Lampau, Menjelma Kini Mewujud Lalu

17732143

Judul Buku ; Lampau
Penulis : Sandi Firly
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal : x + 346 hlm; 13 x 19 cm
Rate : 3 of 5

Karena bagaimanapun, masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar – Khaled Hosseini, The Kite Runner

 

Keinginan dan keutamaan dalam menuntut ilmu lah menurut saya mendasari tokoh utama dalam buku ini. Sandayuhan atau Ayuh merupakan seorang anak laki-laki yang lahir dari seorang Balian di sebuah pedalaman Loksado, Kandangan, Kalimantan Selatan. Uli Idang -Ibu Ayuh- terpaksan membersarkannya Ayuh seorang diri hanya karena alasan yang tidak saya terima, sebagai pembaca.

Hingga pada suatu jalan, Ayuh harus memilih untuk keluar dari tanah kelahirannya demi sebuah keinginan, yakni menuntut ilmnu. Sebagaimana yang disebutkan Sandi Firly dalam novelnya yang kedua ini, Ayuh –tokoh utama dalam novel tersebut- justru bingung, sama sekali tidak mempunyai cita-cita. Hidupnya mengikuti arus sungai menurut apa yang dilakukannya. Sampai dimana ia menentang suatu adat Dayak Meratus yang sakral.

Bicara dari segi penulisan, Sandi berhasil mebuka cerita dengan prolog yang memang di setting untuk membuat pembaca penasaran. Nilai tradisi dalam upacara adat yang disebut Aruh telah dipaparkan Sandi di Bab pertama. Cerita tentan kelahirannya yang tak lazim dengan unsure-unsur magis dan mistis (menurut saya) dipadu dalam rangkaian kata yang renyah dan menarik. Awalnya, saya berfikir Novel ini akan menceritakan super hero bekekuatan magis dari pedalaman Kalimantan, ternyata tidak, justru lebih dewasa dan sarat akan pelajaran kehidupan.

Masih dari segi penulisan, Sandi menulis dengan plot yang random namun terarah. Dalam kacamata pembaca yang belum membuahkan satu novel pun seperti saya, Sandi seoalaj-olah menceritakan lebih dulu keseluruhan novelnya yang dibagi menjadi layaknya cerpennya di tiap awal bab. Memasuki awal judul setelahnya, barulah Sandi menjabarkan satu persatu cerita yang sudah yang dirangkum di awal bab. Hingga pada ending novel, Sandi kembali membukanya dengan cerpen pembuka seperti awal bab, namun tak menjabarkan seperti halaman sebelumnya. Begitulah, akhir cerita yang membuat pembaca bertanya-tanya. Siapa pilihan Ayuh sebenarnya, Alia? Atau Ranti! Ini merupakan bumbu drama cerita percintaan remaja yang beranjak dewasa dalam Novel Lampau yang sarat akan kearifan lokal Dayak Kalimantan.

Faktor Proximtiy. Kedekatan pembaca dengan cerita yang dituliskan Sandi Firly dalam Novel Lampau membuat saya mudah membayangkan. Ini yang menjadi poin utama saya dalam menilai. Di mana di upacara Aruh Adat Dayak di awal masa panen yang pernah saya saksikan, seperti itu pula yang Sandi ceritakan. Dari keindahan Sungai Amandit dan sejumlah Air Terjun yang membuat Loksado sejuk dan memesona.

Kemudian dilanjutkan dengan perjalanannya dengan taxi menuju Kota Banjarbaru. Melewati Martapura yang kuat akan gelar Serambi Mekkah dan Kota Santri yang mana ketika kita lewat di jembatan Antasan Senor Martapura, Kabupaten Banjar, Kumpulan Santri Pondok Pesantren Darussalam Martapura berseliweran dengan sarung, kopiah, dan kitab-kitab besar yang dirangkulnya di dada.

Dilanjutkan dengan cerita kehidupan para Santri di Darul Ilmi yang sangat familiar bagi saya yang juga sempat merasakan kehidupan menjadi Pondokan –sebutan bagi santri pendatangan yang tinggal dan menuntut ilmu di Pesantren Martapura-. Sehingga sangat mudah bagi saya membayangkan setting cerita maupun karakter tokoh yang Sandi ceritakan ketika Ayuh berada di Pondok Pesantren. Nah, bagaimana ceritanya seorang Balian yang tidak memeluk agama Islam justru bersekolah di sekolah Pendidikan Agama Islam. Ini poin besar bagi pembaca fanatik akan agama, atau yang suka dengan perdebatan persoalan agama. Ini menjadi senjata Sandi untuk kembali membuat pembaca penasaran.

Selanjutnya, saya yang juga pernah merasakan berlayar dengan kapal besar menuju Surabaya sangat mudah membayangkan ketika Ayuh seakan mabuk laut. Dan memaksanya harus tinggal di kehidupan keras di Jakarta. Selanjutnya, saya bisa membayangkan alur cerita kehidupan Ayuh seperti cerita FTV yang ditayangkan SCTV. Itu menurut saya.

Pada akhirnya, sebagai Orang Banjar saya bangga dengan Novel Lampau karya Sandi Firly. Pembaca lokal Kalimantan saya jamin pasti menemui kemudahan dalam membayangkan setting cerita di Novel ini. Dengan cerita lokalitas kental yang berimbang dengan cerita drama percintaan sebagai bumbunya. Gagas Media selaku penerbit berhasil lagi menyajikan buku bagus yang juga menginspirasi para pembaca.

Sebenarnya banyak masih ungkapan pada Novel Lampau yang tak sempat tertuliskan. Pada akhirnya, saya terkesima dengan alur dan plot Novel Lampau yang sangat filmis. Bahkan saya pun sudah bercanda dengan imajinasi saya sendiri memilih para aktor dan artis dan menciptakan frame-frame sendiri saat melumatnya dalam satu malam. Membeli siang harinya, dan menamatkan di malamnya, dini hari tepatnya. Secara, setiap halamannya selalu berhasil memberi rasa penasaran. Karena factor proximity itu tadi, tak berlebihan rasanya jika saya memberikan bintang lima. Dan menungu Karya Sandi Firly selanjutnya. Sembari menulis mengharapkan melampaui “Lampau” ini nantinya. []

 

,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: