Peluncuran dan Diskusi Novel

lampauNovel Lampau bercerita tentang seorang anak Dayak di Pegunungan Meratus bernama Sandayuhan atau Ayuh yang ingin melanjutkan pendidikan, namun menghadapi banyak kendala. Antara lain faktor ekonomi, akses yang sulit dan kultur masyarakat. Namun yang paling berat tuntutan dari ibunya sendiri, Uli Idang, seorang balian (dukun). Sang ibu menginginkan Ayuh mengikuti jejaknya sebagai balian yang sangat dibutuhkan masyarakat, bukan sebatas pengobatan juga untuk memimpin ritual keagamaan.

Posisi Uli Idang sebenarnya unik, karena dialah satu-satunya balian perempuan, sesuatu yang tidak lazim di kampung itu. Pada awalnya ia ditantang bahkan dianggap menyalahi aturan. Apalagi ia jadi balian setelah dua perkawinannya kandas. Perkawinan pertama dengan Katuy, anak pengusaha setempat, atas nama utang-piutang. Perkawinan kedua dengan seorang laki-laki dari kota, Genta, atas nama cinta. Di samping tak lazim, pilihan Uli Idang menjadi balian dianggap sebagai pelarian. Tapi karena keteguhannya, Uli Idang akhirnya sangat dibutuhkan masyarakat Loksado, sebuah kampung di Pegunungan Meratus yang terkenal dengan tradisi balanting paring (arung jeram dengan rakit bambu) di Sungai Amandit.

Uli Idang menginginkan putra satu-satunya menggantikan dirinya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Akan tetapi takdir berkata lain. Diberi semangat dan diantar oleh pamannya, Amang Dulalin, Ayuh nekad masuk ke pesantren di Banjarbaru. Amang Dulalin adalah sosok unik lainnya di Loksado; hidup semaunya tapi punya wawasan luas berkat kegemarannya membaca. Sang pamanlah yang berhasil meyakinkan Ayuh untuk melanjutkan pendidikan meskipun di pesantren ia harus bekerja lebih keras karena masuk melalui jalur “gratis”.

Namun, tidak seperti novel-novel “motivasi” atau edukasi lainnya, Lampau tidak memperlihatkan keberhasilan pendidikan dari satu sisi; tamat kuliah dan bekerja. Ayuh ternyata tidak berhasil menamatkan bangku pesantren, malah memutuskan keluar setelah difitnah oleh anak pendonor pondok. Ia menjalani pendidikan sendiri secara langsung dalam kehidupan yang lebih luas. Menjadi buruh angkut di Pelabuhan Laut Bandarmasih, naik kapal ke Surabaya, lalu naik kereta api ke Jakarta. Terdampar di Jakarta menjadi pekerja kasar di sebuah pasar, Ayuh tetap menghikmati suka-duka hidupnya. Ia berhasil di satu titik mengangkat taraf hidupnya lebih baik, namun ia akhirnya memutuskan pulang menemui ibu dan kampung halamannya. **

Oleh: Reng Paseser

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: