Surat Nomor 24

Wahai sahabatku kecilku, sampai di manakah kau sekarang? Bagaimana kabarmu? Keafiatan tentu selalu kami doakan kepadamu. Aku juga mengharapkan keadaanmu sekarang seperti yang pernah kau inginkan. Dalam jejak rekam kehidupanmu mengelilingi tata surya 24 tahun, ingatkah kau masih dengan kami? Kami adalah orang-orang yang menemani kamu saat bermain di waktu kecil. Menarik benang layang-layang, memasukan kelereng ke satu lubang di tanah, ada masa dimana bulu mata kita terbakar saat meniup lubang bambu yang berdentum keras di belakang rumah, terlebih saat bulan puasa. Atau bisa juga permainan yang membuatmu gusar karena tak pernah kesampaian seperti yang kami miliki? Padahal kamu saat menginginkannya waktu itu, semisal Nintendo, sepatu roda, remote control, robot-robot dengan lampu, bahkan sepeda yang katamu banyak giginya.

Di satu waktu, kita juga pernah bermandikan pasir saat bermain bola kasti. Mengumpulkan beberapa pecahan genteng untuk disusun sebelum bola tenis bekas itu membuat kulitmu membiru. Maaf sobat, itu karena kami terlalu keras melemparnya. Entahlah, apakah kau sekarang masih mengidam-idamkan menjadi pendekar bertopeng layaknya power ranger atau Baja Hitam RX. Sudahlah. Aku yakin kau tak mau meningatnya.

Wahai sahabat seperguruan. Aku tak habis pikir mengapa kau waktu itu ingin mengikuti jejakku merantau ke Kota Santri. Berhenti dari sekolah formal lanjutan pertama yang baru 1 tahun setengah. Kemudian kau memaksakan diri untuk tinggal satu atap bersama kami berlima. Padahal, kau orang baru. Dan ini bukan duniamu. Kau lebih tahu tentang dunia luar daripada kami. Anehnya, kau mau-mau saja. Bahkan terlalu cepat menjauhi orang tua. Alasanmu cuma satu waktu itu, ingin berkumpul dengan orang-orang soleh.

Namun seiring waktu berlalu, aku menyadari jalan ini adalah pijakanmu menuju pendewasaan. Ingatkah saat kita bangun subuh bersama. Tak hanya sehari, melainkan setiap hari menuju kampung melayu hanya untuk ikut-ikutan mengaji Hadist Bukhari dan Ihya Ulumudin. Aku tertawa geli saat kau mengayunkan pena di antara hurup-hurup arab yang sukar dibaca jika kau tidak belajar nahwu dan sharaf.

Kita pulang dengan nafas yang teropoh-gopoh saat mengayuh sepeda tua. Ketika malam Jumat tiba. Kita melakukan ritual yang biasa dilakukan para senior di sekolahan. Berziarah ke Kelampaian menyusuri kegelapan malam di semak belukar dan jalan bebatuan Kampung Melayu sampai ke Dalam Pagar. Katanya, kamu khawatir jalan mulus beraspal Ahmad Yani tersebab banyak truk-truk batu bara berseliweran. Itulah kamu, lebih memilih melewati pohon-pohon tua berhantu dengan bermacam binatang liar daripada truk-truk yang berdebu.

Besoknya, kau memutuskan menjadi mustami di pesantren ini. Sebagai pendengar setia. Belajar mendhabit kitab. Mengikuti kami yang terlalu banyak sholat sunat. Begitu, kan kamu bilang. Ah, kau lugu sekali waktu itu. Di tahun-tahun pertama, kau mulai tak mau lagi sering-sering pakai celana levis panjang. Kau lebih sering memakai sarung dan berkopiah haji sobat. Aku geli melihatnya. Meski hal demikian kuakui sebagai santri pemula.

Setelah namamu tercantol dalam absen guru, kau mulai pelangak-pelongok. Memahami nadzhom serta bait-bait yang harus dihapal. Begitu banyak ayat-ayat yang harus kau ingat. Begitu tebal kitab-kitab yang harus kau pelajari. Di waktu ini, kau banyak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, indahnya beribadah, nyamannya hidup, dan tragisnya kehidupan.

Namun waktu 10 tahun menjadi santri itu telah berlalu, pemikiranmu terlalu cepat berkembang. Kau justru memilih menjadi mahasiswa. Meski hal demikian tak pernah kami inginkan. Bahkan terpikirkan pun tidak. Tapi, iri kah kau saat melihat kami berbondong-bondong pergi ke rumah guru-guru melaksanakan berabgai ijazah? Namun lagi-lagi, kau memang selalu melangkah lebih dulu dari kami. Seharusnya kita berbarengan. Tapi ya sudahlah. Kau memang tak pernah segan untuk mengambil keputusan. Kau adalah teman kami yang keras kepala namun selalu beruntung. Kuharap, saat ini memang momentum yang kau impikan dan hasil-hasil yang telah kau tanam dulu.

Wahai anakku yang pertama, yang memancarkan cahaya-cahaya. Ingatkah kau dulu lahir dari rahimku. Dimasa-masa dalam ayunan kau begitu pengertian. Kau tidur saat ibu membuat beberapa bongkah kue untuk dijual di tempat orang. Usai mengerjakan beberapa keperluan, kau bangun untuk ditimang-timang. Kau selalu berusaha menyesuaikan keadaan. Kau begitu pengertian. Ketika beranjak menjadi dewasa, kau mulai menyusahkan.

Wahai anakku yang memancarkan cahaya, yang selalu aku andalkan. Aku Ayahmu. Masa labilmu adalah masa yang membuat aku sering sakit hati. Aku sempat mendambakan kau akan mengikuti jejakku menjadi orang penting di pemerintahan. Yang tak pernah lepas dari doa orang tua. Yang selalu mencium dan memeluk dengan kasih sayang. Tapi sangat disayangkan, kau begitu membuat emosiku beringas. Kau sering kali menjawab statement-statmen dariku dengan mulutmu. Masih jelas teringat di kepalaku saat aku memandikanmu dengan omelan-omelan sampah. Dengan cacian dan makian yang sebelumnya kau lemparkan ke wajahku, Ayahmu sendiri. Berapa buah ember plastik, rotan kayu, bahkan saking bengisnya, aku menyeret bajumu sampai robek ketika kau lupa waktu untuk pulang ke rumah. Kau terlalu bebas sebelum waktunya.

Meski sekarang aku sadar kini semua tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Saat kamu memutuskan untuk bersekolah di ranah agama. Aku tak melarang, aku ridho dengan keinginanmu. Dengan satu peringatan agar kau tidak sekadar membasahi sebelah kakimu di sana, melainkan basahkan seluruh tubuhmu. Aku tak pernah menyesal mendidikmu menjadi kepribadian yang saat ini kau miliki. Jauh dari pengawasan kami berdua bukan berarti kau semena-mena. Meski kami tak terlalu mengetahui pergaulanmu semasa perantauanmu menuntut ilmu, namun aku yakin, jalanmu sudah ditentukanNya. Semua penentuan kuserahkan kepadaNya.

Anakku yang memancarkan cahaya. Kau tak perlu ragu dengan dukungan kami dan saat kami berdoa. Segala doa-doa yang baik selalu kami panjatkan untukmu di sana. Banyak sekali perubahan yang kudapati saat kau pulang ke rumah. Tata bahasamu, pemikiranmu, jalan pilihanmu, tingkahlakumu yang pernah membuat amarahku memuncak kini telah padam.

Aku tak pernah tahu cita-citamu sebenarnya apa. Karena selalu berubah-ubah. Masih ingatkah dulu pembicaraan kita menjelang Idul Fitri. Katamu, jika memang kau lulus 10 tahun di pesantren kau akan meneruskan sekolah tahfidz. Menjadi penghapal Al-Quran. Dan mengabdikan diri menjadi khadam kepada guru-guru yang sempat mengajarkanmu beberapa disiplin ilmu. Tapi, bukankah sekarang keinginan itu berubah lagi.

Saat kau mulai masuk kuliah. Aku senang bercampur cemas. Aku senang kau mulai berpikir logis dan masuk akal. Namun aku cemas jika kuliahmu terkatung-katung dan terlambat menjadi sarjana. Ternyata kekhawtiranku benar. Kau tampak terkatung-katung dalam hal pendidikan. Tapi tidak dalam pemikiran. Kau tidak pintar, tapi kau cerdas. Aku tak pernah mengerti apakah profesimu sekarang itu cita-cita, atau sekadar karier belaka. Sudahkah kau bersyukur dengan nikmat-nikmat dan keberuntungan yang diberikanNya kepadamu wahai anakku. Coba kau ingat lagi kata-kata Ibumu tempo hari.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Doa Ibu di setiap sholat tak pernah lepas untuk kebahagiaanmu. Kau terlalu beruntung jauh dari pikiran kami sebelumnya. Ingatkah bahwa kau tak sempat menamatkan sekolah lanjutan pertamamu? Ingatkah pula bahwa kau tak sempat sekolah SMA seperti anak-anak yang lainnya. Namun justru kulihat kau lebih cerdas dari mereka yang sekolah-sekolah Tinggi. Kau memang tak jauh dari masa-masaku dulu. Senang membaca, hobi menulis. Namun tak tak kusangka kau memilih jalan yang kuanggap berbahaya, menjadi seorang jurnalis. Kau kira itu perihal mudah, Nak? Kau kira orang biasa bisa melakukan pekerjaan seperti yang kau kerjakan sekarang? Tidak. Itu tidak mudah.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan keadaanmu yang sekarang. Kau telah dewasa. Kau mempunyai pekerjaan. Kau bisa menjadi Imam untuk kami keluarga. Kau punya ilmu untuk selalu kita diskusikan di keluarga. Kau punya gaya. Kau terlalu cepat melangkah. Hanya saja aku ingatkan, agar jangan terlalu jauh melangkah sehingga kau lupa jalan untuk kembali. Kini, kau akan segera menikah. Kau akan meninggalkan kami dan membangun kehidupan baru, membina rumah tangga, dan menjalani masa-masamu menuju persoalan yang lebih rumit. Tapi, kau jangan mengkhawatirkannya. Selama kami, kedua orangtuamu masih ada, selama kami mampu, kami akan selalu membantu. Dan jangan khawatir tentang doa, kami akan selalu mendoakanmu, Nak.

Wahai muridku yang keras kepala. Ingatkah aku? Aku gurumu yang mengenalkan huruf demi huruf. Yang menjadi perantara hingga saat ini bisa kau membaca. Ketika mulai bisa berbahasa, kau menambah lagi untuk mengenal huruf-hufur hijayah. Sampai ketika kau bersekolah seperti anak yang lainnya. Ingatkah bahwa kau sangat cengeng waktu itu, kau sering menangis karena tak mampu mnengenali huruf yang berkelok-kelok itu. Kau bodoh.

Berapa guru yang sudah mengajarimu? Berapa ilmu yang sudah kau dapat dari mereka? Sudahkah kau amalkan ilmu yang mereka ajarkan. Sudahkah kau gunakan dengan baik apa-apa yang sudah mereka berikan? Pertanyaan itu hanya bisa kau jawab sendiri Ananda. Kau bisa mengaji. Kau juga menuntut ilmu agama. Tahukah sudah kau yang mana yang harus dilaksanakan dan yang mana yang harus kau jahui. Kami guru-gurumu mengharapkan kamu bisa menjadi “orang”. Menggapai cita-cita, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami berikan. Kau kini sudah dewasa. Tentu bisa memilah yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Semua terserah padamu.

Aku hanya beraharap agar kau tak sombong. Aku juga ingin agar kau selalu ingin belajar. Siapapun yang mengajarkanmu suatu ilmu, dia adalah gurumu. Kurasa aku tak perlu memberikanmu terlalu banyak penjelasan. Di umurmu yang sekarang, aku yakin kau mengerti arti semuanya. Sebagai guru, aku hanya berharap murid-muridku berhasil mengamalkan apa-apa yang telah kau pelajari. Dan menggapai cita-cita.

Wahai calon suamiku, ingatkah masa-masa kita bertemu dulu? Ingatkah betapa kita berjuang melewati segala rintangan. Aku tahu sebenarnya tak sedikit kita melakukan kesalahan. Dan tak sedikit pula kita beradu pembenaran-pembenaran. Beradu argumentasi. Saling keras kepala. Kadang tak mau mengalah. Tapi sejauh ini, aku sadar kau sering mengalah. Kau terkadang egois, tapi justru membuatku sadar. Aku tak pernah mempunyai alasan mengapa aku selalu sayang sampai detik ini. Kau pun tak pernah punyai alasan mengapa sampai menyayangiku saat ini. Aku berharap rasa ini memang murni karena ketentuan dariNya. Juga kita harapkan. Aku selalu berdoa. Segala doa-doa yang baik aku panjatkan kehadiratNya. Aku ingin kau menjadi Imamku. Menjadi yang halal bagimu. Yang membimbingku kelak kepada keridhaan Ilahi. Aku tak perlu bertanya apakah kau bisa melakukannya. Aku sudah yakin. Aku tak ingin keyakinanku berubah. Semua kuserahkan padaNya.

Wahai hambaKu yang terlena, ingatkah kau sekarang kepadaKu. Aku menegurmu bukan berarti kau makhluk istimewa dibandingkan makhluk yang lainnya. Semua kedudukan manusia sama. Tak ada yang berbeda. Perbedaan bagiKu hanya ketaqwaan hamba kepadaKu. Sudah sampaikah kau mencapai taqwa itu? Tidak. Wahai hambaKu. Kau tidak ada apa-apanya di dunia yang fana ini. Kubiarkan kau berpijak dibumiKu, kubiarkan hidup di bawah matahariKu yang sering membuatmu kepanasan. Padahal kamu tahu, dibandingkan nerakaKu, tak ada apa-apanya. Banggakah diumurmu yang telah sampai 24 tahun ini hidup dalam pengawasanKu? Sadarkah dalam kurun waktu yang pendek itu kau kuberikan segala kenikmatan? Kenikmatan semua panca indra. Kenikmatan semua kebutuhan untuk sekadar kau hidup. Sesekali kau ingat denganKu. Namun seringkali kau justru lupa. Jikapun Aku mau, bisa saja aku cabut semua kenikmatan dan pengetahuanmu saat ini. Kamu mau apa, hambaKu?

Wahai hambaKu yang terlena, pemberian nikmat mana yang bisa kau dustakan dariKu. Kau telah belajar tentang keesaanKu dari rasulKu Muhammad SAW yang telah kuutus ke bumi beribu-ribu tahun silam dari masamu melalui turunan-turunan dan pewaris segala ilmu pesuruhKu. Sampai kepada manusia-manusia yang tak lain hambaKu juga. Termasuk kamu yang saat ini, aku tahu, sedang memikirkanKu.

Wahai hambaku yang terlena, kau memang selalu berprasangka baik kepadaKu. Kau juga sadar arti kau hidup di dunia untuk menyembah kepadaKu. Kau tahu perihal yang Aku larang dan yang aku suruh. Tapi mengapa kau sering melanggarnya. Kau sering lupa menghadapKu tapi kau tahu bahwa Aku tak pernah lupa mengingatkanmu. Kau sadar dengan bentuk-bentuk teguran yang Aku tampakkan melalui beberapa kejadian dalam kehidupanmu. Tapi mengapa kau masih sering lupa kepadaKu.

Jikalau Aku ingin, bisa saja menyudahi kehidupanmu. Saat ini pun Aku tahu kau sedang berkeringat dingin. Tapi apakah kamu tahu, takdir kehidupanmu sampai mana. Katamu, ulang tahun hanyalah perpendekan umur dari kadar jatah manusia sebagaimana kekasihKu Muhammad yang Ku ambil saat dia berumur 63 tahun. Begitu? Berarti kamu tahu jatahmu tinggal di duniaKu tinggal lagi 39 tahun. Itu pun jika aku memanjangkan umurmu sampai 63 tahun. Jika tidak, kau mau apa, wahai hambaKu yang terlena.

Kau masih ingat bahwa golongamu hanyalah hewan yang mampu bertutur. Kalian dimuliakan hanya lantaran bisa berbicara, bisa berakal, bisa berpikir, bisa sadar akan kekuasaanKu. Jika tidak, kalian tak lebih sekadar binatang. Kau pernah sombong, berbohong, toma, kasar, angkuh, serakah,  Kamu beruntung sampai sekarang masih menjadi manusia, wahai Ananda. Aku menganugerahkan kemampuan berpikir dalam otakmu, kemampuan yang normal disemua inderamu. Kau bisa membaca kalamKu. Kau sering berusaha berkomunkasi dengan ayat-ayat suci itu. Tapi kenapa pikiranmu kemana-mana. Apakah kau tidak ingat aku sedang mendengarkanmu berbicara denganKu. Kau lupa Ananda.

Aku tidak mencacatkanmu seperti hamba-hambaKu yang lain. Semua itu hanyalah secuil bukti kekuasaanku. Ingatlah hambaKu Ananda, ada Raqib dan Atid yang kusuruh mencatat semua perihal tentangmu. Kau tahu itu, kau juga meniru-meniru mereka dengan mencatat-catat kebaikan dan kesalahan orang lain. Lalu apakah kau sadar bahwa dirimu juga sedang dicatat oleh malaikatKu? Diam dan gerakmu dalam kuasaKu. Aku bisa melakukanmu sesukaKu. Namun kuberi kau secuil keberuntungan karena kau selalu berprasangka baik kepadaKu. Meski kau sering kufur, dan lupa akan kenikmatan yang aku berikan. Jika kusuruh Izrail saat ini datang kepadamu, kau mau apa? Mau tobat. Memangnya sempat?

Wahai hambaKu yang terlena, aku tahu masih ada ketakutan dalam hatiMu. Namun terkadang aku juga menemukan keberanian dan kerinduan terhadaKu. Hatimu masih berbolak-balik. Namun, prasangkaMu terhadapKu masih saja baik. Aku selalu mengawasimu. Sadarkah kau beberapa kali melakukan kesalahan, melanggar perintah, melakukan dosa-dosa, namun aku tak segera menghukummu? Aku sengaja membiarkanmu dan menegur dengan kejadian-kejadian kecil saja. Agar kelak kau sadar. Aku masih membiarkanmu berbuat sesuatu dan selalu mengawasimu. Aku ingin keimanan dan kepercayanMu terhadapku masih ada dalam benakmu meski meski sekadar biji sesawi. Sampai tiba waktunya aku perintahkan Izrail mendatangimu. Tapi tidak sekarang. Nanti. Itu rahasiaku bersama para malaikat. Golongan manusia tak boleh tahu. Aku hanya memberikan beberapa klu jika waktunya tiba. Memangnya siapa yang bisa mendahului kehendakKu? Tidak ada wahai hambaKu yang terlena.

Di hadapan, Aku sudah mengatur beberapa skenario perjalanan untuk kau jalani. Skenario itu bukan berarti baku. Aku memberikan kesempatan untuk kau revisi sendiri. Bukankah sekarang katanya kau sudah punya ilmu? Walaupun menurutku itu tak ada apa-apa bagiKu. Tapi lakukan saja, kau bisa merevisinya dengan perlakuanmu. Dengan taqwamu, dengan doa-doa yang kau panjatkan terlebih saat kau sadar dari keterlelapan malam. Di sepertiga malam. Ah, kau tahu itu Ananda, tapi tak kau lakukan tersebab menuruti kemauan iblis yang sering menyimpul matamu. Padahal kau tahu, ia juga makhlukKu yang kuperintahkan.

Wahai hambaku yang terlena. Bersyukurlah karena kau sudah kuatur dalam keluarga dan orang-orang yang sayang kepadamu. Nikmat-nikmatmu yang selalu kuturunkan namun kau tidak tahu. Arrrgghhhh… aku terkadang benci dengan keterlupaanmu padaku. Tapi, aku bangga kau masih saja berprasangka baik denganKu. Berapa kalam lagi harus kusampaikan agar kau bersyukur. Kau hanya kurang beryukur. Kurang bersyukur. Kurang bersyukur. Kuran bersyukur. Sekarang, kita lihat. Apa kau sudah sadar.

 

Banjarbaru, di kesunyian malam 07.06.2013.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: