Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Kampanye Neraka

Baru saja saya menyaksikan sebuah program yang memang saya jadikan sebagai program talkshow terfavorit. Memang subjektif kesannya. Tak apa. Sang bintang tamu mengatakan, kita sedang berada dalam undangan promosi lokasi prostitusi moral. Yakni, kampanye Neraka.

Ibarat promosi, kita adalah manusia polos tanpa ilmu yang tidak mengetahui apa-apa, sedang dibawa oleh para malaikat menuju surga dan neraka. Di surgalah, kita diperlihatkan kedamaian, kesejahteraan, penuh ketenangan dan tentram. Lantas dibawalah kita untuk melihat neraka yang didalamnya dipertontonkan kegembiraan, pesta pora, kesenangan dan sejumlah hiburan. Yang diisi para pesohor-pesohor bintang dunia, cantik-cantik, glamaour dan penuh gairah. Sang malaikat pun bertanya. “Jika diminta memilih, anda pilih yang mana?” maka kita pun menjawab. “Neraka. Karena menggembirakan dan menyenangkan.” Lantas kembalilah kita di kehidupan nyata.

Singkatnya, tiba masa pemilihan tersebut. Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka dimasukkanlah kita ke dalam neraka. Tapi, alangkah terkejutnya kita dengan keadaan dan gambaran yang terjadi. Di dalam neraka, penuh dengan siksaan, orang-orang dibantai dan dibakar. Mereka yang memang tak bermolar digantung rambutnya. Disetrika punggungnya. Sampai mati dan dihidupkan lagi untuk disiksa. Mereka yang mengingkari janji dipotong lidahnya. Dipulihkan, lantas dipotong untuk ke sekian kalinya. Sampai mereka berucap tobat dan insyaf, namun apa daya. Sudah di dalam neraka. Maka kita pun melakukan pembelaan dengan bertanya kepada malaikat.

“Tuan Malaikat, bukankah neraka kemarin yang diperlihatkan tidak seperti ini?” lantas malaikat pun menjawab. “Kamu ini bagaimana. Kemarin, kan lagi kampanye. Promosi!”. Dan, apa lagi yang bisa kita perbuat.

Sebuah kelompok persaudaraan terbesar dunia pernah berucap, kebenaran yang kau dengar hari ini belum tentu menjadi kebenaran besok hari. Lantas, apa yang bisa kita percaya. Semua kembali kepada iman. Kepercayaan di dalam diri. Sebelum masuk neraka dan menyesal, alangkah baiknya kita bertafakur. Memikirkan baik dan buruk itu boleh, tapi terlalu membedakan bisa menjadi perpecahan. Alhasil, apa-apa yang kita janjikan tak semua bisa ditepati. Maka, berjanjilah sedikit saja, tapi berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Tanpa harus menebar janji. Apalagi menjanjikan neraka.

Menakar Pilpres

Bapak dan ibu, para pembaca koran yang tentu saja saya muliakan. Gegap gempita pemilihan kepala Negara Republik Indonesia sudah membuat kita menyelam ke dasar yang terdalam. Sejumlah informasi dipaparkan dengan gamblang. Sebanyak mata kita menampung gambar-gambar itu sudah ditayangkan. Baik yang memperkuat keyakinan atau yang membuat dahi berkerenyitan. Kita boleh saja men-judge yang ini benar dan yang itu salah. Pun sebaliknya. Semua masih menjadi teka-teki. Karena memang, mereka, para calon pemimpin Negara kita yang gagah berani, yang siap mengemban beban Negara Republik Indonesia ini, belum menjadi.

Lajunya perkembangan teknologi dan informasi membuat pencari referensi gelagapan. Hingga kalimat ini dituliskan, saya belum juga menentukan pilihan. Bukan tidak ada, tapi belum memutuskan. Bukannya tidak ada yang bagus, tapi tentu saja masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden punya kekurangan. Tinggal lagi kita menakar, mana yang benar-benar dibutuhkan rakyat seperti kita-kita ini.

Yang setiap hari bekerja membanting tulang, membanting pulpen, bangun pagi pergi ke sekolah, memotret, mengantarkan anak sekolah sembari ke kantor, pulang petang, masuk sift malam, pulang pagi dengan kepulan asap rokok, dan isitirahat di siang hari, terima gaji di akhir bulan.

Atau kita-kita yang sedang mempersiapkan undang-undang, peraturan daerah, duduk di kursi ternyaman untuk menyampaikan pesan dari rakyat, mengetuk palu, membacakan riwayat hidup, menjadi imam dan khatib di masjid, menerima gaji di awal bulan, atau sekadar yang duduk di perempatan lampu merah dan menengadahkan kedua tangannya. Apa yang sebenarnya kita butuhkan di Negara yang tercinta ini? Atau tak perlu kita, saya saja dan anda tak perlu ikut andil dalam pemilihan.

Ibu dan bapak pembaca Koran yang semoga hari ini berbahagia. Setiap kita punya idola. Baik itu seorang utusan Tuhan, tokoh agama, pemimpin daerah, penyanyi, artis, penulis, dan sebagainya dan sebagainya. Beberapa orang yang saya idolakan sudah menentukan pilihannya. Yang ditampakkan dengan foto profil di beberapa sosial media mereka. Haruskah kita ikut-ikutan? Semua tergantung suara hati anda.

Kita boleh menimbang, tapi jangan keseringan, karena timbangan yang berulang-ulang bisa menjadi timpang. Kita boleh saja menghitung-hitung, tapi jangan berlebihan. Karena hitungan yang berlebihan bisa menjadi selisih paham. Kita boleh saja mengajak untuk mengikuti jalan yang dipilih, tapi ajakan yang keras kepala bisa menimbulkan kebuntuan. Pilihlah berdasarkan apa-apa yang memang betul-betul kita perlukan, bukan lantaran kita inginkan. Apa lagi ikut-ikutan. Termasuk memilih tontontan. Oh, Ya Tuhan, semoga Anda-anda paham dan mengerti maksud saya. Jikalau saya boleh, maka bolehkan saja saya mengutip perkataan Jack Canfield, Apapun yang Anda katakan kepada orang lain akan menghasilkan dampak dalam diri orang itu. Apa pun yang adan katakan akan menimbulkan dampak di dunia ini.

 

KPU Banjarbaru Ikuti Bimbingan Teknis KPU Provinsi

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Banjarbaru mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata cara pemungutan, penghitungan dan Rekapitulasi Suara Pemilu Presiden dan wakil presiden tahun 2014 pada Jumat, (13/6) hingga Sabtu, (14/6) kemarin yang dilaksanakan oleh KPU Provinsi Kalimantan Selatan.

Kegiatan Bimtek dibuka oleh Ketua KPU Provinsi Kalimantan Selatan DR Samahuddin Muharram. Di hari pertama pelaksanaan dipaparkan terkait potensi permasalahan hukum yang ada pada penyelenggaraan Pilpres 2014. materi tersebut disampaikan oleh Komisioner KPU Prov Kalsel dari Divisi Hukum dan Pengawasan Hairiansyah MH.

“Dalam forum ini kita bahas mengenai sosialisasi Pilpres 2014 dan Sumber Daya Manusia (SDM) Penyelenggara Pemilu oleh Masyitah Umar, Penganggung jawab Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Pengembangan SDM KPU Provinsi Kalimantan Selatan. Bimtek Pemungutan, Perhitungan, dan Rekapitulasi Suara,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.

Sedangkan di hari kedua, pelaksanaan Bimtek disampaikan materi Pengisian formulir C1 dan D serta materi Simulasi Tata Cara Pengisian Formulir C1 yang masing-masing dibawakan oleh Riza Zihadi Sag MAP sebagai Komisioner KPU Prov Kalsel dan Muhammad Husni SIP dari Sekretariat KPU Provinsi Kalimantan Selatan.

Pasca pelaksanaan Bimtek Pemungutan, Perhitungan dan Rekapitulasi Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 tersebut, Ketua KPU Kota Banjarbaru Husein Abdurahman menyampaikan bahwa KPU Kota Banjarbaru menyambut baik dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Bimtek tersebut.

“Bimbingan teknis ini akan meningkatkan kompetensi penyelenggara pemilu tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Potensi-potensi kesalahan yang mungkin terjadi pada sisi teknis penyelenggaraan pemilu, khususnya perhitungan dan rekapitulasi sudah dapat dikenali dan diantisipasi secara dini,” ingatnya.

Danlanud Ingatkan Anak Buah Agar Tak Terlibat Persoalan Politik

Tabur Bunga di Tugu Makam Pahlawan Syuhada Landasan Ulin BanjarbaruMenyeruaknya kasus Babinsa yang terlibat dalam pengarahan politik di wilayah Jawa, Komandan Lanud Sjamsudin Noor Esron SB Sinaga peringatkan agar anak buahnya netral dan tidak terlibat dalam pergejolakan politik yang sedang terjadi.

“Mengingat dalam waktu dekat suhu politik saat semakin meningkat dengan akan dilaksanakannya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, agar prajurit Koopsau beserta jajarannya untuk tetap memegang teguh komitmen Netralitas TNI, tidak terlibat dalam politik praktis, tingkatkan kewaspadaan dengan tetap berpegang teguh pada Saptamarga dan Sumpah Prajurit,” ujarnya saat menjadi inspektur upacara dalam rangka  melaksanakan upacara Hari Koopsau ke 63 Tahun 2014, Minggu, (15/6), di Pangkalan TNI AU Sjamsudin Noor, kemarin.

Upacara yang dilaksanakan di lapangan Apel Lanud Sjamsudin Noor tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga SSos MA sebagai inspektur upacara dengan pasukan upacara terdiri dari Perwira, Bintara, Tamtama dan Pegawai Negeri Sipil Lanud Sjamsudin Noor.

Dalam sambutan Kasau yang dibacakan oleh Komandan Lanud SAM disebutkan, dalam usianya yang ke-63 ini, tentu menjadi upaya penggalian kembali meneladani semangat dan nilai-nilai kejuangan serta patriotisme yang telah ditunjukkan para pendahulu dan perintis Koopsau.

“Juga sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa dan pengorbanan mereka bagi kesinambungan tali sejarah masa lalu, masa kini dan masa depan,” katanya.

Disadari bahwa Koopsau selain masih dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, sambungnya, prajurit dan PNS Koopsau harus memiliki kemauan, tekad dan komitmen yang kuat untuk dapat melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan negara dan bertekad secara bersama-sama untuk dapat mewujudkan Koopsau sebagai Kotama Operasi yang professional.

“Sesuai dengan tema peringatan HUT Koopsau kali ini yaitu Dengan Dilandasi Semangat Abhibuthi Antarikshe dan Nilai-nilai Nasionalisme serta Patriotisme, Koopsau Siap Mewujudkan Keunggulan di Udara Guna Melindungi Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah NKRI. Menjadi menjadi sumber inspirasi dan dapat diimplementasikan guna menghadapi tantangan tugas-tugas di masa depan,” pesanya.

Ia mengharapkan Koopsau mampu menempatkan keselamatan terbang dan kerja pada prioritas yang paling utama disetiap pelaksanaan tugas, guna meraih zero accident. Pihaknya juga melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi makam pahlawan, melalukan tabor bunga untuk mengenang jasa para pahlawan.

Wacanakan SSS di Banjarbaru

ananda_Kunjungan Real Madrid Foundation4Ada kunjungan istimewa di Pemko Banjarbaru. Pasalanya Real madrid Intenational Area Manager Rosa Ronca Gimenez dan Tenico De Proyectos Projects Management Officer International Area Elena Fernandes pewakilan kota Spanyol Real Madrid mengunjungi Sekretarian Pemerintahan Kota Banjarbaru Berjuluk Idaman ini, Sabtu, (14/6), kemarin.

Kunjungan tersebut disambut langsung oleh  Plh Sekda Dr H Burhanuddin Noor, MSi yang mewakili Walikota didapingi Tamrani/Alui Kabid Pemuda dan Olahraga Disbudparpora Kota Banjarabru.

Dalam forum tesebut dibahas wacana menggelar Sekolah Sepakbola Sosial (SSS) di tujuh wilayah Indonesia yakni Banda Aceh di Provinsi Aceh, Samarinda di Kalimantan Timur, Banjarmasin (Banjarbaru) di Kalimantan Selatan, Sidoarjo di Jawa Timur, Yogyakarta di DIY Yogyakarta, Makassar di Sulawesi Selatan serta di Jayapura di Papua.

ananda_Kunjungan Real Madrid Foundation3“Kesiapan lapangan dan dukungan stadion akan banyak membatu dalam pendidikan anak usia dini untuk bermain bola. Dengan harapan nantinya ini akan menjadi wadah anak banua untuk menunjukan bakatnya dalam bermain sepakbola. Selain itu sekolah ini juga mengutamakan pendidikan,” ungkap Rosa Ronca Gimenez.

Meski demikian, tambahya, tidak menutup kemungkinan Real Madrid akan mendirikan sekolah sepakbola (SSB) permanen di Indonesia mengingat masyarakat Indonesia memiliki antusisasme terhadap sepakbola yang sangat luar biasa dan banyak talenta-talenta muda yang bisa dikembangkan.

Burhanudin Noor menyambut hangat dengan kedatangan para petinggi Madrid tersebut diruang kerja Wakil Walokota Banajrbaru. Pada kesempatan itu juga Intenational Area Manager Rosa Ronca; Gimenez menyerahkan cenderamata kepada Plh Sekda Dr H Burhanuddin Noor MSi serta melakukan sesi foto bersama.

Tanam Pohon Untuk Masa Depan

Peringati HKGB ke-62 dan HUT Bhayangkara ke-68 

ananda_LISTRI KAPOLDA_latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibit pohon di SPN Sungai Ulin Banjarbaru2Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon melaksanakan penanaman bibit pohon dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-62, Sabtu, (14/6), di SPN, Sungai Ulin Kota Banjarbaru, kemarin. Kegiatan itu juga sekaligus menjadi perayaan HUT Bhayangkara yang ke-68 yang dihadiri Kapolda Kalsel Brigadir Jendral Polisi Machfud Ariffin.

Ketua Bhayangkari Lita Machfud kepada sejumlah wartawan mengkritisi  lingkungan di Kalsel yang rusak akibat eksplorasi tambang namun minimnya upaya reklamasi atau penghijauan kembali. “Maka dari itu dengan dengan penanaman pohon ini diharapkan mampu menggerakkan semua elemen warga sebagai budaya penanaman pohon,” ujarnya.

ananda_Latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibi pohon di SPN Sungai Ulin BanjarbaruMenurutnya, tak pernah ada hal yang sia-sia terkait menanam pohon. Karena, katanya, efek dari penghijauan atau reklamasi merupakan jangka panjang yang akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Terlebih untuk anak cucu kita nantinya. Karena kita tak ingin di 10 hingga 20 tahun mendatang daerah yang kita cintai ini sudah tidak ada pepohonan yang menopang ekosistem dan mensterilkan udara. Hal ini sebagai upaya kita menyayangi bumi dan anak-cucu kita nanti,” ingatnya.

Tak hanya itu, kegiatan juga dilanjutkan dengan hiburan dan latihan menembak sejumlah jajaran Polda Kalsel. Dalam momentum tersebut Ketua Bhayangkari Lita Machfud dan jajaran lainnya berkesempatan berlatih memegang pistol, menarik pelatuk, dan membidik sasaran. Kegiatan juga dilanjutkan dengan kegiatan yang sama di GOR Rudy Resnawan Jl Trikora Kota Banjarbaru.