Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 2)

???????????????????????????????Akhirnya dengan perlahan dan bergoyang-goyang, kami berhasil melewati jembatan gantung yang mengerikan. Sepeda motor terus lanjut ke jalan-kalan perkampungan yang lebarnya tak muat jika mobil lewat sini. Melewati rumah-rumah klasik dan sekolahan SD di perkampungan.

Langit berwarna biru yang luas terpampang di atas kepala kami. Dilanjutkan dengan pemandangan air yang terhampar di hadapan. Panasnya matahari mendadak sejuk saat aku menatap air.

“Sudah kita parkir di sini saja,” ujar Sisy. Kami memarkiran kendaraan di belokan jalan sebelum melewati jembatan yang lebih kuat. Bukan seperti jembatan sebelumnya yang bergoyang-goyang. Awalnya kami memarkirkan kendaraan berjejer di depan rumah orang-orang pribumi. Itu lantaran lebih teduh. Namun karena kurang enak, akhirnya beralih ke tempat di samping rumah orang, meskipun pana manggantang. Kecuali kendaraan Sisy yang lokasinya sudah strategis, agak teduh.

Kak Hari berfoto di Jembatan
Kak Hari berfoto di Jembatan

Masing-masing dari kami sudah melepaskan bebeberapa atribut perjalanan. Dari sarung tangan, jaket, tutup muka, dan yang paling utama, Helm. Di sepanjang jalan kami sempatkan untuk berfoto. Aku juga banyak sekali memoto aktivitas yang ada di sana. Anak-anak yang mandi timbul tenggelam di sungai. Yang menarik lagi adalah penampung yang mereka gunakan. Bukannya dari kulit ban dalam yang biasa di pakai di kota-kota. Melainkan dari kantong plastik yang ukurannya agak besar diisin dengan angin. Hasilnya, pelampung itu tampak transparan.

Kemudian perjalanan kami kami ber-12 (termasuk Gendhis yang paling kecil anaknya Kak Harie) melewati anak-anak tangga ke atas. Di tangga ini pun sempat berhenti untuk sekadar berfoto. Setelah itu maju menuju pagar yang terhalang. Awalnya kami ragi apakah jalur di sini memang terbuka untuk umum? Untung aja ada kenalan lama Sisy yang merupakan orang setempat menjamin aman. Jalur masuk tersebut sebenarnya talah di kandang dengan besi. Menyisakan sedikit ruang di ujungnya untuk dimasuki seorang manusia dengan memiringkan badan. Kebayang gak sih, bagaimana kalau si buncit yang melewati pintu gerbang ini? Untungnya semua dari kami adalah manusia bertipe tubuh ideal.

???????????????????????????????Di sebelah kiri dan kanan kami adalah tebing-tebing yang dihiasi pepohonan layaknya hutan belantara. Menurut informasi, tebing tersebut memang telah terbangun sejak jaman penjajahan Belanda. Dan akhirnya, kami sampai. Di tempat yang dimaksudkan. Sungguh, sangat-sangat tidak menarik bagiku pribadi.

“Ya sudah… kita sampai disini saja. Buka makanannya,” tutur Mama Gendhis.

Semua duduk manis. Ada yang jongkok ada pula yang sekadar bersila. Aku asih melihat-lihat ke sekililing. Di hadapan kami merupakan pintu masuk menuju kantor PLN yang menangani turbin bendungan waduk Riam Kanan terpampang kandang. Bukan kandang permanen, hanya kayu yang melintang. Di situ bertuliskan “Selain Petugas Dilarang Masuk”.

???????????????????????????????“Ayo, kak. Kita foto-foto dulu!” ujar Diah mengajakku. Bukan, tapi mengajak kami semua, siapa saja yang bawa kamera. Inilah resiko fotografer atau smartphone kameranya berkualitas. Selalu disuruh-suruh menjadi pelayang mereka orang-orang yang doyan narsis. Itu adalah kutukan kawan.

Beberapa rekan sudah berfoto di tebing yang tinggi dan curam itu. Saat itu pula Kak Hari dan Zian sudah meninggalkan kami. Dia mengeluarkan alat pancing. Katanya mau ngetes, ikan disini makannya apa. Begitu.

Beberapa dari kami sempat memikirkan, bagaimana bisa sebuah batu besar itu dibentuk rapi sedemikian rupa. Tapi ya sudahlah. Kita tidak ingin membicarakan sebuah filsafat atau sejarah. Tapi nikmati saja udara yang menyejukkan di sekitar lingkungan sekarang. Jauh dari hiruk pikuk lalu lintas. Dan terbebas dari polusi udara. Aku menarik nafas panjang. Menghirup udara segar pegunungan. Kemudian, datang seorang satpam.

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie
Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

“Mau masuk?” Katanya.

“Gak Om. Di sini saja. Piknik,” sahut seorang dari kami.

“Kalau mau masuk bisa aja. Di dalam lebih nyaman lihat pemandangan waduknya. Kalau berfoto disitu juga pasti bagus. Asal jangan langsung semua. Bergantian aja. Dua orang atau tiga orang,” kata Satpam itu mengakhiri.

Aku juga sempat memikirkannya. Nantilah setelah season foto-foto di sini usai. Salah satu di antara kami (ini sengaja kebanyakan salah satu salah satu dan salah satu. Karena aku lupa waktu itu siapa yang melakukannya) menelpon Syaukani dan Dillah yang katanya sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka tiba. Gumamku.

**

Ocha di Pinggir Jembatan
Ocha di Pinggir Jembatan

Syaukani dan Dillah datang membawa beberapa minuman botol. Namun tak sampai 5 menit, di belakang mereka menyusul sejumlah anak-anak yang tampaka dari pelajar sekolahan islam. Ternyata benar, mereka adalah rombongan Madrasah Ibtidaiyah. Aku mengetahui itu setelah bertanya-tanya ke salah seorang rekan yang juga teman Syaukani. Awalnya aku sangat bingung. Bahasa komunikasi yang dipakai bukanlah bahasa manusia. Eh, maksudnya bukan bahasa banjar yang dipergunakan kita-kita. Tapi, logat mirip-mirip bahasa Thailand. Seperti film-film Thailan yang sering kutonton. Swadikap. Phai tot. Rehe-rehe. Dan lain-lain. Ups, ternyata bahasa itu adalah bahasa Madura.

“Iya memang kebanyakan murid dan gurunya orang Madura. Sekolahannya itu di Pengaron,” jelas teman Syaukani setelah kita mengobrol banyak. Para murid yang jumlahnya hampir 60 orang itu pun juga membawa beberapa makanan ringan, minuman botol dan kaleng. Ini adalah momentum yang sangat aku sayangkan, semua sampah bekas makanan mereka di buang sembarangan di hamparan rumput hijau PLTA yang bersih. Mencolok sekali menjadi tak sedap di pandang. Semua murid juga menulis-nuliskan namanya di tebing-tebing batu. Mungkin karena memang sudah ada contoh yang mereka tiru. Kemudian pulang meninggalkan onggokan sampah-samapah tak bertuan.

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder
Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Aku dan teman-teman lainnya sempat memunguti beberapa bungkusan makanan ringan tersebut. Tapi tak semuanya. Lebih kepada lingkungan di sekitar kami berhampar dan berkumpul. Dan aku mengkhawatirkan, kami akan ditegur satpam gara-gara sampah yang berserakan. Padahal… dan satpam itu pun mendatangi kami.

“Maaf Om…” aku mendahului pembicaraan.

“Tadi ada beberapa orang siswa dan siswi katanya dari MI berlibur di sini. Sayangnya mereka sudah pulang dan meninggalkan sejumlah sampah di wilayah itu,” aku sembari menunjukkan.

“Ya, saya cuma antisipasi. Gak enak aja. Di kira kami yang menghamburkan sampah sekian banyak itu. Bahkan di setiap sudutnya,” jelasku.

“Ya sudah.. tak apa-apa. Ini serius gak mau masuk. Mumpung sepi. Dan yang jaga saya, kalau yang lain bisa gak dibolehin,” ujarnya.

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis
Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Aku menyampaikan maksud satpam itu kepada yang lainnya. Dan mereka mengangguk.

“Oke. Segera. Kami melihat-lihat di dalam,” tutupku.

Satpam itu menunggu dan beberapa dari kami berdiri untuk masuk beserta satpam tadi. Tinggal lagi Sari dan Diah tinggal untuk sementara menunggu beberapa perkakas dan makanan yang kami bawa.

Aku melihat dari beberapa yang kulihat. Kebun-kebun bunga yang terpotong dengan rapi. Kupu-kupu yang tak sempat terfoto. Juga Ular hijau yang melilit di pagar. Nah, kalau ular hijau yang ini sempat terfoto.

Aku juga sempat minta fotokan disamping plang yang berisi peringatan. Kini, semua sudah tak terkumpul, melainkan menyebar ke sana kemari. Ada yang di tengah bendungan. Juga menaiki bebatuan. Kami berfoto bersama-sama. Hanya Kak Harie yang tak sempat masuk ke sini. Sedangkan Zian telah datang menyusul kami.

**

???????????????????????????????Lama sekali kami di sini. Banyak pula obrolan serta percakapan yang saya tidak tuliskan. Apalagi foto, jangan ditanya. Hampir setiap deting. Ada yang bergaya pis, terbang, narsis, perkasa, sok imut, sok cantik, bahkan mengambil salah satu frame dalam film 5 Cm. Lihat saja fotonya yang saya tautkan dalam tulisan ini.

Demi mempersingkat waktu, cerita langsung ke kami keluar dari bendungan. Namun bergantian. Sekarang giliran Sari dan Diah yang masuk ke dalam dan berfoto-foto seadanya. Kami yang sudah keluar kembali ke titik tempat piknik membuka bungkusan nasi untuk makan. Selesai makan, kami bersiap pulang. Semua bersiap memakai perkakas dan atribut yang telah dipakai. Terlebih Gendhis yang sudah sangat ingin ketemu dengan bapakknya, Kak Harie. Sari dan Diah sudah dipanggil agar tak tertinggal. Dan kami kembali melewati medan yang sama. Hutan belantara. Anehnya, beberapa kali aku mengintip di tepi-tepian sungai aku tak melihat Kak Harie. Dimana dia? Apakah dimakan buaya?

Zian dan Pacarnya
Zian dan Pacarnya

Seketika Gendhis pun tampak khawatir. Dimana Bapak? Kok Gak Ada? Tanyanya. Kami menelusuri semak-semak belukar di balik pagar. Tapi tetap saja tidak ada. Sejumlah pagar besi yang robek kami lihati dan pandangi. Tidak ada seorang pun yang bertengger di tepian layaknya orang yang sedang memancing. Kami semakin cemas dan bingung, dimana Kak Harie sebenarnya berada? (bersambung)

???????????????????????????????

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan
Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Kantor Pembakal/Kepala Desa
Kantor Pembakal/Kepala Desa

???????????????????????????????

Ocha
Ocha

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Lutfie
Lutfie

???????????????????????????????

Diah
Diah

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Sisy
Sisy

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Spiderman or Cicakman?
Spiderman or Cicakman?

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Saat Penulis Numpang Narsis
Saat Penulis Numpang Narsis

???????????????????????????????

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan
Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

???????????????????????????????

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya
Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Syaukani Saat Beraksi
Syaukani Saat Beraksi

???????????????????????????????

Ruang Turbin Generator/Dynamo
Ruang Turbin Generator/Dynamo

???????????????????????????????

55 Cm
55 Cm

?????????????????????????????????????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: