Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 3/Habis)

Kami keluar dari rentetan pepohonan hutan dan tebing-tebing tinggi di sekeliling. Melewati pintu gerbang yang menyisakan ruang untuk satu orang melewatinya. Sebagaimana yang telah kami lewati saat permulaan.

Di depan sini, kami menemui beberapa penduduk setempat yang menarik lembu/kerbau menggunakan tambang yang dililitkan di kedua tanduknya. Mata kerbau itu ditutupi dengan maksud agar di kerbau tidak liar. Aku memang tak bertanya terlalu banyak saat itu. Yang jelas, tampaknya kerbau itu didatangkan dari pulau pinus seberang.

Perjalanan pulang kami berlanjut dengan tujuan mencari Kak Harie. Sampai di antara pemukiman penduduk belum juga batang hidung Kak Harie terlihat. Sebelum perjalanan dilanjutkan. Aku sempat berhenti lebih dulu karena harus mengamankan beberapa perkakas perempuan dalam tas tangannya. Tersebab –Sisy sedang masuk tolilet-.

Tarif Armada Riam Kanan
Tarif Armada Riam Kanan

Di Jalan kerbau yang dibawa para penduduk itu juga kami temui plang tarif harga untuk naik ke kapal. Tulisan di atas plang kayu tersebut seperti ini “Roda II = Rp 2.000 Roda 4 = Rp 10.000”. Bingung juga, kesannya itu kenapa yang roda 11 lebih murah dari roda 4. Coba.

Dillah dan Syaukani telah mengambil motornya lebih dulu. Sebab Dillah memakirkan motornya di tempat parkir dekat dermaga. Berbeda dengan kami yang memakirkannnya di samping jembatan. Perajalanan dilanjutkan menuruni beberapa anak tangga ke wilayah yang lebih rendah. Menuju perjalanan pulang. Jikalau Kak Harie memang tak ditemukan. Kami mungkin akan menunggunya beberapa waktu menjelang malam. Jembatan terakhir sudah terlewati. Yang lain cemas karena tak menemukan Kak Harie. Di sudut sana. Kulihat seorang pemuda berpakaian lusuh berwarna putih di atas atap perahu. Seorang pemuda dengan kail yang tak berat. Itu dia. Dengan muka masam.

Kerbau yang ditutup matanya
Kerbau yang ditutup matanya

“Sudah ketemu Kak Harie?” Tanyaku kepada yang lainnya.

“Belum. Mana? Tidak ada.” Sahut mereka.

“Itu di ujung sana!,”

“Mana?”

Semua tampak meletakan tangan mereka menaungi alis kedua mata. Aku segera berjalan cepat menuju Kak Harie yang duduk bersila sambil menunggu kailnya dipatuk ikan. Entah apapun jenis ikannya nanti. Lantas, aku langsung mengarahkan lensa kamera kepadanya. Sontak dia berbalik dan memberikan jempol kanannya saatku membidik.

“Dapat ikannya, Kak,” tegurku.

“Kadada nah. Ujar habar iwak disini kada memakan ke cacing atau gabin berandam. Tapi udang halus.” Jawabnya.

“Berarti ikannya elite dong.”

Pemandangan di atas jembatan
Pemandangan di atas jembatan

Aku mengambil beberapa frame reflekis langit di air. Kemudian menyalakan sebatang rokok sembari duduk di warung kopi yang sedang tutup. Menunggu yang lain berdatangan dan tentunya. Minta foto lagi… minta foto lagi!

Tak berapa lama datang Syaukani dan Dillah yang mengambil motornya di atas. Menuju tempat kami berkumpul. Semuanya berhamburan asik dengan spotnya masing-masing. Ada yang berfoto di atas jukung, ada yang sekadar mengobrol, ada juga yang bermain air.

“Kena gin dulu bulik. Justru sore kaini yang suasananya nyaman.”

Sahut Kak Harie setelah diakak pulang. Namun tak berapa lama. Kami akhirnya setuju. Apalagi dengan aku, yang sudah khawatir dengan waktu deadline. Pukul 17.30 Wita. Sudah lewat. Belum lagi ke kota dan ke warnet. Berapa waktu lagi yang aku butuhkan. Padahal aku sudah memperhitungkannya agar sampai tepat waktu dan mengirim berita usai matahari tenggelam. Kami bergegas menuju motor masing-masing.

Zian dan Pacaranya sudah menyalakan mesin dan siap tancap. Aku dan Sisu juga begitu. Disusul Sari dan Lutfie satu motor. Kemudian Ocha dan Diah. Sedangkan Dillah serta Syaukani menunggu di naikkan gunung yang berbatuan.

Gendhis dan Mamanya menunggu di naikkan gunung bebatuan tersebut. Aku bersama Sisy di atas kendaraan masih menunggu Kak Harie yang tampak merogoh-rogoh kantongnya. Membuka semua tas pancing, tas pinggang, jaket, saku, celana, pokoknya semua kantongnya. Namun raut muka cemas tampak mengurat. Sangat tampak.

“Kuncinya gak ada di kantong!” ujarnya setelah kutanya.

“Ah, biasa itu. Pasti lupa meletakkan. Jangan-jangan tercecer di tengah jalan,”

“Tidak mungkin. Seharusnya aku merasa kunci itu jatuh dari saku celana. Aku ingat betul dimana meletakkannya!”

Dia mulai kembali dengan aksi rogoh koceknya. Padahal sudah yakin kunci motor tersebut tidak ada.
“Coba tanyakan ke seberang,”

???????????????????????????????Kak Hari dan aku bertanya ke seberang. Namun informasinya nihil. Tak ada yang tahu. Dia juga khawatir kalau-kalau kunci tersebut tertinggal di lobang kunci jok saat pergi. Dan siapa yang tahu seseorang melihat kunci tersebut kemudian mengambilnya dan menyimpan. Bisa saja saat kami tiada seseorang yang mengambil kunci itu kembali datang dan mencoba membawa Vega R Putih Kak Harie pergi entah kemana.

“Jadi Bagaimana?” tanyaku.

“Aku berharap ada dalam jaket yang dipegang Mama Gendhis,”

Kemudian Mama Gendhis datang kepada kami bertiga setelah dipanggil. Namun karena cukup lama. Yang lainnya pun berduyun-duyun mendatangi kami yang masih stand by di parkiran dan kami bertigabelas kembali berkumpul.”

Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu
Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu

“Gak ada. Udah dicheck satu-persatu,” tegas Mama Gendhis cemas.

Semua prediksi dari otak masing-masing dikeluarkan. Maka dari itu juga banyak yang berkesimpulan alangkah baiknya tebeng motor Kak Harie dibongkar saja. Syaukani yang lakukan itu. Tapi sayangnya karena stang motor terkunci jadi agak susah membukanya. Semua jalan sudah ditempuh, termasuk meminjam berbagai jenis kunci di rumah Pambakal. Aku juga sempat bertanya-tanya ke orang yang sedang membakar sampah di samping rumah itu. Ada-ada saja.

“Bagaimana keputusannya. Apakah kita panggil Mas Saprie suruh membawakan kunci serap ke sini. Tapi agak jauh. Tapi hapalkan jalannya,” salah satu usul itu tercetuskan.

“Jangan. Nanti malah menganggu. Mas Saprie kan sibuk juga. Siapa tahu dia sedang ada pekerjaan,” katanya.

Kecurigaan kunci itu terjatuh dalam jok juga sempat dilemparkan. Tapi setelah beberapa orang merogoh ke bawah jok dengan menahan beban tindihnya dan dapat jaket. Hasilnya pun nihil.

“Daripada motornya dirusak. Lebih baik mengambil kunci serap saja,” lantas aku meyakinkan.

“Jangan-jangan memang tercecer,”

“Bagaimana kalau dicari saja,”

“Agar tidak penyesalan kita akan mencarinya,”

Dengan semangat membara dan menggenggam tangan, Kak Harie meluruskan tekad untuk kembali ke Wadul PLTA, mencari beberapa titik dimana kunci itu jatuh atau tercecer.

???????????????????????????????Akhirnya dengan bermodalkan kaca pembesar kami mulai menelaah tapak kaki yang kami jalani. Kutitipkan beberap perkakas tas pingganggku, kamera, flashdisk, dan beberapa barang elektronik kutitipkan kepada Sisy kemudian mengencangkan tali sepatu. Aku berharap akan menjadi pahlawan kesorean hari itu. Mendapatkan kunci motor yang hilang entah dimana. Terjatuh dimana. Atau hanya lupa meletakaannya.

Aku, Kak Harie, Zian, dan Syaukani melangkah menuju tempat pertama-tama yang kami susuri. Dari jembatan, beberapa pasang bola mata kami mengamati ke setiap sudut langkah. Kak Harie mengingat. Menerawang layaknya dukun-dukun dengan mantranya.

“Mungkin di tempat kita pertama turun untuk memancing tadi, Zian,” ujarnya mengira-ngira. Kami bergegas. Lebih tepatnya berbalik ke tempat di awal-awal yang kami singgahi. Menaiki anak tangga. Melewati perkampungan. Menaiki kandang yang terhalang dengan lorong yang hanya muat seorang.

???????????????????????????????Kak Harie turun ke bawah dengan perlahan. Melewati kawat-kawat pagar waduk yang telah bolong entah karena apa.

“Ini tempat pertama yang kami singgahi berdua Zian,” katanya.

Ia turun. Merangkak. Berdiri. Bertiti di antara dahan pohon dan tanah yang agak licin. Nihil. Tetap saja tak ada tanda-tanda disana. Aku melepas jaket levisku. Menggantungkannya di ujung kawat yang terpisah. Aku juga ikut mencari-cari. Berharap menjadi pahlawan di sore hari. Tepatnya agak petang.

“Ciri-ciri pakai gantungan kunci warna kuning,” ucap Kak Harie harap-harap cemas. Namun tetap saja kami tak menemukannya.

???????????????????????????????Tahap kedua pencarian di mulai. Kami naik kembali ke jalan setapak. Kemudian masuk ke lorong kawat yang berlobang yang jarakanya kurang lebih 300 meter dari lobang pertama. Menuju tepian air.

“Sudah. Tak ada. Teruskan ke rerumputan dekat bendungan,” sahutnya lagi.

Kami berempat berjalan menuju lokasi dimana pertama-tama kami stand by. Singkatnya, kita sampai ke lokasi yang dimaksud dan mulai mencari-cari di rerumputan, di selokan yang berair, di sela-sela ranting layaknya pemulung sampah.

“Bagaimana?”

Kami berempat mulai menganalisis dan meneliti sesuatu yang tak masuk akal.

“Aku berharap kaum perempuan di sana bercanda.” Kak Harie berucap.

“Maksudnya?” sahutku.

“Ya siapa tahu mereka sudah menemukannya di sela-sela kantong tas. Atau di saku entah milik siapa. Lalu saat kita datang mereka tampak kegiarangan melihat kita terhuyung-huyung datang. Semoga saja demikian. Aku mengharapkan,”

“Amiiiinnn…!!!!” kami serentak menyahut.

???????????????????????????????Beberapa nyamuk tampak hinggang dan menggigit lengaku. Baru aku sadar kalau aku memakai T-Shirt saja. Bukankah sebelumnya aku memakai jaket levis.

“Asatagaaa!!!!” kataku.

“Ada Apa?”

“Jaketku dimana?”

“Memangnya kamu ke sini pakai jaket?” timpal Syaukani.

“Ya iyalah. Kamu gak lihat apa?”

“Jangan-jangan ketinggalan dip agar kawat di depan sana,”

???????????????????????????????Aku hanya berharap tidak ada yang masuk ke tempat ini setelah kami. Agar jaket yang sebelumnya kugantung di kawat pagar masih setia berada di tempatnya.

“Coba kita cek di sini lagi,” Kak Harie memerintah.

Kami turun ke lobang kawat itu. Kak Harie tampak gesit. Melemparkan jaket, tas pinggangnya, handphone, dompet, dan segala perkakas yang ada di badan. Kemudia ia turun. Meniti beberapa ranting. Bertengger di atas batang pohon yang agak besar, air yang bermeter-meter panjangnya tepat berada di bawah batang pohon itu.

“Tolong ambilkan batang kayu yang agak besar dan panjang!”

Kak Harie berniat menusuk-nusukkannya ke air. Entah mengukur dalamnya atau melihat sesuatu. Kemudia, perlahan ia mulai melepaskan celana. Di lemparnya ke atas. Melepaskan baju. Dan melemparkannya lagi. Akhirnya, Kak Harie hanya tinggal memakai CD, alias Underwear, atau lebih tepatnya celana dalam.

???????????????????????????????Aku langsung berpikir, kenapa tidak difoto saja. Ya Tuhan. Ternyata tidak diperbolehkan. Baru saja aku sadar bahwa saat sekarang ini aku tidak membawa kamera. Aku baru ingat kalau kamera sengaja kutinggal dan kutitipkan kepada Sisy.

“Beruntung pian Kak Harie. Gak sempat ada barang bukti untuk dipermalukan dan ditertawakan,” kataku.

“Memangnya kenapa?”

“Saya lupa bawa kamera. Huh, kenapa jadi ditinggal tadilah”

Aku kecewa. Respon Kak Harie biasa-biasa saja. Ia sudah menceburkan setengah badannya ke air. Saat naik ke daratan, beberapa air menampung di celana dalamnya. Air itu menetes. Layaknya anak kecil yang sedang buang air kecil saat memakai celana dalam saja.

???????????????????????????????“Ya sudah. Tak ada penyesalan. Aku sudah basah-basahan,” sahutnya.

Kami berjalan dengan langkah gontai. Kecewa. Namun tetap berharap bahwa kunci motor begantungan warna kuning itu sudah ada. Kembali menyusuri anak tangga dan jembatan. Hingga sampai ke lokasi parkiran.

**

“Hari ada tiga lelaki yang beruntung karena telah melihat kulitnya yang putih. Tinggal lagi aku becawatan aja”

“Huaaaaaa… itu musibah… bukan anugrah Ka,” teriak kami serempak.

???????????????????????????????Yang jelas. Harapan-harapan tipuan itu hilang sudah. Sudah tak ada lagi usaha mencari-cari. Semua duduk di pelataran rumah pembakal. Adzan margin berkumandang. Hari mulai gelap.

“Begini saja. Motorku biar ditinggal di sini. Besok kembali lagi diambl,” kata salah seorang dari kami.

“Ya. Begitu lebih baik. Daripada harus merusak lobang kuncinya,” kataku.

“Tapi gak apa-apa kan motornya ditinggal disini?”

“Dijamin aman. Biasanya kaitu jua mun urang meninggalakan sepeda motor disini. Mun ada maling kemana jua inya mehiri, pada ke batang banyu lagi,” jawab Pembakal.

Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang
Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang

Akhirnya kami sepakat. Semua bersiap. Malam itu, kami pulang dengan saling bertunggang 3 satu motor. Aku, Sisy, dan Sari. Dillah, Ocha, dan Dillah. Syaukani dan Lutfie. Zian masih dengan pacarnya. Sedangkan Kak Harie dan Gendhis masih formasi awal menggunakan motor Lutfie.

Seperti yang telah kalian ketahui, motor Sisy itu gemuk, warnanya kinclong hitam putih, tetapi sayang buta. Tak ada lampunya. Jadi sangat berbahaya melewati wilayah gelap di malam hari. Otomatis kami haru berada di tengah-tengah agar penerangan cukup. Sebelumnya juga sempat mengisi angin ban belakang karena bannya kempis.

Di antara kedelapan malam riam kanan, kita berkendara. Melewati beberapa tikungan dan jalan-jalan pegunungan. Sembari tertawan. Dan minum dengan cara menjalankan botol estapet dari yang paling belakang sampai depan. Perjalanan terus berlangsung sampai akhirnya cahaya perkotaan ada di hadapan. Aku tancap gas melewati semuanya karena sudah bertemu dengan cahaya. Hingga tiba di sekretarian Onoff Solutindo. Banjarbaru. Semua kesakitan pinggang. Rebahan untuk meluruskannya. Dan beberapa foto pun diseleksi. Sejumlah Nasi Goreng dan Mie Goreng dipesan untuk menemani makan malam yang melelahkan. Sampai akhirnya dillah menyadari bahwa di sebagian foto banyak yang menampakka detik-detik kunci itu telah hilang. Malam semaki larut dan dingin. Tinggal lagi agenda Kak Harie dan Dillah yang besoknya berangkat kembali ke Riam Kanan. Untuk mengambil motor Vega R Putih dengan kunci serap. []

???????????????????????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: