Catatan Perjalanan, Ampah-Timpah (3/5)

 

Dari bundaran Kota Ampah, kami memutar ke wilayah Desa, masuk ke gang sempit di wilayah pasar. Lagi, lupa mengeja nama gangnya. Jalanan bebatuan yang tidak bisa dikatakan mulus, namun tidak juga buruk. Dari pinggir jalan raya sampai persis ke rumah Ali kurang lebih 1 Km. Semoga saya salah kira. Kammi sempat kelewatan. Sedikit saja.

Rumah semi permanen, bercat kuning pucat dengan tumpukan paketan potongan kayu untuk diperjual-belikan terpampang di hadapan. Kami memakirkan motor persis di bawah seng sebagai teduhan. Siang ini, Selasa, (12/7), matahari begitu terik. Panas luas biasa. Check point 3.

Sambutan yang hangat diiring seceret sirup jeruk es batu dan setoples kerupuk unyil. Entah bagaimana menggambarkannya, kerupuk ini terasa nikmat sekali. Mungkin mengenang jaman dulu jadi perantauan, kerupuk unyil jadi lauk wajib ketika lauk lain tidak ada lagi.

Obrolan seputar menanyakan kapan sarjana, kapan kawin, kapan lulus, kapan berumah tangga, dan kapan bla-bla bertebaran di setiap pertikel atom yang tiap sudutnya saling berpantulan memenuhi isi rumah.

Belum jeda 10 menit, satu teko jumbo es kelapa muda datang di meja, barusan dikupas di luar rumah. Hasil petikan pohon di belakang rumah. Sudah kubilang, matahari begitu terik. Panas luar biasa. Sedangkan di hadapan ada es kelapa muda. Gimana?

Bla-bla mengembang ke sana ke mari tanpa batas, tawa canda gelak tawa membawa kami beberapa kali ke toilet. Karena terlalu banyak minum. Kami ditawarin untuk menginap saja. Kulihat jam dinding di rumah Ali hampir pukul 12.00. Di dalam rumah ini minim sekali sinyal telkomsel, apalagi akses data. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Padahal aku sudah berniat membuka laptop dan mulai mengetik.

Makin lama obrolan sampai ke ahlu bait menghamparkan karpet/hambal tebal bermotif bulu macan di tengah rumah. Tuh, kan. Ada 4-5 buah bantal dan guling dihamburkan di sana.

Intinya, setelah bersopan santun tanpa perasaan menolak, kami berempat tertidur di waktu khoilullah. Sampai adzan dzuhur berakhir. Yang paling terakhir bangun adalah Bungker.

Terburu-buru kami bangun dan mencuci muka, terlihat terburu-buru juga kesannya akan meninggalkan rumah. Namun ditahan, ya seperti peringatan Bungker sebelumnya, tidak akan diizinkan beranjak pergi dari rumah ini sebelum santap siang. Sudah minum es kelapa muda, aku sempat membuka bungkus lisong yang baru (saking borosnya), tertidur di hamparan ambal bulu pula, nah ini, bau-bauan ikan bakar mulai tercium oleh perut. Gimana coba? Emang enak bangun tidur langsung disuruh makan. Enak.

Intinya tidak boleh pergi sebelum puas. Duduk lesehan, ada Haruan Baubar yang khas sekali dengan selera masakan Banjar di hadapan. Nasi panas yang harum, ada es sirup dan es teh juga. Sayurnya Pucuk Jawaw yang sudah direbus, juga hasil petikan di kebun sendiri, didampingi terong muda (yang juga dipetik di samping rumah) kecil-mungil juga. Ada sambal terasi dengan taburan Ampalam/mangga di atasnya. Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Ditemani Udang goreng dan kacang panjang. Kulihat bungker, wajah dan tubuhnya sudah basah karena keringat. Sambil ter hus-hus setelah colak-colek nakal di cobek.

Saya belum sanggup berdiri usai menyantap mengipung/mengilau haruan bakar sisa. Turunakan nasinya dulu. Kami lupa beberapa kali bersopan santun ketika menambah kautan nasi. Kenikmatan makan siang inilah yang tidak pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk lalu lintas perkotaan. Dan sayangnya, kami tak sempat berfoto ketika ini, sama sekali.

Semua usai, obrolan dan suasana terangnya suasana beranda rumah mengantarkan jarum jam dinding menuju angka 2. Setelah menggabungkan dua kewajiban berjamaah dengan Bungker, mempersiapkan segala. Packing ala touring. Berpamitan dengan segala kebaikan perangai, berterima kasih yang tak terhingga, dan sama-sama saling mengucap, “Jangan jara lah,” dan dijawab “Pian nang jangan jara,” sebagai penutupnya.

Kami melintas menuju jalan raya Kota Ampah di bawah terik mentari yang tiada terdinding. Entah, tampaknya sediki sekali awan menjelang sore ini. Tapi tenang, botol-botol minuman kami sudah terisi kembali. Diisi ulang.

Ya, setelah Kota Ampah, Saya harus mengejar wilayah berjaringan internet perkotaan selanjutnya, yakni Buntok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Obol, perjalanan Ampah Buntok memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati adalah pemukiman di atas rawa, persis seperti jalur Desa Sungai Tabuk dari Martapura menuju Banjarmasin.

Rumah-rumah tinggi di atas rawa dan pepohonan rindang di pinggiran jalan seakan membuat kesejukan perjalanan ini. Tanpa terlena, kami memacu kendaraan, karena saya sudah meminta waktu mereka untuk menunggu ketika saya mengetik berita nantinya.

“Dear all, sampai di kota kita harus mencari wifi id. Atau jika tak ada, kita singgah di warung/café yang ada colokan listriknya. Kurasa portable wifi di smartphone pada jaringan perkotaan bisa diandalkan,” ucapku.

“Pokoknya selesaikan saja urusan pian. Bila semua selesai, dan pian tenang. Kami tenang jua,” ucap Haji Udin diamini yang lainnya.

Saya belum pernah sama sekali menjejakan kaki di Kota Buntok. Dan ini adalah kali pertama, ketika lampu merah membuat kami berhenti, dan saya menurunkan kaki sebelah kiri ke aspal.

Selamat Datang di Kota Batuah, begitu kata plang yang terpampang besar di hadapan. Belok kiri melewati Jalan Pelita melalui Balai Kota. Saya menyempatkan membuka google maps untuk mencari Kantor Telkom. Ternyata kami salah jalur. Lantas kembali memutar ke arah dermaga. Damn, kami menemukannya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-03_com.instagram.android

Check point 4. Saya membuka semua peralatan kerja, menyambungkannya ke colokan listrik yang tersedia dan telah terhubung dengan internet. Saya mulai berselancar. Sedangkan Obol dan Haji Udin mencari kios untuk membeli beberapa minuman dingin.

Proses tersebut memakan waktu kurang dari satu jam. Di waktu itu pula, ternyata Bungker sempat-sempatnya tidur dengan pulas di bawah naungan wifi id berwarna merah. Done, tugas rampung, kami berangkat menuju Palangkaraya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-08_com.instagram.android

Satu belokan saja. Ya hanya satu belokan dengan plang kecil tanda panah yang bertuliskan Palangkaraya, kami akan tiba di tempat tujuan. Jembatan kecil, yang tidak bisa dikatakan bagus, dengan pemandangan hutan rimbun di hadapan.

Are you sure?” tanyaku menatap yang lain.

“Yakin?”

“Berdasarkan arahan, arah itulah yang mengatarkan kita ke tujuan!”

“Well, memangnya kita punya pilihan, Selain belok kanan surga?”

Screenshot_2016-07-19-20-02-15_com.instagram.android

Kami melaju dengan semangat. Sore itu sekitar pukul empat. Dengan tongsis di pinggang kupasang niat, menghantarkan matahari sampai tenggelam jika sempat. Karena kalau berfoto malam sudah pasti gelap pekat. Tas ransel diikat erat. Dan siapa yang tahu, ini adalah perjalanan terberat setelah ratusan kilometer yang sudah kami lewat. Sampai teruccap, “Jika lagi aku harus melalui jalur ini, cukup sekali seumur hidup melewatinya malam hari,” dan roda kami berputar dengan mantap. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: