Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Surat Nomor 24

Wahai sahabatku kecilku, sampai di manakah kau sekarang? Bagaimana kabarmu? Keafiatan tentu selalu kami doakan kepadamu. Aku juga mengharapkan keadaanmu sekarang seperti yang pernah kau inginkan. Dalam jejak rekam kehidupanmu mengelilingi tata surya 24 tahun, ingatkah kau masih dengan kami? Kami adalah orang-orang yang menemani kamu saat bermain di waktu kecil. Menarik benang layang-layang, memasukan kelereng ke satu lubang di tanah, ada masa dimana bulu mata kita terbakar saat meniup lubang bambu yang berdentum keras di belakang rumah, terlebih saat bulan puasa. Atau bisa juga permainan yang membuatmu gusar karena tak pernah kesampaian seperti yang kami miliki? Padahal kamu saat menginginkannya waktu itu, semisal Nintendo, sepatu roda, remote control, robot-robot dengan lampu, bahkan sepeda yang katamu banyak giginya.

Di satu waktu, kita juga pernah bermandikan pasir saat bermain bola kasti. Mengumpulkan beberapa pecahan genteng untuk disusun sebelum bola tenis bekas itu membuat kulitmu membiru. Maaf sobat, itu karena kami terlalu keras melemparnya. Entahlah, apakah kau sekarang masih mengidam-idamkan menjadi pendekar bertopeng layaknya power ranger atau Baja Hitam RX. Sudahlah. Aku yakin kau tak mau meningatnya.

Wahai sahabat seperguruan. Aku tak habis pikir mengapa kau waktu itu ingin mengikuti jejakku merantau ke Kota Santri. Berhenti dari sekolah formal lanjutan pertama yang baru 1 tahun setengah. Kemudian kau memaksakan diri untuk tinggal satu atap bersama kami berlima. Padahal, kau orang baru. Dan ini bukan duniamu. Kau lebih tahu tentang dunia luar daripada kami. Anehnya, kau mau-mau saja. Bahkan terlalu cepat menjauhi orang tua. Alasanmu cuma satu waktu itu, ingin berkumpul dengan orang-orang soleh.

Namun seiring waktu berlalu, aku menyadari jalan ini adalah pijakanmu menuju pendewasaan. Ingatkah saat kita bangun subuh bersama. Tak hanya sehari, melainkan setiap hari menuju kampung melayu hanya untuk ikut-ikutan mengaji Hadist Bukhari dan Ihya Ulumudin. Aku tertawa geli saat kau mengayunkan pena di antara hurup-hurup arab yang sukar dibaca jika kau tidak belajar nahwu dan sharaf.

Kita pulang dengan nafas yang teropoh-gopoh saat mengayuh sepeda tua. Ketika malam Jumat tiba. Kita melakukan ritual yang biasa dilakukan para senior di sekolahan. Berziarah ke Kelampaian menyusuri kegelapan malam di semak belukar dan jalan bebatuan Kampung Melayu sampai ke Dalam Pagar. Katanya, kamu khawatir jalan mulus beraspal Ahmad Yani tersebab banyak truk-truk batu bara berseliweran. Itulah kamu, lebih memilih melewati pohon-pohon tua berhantu dengan bermacam binatang liar daripada truk-truk yang berdebu.

Besoknya, kau memutuskan menjadi mustami di pesantren ini. Sebagai pendengar setia. Belajar mendhabit kitab. Mengikuti kami yang terlalu banyak sholat sunat. Begitu, kan kamu bilang. Ah, kau lugu sekali waktu itu. Di tahun-tahun pertama, kau mulai tak mau lagi sering-sering pakai celana levis panjang. Kau lebih sering memakai sarung dan berkopiah haji sobat. Aku geli melihatnya. Meski hal demikian kuakui sebagai santri pemula.

Setelah namamu tercantol dalam absen guru, kau mulai pelangak-pelongok. Memahami nadzhom serta bait-bait yang harus dihapal. Begitu banyak ayat-ayat yang harus kau ingat. Begitu tebal kitab-kitab yang harus kau pelajari. Di waktu ini, kau banyak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, indahnya beribadah, nyamannya hidup, dan tragisnya kehidupan.

Namun waktu 10 tahun menjadi santri itu telah berlalu, pemikiranmu terlalu cepat berkembang. Kau justru memilih menjadi mahasiswa. Meski hal demikian tak pernah kami inginkan. Bahkan terpikirkan pun tidak. Tapi, iri kah kau saat melihat kami berbondong-bondong pergi ke rumah guru-guru melaksanakan berabgai ijazah? Namun lagi-lagi, kau memang selalu melangkah lebih dulu dari kami. Seharusnya kita berbarengan. Tapi ya sudahlah. Kau memang tak pernah segan untuk mengambil keputusan. Kau adalah teman kami yang keras kepala namun selalu beruntung. Kuharap, saat ini memang momentum yang kau impikan dan hasil-hasil yang telah kau tanam dulu.

Wahai anakku yang pertama, yang memancarkan cahaya-cahaya. Ingatkah kau dulu lahir dari rahimku. Dimasa-masa dalam ayunan kau begitu pengertian. Kau tidur saat ibu membuat beberapa bongkah kue untuk dijual di tempat orang. Usai mengerjakan beberapa keperluan, kau bangun untuk ditimang-timang. Kau selalu berusaha menyesuaikan keadaan. Kau begitu pengertian. Ketika beranjak menjadi dewasa, kau mulai menyusahkan.

Wahai anakku yang memancarkan cahaya, yang selalu aku andalkan. Aku Ayahmu. Masa labilmu adalah masa yang membuat aku sering sakit hati. Aku sempat mendambakan kau akan mengikuti jejakku menjadi orang penting di pemerintahan. Yang tak pernah lepas dari doa orang tua. Yang selalu mencium dan memeluk dengan kasih sayang. Tapi sangat disayangkan, kau begitu membuat emosiku beringas. Kau sering kali menjawab statement-statmen dariku dengan mulutmu. Masih jelas teringat di kepalaku saat aku memandikanmu dengan omelan-omelan sampah. Dengan cacian dan makian yang sebelumnya kau lemparkan ke wajahku, Ayahmu sendiri. Berapa buah ember plastik, rotan kayu, bahkan saking bengisnya, aku menyeret bajumu sampai robek ketika kau lupa waktu untuk pulang ke rumah. Kau terlalu bebas sebelum waktunya.

Meski sekarang aku sadar kini semua tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Saat kamu memutuskan untuk bersekolah di ranah agama. Aku tak melarang, aku ridho dengan keinginanmu. Dengan satu peringatan agar kau tidak sekadar membasahi sebelah kakimu di sana, melainkan basahkan seluruh tubuhmu. Aku tak pernah menyesal mendidikmu menjadi kepribadian yang saat ini kau miliki. Jauh dari pengawasan kami berdua bukan berarti kau semena-mena. Meski kami tak terlalu mengetahui pergaulanmu semasa perantauanmu menuntut ilmu, namun aku yakin, jalanmu sudah ditentukanNya. Semua penentuan kuserahkan kepadaNya.

Anakku yang memancarkan cahaya. Kau tak perlu ragu dengan dukungan kami dan saat kami berdoa. Segala doa-doa yang baik selalu kami panjatkan untukmu di sana. Banyak sekali perubahan yang kudapati saat kau pulang ke rumah. Tata bahasamu, pemikiranmu, jalan pilihanmu, tingkahlakumu yang pernah membuat amarahku memuncak kini telah padam.

Aku tak pernah tahu cita-citamu sebenarnya apa. Karena selalu berubah-ubah. Masih ingatkah dulu pembicaraan kita menjelang Idul Fitri. Katamu, jika memang kau lulus 10 tahun di pesantren kau akan meneruskan sekolah tahfidz. Menjadi penghapal Al-Quran. Dan mengabdikan diri menjadi khadam kepada guru-guru yang sempat mengajarkanmu beberapa disiplin ilmu. Tapi, bukankah sekarang keinginan itu berubah lagi.

Saat kau mulai masuk kuliah. Aku senang bercampur cemas. Aku senang kau mulai berpikir logis dan masuk akal. Namun aku cemas jika kuliahmu terkatung-katung dan terlambat menjadi sarjana. Ternyata kekhawtiranku benar. Kau tampak terkatung-katung dalam hal pendidikan. Tapi tidak dalam pemikiran. Kau tidak pintar, tapi kau cerdas. Aku tak pernah mengerti apakah profesimu sekarang itu cita-cita, atau sekadar karier belaka. Sudahkah kau bersyukur dengan nikmat-nikmat dan keberuntungan yang diberikanNya kepadamu wahai anakku. Coba kau ingat lagi kata-kata Ibumu tempo hari.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Doa Ibu di setiap sholat tak pernah lepas untuk kebahagiaanmu. Kau terlalu beruntung jauh dari pikiran kami sebelumnya. Ingatkah bahwa kau tak sempat menamatkan sekolah lanjutan pertamamu? Ingatkah pula bahwa kau tak sempat sekolah SMA seperti anak-anak yang lainnya. Namun justru kulihat kau lebih cerdas dari mereka yang sekolah-sekolah Tinggi. Kau memang tak jauh dari masa-masaku dulu. Senang membaca, hobi menulis. Namun tak tak kusangka kau memilih jalan yang kuanggap berbahaya, menjadi seorang jurnalis. Kau kira itu perihal mudah, Nak? Kau kira orang biasa bisa melakukan pekerjaan seperti yang kau kerjakan sekarang? Tidak. Itu tidak mudah.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan keadaanmu yang sekarang. Kau telah dewasa. Kau mempunyai pekerjaan. Kau bisa menjadi Imam untuk kami keluarga. Kau punya ilmu untuk selalu kita diskusikan di keluarga. Kau punya gaya. Kau terlalu cepat melangkah. Hanya saja aku ingatkan, agar jangan terlalu jauh melangkah sehingga kau lupa jalan untuk kembali. Kini, kau akan segera menikah. Kau akan meninggalkan kami dan membangun kehidupan baru, membina rumah tangga, dan menjalani masa-masamu menuju persoalan yang lebih rumit. Tapi, kau jangan mengkhawatirkannya. Selama kami, kedua orangtuamu masih ada, selama kami mampu, kami akan selalu membantu. Dan jangan khawatir tentang doa, kami akan selalu mendoakanmu, Nak.

Wahai muridku yang keras kepala. Ingatkah aku? Aku gurumu yang mengenalkan huruf demi huruf. Yang menjadi perantara hingga saat ini bisa kau membaca. Ketika mulai bisa berbahasa, kau menambah lagi untuk mengenal huruf-hufur hijayah. Sampai ketika kau bersekolah seperti anak yang lainnya. Ingatkah bahwa kau sangat cengeng waktu itu, kau sering menangis karena tak mampu mnengenali huruf yang berkelok-kelok itu. Kau bodoh.

Berapa guru yang sudah mengajarimu? Berapa ilmu yang sudah kau dapat dari mereka? Sudahkah kau amalkan ilmu yang mereka ajarkan. Sudahkah kau gunakan dengan baik apa-apa yang sudah mereka berikan? Pertanyaan itu hanya bisa kau jawab sendiri Ananda. Kau bisa mengaji. Kau juga menuntut ilmu agama. Tahukah sudah kau yang mana yang harus dilaksanakan dan yang mana yang harus kau jahui. Kami guru-gurumu mengharapkan kamu bisa menjadi “orang”. Menggapai cita-cita, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami berikan. Kau kini sudah dewasa. Tentu bisa memilah yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Semua terserah padamu.

Aku hanya beraharap agar kau tak sombong. Aku juga ingin agar kau selalu ingin belajar. Siapapun yang mengajarkanmu suatu ilmu, dia adalah gurumu. Kurasa aku tak perlu memberikanmu terlalu banyak penjelasan. Di umurmu yang sekarang, aku yakin kau mengerti arti semuanya. Sebagai guru, aku hanya berharap murid-muridku berhasil mengamalkan apa-apa yang telah kau pelajari. Dan menggapai cita-cita.

Wahai calon suamiku, ingatkah masa-masa kita bertemu dulu? Ingatkah betapa kita berjuang melewati segala rintangan. Aku tahu sebenarnya tak sedikit kita melakukan kesalahan. Dan tak sedikit pula kita beradu pembenaran-pembenaran. Beradu argumentasi. Saling keras kepala. Kadang tak mau mengalah. Tapi sejauh ini, aku sadar kau sering mengalah. Kau terkadang egois, tapi justru membuatku sadar. Aku tak pernah mempunyai alasan mengapa aku selalu sayang sampai detik ini. Kau pun tak pernah punyai alasan mengapa sampai menyayangiku saat ini. Aku berharap rasa ini memang murni karena ketentuan dariNya. Juga kita harapkan. Aku selalu berdoa. Segala doa-doa yang baik aku panjatkan kehadiratNya. Aku ingin kau menjadi Imamku. Menjadi yang halal bagimu. Yang membimbingku kelak kepada keridhaan Ilahi. Aku tak perlu bertanya apakah kau bisa melakukannya. Aku sudah yakin. Aku tak ingin keyakinanku berubah. Semua kuserahkan padaNya.

Wahai hambaKu yang terlena, ingatkah kau sekarang kepadaKu. Aku menegurmu bukan berarti kau makhluk istimewa dibandingkan makhluk yang lainnya. Semua kedudukan manusia sama. Tak ada yang berbeda. Perbedaan bagiKu hanya ketaqwaan hamba kepadaKu. Sudah sampaikah kau mencapai taqwa itu? Tidak. Wahai hambaKu. Kau tidak ada apa-apanya di dunia yang fana ini. Kubiarkan kau berpijak dibumiKu, kubiarkan hidup di bawah matahariKu yang sering membuatmu kepanasan. Padahal kamu tahu, dibandingkan nerakaKu, tak ada apa-apanya. Banggakah diumurmu yang telah sampai 24 tahun ini hidup dalam pengawasanKu? Sadarkah dalam kurun waktu yang pendek itu kau kuberikan segala kenikmatan? Kenikmatan semua panca indra. Kenikmatan semua kebutuhan untuk sekadar kau hidup. Sesekali kau ingat denganKu. Namun seringkali kau justru lupa. Jikapun Aku mau, bisa saja aku cabut semua kenikmatan dan pengetahuanmu saat ini. Kamu mau apa, hambaKu?

Wahai hambaKu yang terlena, pemberian nikmat mana yang bisa kau dustakan dariKu. Kau telah belajar tentang keesaanKu dari rasulKu Muhammad SAW yang telah kuutus ke bumi beribu-ribu tahun silam dari masamu melalui turunan-turunan dan pewaris segala ilmu pesuruhKu. Sampai kepada manusia-manusia yang tak lain hambaKu juga. Termasuk kamu yang saat ini, aku tahu, sedang memikirkanKu.

Wahai hambaku yang terlena, kau memang selalu berprasangka baik kepadaKu. Kau juga sadar arti kau hidup di dunia untuk menyembah kepadaKu. Kau tahu perihal yang Aku larang dan yang aku suruh. Tapi mengapa kau sering melanggarnya. Kau sering lupa menghadapKu tapi kau tahu bahwa Aku tak pernah lupa mengingatkanmu. Kau sadar dengan bentuk-bentuk teguran yang Aku tampakkan melalui beberapa kejadian dalam kehidupanmu. Tapi mengapa kau masih sering lupa kepadaKu.

Jikalau Aku ingin, bisa saja menyudahi kehidupanmu. Saat ini pun Aku tahu kau sedang berkeringat dingin. Tapi apakah kamu tahu, takdir kehidupanmu sampai mana. Katamu, ulang tahun hanyalah perpendekan umur dari kadar jatah manusia sebagaimana kekasihKu Muhammad yang Ku ambil saat dia berumur 63 tahun. Begitu? Berarti kamu tahu jatahmu tinggal di duniaKu tinggal lagi 39 tahun. Itu pun jika aku memanjangkan umurmu sampai 63 tahun. Jika tidak, kau mau apa, wahai hambaKu yang terlena.

Kau masih ingat bahwa golongamu hanyalah hewan yang mampu bertutur. Kalian dimuliakan hanya lantaran bisa berbicara, bisa berakal, bisa berpikir, bisa sadar akan kekuasaanKu. Jika tidak, kalian tak lebih sekadar binatang. Kau pernah sombong, berbohong, toma, kasar, angkuh, serakah,  Kamu beruntung sampai sekarang masih menjadi manusia, wahai Ananda. Aku menganugerahkan kemampuan berpikir dalam otakmu, kemampuan yang normal disemua inderamu. Kau bisa membaca kalamKu. Kau sering berusaha berkomunkasi dengan ayat-ayat suci itu. Tapi kenapa pikiranmu kemana-mana. Apakah kau tidak ingat aku sedang mendengarkanmu berbicara denganKu. Kau lupa Ananda.

Aku tidak mencacatkanmu seperti hamba-hambaKu yang lain. Semua itu hanyalah secuil bukti kekuasaanku. Ingatlah hambaKu Ananda, ada Raqib dan Atid yang kusuruh mencatat semua perihal tentangmu. Kau tahu itu, kau juga meniru-meniru mereka dengan mencatat-catat kebaikan dan kesalahan orang lain. Lalu apakah kau sadar bahwa dirimu juga sedang dicatat oleh malaikatKu? Diam dan gerakmu dalam kuasaKu. Aku bisa melakukanmu sesukaKu. Namun kuberi kau secuil keberuntungan karena kau selalu berprasangka baik kepadaKu. Meski kau sering kufur, dan lupa akan kenikmatan yang aku berikan. Jika kusuruh Izrail saat ini datang kepadamu, kau mau apa? Mau tobat. Memangnya sempat?

Wahai hambaKu yang terlena, aku tahu masih ada ketakutan dalam hatiMu. Namun terkadang aku juga menemukan keberanian dan kerinduan terhadaKu. Hatimu masih berbolak-balik. Namun, prasangkaMu terhadapKu masih saja baik. Aku selalu mengawasimu. Sadarkah kau beberapa kali melakukan kesalahan, melanggar perintah, melakukan dosa-dosa, namun aku tak segera menghukummu? Aku sengaja membiarkanmu dan menegur dengan kejadian-kejadian kecil saja. Agar kelak kau sadar. Aku masih membiarkanmu berbuat sesuatu dan selalu mengawasimu. Aku ingin keimanan dan kepercayanMu terhadapku masih ada dalam benakmu meski meski sekadar biji sesawi. Sampai tiba waktunya aku perintahkan Izrail mendatangimu. Tapi tidak sekarang. Nanti. Itu rahasiaku bersama para malaikat. Golongan manusia tak boleh tahu. Aku hanya memberikan beberapa klu jika waktunya tiba. Memangnya siapa yang bisa mendahului kehendakKu? Tidak ada wahai hambaKu yang terlena.

Di hadapan, Aku sudah mengatur beberapa skenario perjalanan untuk kau jalani. Skenario itu bukan berarti baku. Aku memberikan kesempatan untuk kau revisi sendiri. Bukankah sekarang katanya kau sudah punya ilmu? Walaupun menurutku itu tak ada apa-apa bagiKu. Tapi lakukan saja, kau bisa merevisinya dengan perlakuanmu. Dengan taqwamu, dengan doa-doa yang kau panjatkan terlebih saat kau sadar dari keterlelapan malam. Di sepertiga malam. Ah, kau tahu itu Ananda, tapi tak kau lakukan tersebab menuruti kemauan iblis yang sering menyimpul matamu. Padahal kau tahu, ia juga makhlukKu yang kuperintahkan.

Wahai hambaku yang terlena. Bersyukurlah karena kau sudah kuatur dalam keluarga dan orang-orang yang sayang kepadamu. Nikmat-nikmatmu yang selalu kuturunkan namun kau tidak tahu. Arrrgghhhh… aku terkadang benci dengan keterlupaanmu padaku. Tapi, aku bangga kau masih saja berprasangka baik denganKu. Berapa kalam lagi harus kusampaikan agar kau bersyukur. Kau hanya kurang beryukur. Kurang bersyukur. Kurang bersyukur. Kuran bersyukur. Sekarang, kita lihat. Apa kau sudah sadar.

 

Banjarbaru, di kesunyian malam 07.06.2013.

 

Perjuangan Di Haul ke-8 Guru Sekumpul

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Penuh perjuangan. Itulah yang tersirat dalam pikiran saat aku menghadiri Haul ke-8 Al Alimul Alamah Asyekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa dengan Guru Sekumpul.

Pukul 17.30. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tulisan untuk mengisi salah satu halaman koran. Setelah sebelumnya mengikuti kelas penulisan Novel bersama dua orang penulis Kalsel favoritku. Bagiku, menjelang petang merupakan waktu yang sudah terlalu terlambat untuk menghadiri haulan Guru Sekumpul. Karena seperti yang kalian ketahui, Pengajian beliau saja sudah beribu-ribu umat manusia yang menghadiri. Apalagi ketika beliau wafat, dan haulan-haulan dari 1 sampai ke 7 kalinya diadakan. Setiap tahun, jamaah yang berhadir selalu bertambah dan melebihi hitungan angka manusia.

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Memakai kopiah haji, berbaju Taqwa berwarna hitam dan celana panjang yang juga warna hitam. Tas kamera berwarna hitam diselempangkan di pinggang. Bayangkan, seperti apa saya kelihatannya, seperti kotoran berkaki empat kah? Ya, mungkin saja. Tapi warnanya hanyar terbalik.

Lalu lintas memang sudah padat merayap. Panitia dan tim keamanan haul pun sudah berjaga-jaga di tiap persimpangan. Aku berangkat dari Banjarbaru Kota melewati jalan Sei Pering dan tembus ke Guntung Alaban Komplek Sekumpul Martapura. Sayangnya semua kendaraan bermotor harus berhenti di sini. Semua jamaah diharuskan berjalan kaki untuk menuju Musholla Ar-Raudhah. Aku memutuskan untuk memarkirkan kuda besi butut yang tak punya mata -karena lampu depannya rusak dan tidak menyala- ini parkir di halaman rumah orang. Rumah bedakan, yang diseberangnya rental penyewaaan mobil. Jarakanya masih cukup jauh untuk pejalan kaki memasuki sekumpul. Sekitar 1 Km.

???????????????????????????????Di persimpangan Jl Pendidikan sudah terlihat shaf-shaf rapi para jamaah yang sudah membaca shalawat sebelum adzan magrib berkumandang. Tidak menyangka, kukira seperti tahun sebelumnya, jam segini jalan Guntung Alaban setahuku belum dijadikan shaf-shaf tempat jamaah yang sholat. Karena tahun sebelumnya jamaah lebih banyak di belakang untuk mengikuti imam di Mushola Ar-Raudhah. Kalau di depan tentu tak bisa. Maka dari itulah sebagian jamaah memilih imam sendiri untuk sholat berjamaah di beberapa titik di depan Musholla.

Selanjutnya, aku bertemu dengan seorang yang sudah akrab denganku. Seorang politis yang juga tak jarang menjadi narasumber.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

“Eh, kemana hibak sudah urangnya?” Ujarnya dengan maksud menyapa dan langsungg menarik lengan kananku. Namanya H Jumli, anggota DPRD Kota Banjarbaru yang tinggal di Kecamatan Cempaka. Saat itu, entah dengan anak atau keponakan, ia duduk di warung gorengan untuk sekadar menunggu adzan magrib berkumandang.

Eh, Om. Lawan siapa pian? Kada handak ke dalam, kah?”

“Mana lagi kawa ke dalam jam seini.”

“He en lah. Aja beduduk ai dulu setumat nah. Bekajal banar jua sudah tadi ulun.”

“Minumkah dulu? Pesan gin?”

“Kada, ulun beduduk setumat aja habis tu bekeraut pulang begamatan ka tangah situ,” kataku mengakhiri percakapan.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Aku duduk sejenak. Menarik nafas. Dan mengeluarkan kamera dalam tas yang berselempang. Aku memotret beberapa suasan jamaah yang duduk dengan zikir dan shalawat. Ada juga yang membaca Al-Quran atau melihat-lihat jamaah lain yang berlalu lalang. Frame demi frame telah kuambil. Setelah dirasa cukup, aku beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan yang berat. Jarak yang cukup dekat, namun harus ditempuh dengan hati-hati dan akurat. Karena kuyakin, akan banyak jamaah yang membenci orang sepertiku. Salah langkah, bisa saja kakiku menimpa kepala-kepala mereka.

“Permisi Om lah. Ulun harus bejalan ke tengah!”

“Oh, Silahkan! Kalau untuk liputan spot disini memang kurang cocok,” sahutnya sembari aku melanjutkan langkah perlahan.

Suasana di Dalam Musholla

Suasana di Dalam Musholla

Nah, aku akan berbagi tips untuk berjalan di sekumpulan orang-orang yang siap akan sholat. Sebenarnya ini tidak akan kulakukan kalau aku sekadar ingin hadir mengikuti semua amalan secara runtun, berdzikir, bershalawat, sholat berjamaah, dan membaca puji-pujian kepada Rasulullah. Tapi kali ini bukan tempo sewaktu aku masih Santri Pondok Pesanten Darussalam. Kali ini aku membawa tanggungjawab sebagai seorang bujangan yang berprofesi menjadi wartawan. Atau lebih tepatnya sebagai seorang Jurnalis, karena aku tak hanya diwajibkan menulis, tetapi juga memotret peristiwa, kejadian, atau apa saja yang berhubungan dengan ranah Jurnalistik lainnya. Tugas adalah tugas. Ibadah, tetap diniatkan.

Dengan kamera yang menggantung di antara ketiak sebelah kiri, aku perlahan melangkah kaki ke sajadah-sajadah para jamaah. Karena memang hamparan sajadah itulah satu-satu pijakan bagi kalian yang ingin berlalu lalang. Mungkin perjalananku baru sampai 100 meter namun sudah memakan waktu kurang lebih 15 menit. Bajuku basah karena keringat. Rasa lelah dan dahaga juga menghampiriku. Adzan magrib dari Mushollla Ar-Raudhah Sekumpul mulai menggetarkan setiap anggota badan. Beberapa jamah terlihat berdiri karena terlihat salah satu ulama, -entah siapa aku tidak melihat terlalu jelas- baru memasuki shaf dengan para protokoler panitia haul menuju mushala Ar-Raudhah. Setelah semua kembali duduk karena diperintah petugas, aku berhenti di salah satu kios portable atau lebih tepatnya gerobak dorong.

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Hari menejelang gelap dan adzan sudah usai berkumandang. Kemudian para jamaah berdiri bersiap melaksanakan kewajiban. Sedangkan aku, terperangkap di antara mereka. Aku memang tak membawa sajadah. Karena tidak berniat untuk singgah atau konsisten di satu titik saja. Melainkan harus berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk menjadi berita. Pada akhirnya aku duduk di kios tadi dan menunggu sholat berjamaah usai. Sembari memotret mereka yang sedang khusyuk menghadap Tuhan dari berbagai sudut pandang.

Perjuangan tahap kedua dimulai. Setelah melepaskan kedua sandal, aku memasang tekad untuk bermuka tebal dan rasa permisi yang kuat. Sembari mengayunkan tangan di antara pundak-pundak mereka yang beramalan wiridan selepas Sholat Magrib. Mau bagaimana lagi, tak mungkin menunggu mereka semua berdiri. Tugas adalah tugas. Bagaimanapun caranya harus aku jalankan. Tetap dengan aksi penuh kehati-hatian. Melewati putih-putih umat Rasulullah dengan segala kelas umur. Tak peduli muda ataupun tua. Semua dilewati dengan rasa sedikit bersalah. Karena tidak datang lebih awal.

???????????????????????????????Akhirnya perjalanan lama itu ditunda sementara. Aku singgah di rumah Kak Abdil yang masih berkaitan keluarga. Bapak Zani kakak dari ayahku bersama Ibu Fifah sudah ada di dalam rumah. Tapi tak semudah itu. Pagar rumah memang telah dikunci karena halaman rumah juga sudah penuh dengan jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada pilihan dan memanggil orang di dalam untuk membukakan pagar pun tidak mungkin. Singkatnya, aku masuk dengan meloncat pagar. Bayangkan berapa pasang mata yang focus melihat aksiku meloncat pagar. Ini bukan momentum konser music live lho, tapi acara keagamaan, haul Guru Sekumpul.

Dengan penuh perhitungan, tas pinggang dieratkan serta kedua sandal yang telah kulempar ke balik pagar. Aku meloncat. “Hap”, tak ada yang menangkap. Aku berhasil mendarat dan memasang kedua sandal. Dan perlahan, lagi-lagi, melewati jamaah yang masih wiridan hingga ke dalam rumah.

Hanyar ja kah? Jam berapa tadi tulak?” kata Kak Abidl menyapa.

Jam setengah enam Ka. Menuntungakan gawian dulu tadi sedikit,” jawabku.

“Beeeeeiiih… payahnya. Urang mun tulak haulan handak ke dalam tu sungsungi, jadi kada manggangu urang,” tutupnya kemudian menuju tempat beruwudhu. Dan segera aku juga menunuaikan sholat Magrib yang tertinggal dari jamaah lain.

**

???????????????????????????????“Bu, ulun langsung kaluar, amun bakaina sawat asrakal kada sampat mamutu!” itu kuucapkan setelah sebelumnya duduk di depan tv melihat tayangan langsung pembacaan Maulid Habsyi dari dalam Musholla Ar-Raudhah sekumpul.

Tampaknya tak perlu kuulang. Tapi tak apalah, tak ada melarang jika aku mendeskripsikan kembali. Karena inilah yang namanya perjuangan. Sampai di depan pagar, aku kembali melakukan perhitungan. Menghitung berapa langkah lagi aku melewati kepala-kepala dan membokongi para jamaah yang sedang khusyuk. Memang, perasaan bersalah itu singgah di dalam pikiran ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kuletakan kedua sandal di balik pagar untuk menuju keluar. Aku melakukan aksi lompat pagar untuk kedua kalinya. Di antara layar tancap itu aku melangkah, meniti jemari di antara pundak jamaah. Sampai akhirya para penjaga menghadangku di depan pintu gerbang musholla Ar-Rhaudah.

“Kada boleh masuk Ding, sudah hibak!” ujarnya.

“Setumat aja ulun Bang, handak memotret di atas aja. Boleh ai kalu lah? Ulun wartawan.”

“Darimana?”

“Wartawan di Media, bang!”

“Mana ID Cardnya?”

Penjaga itu melirik ID Card pers di dada yang sedari awal masuk telah kukalungkan. Hanya agak tertutup tali atas sehingga harus kugeserkan agar tampak.

“Ya sudah. Masuk ja”

“Arah kemana menuju tangga naik ke atas tuh?”

“Terus aja arah ke pewudhuan. Habis tu kam belok kiri masuk ke ruangan. Disitu kam sudah behadapan tangga naik ke atas.”

???????????????????????????????Dengan memegang kedua sandal di dada, aku perlahan melangkah kembali melewati titik-titik kecil hamparan sajadah jamaah. Hingga memasuki ruangan yang dimaksudkan penjaga. Kedua sandal kuletakkan di bawah anak tangga pertama. Dan perlahan menaikinya. Sampai di lantai dua aku kembali melewati cara yang sama. Hanya saja karena lantainya sudah berkeramik jadi hanya sediki sajadah yang dihampar disana. Dan sampai lah aku ke pintu keluar lantai dua. Yang tak lain adalah atap Mushola Ar-Rhaudah Sekumpul Martapura.

**

“Eh, pian ni melelain pada nang lain. Urang baju putih-putih semuanya. Pian kenapa memakai warna hirang!” ujarku menyapa bercanda Joe, salah seorang rekan fotografer yang kutepuk pundaknya di sisi jendela. Padahal ini bukan perlakuan yang baik sesame fotografer. Yakni menepuk pundak saat si fotofgrafer sedang membidik. Bisa kehilangan momentum dia.

???????????????????????????????“Ah, sama haja, situ saraba hirang jua. Sampai ka salawar lagi. Lamun aku baju aja. Salawarnya levisnya warna biru,” jawabnya sembari tawa kecil kawan-kawan di antara bacaaan rawi Maulid. Kurang beradab. Tapi yakin saja, suara kami tidak akan sampai ke dalam Musholla.

Aku mengeluarkan kamera, mengambil beberapa frame dan momentumnya. Sembari menyahut beberapa shalawat yang dilantunkan Ahmad Hafy Badali dan Muhaamad Amin Badali, keduanya adalah putra Guru Sekumpul.

Muhammad Amin yang berdagu seperti lebah bergantung, mewarisi perwajahan yang sangat mirip dengan ayahnya. Suara, gerakan bibirnya saat membaca huruf-huruf hijayah, tatapan mata, dan perawakannya yang kini telah beranjak dewasa. Mata yang penuh dengan tatapan kedalaman ilmu dan cahaya itu juga diwariskan kepada Ahmad Hafy, keterampilan, kehalusan kulit, dan gerak-gerik sang Guru hadir dalam diri keduanya. Keberadaan Amin dan Hafy seaolah-olah menjadi obat rindu para jamaah kepada Guru Sekumpul. Tak ada yang pernah bisa mendeskripsikan kebaikan rupa dan kemuliaan kedua putra Guru Sekumpul, karena nyatanya, melebihi apa-apa yang tersirat dan tersurat. Sang pewaris Quthbul Gauz.

???????????????????????????????Di atas sini kurang lebih ada 6 fotografer yang sebagian sudah saling mengenal. Dan di antara ada dua wartawan televisi lokal Kalsel yang meliput kegiatan sejak tadi sore. Mereka memang telah datang lebih awal.

Beberapa momentum pembacaan syair maulid, asrakal, sudah kita laksanakan. Beberapa frame foto juga sudah kami ambil dengan seksama dan cukup untuk pemberitaan masing-masing media cetak dan elektronik. Sejenak, kami kadang merasa beruntung karena sedikit lebih leluasa bergerak dan melihat-lihat langsung suasana di dalam Musholla. Namun bukan berarti karena telah difasilitasi oleh panitia kami rekan pers bisa semena-mena. Sesekali tetap larut dalam alunan dzikir dan shalawat yang dibaca ratusan ribu jamaah sana. Menurutku, haul kali ini lebih banyak jamaah yang datang serta lebih terkoodinir dengan solid oleh panitia. Kerja keras panitia pasti terbayarkan dengan barokah pahala yang tak pernah terhitung oleh manusia.

???????????????????????????????Setelah pembacaan Maulid Al Habsyi dilanjutkan dengan Dzikir Nasyid. Berbeda dengan tahlilan biasa. Ada dua regu yang berdzikir dengan kalimat berbeda, beberapa guru pesantren yang memang sudah dikenal dengan sebutan penyairan maulid melantunkan syair yang juga khusus untuk Dzikir Nasyid. Kemudian jamaah menyahut dengan Dzikir Tahlil. Kalimatnya berbeda beda, di Syair pertama jamaah menyahut dengan Lailahailallah. Sedangkan di dzikir kedua jamaah berucap A hu A hu Allah beberapa kali sesuai ketukan syair. Begitulah. Dan ratusan ribu jamaah itu juga harus bergerak senada dengan dzikir ke kiri dan kanan. Salah gerak sekali atau seorang saja, kepala bisa terantuk jamaah di sebelah. Apalagi jika salah satunya menggoyangkan kepala dengan kencang. Coba.

Aku melihat hamparan jamaah dalam shaf-shaf yang teratur di bawah. Seperti suasana Masjidil Haram. Yang pernah kulihat dalam televise-televisi Arab Saudi. -Karena memang aku belum berhaji. Tapi niat itu ada. Dan yakin sajalah, rejeki ke sana pasti ada. Hanya saja Allah mengatur waktu yang tepat). Dalam momentum ini, saya merinding. Memang pada momentum ini saya tidak ikut berdzikir berduduk bertelempoh seperti jamaah lainnya yang berada di bawah. Tetapi memotret dengan teknik slow shoot agar menghasilkan efek gerak pada bingkai kamera. Sesekali saya menikmati alunan tubuh yang berdzikir itu. Layaknya gelombang air laur yang berirama teratur dan perlahan. Meneduhi segala pikiran dan ingatan akan kegemerlapan dunia. Semua hilang, hilang dalam kefanaan. Melainkan hanya satu. Kepada Nya.

ananda_haul guru sekumpul ke-8 di Komplek Ar Raudah Sekumpul Martapura21Aku berdiri sembari menyandarkan kedua tangaku di pinggiran atap mushola yang bentuknya seperti plang nama nisan di kuburan muslimin. Di atas lampu neon hijau tulisan arab Mushola Ar-Raudhah. Melihat raut muka jamaah yang terpejam, terlarut, yang mabuk akan mengingat Tuhannya. Tiba-tiba getaran itu terasa dari dinding-dinding mushola. Suara “Hu” yang keluar dari ratusan ribu jamaah membuat atap-atap, dinding dan kaca mushola bergetar. Itu kurasakan setelah tanganku betul-betul memegangnya. Lalu aku bergumam, begini ternyata dahsyatnya dzikir yang dilakukan ratusan ribu kepala manusia. Bahkan aku yakin sekali, semua benda mati baik itu dinding rumah, pepohonan, tumbuhan, sampai segala pojok ruang yang ada di komplek sekumpul malam ini bergetar, turut berdizikir. Dan tentunya akibat gelombang suara “Hu” yang serempak. Itu semua terjadi. Betapa dahsyatnya gelombang suara manusia jika digabungkan. Sungguh sangat luar biasa. Ah, sungguh, aku terenyuh saat momentum ini. Sampai semua hilang tenang dan tentram saat dzikir terakhir diiringi shawalat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Rasululullah SAW.

Semua amalan telah dilaksanakan. Juga doa haul khususnya kepada Guru Sekumpul. Tinggal lagi Adzan untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Aku bersama Om Oneal, seorang fotografer ternama dari Banjarmasin berinisiatif untuk turun terlebih dahulu. Karena konsekuensinya, jika memang bertahan sampai akhir shalat Isya berjamaah, lebih baik sekaligus saja. Karena kurang nyaman jika kau memutuskan untuk berjejal-jejal. Tapi, proses itu memang harus dilalui. Seakan kita memang tak diberikan pilihan.

???????????????????????????????Keluar Musholla dengan cara yang sama. Aku berjalan di depan Om Oneal mencari-cari alur jalan yang sedikit terlihat tidak terlalu padat. Setidaknya menyisakan setapak ruang untuk jamaah yang memilih keluar. Syukurlah. Sampai kami berdua di Guntung Alaban, Iqamah usai berkumandang.

“Pian ni sengaja kada besandal kah tadi masuk ke dalam?” tanyaku kepada Om Oneal.
“Kadanya pang, sandalku di parak gerbang langgar. Tapi kada mungkin lagi jua aku maambil bacacarian, biar aja sudah barilaan,”
sahutnya.

Beberapa shaf di sebalah kanan kami sudah mengangkat takbir. Untungnya di alur sebelah kiri pinggir jalan tersedia untuk para jamaah yang keluar. Tapi tak boleh diserobot. Langkah para jamaah juga harus satu senti satu senti. Salah langkah bisa tercebur ke comberan selokan. Jadi harus antri, seperti membeli BBM di SPBU.

Akhirkanya aku terlepas dari sesak dan jejal berbagai macam aroma. Aku berjalan perlahan menuju kuda besi yang telah kuparkirkan di rumah penduduk yang jaraknya masih kurang lebih 1 Km. Jaraknya itu tak akan terasa jauh jika kalian menjalaninya bersama dengan banyak orang. Dan beramai-ramai seperti saat ini.

**

Malam semakin larut, semakin dingin, dan awan tampak lebih gelap dari sebelumnya. Beberpa “U Turn” Jalan Ahmad Yani ditutup demi kelancaran lalu lintas. Tak berlama-lama karena lalu lintas keluar juga belum terlalu padat, aku telah sampai di sekretariat kawan-kawan, Onoff Solutindo Project. Bergegas membuka komputer dan menyambungkannya ke internet. Karena kantor redaksi memang sudah menunggu hasil setoranku di malam ini. Malam perjuangan penuh berkah. Penuh keringat dan lelah. Di luar hujan turun deras sekali. Aku merebahkan diri sembari menarik nafas panjang relaksasi. Rasa syukur kuucapkan dan segera beristirahat usai melaksanakan kewajiban. Untuk kembali menemui hari yang sama dengan cerita berbeda. Dan menyaksikan hasil fotoku terbit besok di halaman depan koran. Barakallah, Allahuma Yarham, Al Alimul Alamah Syekh Zaini Abdul Ghani Sekumpul Martapura.[]

???????????????????????????????

Sholat Hajat di 4 Tempat

Tak hanya menggelar hiburan menjelang perayaan HUT ke-14 Kota Banjarbaru, pihak Pemerintah Kota Banjarbar juga menggelar Sholat Hajat bersama di 4 Kecamatan. Pelaksanaan  shalat hajat diawali pada Hari Senin, (15/4), tadi malam, bertempat di Mesjid Al Aman Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor.

Sedangkan di Mesjid Ar-Rahman, Kelurahan Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang dihadiri Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli. Kemudian dilanjutkan, Rabu (17/4), di Mesjid Darul Falah Kelurahan Cempaka Kecamatan Cempaka. Serta pada hari Jumat, (19/4) akan dilaksanakan di Mesjid Agung Al Munawarah Banjarbaru, Kelurahan Loktabat Selatan sebagai puncak shalat hajat akbar gabungan Kecamatan Banjarbaru Utara dan Kecamatan Banjarbaru Selatan. Usai Sholat Hajat akan dilanjutkan dengan Tablig Akbar oleh Habib Jamal bin Toha Ba’aqil dari Kota Malang.

Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor melaksanakan Sholat Hajat pertama di Mesjid Al Aman Kelurahan Guntung Manggis didampingi beberapa Kepala SKPD, Camat, dan Lurah Se-Kota Banjarbaru. Diikuti pula Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan masyarakat di sekitar lingkungan Mesjid. “Dengan bertambahnya usia Kota Banjarbaru yang Ke-14 dan pula dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki kita harus lebih kreatif memanfaatkan peluang dan potensi yang ada,” ujarnya dalam sambutan.

Ia menilai selama 13 tahun Kota Banjarbaru telah mampu menghadapi tantangan pembangunan sebagai daerah otonom, prestasi dan perubahan ke arah perbaikan di pelbagai sektor terus dilakukan demi pembangunan dan pelayanan publik yang lebih baik.

“Semoga momentum Hari Jadi Kota Banjarbaru ini dapat kita maknai dengan menyempurnakan partisipasi di bidang masing-masing. Sebab hari jadi ini bukanlah semata-mata hari jadi Pemerintah Kota saja, namun bagi seluruh masyarakat Kota Banjarbaru yang telah bekerjasama bahu-membahu mendukung suksesnya pembangunan daerah kita ini,” pungkasnya sembari memberikan bantuan untuk renovasi Mesjid Al Aman sebesar 25 Juta Rupiah.

Ahbabul Mustofa Juara Umum

Para Pemenang Ketika Berfoto Bersama

Para Pemenang Ketika Berfoto Bersama

Penutupan Seleksi Semarak Maulid Habsyi Partai Golkar se Kota Banjarbaru 1434 Hijriyah diselenggarakan Kamis, (14/2), di Gedung Bina Satria Banjarbaru, kemarin malam.

Lomba yang dimulai sejak hari Selasa, (12/2) telah menampilkan setidaknya 15 grup maulid dari tiap-tiap kecamatan di Kota Banjarbaru. Penampilan membuat Euphoria masyarakat yang begitu antusias menyaksikan kebolehan para peserta. Sehingga atmosphir hysteria dengan performa grup yang begitu unik menyajikan pukulan-pukulan dan variasi saat melafalkan syair-syair shalwat kepada baginda Rasulullah SAW.

Arie berharap perwakilan pemenang dari Kota Banjarbaru bisa tampil memukai di semarak maulid Partai Golkar di tingkat Provinsi nantinya. Dan siapa tahu bisa menang di tingkat provinsi. Jeda waktu para juri bersidang juga sempat diisi dengan hiburan Madihin oleh Muhammad yang masih berumur 8 tahun.

Penampilan Salah Satu Grup Maulid Habsyi

Penampilan Salah Satu Grup Maulid Habsyi

Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Drs Arie Sophian Msi Ketua Dewan Pemenangan Pemilu partai Golkar Tingkat II Wilayah Banjarbaru Martapura Iwansyah Ismail mengatakan, gelaran rutin tersebut kali ketiga Dilaksanakan. “Kita berusaha untuk turut membantu upaya pendidikan kepada generasi muda khususnya yang bernuansa islami. Jadi intinya apa Partai Golkar lakukan adalah membina generasi muda di daerah ini,” ujarnya ketika memberikan sambutan.

Dikatakan Arie, siapa pun yang menjadi juara tidak dipersoalkan. Namun yang memang tidak memperoleh predikat juara diharapkan di tahun mendatang bisa mencoba kembali meraih gelar juara. “Serta mohon dukungan agar lomba ini terus bisa kita selenggarakan tiap tahunnya,” ujar Arie.

Para Penonton

Para Penonton

Selain itu, ia juga mengingatkan aagar para peserta tetap teguh berpegang pada aturan yang sudah ditetapkan panitia. Sebab peraturan itu pula yang menjadi dasar saat kembali bertandang di perlombaan tingkat provinsi.

“Kepada semua pembina grup masing-masing, kita mengharapkan agar peserta di tahun-tahun yang akan datang jangan sampai ikut di dua tempat. Atau yang sudah pernah juara kita ingin supaya memberi kesempatan ke grup yang lain supya pembinaan ini bisa dirasakan semua kader maulid habsyi di seluruh Kota Banjarbaru,” tuturnya.

Dari 15 grup yang bertandang maka diputuskan oleh dewan juri ada 8 grup yang memperoleh gelar. Kategori Putri Juara I, II, II, dan harapan I. Begitu pula kategori Putra Juara I, II, III, dan harapan I. Maka dari itu, 7 grup tersisa yang tidak memperoleh gelar juara masing-masing diberikan tambahan uang transport secara pribadi oleh Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian sebesar Rp 200 ribu per grup.

Salah Satu juri Ustadzah Nurul Latifah

Salah Satu juri Ustadzah Nurul LatifahPara Penonton

“Terlebih dalam penampilannya para peserta hampir 90% memakai busana kombinasi kuning. Maka dari itu pula saya berikan penghargaan kepada 7 grup yang tidak mendapat juara diberikan uang transport khusus. Ini sebagai sebagai tali ikatan Partai Golkar dengan masyarakat,” pungkasnya.

Penyerahan hadiah berupa trophy kepada grup pemenang Putra oleh Ketua Dewan Pemenangan Pemilu Parta Golkar Tingkat II Iwansyah Ismail dan penyerahan hadiah putri diserahkan oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Arie Sophian. Para pemenang dinilai oleh 4 orang juri Yakni H Adnan Nawawi (Koordinator), Muhammad Rusli, Ustadz Muhammad, dan Ustadzah Hj Nurul Latifah.

Kategori Putra

Juara I Ahbabul Mustofa dari Kecamatan Liang Anggang

Juara II Al Munsighar dari Kecamatan Liang Anggang

Juara III Fathul Mubarak dari Kecamatan Banjarbaru Utara

Juara Harapan I Al Mubarokah dari Kecamatan Liang Anggang

Kategori Putri

Juara I Al Quzman dari Kecamatan Cempaka

Juara III, Zamratulmina dari Kecamatan Banjarbaru Selatan

Juara Harapan I Nurul Iman dari Kecamatan Banjarbaru Utara

Madihin Cilik

Madihin Cilik

 

ananda_penampilan dari beberapa orang penontonananda_penampilan salah satu grup2ananda_penampilan salah satu grup3ananda_pernampilan salah satu grup ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ananda_penampilan salah satu grup9 ananda_penampilan salah satu grup8 ananda_penampilan salah satu grup7 ananda_penampilan salah satu grup4

Banjarbaru Pasok Hewan Kurban

Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perikanan Kota Banjarbaru Rosita menuturkan, menjelang hari raya Idul Adha, Kota Banjarbaru saat ini telah menerima distribusi hewan kurban jenis sapi. “Memang sebagian dikumpulkan di Banjarbaru untuk memenuhi kebutuhan daerah sini. Tetapi juga memasok keluar daerah,” ujarnya, Senin, (22/10) kemarin.

Dikatakannya, pasokan hewan kurban seputar Kalsel adalah daerah-daerah di Kabupaten Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan. “Untuk wilayah luar Kalsel yang mendatangkan hewan kurban dari Banjarbaru sebagian di Kabupaten Kapuas dan Kota Palangkaraya dan sekitarnya,” katanya.

Menurutnya, banyaknya pesanan hewan tersebut juga didukung kemudahan arus transportasi darat dari kalsel menuju Banua Anam atau ke wilayah Kalteng. “Hewan kurban terutama sapi didatangkan dari luar pulau seperti Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur dari beberapa jenis seperti sapi Brahman Crossing, Sapi Bali, Limousin, Peranakan Ongole, dan Brahman hingga,” katanya.

Sedangkan dilihat dari sisi harga jual, tergantung dengan permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha yang semakin meningkat. “Harga jual sapi kurban memang bervariasi tergantung jenis dan beratnya. Terlebih lagi menjelang hari raya kurban jadi sangat mempengaruhi pangsa pasar. Semisal Sapi Bali dengan harga terendah Rp7,5 juta sampai sapi jenis Limousin dan Brahman yang mana harganya bisa sampai Rp15 juta per ekor,” paparnya.

Sedangkan untuk jenis kambing, katanya, banyakl didatangkan dari Jawa Timur dengan harga yang juga bervariasi tergantung besar kecilnya dan fluktuasi harga pasaran menjelang idul kurban. “Sebelum sapi atau kambing kurban disebar untuk disembelih, pihak dinas terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan kurban oleh dokter hewan dibantu petugas medis. Kit menginginkan agar hewan kurban dimaksud bebas dari penyakit sebelum dikurbankan,” pungkasnya.