Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 1)

Waduk Riam Kanan

Waduk Riam Kanan

Sebenarnya, ini adalah catatan usang sepekan lalu saat melakukan perjalanan ke Riam Kanan. Ada beberapa point yang sungguh berkesan menurutku, sayang rasanya jika tak diabadikan dalam bentuk tulisan. Terlebih, aku memotret terlalu banyak. Kalau tidak dipublikasikan, nanti akan hilang saat virus menyerang hardisk dalam laptop, pc, atau portableku. Semua foto yang aku ambil dalam perjalanan ini menggunakan Digital Pocket Prosumer Camera Canon PowerShot G11. Pada awalnya, perjalanan ini biasa-biasa saja. Tak ada yang membuatku “Ngeh”. Hanya karena Kak Harie kehilangan kunci motor, kami mendadak menjadi detektif seperti dalam cerita Sherlock Holmes. Ada-ada saja. Ingin menjadi pahlawan kesiangan namun tak sampai. Apalah daya, begini ceritanya.

“Berangkat darimana, Kak Harie?”

“Dari Onoff aja. Beimbaian. Ini lagi di simpang 4. Setumat lagi aku kesitu!”

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Telepon ditutup. Aku dan Sisy berangkat menuju bengkel untuk memperbaiki kedua bola mata kuda bututku yang telah lama mati. Mumpung ada rejeki. Kasihan juga dia, sudah lama buta di waktu malam.

Kami telah merencanakan hari Senin, (20/5/2013), untuk berwisata ke Riam Kanan. Bendungan PLTA tepatnya. Namun tidak menyebrang ke Pulau Pinus, hanya sampai pinggir dermaga saja. Ada 13 orang yang berangkat (Aku termasuk dalam hitungan), Aku, Sisy, Kak Harie, Istri Kak Hari (Mama Gendhis), Gendhis, Ocha, Diah, Sari, Lutfie, Zian dan Pacarnya (Lupa namanya siapa?). Sebenarnya masih ada Syaukani dan Dillah. Namun mereka tak berangkat barengan karena Syaukani harus menunggu Dillah yang sidang skripsi di kampus. Tersebab waktu itu jumlah sepeda motor pas, satu motor ditunggangi dua orang. Kecuali Kak Harie sekeluarga, bertiga dalam 1 motor.

Syaukani, dia baru saja meraih predikat Juara Harapan I Nanang Galuh Kabupaten Banjar dan juga menyandang predikat Duta Persahabatan. Suatu kebanggaan, bukan? Dan Dillah menjelang predikan sarjana. Alhamdulillah setelah telat beberapa tahun. Sayangnya aku juga terlambat menjadi sarjana.

???????????????????????????????Pukul 15.00 kami semua telah berkumpul di sekretarian Onoff Solutindo Jl Sukarelawan Banjarbaru. Setelah berdiskusi tentang tumpang menumpang. Syaukani harus ikut Dillah yang saat itu masih di kampus. Jadilah Syaukani di antar Lutfie terlebih dulu.

Tak lama ditunggu, Lutfie telah tiba dan berkumpul bersama. Prepare segala persiapan. Dan berangkat menuju Riam Kanan. Dalam perjalanan, kami semapat juga menegur Syaukani yang menunggu Dillah di Satpam. Jongkok sambil merokok. Seperti waktu Pup. Mirip gelandangan. Padahal aku menyarankan agar dia masuk saja ke dalam gedung kampus yang berbentuk ruko itu. Namun tampaknya dia malu. Malu-malu tikus.

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jarak menuju Riam Kanan tidaklah terlalu jauh, Bro. Sekitar 16 Kilometer dari pusat kota Banjarbaru. Di sepanjang Jalan Ir PH M Noor biasa kita temui sawah-sawah dan ladang penduduk setempat. Itu di awal-awal melewati Kelurahah Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru. Namun ketika memasuki daerah Mandiangin Timur akan lebih terlihat beberapa hutan dan kebun-kebun durian. Dulu, jalan menuju wilayah ini tak senyaman sekarang. Namun beberapa kali diperbaiki tetaplah tak semulus Jalan Nasional. Sebab Jl PM Noor merupakan akses satu-satunya truk pengangkut yang mengambil batu gunung, tanah, dan pasir di wilayah Mandiangin

Waktu itu, beberapa titik jalan sedang ada pengecoran. Karena beberapa hari sebelumnya juga sempat hujar, di beberapa luas jalan juga banyak yang becek dan berlumpur tebal. Untung saja untuk pengendara roda dua diberikan jalur ruas jalan yang sudah dicor dengan semen. Jadi tak terlalu bermasalah melewati lumpur-lumpur itu.

???????????????????????????????Usai melewati pintu gerbang Wisata Tahura, di antara lapangan sepakbola dan pasar, kami singgah di rumah calon mertuaku. Sebenarnya tak terlalu penting. Sekadar meletakkan beberapa perkakas Sisy di rumahnya. Setelah berpamitan kami juga kembali berangkat ke tujuan.

Dari sini, kita akan melalu beberapa pegunungan yang sudah robek. Maksudnya beberapa lereng tampak sudah gundul dan terkeruk. Dari situlah biasanya pengusaha material mengambil bebatuan dan tanah urukan. Khususnya batu yang biasa dipakai orang-orang untuk membuat pondasi rumah atau bangunan lainnya. Yakni Batu Gunung.

Sekitar 12 Km perjalanan, kita akan melewati jurang-jurang curam yang jika kamu memandang ke bawah, cukup membuatmu merinding. Kita juga melewati wisata Tambela. Biasa dipakai untuk ajang outbond. Di dalamnya disediakan pula penginapan, kolam renang, lapangan tenis, dan fasilitas umum lainnya.

???????????????????????????????Menuju ke atas lagi, terdapat tempat wisata air terjun dari waduk Riam Kanan yang disebut orang-orang dengan bermacam versi. Ada yang menyebutkan Sungai Kembang/Sungai Kambing/Ari Terjun Aranio/ dan masih banyak lagi. Aku agak sedikit lupa istilah-istilah penamaan yang pernah disebutkan orang tentang wisata Aranio. Sayangya, lokasi itu kini telah ditutup. Sebagaimana yang aku lihat saat melewatinya. Sekecil akses menuju ke tempat itu ditutup secara permanen. Kabar terakhir yang aku dengar, beberapa waktu yang lalu tempat itu terjadi perkelahian sengit antar preman yang biasa menguasai lahan parkir. Lebih tepatnya berebut wilayah. Mereka bertikai dan berakhir dengan kematian. Entah pihak mana yang mati dan apakah memang kasusnya ditangani kepolisian setempat, aku kurang tahu. Yang jelas kami terus menuju ke atas. Setelah bagian ini, banyak tikungan-tikungan tajam dan bertebing tinggi yang kalian lewati.

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Setelah persimpangan tiga, kita menemui plang PT PLN. Itu merupakan lokasi kantor wilayah yang memang dikhususkan gupengoperasian turbin PLTA Riam Kanan. Dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Riam Kanan. Kampung itu tampak seperti di bawah lapisan bumi. Saat belok tikungan tajam kanan, kumpulan rumah-rumah klasik tampak di sebelah kiri. Pemandangan itu dibalut dengan birunya langit di latar belakangi pepohonan perbukitan. Kemudian memancar pantulan cahaya matahari di permukaan air waduk.

Kamu singgah sebentar di pintu gerbang selamat datang menunggu teman yang lain tertinggal di belakang. Ternyata Kak Harie sekeluarga, Diah, dan Sari sempat berhenti karena berfoto di tengah jalan. Dasar. Setelah semua berkumpul, lanjutlah menuju dermaga. Jalan perkampungan masih beebatuan, sampai kami semua dihadapakan pada jembatan gantung yang cukup reot dan berlubang.

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

“Jangan… aku takut. Jembatannya bergoyang saat dilewati kendaraan yang di depan sana. Biar satu persatu saja bergantian,” kata Sisy di belakangku ragu. Tiba-tiba sugesti dari juga membuatku ragu yang awalnya sudah yakin ingin tancap gas melewati. Yang lain pun sudah antri di belakang. Aku juga sempat menyuruh Sisy turun dari motor untuk berjalan kaki menyebrang untuk meringakan beban. Tapi dia menolak. Aku bingung, apakah aku hari melewatinya berbarengan dengan semua tumpangan, atau balik badan. Bagaimana nanti jika jembatan itu roboh dan kami jatuh ke jurang yang mengalir air waduk di bawahnya. Ini membahayakan. (bersambung)

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Iklan

One thought on “Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s