Menakar Pilpres

Bapak dan ibu, para pembaca koran yang tentu saja saya muliakan. Gegap gempita pemilihan kepala Negara Republik Indonesia sudah membuat kita menyelam ke dasar yang terdalam. Sejumlah informasi dipaparkan dengan gamblang. Sebanyak mata kita menampung gambar-gambar itu sudah ditayangkan. Baik yang memperkuat keyakinan atau yang membuat dahi berkerenyitan. Kita boleh saja men-judge yang ini benar dan yang itu salah. Pun sebaliknya. Semua masih menjadi teka-teki. Karena memang, mereka, para calon pemimpin Negara kita yang gagah berani, yang siap mengemban beban Negara Republik Indonesia ini, belum menjadi.

Lajunya perkembangan teknologi dan informasi membuat pencari referensi gelagapan. Hingga kalimat ini dituliskan, saya belum juga menentukan pilihan. Bukan tidak ada, tapi belum memutuskan. Bukannya tidak ada yang bagus, tapi tentu saja masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden punya kekurangan. Tinggal lagi kita menakar, mana yang benar-benar dibutuhkan rakyat seperti kita-kita ini.

Yang setiap hari bekerja membanting tulang, membanting pulpen, bangun pagi pergi ke sekolah, memotret, mengantarkan anak sekolah sembari ke kantor, pulang petang, masuk sift malam, pulang pagi dengan kepulan asap rokok, dan isitirahat di siang hari, terima gaji di akhir bulan.

Atau kita-kita yang sedang mempersiapkan undang-undang, peraturan daerah, duduk di kursi ternyaman untuk menyampaikan pesan dari rakyat, mengetuk palu, membacakan riwayat hidup, menjadi imam dan khatib di masjid, menerima gaji di awal bulan, atau sekadar yang duduk di perempatan lampu merah dan menengadahkan kedua tangannya. Apa yang sebenarnya kita butuhkan di Negara yang tercinta ini? Atau tak perlu kita, saya saja dan anda tak perlu ikut andil dalam pemilihan.

Ibu dan bapak pembaca Koran yang semoga hari ini berbahagia. Setiap kita punya idola. Baik itu seorang utusan Tuhan, tokoh agama, pemimpin daerah, penyanyi, artis, penulis, dan sebagainya dan sebagainya. Beberapa orang yang saya idolakan sudah menentukan pilihannya. Yang ditampakkan dengan foto profil di beberapa sosial media mereka. Haruskah kita ikut-ikutan? Semua tergantung suara hati anda.

Kita boleh menimbang, tapi jangan keseringan, karena timbangan yang berulang-ulang bisa menjadi timpang. Kita boleh saja menghitung-hitung, tapi jangan berlebihan. Karena hitungan yang berlebihan bisa menjadi selisih paham. Kita boleh saja mengajak untuk mengikuti jalan yang dipilih, tapi ajakan yang keras kepala bisa menimbulkan kebuntuan. Pilihlah berdasarkan apa-apa yang memang betul-betul kita perlukan, bukan lantaran kita inginkan. Apa lagi ikut-ikutan. Termasuk memilih tontontan. Oh, Ya Tuhan, semoga Anda-anda paham dan mengerti maksud saya. Jikalau saya boleh, maka bolehkan saja saya mengutip perkataan Jack Canfield, Apapun yang Anda katakan kepada orang lain akan menghasilkan dampak dalam diri orang itu. Apa pun yang adan katakan akan menimbulkan dampak di dunia ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: