Sarjana Kehutanan Harus Optimistis

 Direktur Utama PT Inhutani II Tjipta Purwita mengatakan, sarjana lulusan Fakultas Kehutanan harus optimistis menghadapi peluang kerja di era globalisasi.

“Peluang kerja terbuka luas sehingga sarjana Fakultas Kehutanan tidak boleh pesimistis tetapi optimistis mampu menghadapi peluang kerja,” ujarnya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu.

Ia mengatakan hal itu saat memberikan kuliah umum di depan ratusan mahasiswa S1 dan S2 Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan fakultas setempat.

Menurut dia, prinsip yang harus dipegang sarjana kehutanan maupun tenaga pendidikan menengah kehutanan adalah memiliki kualifikasi dan profesional dalam pekerjaan sehingga bisa memenangi persaingan dunia kerja.

“Tenaga kerja termasuk sarjana kehutanan harus memiliki karakteristik berupa komitmen dan loyalitas, suka menjalin hubungan, mampu memecahkan masalah, mampu berpikir ke depan serta ulet, dan tangguh,” ungkapnya.

Sementara, kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan diantaranya memiliki kemampuan berpikir dan bertindak cepat, disiplin, jujur dan integritas tinggi, memiliki jiwa kepemimpinan, kreatif, inovatif dan jiwa wirausaha.

“Roda penggerak utama suatu korporasi maupun lembaga pemerintahan adalah tenaga-tenaga terampil sehingga mampu menjadi tenaga handal penggerak aktivitas operasional di lapangan,” ujarnya.

Dikatakan, peluang pasar tenaga kerja bagi sarjana kehutanan Indonesia masih terbuka lebar karena strategi besar pembangunan hutan tanaman dan hutan alam memiliki target besar dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan.

Oleh karena itu, kata dia, lulusan perguruan tinggi bidang kehutanan baik sarjana kehutanan dan diploma kehutanan serta lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) tidak perlu khawatir memasuki persaingan kerja.

“Cukup banyak pilihan karier bagi lulusan sarjana kehutanan seperti dosen, pengelola wilayah hutan, ahli botani hutan, ahli tanah hutan, ahli hama hutan, penyuluh kehutanan dan masih banyak lagi,” sebutnya.

Ditambahkan, sarjana kehutanan dan pendidikan kehutanan lainnya juga harus mampu menyikapi masalah kerusakan hutan dan menjadikan sebagai sebuah tantangan sehingga bisa memperbaiki kerusakan tersebut.

“Intinya, jangan pesimis tetapi harus optimis meski pun kerusakan hutan banyak terjadi di Indonesia dan jadikan kerusakan hutan itu sebagai tantangan untuk memperbaikinya,” demikian Tjipta. (antara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: