Catatan Perjalanan, Martapura-Tamiyang Layang (1/5)

 

Setelah melalui upaya yang cukup panjang dalam rangka penyelamatan SD Card saya yang sudah tidak terdeteksi baik di hape maupun pc, maka sah sudahlah, file 16 GB yang biasa saya pasang di Xiaomi Redmi 2 good bye, meninggalkan kenangan fisik berupa lempengan kecil yang kini tak berharga lagi. Padahal, semua memuat kumpulan foto yang telah saya ambil dari awal berangkat sampai ke Palangkaraya, (nanti kita akan tiba ke bagian ini). Bahkan kenangan sebelumnya, baik itu foto kegiatan, pemberitaan, serta video rekaman suara dan gambar saat bekerja. Selamat Tinggal.

Setidaknya, saya sudah sempat memosting beberapa dokumentasi perjalanan realtime di Instagram. Hanya itulah yang sempat terselamatkan. Dan sejumlah foto yang mendampingi tulisan saya berikut ini merupakan screenshoot dari instagram pribadi saya @anandarumi2. By the way, perjalanan itu berawal pada hari Senin, (11/7) kemarin.

Rencana yang matang usai rapat dan packing malam harinya, kami berangkat 4 orang dengan 2 unit sepeda motor matic dari Kota Martapura, meeting point di Kampus STAI Darussalam. Adalah Bungker, berperawakan tegap dan kekar layaknya prajurit, Haji Udin, berperawakan tidak tinggi yang tenggelam dengan ranselnya sendiri, dan Obol, bocah bola berambut pendek berwajah bulat sebagai rider Beat Birunya. Saya sendiri menggunakan Vario Techno berboncengan dengan Bungker. (bukan nama sebenarnya).

Janji di pukul 13.30 Wita untuk berangkat bersama menjadi 15.35 Wita. Dengan cuaca Kota Martapura yang cukup cerah, perjalanan cukup lancar. Saya sempatkan berhenti di Astambul untuk mengisi angin ban dalam agar kencang, dan mem-full-kan tangki minyak di SPBU Desa Mataraman.

Screenshot_2016-07-19-15-41-01_com.instagram.android

Kami tiba di Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, di kediaman seorang sahabat yang juga saudara. Check point 1. Sekadar merenggangkan otot yang kaku sembari bercengkrama. Pembicaraan yang alot karena terlalu asik menjadi pembicaraan melebar dan berakhir pukul 18.35. Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai.

Matahari kembali peraduan barat. Senja menjelma. Sedikit cahaya merah masih menaungi perjalanan. Perlu diketahui, saya bersama bungker memang tidak tidur di malam sebelumnya, selain obrolan Tasawwuf yang terlalu larut malam, diselingi dengan tontonan Final Piala Eropa, dan pagi-pagi sekali saya harus berurusan dengan petugas Samsat Corner bersama antrian yang cukup panjang hingga siang hari. Faktor kelelahan dan tidak ada istrihat inilah yang mungkin membuat kepala dan mata begitu berat, dari pukul 20.00 Wita.

Screenshot_2016-07-19-15-41-07_com.instagram.android

Setelah beberapa kali berganti joki, dan sebelum terhuyung sampai ke pinggiran aspal, kami sepakat untuk berhenti di warung makan sebelum Bundaran Ketupat, di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ada nasi kuning dan nasi putih masak habang yang kami santap untuk makan malam di hari pertama ini. Setelahnya, aku sempatkan terlelap di meja makan beberapa menit. Mungkin sekitar 10 menit.

Perjalanan dilanjutkan menembus cakrawala malam menuju Kota Amuntai, tentu saja kami tak melewati Kota Barabai, karena beda jalur. Ada satu masjid yang kami jadikan tempat persinggahan. Sayangnya, saya lupa mengeja nama. Setelah cuci muka. Aku rebahan bersama yang lainnya.

Ketika bangun, Obol bilang saya tidur mendengkur, Saya rasa hanya beberapa menit saja. Nyatanya, lebih dari 30 menit. Mungkin reaksi normal dari tubuh yang ingin memenuhi haknya. Bahkan katanya, sementara saya tidur, ada mobil polisi yang menghampiri, ia mengira ada pemeriksaan rutin, ternyata hanya numpang memalingkan mobilnya saja di halaman masjid.

Screenshot_2016-07-19-15-41-29_com.instagram.android

Screenshot_2016-07-19-15-41-40_com.instagram.android

Perjalanan kurang lebih 160 Km yang seharusnya kami tempuh dalam jangka waktu 3 Jam dari Kota Martapura membengkak menjadi 5 jam lebih hingga tiba di Jembatan Paliwara, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Berhenti menyempatkan berselfie.

Screenshot_2016-07-19-15-41-50_com.instagram.android

By the way, ini adalah kali pertama saya melalui Kota Amuntai menggunakan motor. Saya bersama yang lain berkesempatan melihat-lihat situasi pinggiran jalannya di waktu malam dengan membuka helm. Merasakan angin malam di perjalanan santai pedesaan itu beda dengan perkotaan. Ternyata, banyak sekali produsen perabotan rumah tangga berbahan alumanium di kota ini. Baik itu dari jemuran, lemari dapur, sampai alat keperluan rumah tangga lainnya.

Saya kira, beberapa toko penjual perabotan rumah lainnya banyak yang mengambil suplai barang dari kota ini. Hawa dingin dari lingkungan rawa-rawa di sekililing mengantarkan memasuki deretan warung remang-remang. Seperti yang telah lumrah kalian ketahui, perempuan berpakaian ketat, wanita paruh baya berambut jagung, kedipan mata bak perangkap siap menghasut Rem pada laju kendaraanmu. Aku tak lagi merasakan kantuk. Sama sekali.

Deretan warung yang cukup panjang, mungkin sekitar 1-2 Km, ketika waktu menunjukkan 22. 45, kami berniat untuk singgah sekedar meneguk kopi hitam panas walau secangkir saja. Tapi bukan di warung gadis bak selebritisnya, khawatir argo jalan dan biaya perjalanan terpangkas di luar dugaan.

Screenshot_2016-07-19-15-41-57_com.instagram.android

Kami mendapati satu warung kopi dengan Acil dan Paman Berkopiah haji di sana, Memesan kopi dan teh, menyempatkan berfoto. Dan bercengkrama soal rooling door yang tak lagi rooling door. Bungker paling rinci soal ini, aku tak terlalu memerhatikan. Sementara duduk di warung kopi, kami masih mengupayakan agar sampai ke Tamiyang Layang sebelum lewat tengah malam, menginap di rumah sahabat yang juga saudara untuk mengamankan diri dari ganasnya tengah malam di padang hutan. Entahlah, apa yang bakal terjadi, kita lihat saja nanti. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: