Launching dan Diskusi Kamus Bahasa Gaul Mingguraya

Rico HasyimDi era digital dan serba cepat seperti saat ini, masa lalu begitu cepat terjadi. Sejarah tak lagi terjadi dalam hitungan abad tetapi mungkin dalam hitungan menit atau barangkali lebih cepat lagi. Maka tak banyak yang menyadari betapa pentingnya arti menulis apa yang pernah terjadi di sekitar yang menjadi cepat usang. Rico Hasyim memiliki kesadaran tentang betapa pentingnya mencatat bahasa pergaulan sebuah komunitas yang sifatnya memang temporer.

Rico Hasyim kembali menelurkan sebuah buku dengan judul “Kamus Bahasa Gaul Mingguraya”. Yang mana sebagian besar isi tersebut berupa kumpulan kosakata gaul ala anak muda di Banjarbaru yang sempat booming sekitar tahun 80-90 an.

Onoff Solutindo selaku penyelenggara dan Rico Hasyim sebagai penulis buku “Kamus Bahasa Gaul Mingguraya” mengundang rekan-rekan di Kalimantan Selatan baik itu yang berprofesi sebagai mahasiswa, guru, pejabat, seniman, politisi, dan terlebih masyarakat pada umumnya untuk dapat berhadir dan menyaksikan launching buku karya Rico Hasyim yang bertajuk Kamus Bahasa Gaul Mingguraya pada:

Hari dan tanggal: Selasa, 25 Juni 2013 (malam)
Waktu: Pukul 20.00 Wita sampai selesai
Tempat: Pujasera Mingguraya Banjarbaru
Don’t Miss It!

SeleRico Hasyimngkapnya klik http://www.facebook.com/events/512148855501447/

 

Surat Nomor 24

Wahai sahabatku kecilku, sampai di manakah kau sekarang? Bagaimana kabarmu? Keafiatan tentu selalu kami doakan kepadamu. Aku juga mengharapkan keadaanmu sekarang seperti yang pernah kau inginkan. Dalam jejak rekam kehidupanmu mengelilingi tata surya 24 tahun, ingatkah kau masih dengan kami? Kami adalah orang-orang yang menemani kamu saat bermain di waktu kecil. Menarik benang layang-layang, memasukan kelereng ke satu lubang di tanah, ada masa dimana bulu mata kita terbakar saat meniup lubang bambu yang berdentum keras di belakang rumah, terlebih saat bulan puasa. Atau bisa juga permainan yang membuatmu gusar karena tak pernah kesampaian seperti yang kami miliki? Padahal kamu saat menginginkannya waktu itu, semisal Nintendo, sepatu roda, remote control, robot-robot dengan lampu, bahkan sepeda yang katamu banyak giginya.

Di satu waktu, kita juga pernah bermandikan pasir saat bermain bola kasti. Mengumpulkan beberapa pecahan genteng untuk disusun sebelum bola tenis bekas itu membuat kulitmu membiru. Maaf sobat, itu karena kami terlalu keras melemparnya. Entahlah, apakah kau sekarang masih mengidam-idamkan menjadi pendekar bertopeng layaknya power ranger atau Baja Hitam RX. Sudahlah. Aku yakin kau tak mau meningatnya.

Wahai sahabat seperguruan. Aku tak habis pikir mengapa kau waktu itu ingin mengikuti jejakku merantau ke Kota Santri. Berhenti dari sekolah formal lanjutan pertama yang baru 1 tahun setengah. Kemudian kau memaksakan diri untuk tinggal satu atap bersama kami berlima. Padahal, kau orang baru. Dan ini bukan duniamu. Kau lebih tahu tentang dunia luar daripada kami. Anehnya, kau mau-mau saja. Bahkan terlalu cepat menjauhi orang tua. Alasanmu cuma satu waktu itu, ingin berkumpul dengan orang-orang soleh.

Namun seiring waktu berlalu, aku menyadari jalan ini adalah pijakanmu menuju pendewasaan. Ingatkah saat kita bangun subuh bersama. Tak hanya sehari, melainkan setiap hari menuju kampung melayu hanya untuk ikut-ikutan mengaji Hadist Bukhari dan Ihya Ulumudin. Aku tertawa geli saat kau mengayunkan pena di antara hurup-hurup arab yang sukar dibaca jika kau tidak belajar nahwu dan sharaf.

Kita pulang dengan nafas yang teropoh-gopoh saat mengayuh sepeda tua. Ketika malam Jumat tiba. Kita melakukan ritual yang biasa dilakukan para senior di sekolahan. Berziarah ke Kelampaian menyusuri kegelapan malam di semak belukar dan jalan bebatuan Kampung Melayu sampai ke Dalam Pagar. Katanya, kamu khawatir jalan mulus beraspal Ahmad Yani tersebab banyak truk-truk batu bara berseliweran. Itulah kamu, lebih memilih melewati pohon-pohon tua berhantu dengan bermacam binatang liar daripada truk-truk yang berdebu.

Besoknya, kau memutuskan menjadi mustami di pesantren ini. Sebagai pendengar setia. Belajar mendhabit kitab. Mengikuti kami yang terlalu banyak sholat sunat. Begitu, kan kamu bilang. Ah, kau lugu sekali waktu itu. Di tahun-tahun pertama, kau mulai tak mau lagi sering-sering pakai celana levis panjang. Kau lebih sering memakai sarung dan berkopiah haji sobat. Aku geli melihatnya. Meski hal demikian kuakui sebagai santri pemula.

Setelah namamu tercantol dalam absen guru, kau mulai pelangak-pelongok. Memahami nadzhom serta bait-bait yang harus dihapal. Begitu banyak ayat-ayat yang harus kau ingat. Begitu tebal kitab-kitab yang harus kau pelajari. Di waktu ini, kau banyak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, indahnya beribadah, nyamannya hidup, dan tragisnya kehidupan.

Namun waktu 10 tahun menjadi santri itu telah berlalu, pemikiranmu terlalu cepat berkembang. Kau justru memilih menjadi mahasiswa. Meski hal demikian tak pernah kami inginkan. Bahkan terpikirkan pun tidak. Tapi, iri kah kau saat melihat kami berbondong-bondong pergi ke rumah guru-guru melaksanakan berabgai ijazah? Namun lagi-lagi, kau memang selalu melangkah lebih dulu dari kami. Seharusnya kita berbarengan. Tapi ya sudahlah. Kau memang tak pernah segan untuk mengambil keputusan. Kau adalah teman kami yang keras kepala namun selalu beruntung. Kuharap, saat ini memang momentum yang kau impikan dan hasil-hasil yang telah kau tanam dulu.

Wahai anakku yang pertama, yang memancarkan cahaya-cahaya. Ingatkah kau dulu lahir dari rahimku. Dimasa-masa dalam ayunan kau begitu pengertian. Kau tidur saat ibu membuat beberapa bongkah kue untuk dijual di tempat orang. Usai mengerjakan beberapa keperluan, kau bangun untuk ditimang-timang. Kau selalu berusaha menyesuaikan keadaan. Kau begitu pengertian. Ketika beranjak menjadi dewasa, kau mulai menyusahkan.

Wahai anakku yang memancarkan cahaya, yang selalu aku andalkan. Aku Ayahmu. Masa labilmu adalah masa yang membuat aku sering sakit hati. Aku sempat mendambakan kau akan mengikuti jejakku menjadi orang penting di pemerintahan. Yang tak pernah lepas dari doa orang tua. Yang selalu mencium dan memeluk dengan kasih sayang. Tapi sangat disayangkan, kau begitu membuat emosiku beringas. Kau sering kali menjawab statement-statmen dariku dengan mulutmu. Masih jelas teringat di kepalaku saat aku memandikanmu dengan omelan-omelan sampah. Dengan cacian dan makian yang sebelumnya kau lemparkan ke wajahku, Ayahmu sendiri. Berapa buah ember plastik, rotan kayu, bahkan saking bengisnya, aku menyeret bajumu sampai robek ketika kau lupa waktu untuk pulang ke rumah. Kau terlalu bebas sebelum waktunya.

Meski sekarang aku sadar kini semua tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Saat kamu memutuskan untuk bersekolah di ranah agama. Aku tak melarang, aku ridho dengan keinginanmu. Dengan satu peringatan agar kau tidak sekadar membasahi sebelah kakimu di sana, melainkan basahkan seluruh tubuhmu. Aku tak pernah menyesal mendidikmu menjadi kepribadian yang saat ini kau miliki. Jauh dari pengawasan kami berdua bukan berarti kau semena-mena. Meski kami tak terlalu mengetahui pergaulanmu semasa perantauanmu menuntut ilmu, namun aku yakin, jalanmu sudah ditentukanNya. Semua penentuan kuserahkan kepadaNya.

Anakku yang memancarkan cahaya. Kau tak perlu ragu dengan dukungan kami dan saat kami berdoa. Segala doa-doa yang baik selalu kami panjatkan untukmu di sana. Banyak sekali perubahan yang kudapati saat kau pulang ke rumah. Tata bahasamu, pemikiranmu, jalan pilihanmu, tingkahlakumu yang pernah membuat amarahku memuncak kini telah padam.

Aku tak pernah tahu cita-citamu sebenarnya apa. Karena selalu berubah-ubah. Masih ingatkah dulu pembicaraan kita menjelang Idul Fitri. Katamu, jika memang kau lulus 10 tahun di pesantren kau akan meneruskan sekolah tahfidz. Menjadi penghapal Al-Quran. Dan mengabdikan diri menjadi khadam kepada guru-guru yang sempat mengajarkanmu beberapa disiplin ilmu. Tapi, bukankah sekarang keinginan itu berubah lagi.

Saat kau mulai masuk kuliah. Aku senang bercampur cemas. Aku senang kau mulai berpikir logis dan masuk akal. Namun aku cemas jika kuliahmu terkatung-katung dan terlambat menjadi sarjana. Ternyata kekhawtiranku benar. Kau tampak terkatung-katung dalam hal pendidikan. Tapi tidak dalam pemikiran. Kau tidak pintar, tapi kau cerdas. Aku tak pernah mengerti apakah profesimu sekarang itu cita-cita, atau sekadar karier belaka. Sudahkah kau bersyukur dengan nikmat-nikmat dan keberuntungan yang diberikanNya kepadamu wahai anakku. Coba kau ingat lagi kata-kata Ibumu tempo hari.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Doa Ibu di setiap sholat tak pernah lepas untuk kebahagiaanmu. Kau terlalu beruntung jauh dari pikiran kami sebelumnya. Ingatkah bahwa kau tak sempat menamatkan sekolah lanjutan pertamamu? Ingatkah pula bahwa kau tak sempat sekolah SMA seperti anak-anak yang lainnya. Namun justru kulihat kau lebih cerdas dari mereka yang sekolah-sekolah Tinggi. Kau memang tak jauh dari masa-masaku dulu. Senang membaca, hobi menulis. Namun tak tak kusangka kau memilih jalan yang kuanggap berbahaya, menjadi seorang jurnalis. Kau kira itu perihal mudah, Nak? Kau kira orang biasa bisa melakukan pekerjaan seperti yang kau kerjakan sekarang? Tidak. Itu tidak mudah.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan keadaanmu yang sekarang. Kau telah dewasa. Kau mempunyai pekerjaan. Kau bisa menjadi Imam untuk kami keluarga. Kau punya ilmu untuk selalu kita diskusikan di keluarga. Kau punya gaya. Kau terlalu cepat melangkah. Hanya saja aku ingatkan, agar jangan terlalu jauh melangkah sehingga kau lupa jalan untuk kembali. Kini, kau akan segera menikah. Kau akan meninggalkan kami dan membangun kehidupan baru, membina rumah tangga, dan menjalani masa-masamu menuju persoalan yang lebih rumit. Tapi, kau jangan mengkhawatirkannya. Selama kami, kedua orangtuamu masih ada, selama kami mampu, kami akan selalu membantu. Dan jangan khawatir tentang doa, kami akan selalu mendoakanmu, Nak.

Wahai muridku yang keras kepala. Ingatkah aku? Aku gurumu yang mengenalkan huruf demi huruf. Yang menjadi perantara hingga saat ini bisa kau membaca. Ketika mulai bisa berbahasa, kau menambah lagi untuk mengenal huruf-hufur hijayah. Sampai ketika kau bersekolah seperti anak yang lainnya. Ingatkah bahwa kau sangat cengeng waktu itu, kau sering menangis karena tak mampu mnengenali huruf yang berkelok-kelok itu. Kau bodoh.

Berapa guru yang sudah mengajarimu? Berapa ilmu yang sudah kau dapat dari mereka? Sudahkah kau amalkan ilmu yang mereka ajarkan. Sudahkah kau gunakan dengan baik apa-apa yang sudah mereka berikan? Pertanyaan itu hanya bisa kau jawab sendiri Ananda. Kau bisa mengaji. Kau juga menuntut ilmu agama. Tahukah sudah kau yang mana yang harus dilaksanakan dan yang mana yang harus kau jahui. Kami guru-gurumu mengharapkan kamu bisa menjadi “orang”. Menggapai cita-cita, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami berikan. Kau kini sudah dewasa. Tentu bisa memilah yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Semua terserah padamu.

Aku hanya beraharap agar kau tak sombong. Aku juga ingin agar kau selalu ingin belajar. Siapapun yang mengajarkanmu suatu ilmu, dia adalah gurumu. Kurasa aku tak perlu memberikanmu terlalu banyak penjelasan. Di umurmu yang sekarang, aku yakin kau mengerti arti semuanya. Sebagai guru, aku hanya berharap murid-muridku berhasil mengamalkan apa-apa yang telah kau pelajari. Dan menggapai cita-cita.

Wahai calon suamiku, ingatkah masa-masa kita bertemu dulu? Ingatkah betapa kita berjuang melewati segala rintangan. Aku tahu sebenarnya tak sedikit kita melakukan kesalahan. Dan tak sedikit pula kita beradu pembenaran-pembenaran. Beradu argumentasi. Saling keras kepala. Kadang tak mau mengalah. Tapi sejauh ini, aku sadar kau sering mengalah. Kau terkadang egois, tapi justru membuatku sadar. Aku tak pernah mempunyai alasan mengapa aku selalu sayang sampai detik ini. Kau pun tak pernah punyai alasan mengapa sampai menyayangiku saat ini. Aku berharap rasa ini memang murni karena ketentuan dariNya. Juga kita harapkan. Aku selalu berdoa. Segala doa-doa yang baik aku panjatkan kehadiratNya. Aku ingin kau menjadi Imamku. Menjadi yang halal bagimu. Yang membimbingku kelak kepada keridhaan Ilahi. Aku tak perlu bertanya apakah kau bisa melakukannya. Aku sudah yakin. Aku tak ingin keyakinanku berubah. Semua kuserahkan padaNya.

Wahai hambaKu yang terlena, ingatkah kau sekarang kepadaKu. Aku menegurmu bukan berarti kau makhluk istimewa dibandingkan makhluk yang lainnya. Semua kedudukan manusia sama. Tak ada yang berbeda. Perbedaan bagiKu hanya ketaqwaan hamba kepadaKu. Sudah sampaikah kau mencapai taqwa itu? Tidak. Wahai hambaKu. Kau tidak ada apa-apanya di dunia yang fana ini. Kubiarkan kau berpijak dibumiKu, kubiarkan hidup di bawah matahariKu yang sering membuatmu kepanasan. Padahal kamu tahu, dibandingkan nerakaKu, tak ada apa-apanya. Banggakah diumurmu yang telah sampai 24 tahun ini hidup dalam pengawasanKu? Sadarkah dalam kurun waktu yang pendek itu kau kuberikan segala kenikmatan? Kenikmatan semua panca indra. Kenikmatan semua kebutuhan untuk sekadar kau hidup. Sesekali kau ingat denganKu. Namun seringkali kau justru lupa. Jikapun Aku mau, bisa saja aku cabut semua kenikmatan dan pengetahuanmu saat ini. Kamu mau apa, hambaKu?

Wahai hambaKu yang terlena, pemberian nikmat mana yang bisa kau dustakan dariKu. Kau telah belajar tentang keesaanKu dari rasulKu Muhammad SAW yang telah kuutus ke bumi beribu-ribu tahun silam dari masamu melalui turunan-turunan dan pewaris segala ilmu pesuruhKu. Sampai kepada manusia-manusia yang tak lain hambaKu juga. Termasuk kamu yang saat ini, aku tahu, sedang memikirkanKu.

Wahai hambaku yang terlena, kau memang selalu berprasangka baik kepadaKu. Kau juga sadar arti kau hidup di dunia untuk menyembah kepadaKu. Kau tahu perihal yang Aku larang dan yang aku suruh. Tapi mengapa kau sering melanggarnya. Kau sering lupa menghadapKu tapi kau tahu bahwa Aku tak pernah lupa mengingatkanmu. Kau sadar dengan bentuk-bentuk teguran yang Aku tampakkan melalui beberapa kejadian dalam kehidupanmu. Tapi mengapa kau masih sering lupa kepadaKu.

Jikalau Aku ingin, bisa saja menyudahi kehidupanmu. Saat ini pun Aku tahu kau sedang berkeringat dingin. Tapi apakah kamu tahu, takdir kehidupanmu sampai mana. Katamu, ulang tahun hanyalah perpendekan umur dari kadar jatah manusia sebagaimana kekasihKu Muhammad yang Ku ambil saat dia berumur 63 tahun. Begitu? Berarti kamu tahu jatahmu tinggal di duniaKu tinggal lagi 39 tahun. Itu pun jika aku memanjangkan umurmu sampai 63 tahun. Jika tidak, kau mau apa, wahai hambaKu yang terlena.

Kau masih ingat bahwa golongamu hanyalah hewan yang mampu bertutur. Kalian dimuliakan hanya lantaran bisa berbicara, bisa berakal, bisa berpikir, bisa sadar akan kekuasaanKu. Jika tidak, kalian tak lebih sekadar binatang. Kau pernah sombong, berbohong, toma, kasar, angkuh, serakah,  Kamu beruntung sampai sekarang masih menjadi manusia, wahai Ananda. Aku menganugerahkan kemampuan berpikir dalam otakmu, kemampuan yang normal disemua inderamu. Kau bisa membaca kalamKu. Kau sering berusaha berkomunkasi dengan ayat-ayat suci itu. Tapi kenapa pikiranmu kemana-mana. Apakah kau tidak ingat aku sedang mendengarkanmu berbicara denganKu. Kau lupa Ananda.

Aku tidak mencacatkanmu seperti hamba-hambaKu yang lain. Semua itu hanyalah secuil bukti kekuasaanku. Ingatlah hambaKu Ananda, ada Raqib dan Atid yang kusuruh mencatat semua perihal tentangmu. Kau tahu itu, kau juga meniru-meniru mereka dengan mencatat-catat kebaikan dan kesalahan orang lain. Lalu apakah kau sadar bahwa dirimu juga sedang dicatat oleh malaikatKu? Diam dan gerakmu dalam kuasaKu. Aku bisa melakukanmu sesukaKu. Namun kuberi kau secuil keberuntungan karena kau selalu berprasangka baik kepadaKu. Meski kau sering kufur, dan lupa akan kenikmatan yang aku berikan. Jika kusuruh Izrail saat ini datang kepadamu, kau mau apa? Mau tobat. Memangnya sempat?

Wahai hambaKu yang terlena, aku tahu masih ada ketakutan dalam hatiMu. Namun terkadang aku juga menemukan keberanian dan kerinduan terhadaKu. Hatimu masih berbolak-balik. Namun, prasangkaMu terhadapKu masih saja baik. Aku selalu mengawasimu. Sadarkah kau beberapa kali melakukan kesalahan, melanggar perintah, melakukan dosa-dosa, namun aku tak segera menghukummu? Aku sengaja membiarkanmu dan menegur dengan kejadian-kejadian kecil saja. Agar kelak kau sadar. Aku masih membiarkanmu berbuat sesuatu dan selalu mengawasimu. Aku ingin keimanan dan kepercayanMu terhadapku masih ada dalam benakmu meski meski sekadar biji sesawi. Sampai tiba waktunya aku perintahkan Izrail mendatangimu. Tapi tidak sekarang. Nanti. Itu rahasiaku bersama para malaikat. Golongan manusia tak boleh tahu. Aku hanya memberikan beberapa klu jika waktunya tiba. Memangnya siapa yang bisa mendahului kehendakKu? Tidak ada wahai hambaKu yang terlena.

Di hadapan, Aku sudah mengatur beberapa skenario perjalanan untuk kau jalani. Skenario itu bukan berarti baku. Aku memberikan kesempatan untuk kau revisi sendiri. Bukankah sekarang katanya kau sudah punya ilmu? Walaupun menurutku itu tak ada apa-apa bagiKu. Tapi lakukan saja, kau bisa merevisinya dengan perlakuanmu. Dengan taqwamu, dengan doa-doa yang kau panjatkan terlebih saat kau sadar dari keterlelapan malam. Di sepertiga malam. Ah, kau tahu itu Ananda, tapi tak kau lakukan tersebab menuruti kemauan iblis yang sering menyimpul matamu. Padahal kau tahu, ia juga makhlukKu yang kuperintahkan.

Wahai hambaku yang terlena. Bersyukurlah karena kau sudah kuatur dalam keluarga dan orang-orang yang sayang kepadamu. Nikmat-nikmatmu yang selalu kuturunkan namun kau tidak tahu. Arrrgghhhh… aku terkadang benci dengan keterlupaanmu padaku. Tapi, aku bangga kau masih saja berprasangka baik denganKu. Berapa kalam lagi harus kusampaikan agar kau bersyukur. Kau hanya kurang beryukur. Kurang bersyukur. Kurang bersyukur. Kuran bersyukur. Sekarang, kita lihat. Apa kau sudah sadar.

 

Banjarbaru, di kesunyian malam 07.06.2013.

 

AURI Syamsudin Noor Buka Layanan SMS Pengaduan

Banyaknya problema dan keluhan di masyarakat membuat sejumlah personli AURI Syamsudin Noor miris hari. Demi menampung aspirasi itu, pihak Lanud Syamsudin Noor pun membuka layanan sms pengaduan. Kapentak Lanud Sjamsudin Noor Lettu Lek Heru Jatmiko kepada MK menuturkan, sesuai dengan instruksi Danlanud SAM, pihaknya memberikan sosialisasi kepada seluruh personel Lanud Sjamsudin Noor tentang Layanan SMS Pengaduan Masyarakat.

“Hal itu sebagai tindaklanjut dari telegram Kadispenau Nomor T/10/2013 tanggal 31 Mei 2013 tentang pengaduan masyarakat terhadap TNI melalui layanan SMS Gateway dengan nomor akses 1978,” ujarnya saat sosialisasi di Lapangan Upacara, kemarin.

Dalam sosialisasi layanan SMS pengaduan masyarakat terhadap TNI tersebut, Kapentak Heru menyampaikan, telah dilaksanakan perjanjian kerja sama antara Irjen TNI dengan PT Telekomunikasi Indonesia dengan No 01/PKS/IV/2013 tanggal 30 April 2013, PT Telekomunikasi Seluler No 02/PKS/IV/2013 tanggal 30 April 2013, PT. XL AXIATA No. 03/IV/2013 dan PT. Indosat No. 04/IV/2013 tanggal 30 April 2013 tentang layanan SMS Gateway pengaduan masyarakat (Dumas) dengan kode akses 1978.

Layanan SMS pengaduan dengan kode akses 1978 tersebut merupakan upaya pelayanan pengaduan masyarakat tentang kinerja TNI. “Dengan adanya system tersebut diharapkan masyarakat dapat langsung turut berperan aktif untuk melaporkan setiap tindakan prajurit TNI yang melanggar ketentuan yang berlaku. Jadi sistem ini akan memantau setiap tindakan prajurit TNI yang melanggar ketentuan yang berlaku dari keempat provider yang akan mentransfer informasi dari masyarakat ke server milik TNI  yang diakses melalui internet,” bebernya.

Hal demikian dijelaskannya sebagai upaya TNI mencegah dan meminimalisir kemungkinan adanya penyimpangan/pelanggaran dalam penyelenggaraan tugas pokok TNI, serta realisasi komitmen TNI dalam upaya mewujudkan Transparasi  dan Birokrasi guna mendukung kebijakan pemerintah menuju pemerintahan yang bersih dan baik (Clean Government and Good Govermance).

Danlandu Esron SB Sinaga menuturkan, perihal tersebut diperhatian serius dan memberi instruksi agar seluruh prajurit Lanud SAM mengikuti laju perkembangan era komunikasi. “Kita ingin prajurit senantiasa meningkatkan serta berupaya bekerja dan menjadi prajurit yang professional,” ingatnya.

Harapkan Pejabat Eselon IV Maksimal

Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV angkatan IV tahun 2013 berakhir sudah. Kegiatan tersebut secara resmi ditutup langsung oleh Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Rabu, (5/6), di Aula Gawi Sabarataan, Pemko Banjarbaru, kemarin.

Penutupan tersebut juga dihadiri langsung oleh Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran, Kepala BKD Banjarbaru Firdauz Hazairin, dan sejumlah kepala SKPD lainnya.

Sebanyak 40 orang peserta Diklatpim dinyatakan lulus 100%,. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dari tanggal 23 April 2013 lalu sampai tanggal 05 Juni 2013 di kampus SMK SPP-SPA Banjarbaru.

“Dengan ini sangat diharapkan semua peserta bisa mengamalkan kesetiaan  dan ketaatan Pejabat Struktural Eselon IV kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah Republik Indonesia, Meningkatkan Pengetahuan, Keahlian, Keterampilan dan sikap agar dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional yang di landasi kepribadian dan etika,” ujarnya Ruzaidin ketika memberikan sambutan.

Menurut Walikota, melalui Diklat tersebut tentu mampu menciptakan aparatur yang berperan sebagai pembaharu perekat persatuan bangsa. Dan, memantapkan sikap semangat pengabdian berorientasi kepada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.

“Sasaran Diklat Kepemipinan Tngkat IV Angkatan IV Tahun 2013 adalah terwujudnya Pejabat Struktural Eselon IV yang memiliki kopetensi sesuai dengan persyaratan pengangkatan jabatan. Dan di sampaikan juga bahwa bagi isteri-isteri peserta telah mengikuti pembekalan melalui ledies program dari tanggal 23 s/d 25 Mei 2013 yang di selenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kota Banjarbaru bertempat di Aula Linggangan Intan DPRD Kota Banjarbaru,” paparnya.

Ia berharap Diklatpim IV membawa dampak nyata bagi peningkatan kinerja para pejabat pemerintah. “Jabatan eselon IV di tuntut memiliki keahlian teknis dan merumuskan draf atau konsep awal kebijakan di tingkat SKPD, pejabat eselon IV juga di tuntut mampu dan terampil melaksanakan tugas pokok dan fungsi, sekaligus jadi jembatan komunikasi antara staf dengan pejabat eselon III dan eselon II,” pungkasnya. 

Tidak Ada Titip-titipan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Drs H Ahmadi Arsyad membantah jika PPDB tahun ini bakal menerima titipan-titipan semisal yang terselubung. Pasalanya seperti yang telah diterapkan sistem, penerimaan siswabaru tersebut murni melalui online.

“Kalau memang ingin ya silakan melalui jalur yang telah kita sarankan sesuai prosedur. Kan ada ranah sosial, seperti keluarganya yang tinggal di lokasi sekolahan. Nah, dengan cara demikian ini menjadi upaya kita menghindari titipan-titipan siswa yang dimaksudkan,” ujarnya ketika diwawancarai penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Rabu, (5/6), kemarin.

Menurutnya, kecurigaan-kecurigaan tersebut tidak akan terjadi dengan sistem online sebab para siswa yang mendaftar tidak lagi semena-mena di rumah atau di warnet melainkan harus datang langsung ke sekolahan langsung atau di di halaman Disdik Kota Banjarbaru saat penyelenggaraan pameran.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, PPDB Online TA 2013/2014 akan dimulai pada tanggal tanggal 13 Juni 2013 sampai dengan 15 Juni 2013. Di bagi menjadi dua kategori yakni PPDB terbuka dan PPDB terbatas. Bagi siswa yang mendaftarkan diimbau agar bisa disertai oleh orang tua siswa.

Perempuan Dalam Puisi

???????????????????????????????Poetry In Action

Ada yang berbeda dalam gelaran Poetry In Actrion Mingguraya kali ini, tak hanya pembacaan puisi, sejumlah pengunjung juga tampak terhibur dengan penampilan teater dari Sanggar Talas dan Madihin oleh Rhajudin SM dari Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam, Jumat, (31/5), di Panggung Bundar Mingguraya, kemarin malam.

Agenda Poetry in Action kali ini mengangkat topik perempuan-perempuan yang tersembunyi dari sebagian besar perjuangannya yang tak terlihat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. “Dengan tema Perempuan-Perempuan di Sela Gerisik Daun dan Angin Kencang kita mengharapkan Perempuan-perempuan yang tersembunyi mereka berjuang dalam kehidupan sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya, bahkan perjuangannya itu dapat dirasakan melebihi tempat dan waktunya,” Ujar HE Benyamine pelopor kegiata rutin bulanan tersebut.

???????????????????????????????Menurut pendapat lain, Perempuan-perempuan itu, terlindung pekatnya pagi buta, menyapu jalan-jalan kemudian hilang bagai kabut pagi yang terbawa angin begitu saja. Perempuan-perempuan itu, terbaur dengan hiruk pikuknya pagi, berjualan di pasar-pasar subuh, yang juga pembelinya perempuan-perempuan.

Di antara sejumlah tokoh seniman dan sastrawan yang berhadir yakni Hudan Nur, Ibramsyah Barbary, Kalsum Belgis, Andi Sahludin, Ali Syamsudin Arsy, Rosiana, beberapa komunitas fotografer yang juga membacakan puisi diwakili oleh Aqas Abrais, Sanggar Talas Banjarbaru, Sanggar Ar-Rumi Darussalam, dan sejumlah pegiat seni lainnya.

???????????????????????????????

 

 

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 3/Habis)

Kami keluar dari rentetan pepohonan hutan dan tebing-tebing tinggi di sekeliling. Melewati pintu gerbang yang menyisakan ruang untuk satu orang melewatinya. Sebagaimana yang telah kami lewati saat permulaan.

Di depan sini, kami menemui beberapa penduduk setempat yang menarik lembu/kerbau menggunakan tambang yang dililitkan di kedua tanduknya. Mata kerbau itu ditutupi dengan maksud agar di kerbau tidak liar. Aku memang tak bertanya terlalu banyak saat itu. Yang jelas, tampaknya kerbau itu didatangkan dari pulau pinus seberang.

Perjalanan pulang kami berlanjut dengan tujuan mencari Kak Harie. Sampai di antara pemukiman penduduk belum juga batang hidung Kak Harie terlihat. Sebelum perjalanan dilanjutkan. Aku sempat berhenti lebih dulu karena harus mengamankan beberapa perkakas perempuan dalam tas tangannya. Tersebab –Sisy sedang masuk tolilet-.

Tarif Armada Riam Kanan

Tarif Armada Riam Kanan

Di Jalan kerbau yang dibawa para penduduk itu juga kami temui plang tarif harga untuk naik ke kapal. Tulisan di atas plang kayu tersebut seperti ini “Roda II = Rp 2.000 Roda 4 = Rp 10.000”. Bingung juga, kesannya itu kenapa yang roda 11 lebih murah dari roda 4. Coba.

Dillah dan Syaukani telah mengambil motornya lebih dulu. Sebab Dillah memakirkan motornya di tempat parkir dekat dermaga. Berbeda dengan kami yang memakirkannnya di samping jembatan. Perajalanan dilanjutkan menuruni beberapa anak tangga ke wilayah yang lebih rendah. Menuju perjalanan pulang. Jikalau Kak Harie memang tak ditemukan. Kami mungkin akan menunggunya beberapa waktu menjelang malam. Jembatan terakhir sudah terlewati. Yang lain cemas karena tak menemukan Kak Harie. Di sudut sana. Kulihat seorang pemuda berpakaian lusuh berwarna putih di atas atap perahu. Seorang pemuda dengan kail yang tak berat. Itu dia. Dengan muka masam.

Kerbau yang ditutup matanya

Kerbau yang ditutup matanya

“Sudah ketemu Kak Harie?” Tanyaku kepada yang lainnya.

“Belum. Mana? Tidak ada.” Sahut mereka.

“Itu di ujung sana!,”

“Mana?”

Semua tampak meletakan tangan mereka menaungi alis kedua mata. Aku segera berjalan cepat menuju Kak Harie yang duduk bersila sambil menunggu kailnya dipatuk ikan. Entah apapun jenis ikannya nanti. Lantas, aku langsung mengarahkan lensa kamera kepadanya. Sontak dia berbalik dan memberikan jempol kanannya saatku membidik.

“Dapat ikannya, Kak,” tegurku.

“Kadada nah. Ujar habar iwak disini kada memakan ke cacing atau gabin berandam. Tapi udang halus.” Jawabnya.

“Berarti ikannya elite dong.”

Pemandangan di atas jembatan

Pemandangan di atas jembatan

Aku mengambil beberapa frame reflekis langit di air. Kemudian menyalakan sebatang rokok sembari duduk di warung kopi yang sedang tutup. Menunggu yang lain berdatangan dan tentunya. Minta foto lagi… minta foto lagi!

Tak berapa lama datang Syaukani dan Dillah yang mengambil motornya di atas. Menuju tempat kami berkumpul. Semuanya berhamburan asik dengan spotnya masing-masing. Ada yang berfoto di atas jukung, ada yang sekadar mengobrol, ada juga yang bermain air.

“Kena gin dulu bulik. Justru sore kaini yang suasananya nyaman.”

Sahut Kak Harie setelah diakak pulang. Namun tak berapa lama. Kami akhirnya setuju. Apalagi dengan aku, yang sudah khawatir dengan waktu deadline. Pukul 17.30 Wita. Sudah lewat. Belum lagi ke kota dan ke warnet. Berapa waktu lagi yang aku butuhkan. Padahal aku sudah memperhitungkannya agar sampai tepat waktu dan mengirim berita usai matahari tenggelam. Kami bergegas menuju motor masing-masing.

Zian dan Pacaranya sudah menyalakan mesin dan siap tancap. Aku dan Sisu juga begitu. Disusul Sari dan Lutfie satu motor. Kemudian Ocha dan Diah. Sedangkan Dillah serta Syaukani menunggu di naikkan gunung yang berbatuan.

Gendhis dan Mamanya menunggu di naikkan gunung bebatuan tersebut. Aku bersama Sisy di atas kendaraan masih menunggu Kak Harie yang tampak merogoh-rogoh kantongnya. Membuka semua tas pancing, tas pinggang, jaket, saku, celana, pokoknya semua kantongnya. Namun raut muka cemas tampak mengurat. Sangat tampak.

“Kuncinya gak ada di kantong!” ujarnya setelah kutanya.

“Ah, biasa itu. Pasti lupa meletakkan. Jangan-jangan tercecer di tengah jalan,”

“Tidak mungkin. Seharusnya aku merasa kunci itu jatuh dari saku celana. Aku ingat betul dimana meletakkannya!”

Dia mulai kembali dengan aksi rogoh koceknya. Padahal sudah yakin kunci motor tersebut tidak ada.
“Coba tanyakan ke seberang,”

???????????????????????????????Kak Hari dan aku bertanya ke seberang. Namun informasinya nihil. Tak ada yang tahu. Dia juga khawatir kalau-kalau kunci tersebut tertinggal di lobang kunci jok saat pergi. Dan siapa yang tahu seseorang melihat kunci tersebut kemudian mengambilnya dan menyimpan. Bisa saja saat kami tiada seseorang yang mengambil kunci itu kembali datang dan mencoba membawa Vega R Putih Kak Harie pergi entah kemana.

“Jadi Bagaimana?” tanyaku.

“Aku berharap ada dalam jaket yang dipegang Mama Gendhis,”

Kemudian Mama Gendhis datang kepada kami bertiga setelah dipanggil. Namun karena cukup lama. Yang lainnya pun berduyun-duyun mendatangi kami yang masih stand by di parkiran dan kami bertigabelas kembali berkumpul.”

Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu

Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu

“Gak ada. Udah dicheck satu-persatu,” tegas Mama Gendhis cemas.

Semua prediksi dari otak masing-masing dikeluarkan. Maka dari itu juga banyak yang berkesimpulan alangkah baiknya tebeng motor Kak Harie dibongkar saja. Syaukani yang lakukan itu. Tapi sayangnya karena stang motor terkunci jadi agak susah membukanya. Semua jalan sudah ditempuh, termasuk meminjam berbagai jenis kunci di rumah Pambakal. Aku juga sempat bertanya-tanya ke orang yang sedang membakar sampah di samping rumah itu. Ada-ada saja.

“Bagaimana keputusannya. Apakah kita panggil Mas Saprie suruh membawakan kunci serap ke sini. Tapi agak jauh. Tapi hapalkan jalannya,” salah satu usul itu tercetuskan.

“Jangan. Nanti malah menganggu. Mas Saprie kan sibuk juga. Siapa tahu dia sedang ada pekerjaan,” katanya.

Kecurigaan kunci itu terjatuh dalam jok juga sempat dilemparkan. Tapi setelah beberapa orang merogoh ke bawah jok dengan menahan beban tindihnya dan dapat jaket. Hasilnya pun nihil.

“Daripada motornya dirusak. Lebih baik mengambil kunci serap saja,” lantas aku meyakinkan.

“Jangan-jangan memang tercecer,”

“Bagaimana kalau dicari saja,”

“Agar tidak penyesalan kita akan mencarinya,”

Dengan semangat membara dan menggenggam tangan, Kak Harie meluruskan tekad untuk kembali ke Wadul PLTA, mencari beberapa titik dimana kunci itu jatuh atau tercecer.

???????????????????????????????Akhirnya dengan bermodalkan kaca pembesar kami mulai menelaah tapak kaki yang kami jalani. Kutitipkan beberap perkakas tas pingganggku, kamera, flashdisk, dan beberapa barang elektronik kutitipkan kepada Sisy kemudian mengencangkan tali sepatu. Aku berharap akan menjadi pahlawan kesorean hari itu. Mendapatkan kunci motor yang hilang entah dimana. Terjatuh dimana. Atau hanya lupa meletakaannya.

Aku, Kak Harie, Zian, dan Syaukani melangkah menuju tempat pertama-tama yang kami susuri. Dari jembatan, beberapa pasang bola mata kami mengamati ke setiap sudut langkah. Kak Harie mengingat. Menerawang layaknya dukun-dukun dengan mantranya.

“Mungkin di tempat kita pertama turun untuk memancing tadi, Zian,” ujarnya mengira-ngira. Kami bergegas. Lebih tepatnya berbalik ke tempat di awal-awal yang kami singgahi. Menaiki anak tangga. Melewati perkampungan. Menaiki kandang yang terhalang dengan lorong yang hanya muat seorang.

???????????????????????????????Kak Harie turun ke bawah dengan perlahan. Melewati kawat-kawat pagar waduk yang telah bolong entah karena apa.

“Ini tempat pertama yang kami singgahi berdua Zian,” katanya.

Ia turun. Merangkak. Berdiri. Bertiti di antara dahan pohon dan tanah yang agak licin. Nihil. Tetap saja tak ada tanda-tanda disana. Aku melepas jaket levisku. Menggantungkannya di ujung kawat yang terpisah. Aku juga ikut mencari-cari. Berharap menjadi pahlawan di sore hari. Tepatnya agak petang.

“Ciri-ciri pakai gantungan kunci warna kuning,” ucap Kak Harie harap-harap cemas. Namun tetap saja kami tak menemukannya.

???????????????????????????????Tahap kedua pencarian di mulai. Kami naik kembali ke jalan setapak. Kemudian masuk ke lorong kawat yang berlobang yang jarakanya kurang lebih 300 meter dari lobang pertama. Menuju tepian air.

“Sudah. Tak ada. Teruskan ke rerumputan dekat bendungan,” sahutnya lagi.

Kami berempat berjalan menuju lokasi dimana pertama-tama kami stand by. Singkatnya, kita sampai ke lokasi yang dimaksud dan mulai mencari-cari di rerumputan, di selokan yang berair, di sela-sela ranting layaknya pemulung sampah.

“Bagaimana?”

Kami berempat mulai menganalisis dan meneliti sesuatu yang tak masuk akal.

“Aku berharap kaum perempuan di sana bercanda.” Kak Harie berucap.

“Maksudnya?” sahutku.

“Ya siapa tahu mereka sudah menemukannya di sela-sela kantong tas. Atau di saku entah milik siapa. Lalu saat kita datang mereka tampak kegiarangan melihat kita terhuyung-huyung datang. Semoga saja demikian. Aku mengharapkan,”

“Amiiiinnn…!!!!” kami serentak menyahut.

???????????????????????????????Beberapa nyamuk tampak hinggang dan menggigit lengaku. Baru aku sadar kalau aku memakai T-Shirt saja. Bukankah sebelumnya aku memakai jaket levis.

“Asatagaaa!!!!” kataku.

“Ada Apa?”

“Jaketku dimana?”

“Memangnya kamu ke sini pakai jaket?” timpal Syaukani.

“Ya iyalah. Kamu gak lihat apa?”

“Jangan-jangan ketinggalan dip agar kawat di depan sana,”

???????????????????????????????Aku hanya berharap tidak ada yang masuk ke tempat ini setelah kami. Agar jaket yang sebelumnya kugantung di kawat pagar masih setia berada di tempatnya.

“Coba kita cek di sini lagi,” Kak Harie memerintah.

Kami turun ke lobang kawat itu. Kak Harie tampak gesit. Melemparkan jaket, tas pinggangnya, handphone, dompet, dan segala perkakas yang ada di badan. Kemudia ia turun. Meniti beberapa ranting. Bertengger di atas batang pohon yang agak besar, air yang bermeter-meter panjangnya tepat berada di bawah batang pohon itu.

“Tolong ambilkan batang kayu yang agak besar dan panjang!”

Kak Harie berniat menusuk-nusukkannya ke air. Entah mengukur dalamnya atau melihat sesuatu. Kemudia, perlahan ia mulai melepaskan celana. Di lemparnya ke atas. Melepaskan baju. Dan melemparkannya lagi. Akhirnya, Kak Harie hanya tinggal memakai CD, alias Underwear, atau lebih tepatnya celana dalam.

???????????????????????????????Aku langsung berpikir, kenapa tidak difoto saja. Ya Tuhan. Ternyata tidak diperbolehkan. Baru saja aku sadar bahwa saat sekarang ini aku tidak membawa kamera. Aku baru ingat kalau kamera sengaja kutinggal dan kutitipkan kepada Sisy.

“Beruntung pian Kak Harie. Gak sempat ada barang bukti untuk dipermalukan dan ditertawakan,” kataku.

“Memangnya kenapa?”

“Saya lupa bawa kamera. Huh, kenapa jadi ditinggal tadilah”

Aku kecewa. Respon Kak Harie biasa-biasa saja. Ia sudah menceburkan setengah badannya ke air. Saat naik ke daratan, beberapa air menampung di celana dalamnya. Air itu menetes. Layaknya anak kecil yang sedang buang air kecil saat memakai celana dalam saja.

???????????????????????????????“Ya sudah. Tak ada penyesalan. Aku sudah basah-basahan,” sahutnya.

Kami berjalan dengan langkah gontai. Kecewa. Namun tetap berharap bahwa kunci motor begantungan warna kuning itu sudah ada. Kembali menyusuri anak tangga dan jembatan. Hingga sampai ke lokasi parkiran.

**

“Hari ada tiga lelaki yang beruntung karena telah melihat kulitnya yang putih. Tinggal lagi aku becawatan aja”

“Huaaaaaa… itu musibah… bukan anugrah Ka,” teriak kami serempak.

???????????????????????????????Yang jelas. Harapan-harapan tipuan itu hilang sudah. Sudah tak ada lagi usaha mencari-cari. Semua duduk di pelataran rumah pembakal. Adzan margin berkumandang. Hari mulai gelap.

“Begini saja. Motorku biar ditinggal di sini. Besok kembali lagi diambl,” kata salah seorang dari kami.

“Ya. Begitu lebih baik. Daripada harus merusak lobang kuncinya,” kataku.

“Tapi gak apa-apa kan motornya ditinggal disini?”

“Dijamin aman. Biasanya kaitu jua mun urang meninggalakan sepeda motor disini. Mun ada maling kemana jua inya mehiri, pada ke batang banyu lagi,” jawab Pembakal.

Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang

Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang

Akhirnya kami sepakat. Semua bersiap. Malam itu, kami pulang dengan saling bertunggang 3 satu motor. Aku, Sisy, dan Sari. Dillah, Ocha, dan Dillah. Syaukani dan Lutfie. Zian masih dengan pacarnya. Sedangkan Kak Harie dan Gendhis masih formasi awal menggunakan motor Lutfie.

Seperti yang telah kalian ketahui, motor Sisy itu gemuk, warnanya kinclong hitam putih, tetapi sayang buta. Tak ada lampunya. Jadi sangat berbahaya melewati wilayah gelap di malam hari. Otomatis kami haru berada di tengah-tengah agar penerangan cukup. Sebelumnya juga sempat mengisi angin ban belakang karena bannya kempis.

Di antara kedelapan malam riam kanan, kita berkendara. Melewati beberapa tikungan dan jalan-jalan pegunungan. Sembari tertawan. Dan minum dengan cara menjalankan botol estapet dari yang paling belakang sampai depan. Perjalanan terus berlangsung sampai akhirnya cahaya perkotaan ada di hadapan. Aku tancap gas melewati semuanya karena sudah bertemu dengan cahaya. Hingga tiba di sekretarian Onoff Solutindo. Banjarbaru. Semua kesakitan pinggang. Rebahan untuk meluruskannya. Dan beberapa foto pun diseleksi. Sejumlah Nasi Goreng dan Mie Goreng dipesan untuk menemani makan malam yang melelahkan. Sampai akhirnya dillah menyadari bahwa di sebagian foto banyak yang menampakka detik-detik kunci itu telah hilang. Malam semaki larut dan dingin. Tinggal lagi agenda Kak Harie dan Dillah yang besoknya berangkat kembali ke Riam Kanan. Untuk mengambil motor Vega R Putih dengan kunci serap. []

???????????????????????????????