampai terjadi lagi,” harapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Drs Ahmadi Arsyad menyikapinya dengan santai. Menurutnya hal demikian adalah suatu kewajaran. “Soalnya memang sudah menjadi kurikulum pusat. Sebagaimana KTSP. Kita di daerah ya mengikuti intruksi dari Kemendikbud. Tetapi, kita tetap mengharapkan bahasa yang halus dan tidak vulgar. Bahkan yang ada itu pun sebnarnya sudah sehalus-halus bahasa dalam pendidikan seks, mau bagaimana lagi,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Selasa, (8/1), kemarin.

Ia menanggap soal-soal berbau seks yang terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) kelas 5 SD itu terkati sub bahasan yang terdapat pada kesehatan. “Berbeda pelajaran waktu zaman orang tua kita dulu. Pendidikan demikian belum ditemui di waktu SD. Sekarang tak hanya di penjaskes, Setidaknya ketika SMA dulu ada di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Biologi dan mata pelajaran yang berhubungan dengan anatomi tubuh manusia,” paparnya.

Menurtnya, persoalan itu tergantung kaedah bahasa yang dipakai masing-masing. Pada intingya, kata Arsyadi, mata pelajaran tersebut mengenalkan masalah reproduksi. Ia menilai keresahan orang tua menjadi hal yang wajar sebagaimana ia juga sering diberi pertanyaan demikian oleh anaknya yang SMP. “Kita sebagai orang tua juga heran. Namun wajarlah pengenalan hal yang masih tabu. Keinginan peneliti dari tim ahli bermkasud melakukan pembinaan kepada anak usia dini untuk mengetahu seks, menghindari hal berkaitan sex yang tercela seperti pelecehan seksual dan lain sebagainya. Sebelumnya juga ada pro dan kontra di pusat. Namun, ke depannya kita berharap kepada tim pembuat soal independen agar lebih memperhalus lagi memakai bahasanya dalam pendidikan mengenai seks,” ingatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: