Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Materi Caving

Tentang Caving

Disusun Oleh: Ananda Perdana Anwar

 

Susur gua atau jelajah gua (Inggris caving) adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat.

Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua.

Gua telah dijelajahi karena kebutuhan manusia untuk beberapa ribu tahun, namun hanya dalam beberapa abad terakhir aktivitas ini menjadi sebuah olah raga. Dalam dekade terakhir caving telah berubah karena adanya peralatan dan baju perlindungan modern.

Banyak keahlian dalam caving dapat digunakan di olahraga lain seperti penjelajahan tambang dan penjelajah perkotaan. Yakni SRT: single rope tachnic.

  1. 1 Gaya-gaya yang dipakai dalam SRT meliputi:
  2. Froglit Style: Style yang biasa dipakai oleh caver unakan satu tali. dengan satu kaki sebagai tumpuhannya serta satu kaki satunnya lagi menginjak footloop.
  3. Texas Style: Style yang dipakai dengan dua buah tali dengan bantuan alat pulley.
  4. Bisel : tehnik ini jarang dipakai oleh caver.

 

Satu set srt terdiri dari :

-2 Buah langkahbiner snap.

-3 Buah langkahbiner scru.

-1buah mr (million rapid).

-1buah autostop atau descender.

-2 Buah autostop simple.

-1buah jumar.

-1buah croll.

-2 Buah cowstell (terdiri dari cowstell pendek serta cowstell panjang).

 

  1. 2 Langkah-cara menempatkan alat-alat SRT:
  2. pakai harness terlebih dulu, upayakan catatan danger tertuput.
  3. masukan mr ( million rappid ).
  4. masukan croll upayakan croll dibagian yang sangat kanan.
  5. masukan costill serta upayakan cowstel terdapat dibagian yang sangat kiri.
  6. masukan 2 buah langkahbiner snap serta lagi scru.
  7. masukan otostop di langkahbiner scru serta upayakan letak otostop di dalam.
  8. pasang chess harness pada croll.
  9. pasang jumar pada cowstell yang panjang.
  10. pasang karabiner scru pada jumar yang dipakai untuk footlup.

 

Untuk jadi seorang caver mesti menguasai tekhnik-teckhik basic serta pengetahuan perihal caving itu sendiri, salah satunya yaitu :

Rigging: rigging yaitu langkah pemasangan dalam gua bergantung dengan ornamen serta type gua yang dapat di masuki.

SRT: srt yaitu langkah atau tehknik yang dipakai untuk menaiki statu gua dengan langkah spesifik di dalam srt itu sendiri juga ada beberaa langkah agar orang yang dapat menaiki senantiasa aman perumpamaan inter mediet, debíais, serta halangan.

Mapping: mapping yaitu pemetaan, di mana pemetaan ini yaitu statu langkah untuk tahu apa saja yang ada pada gua serta berapakah kedalaman gua dan tahu vegetasi apa saja yang ada pad agua tersebut.

Holling : holing yaitu statu langkah etahui type lubang yang ada pada ornamen gua tersebut dengan mengaplikasikan langkah apakah yang dapat digunakan.

  1. 3 Cara-Cara Pembuatan Angcor

Di dalam caving ada langkah atau cara-cara pembuatan angcor, angkor itu sendiri ada 3 angchor emas, perunggu, perak. ( standar angkor yang biasa dipakai 3 buah angckor ).

Langkah pemasangan angckor:

  1. menggunakan simpul playboy
  2. kemiringan verikal diusahakan 90-1300, namun standarnya 1100.
  3. back up belakang minimal ½ mtr..

Di dalam intermediat umumnya menggunakan simpul ½ delapan. di dalam srt pengaman minimal mesti ii buah pengaman. perumpamaan pengaman.

  1. cowstell pendek diletakan pada hanger.
  2. jumar mesti senantiasa menenpel jika croll dapat dilepaskan.
  3. autostop mesti terkunci jika jumar dapat dilepaskan.

 

Langkah mengunci autostop :

  1. jempol memegang tali karamentel statis dengan bentuk huruf c.
  2. lantas masukan tali karmentel sesuai dengan panduan yang ada pada autostop tersebut.
  3. masukan karamentel ke karabinel snap.
  4. lantas lingkarkan karamentel hingga terkunci tuasnya,
  5. masukan karamentel ke dua buah karabiner serta lantas lingkarakan kembali sehinga mengunci pada tuas kunciannya.

 

 

  1. 1 Deviasi

Didalam caving ada juga sebutan yang diberi nama dengan deviasi, deviasi itu sendiri yaitu satu langkah untuk meringankan caver agar tidak berlangsung benturan segera dengan tebing pada gua. langkah lakukan deviasi:

  1. pasang cowstil pendek pada ronga tali pada deviasi.
  2. copot langkahbiner debíais serta lantas pindahkan langkahbiner debíais pada tali karmentel di bawah croll.
  3. pasang jumar di bagian atas croll.
  4. lantas terlepas cowsil.

Yang menjadi tidak kalah penting dalam hal ini:

“janganlah dulu senang jadi orang yang terlatih, jadilah orang yang senantiasa berlatih”.

 

  1. 2 Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’ yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua.

Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua “Caving’ menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni :

Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.

Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”

Adapun Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’, yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni :

Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.

Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.

Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.

Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

  1. 3 Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa

Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa tentunya hal yang sangt penting diketahui terlebihi dahulu oleh para Penelusur Goa. Mengapa hal tersebut dianjurkan dan sangat diutamakan, disebabkan banyaknya hal-hal yang belum diketahui dalam Kegiatan Caving ini. Apalagi bagi para penelusur Goa yang baru mengenal situasi saat Caving.

Ada beberpa hal yang perlu ditinjau dan diperhatikan dalam Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa sebelum melakukan Caving, Ddisetiapa kegiatan Penelusuran Goa, dimanapun, Kapanpun dan siapapun itu, Yakni :

Kode etik penelusur goa  dibuat karena goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Kode etik ini antara lain :

TAKE NOTHING BUT PICTURE (Jangan Mengambil Apapun Kecuali Gambar)

LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT (Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak)

KILL NOTHING BUT TIME (Jangan Membunuh/Memotong Sesuatu Kecuali Waktu)

CAVE SOFTLY

Setiap penelusur gua sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.

Setiap menelusuri gua dan menelitinya dilakukan oleh penelusur gua dengan penuh respek tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota di dalam gua.

Setiap penelusur menyadari bahwa kegiatan speleologi dari segi olah raga maupun ilmiah bukan merupakan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton.

Para penelusur tidak memandang rendah diantara sesama penelusur, begitu juga sebaliknya penelusur akan dianggap melanggar etika apabila memaksakan kehendaknya padahal persiapan kurang.

Respek terhadap sesama penelusur gua ditunjukkan dengan cara

Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain, tanpa izin mereka.

Tidak membahayakan lainnya, seperti melempar suatu benda ke dalam goa bila ada orang di dalam gua.

Tidak menghasut penduduk untuk menghalangi rombongan penelusur

Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila diketahui ada rombongan lain melakukan penelitian yang sama tapi belum dipublikasikan.

Jangan menganggap anda penemu sesuatu apabila anda belum melakukan mencari informasi.

Setiap usaha penelusuran merupakan usaha bersama. (jangan menonjolkan kemampuan pribadi dan ingat bahwa penelusur adalah tim)

Jangan menjelekkan nama sesama penelusur.

  1. 1 Kewajiban penelusur goa

Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya menjadi hal wajib. Termasuk konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa. Maka dari itu wajib bagi para penelusur memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Yang terutama menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar.

3.2 Izin Resmi

Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa.

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surge bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera, dan Canon Ixus 105.

ini taman yang saya maksudkan

ini taman yang saya maksudkan

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempata untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Bale Petirtan Taman Narmada

Bale Petirtan Taman Narmada

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Follow me, oke!

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Cie Amang Befoto Banar

Cie Amang Befoto Banar

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

para penjual aksesori

para penjual aksesori

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_jualan mutiaraTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

ananda_Distro“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Suasana Dalam Bus

Suasana Dalam Bus

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr...

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr…

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampongnya mereka gitu. Kita yang singgah memang benar-benar kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya... eeeaaa!!!

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya… eeeaaa!!!

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…

 

Launching dan Diskusi Kamus Bahasa Gaul Mingguraya

Rico HasyimDi era digital dan serba cepat seperti saat ini, masa lalu begitu cepat terjadi. Sejarah tak lagi terjadi dalam hitungan abad tetapi mungkin dalam hitungan menit atau barangkali lebih cepat lagi. Maka tak banyak yang menyadari betapa pentingnya arti menulis apa yang pernah terjadi di sekitar yang menjadi cepat usang. Rico Hasyim memiliki kesadaran tentang betapa pentingnya mencatat bahasa pergaulan sebuah komunitas yang sifatnya memang temporer.

Rico Hasyim kembali menelurkan sebuah buku dengan judul “Kamus Bahasa Gaul Mingguraya”. Yang mana sebagian besar isi tersebut berupa kumpulan kosakata gaul ala anak muda di Banjarbaru yang sempat booming sekitar tahun 80-90 an.

Onoff Solutindo selaku penyelenggara dan Rico Hasyim sebagai penulis buku “Kamus Bahasa Gaul Mingguraya” mengundang rekan-rekan di Kalimantan Selatan baik itu yang berprofesi sebagai mahasiswa, guru, pejabat, seniman, politisi, dan terlebih masyarakat pada umumnya untuk dapat berhadir dan menyaksikan launching buku karya Rico Hasyim yang bertajuk Kamus Bahasa Gaul Mingguraya pada:

Hari dan tanggal: Selasa, 25 Juni 2013 (malam)
Waktu: Pukul 20.00 Wita sampai selesai
Tempat: Pujasera Mingguraya Banjarbaru
Don’t Miss It!

SeleRico Hasyimngkapnya klik http://www.facebook.com/events/512148855501447/

 

Peluncuran dan Diskusi Novel

lampauNovel Lampau bercerita tentang seorang anak Dayak di Pegunungan Meratus bernama Sandayuhan atau Ayuh yang ingin melanjutkan pendidikan, namun menghadapi banyak kendala. Antara lain faktor ekonomi, akses yang sulit dan kultur masyarakat. Namun yang paling berat tuntutan dari ibunya sendiri, Uli Idang, seorang balian (dukun). Sang ibu menginginkan Ayuh mengikuti jejaknya sebagai balian yang sangat dibutuhkan masyarakat, bukan sebatas pengobatan juga untuk memimpin ritual keagamaan.

Posisi Uli Idang sebenarnya unik, karena dialah satu-satunya balian perempuan, sesuatu yang tidak lazim di kampung itu. Pada awalnya ia ditantang bahkan dianggap menyalahi aturan. Apalagi ia jadi balian setelah dua perkawinannya kandas. Perkawinan pertama dengan Katuy, anak pengusaha setempat, atas nama utang-piutang. Perkawinan kedua dengan seorang laki-laki dari kota, Genta, atas nama cinta. Di samping tak lazim, pilihan Uli Idang menjadi balian dianggap sebagai pelarian. Tapi karena keteguhannya, Uli Idang akhirnya sangat dibutuhkan masyarakat Loksado, sebuah kampung di Pegunungan Meratus yang terkenal dengan tradisi balanting paring (arung jeram dengan rakit bambu) di Sungai Amandit.

Uli Idang menginginkan putra satu-satunya menggantikan dirinya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Akan tetapi takdir berkata lain. Diberi semangat dan diantar oleh pamannya, Amang Dulalin, Ayuh nekad masuk ke pesantren di Banjarbaru. Amang Dulalin adalah sosok unik lainnya di Loksado; hidup semaunya tapi punya wawasan luas berkat kegemarannya membaca. Sang pamanlah yang berhasil meyakinkan Ayuh untuk melanjutkan pendidikan meskipun di pesantren ia harus bekerja lebih keras karena masuk melalui jalur “gratis”.

Namun, tidak seperti novel-novel “motivasi” atau edukasi lainnya, Lampau tidak memperlihatkan keberhasilan pendidikan dari satu sisi; tamat kuliah dan bekerja. Ayuh ternyata tidak berhasil menamatkan bangku pesantren, malah memutuskan keluar setelah difitnah oleh anak pendonor pondok. Ia menjalani pendidikan sendiri secara langsung dalam kehidupan yang lebih luas. Menjadi buruh angkut di Pelabuhan Laut Bandarmasih, naik kapal ke Surabaya, lalu naik kereta api ke Jakarta. Terdampar di Jakarta menjadi pekerja kasar di sebuah pasar, Ayuh tetap menghikmati suka-duka hidupnya. Ia berhasil di satu titik mengangkat taraf hidupnya lebih baik, namun ia akhirnya memutuskan pulang menemui ibu dan kampung halamannya. **

Oleh: Reng Paseser

Lampau, Menjelma Kini Mewujud Lalu

17732143

Judul Buku ; Lampau
Penulis : Sandi Firly
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal : x + 346 hlm; 13 x 19 cm
Rate : 3 of 5

Karena bagaimanapun, masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar – Khaled Hosseini, The Kite Runner

 

Keinginan dan keutamaan dalam menuntut ilmu lah menurut saya mendasari tokoh utama dalam buku ini. Sandayuhan atau Ayuh merupakan seorang anak laki-laki yang lahir dari seorang Balian di sebuah pedalaman Loksado, Kandangan, Kalimantan Selatan. Uli Idang -Ibu Ayuh- terpaksan membersarkannya Ayuh seorang diri hanya karena alasan yang tidak saya terima, sebagai pembaca.

Hingga pada suatu jalan, Ayuh harus memilih untuk keluar dari tanah kelahirannya demi sebuah keinginan, yakni menuntut ilmnu. Sebagaimana yang disebutkan Sandi Firly dalam novelnya yang kedua ini, Ayuh –tokoh utama dalam novel tersebut- justru bingung, sama sekali tidak mempunyai cita-cita. Hidupnya mengikuti arus sungai menurut apa yang dilakukannya. Sampai dimana ia menentang suatu adat Dayak Meratus yang sakral.

Bicara dari segi penulisan, Sandi berhasil mebuka cerita dengan prolog yang memang di setting untuk membuat pembaca penasaran. Nilai tradisi dalam upacara adat yang disebut Aruh telah dipaparkan Sandi di Bab pertama. Cerita tentan kelahirannya yang tak lazim dengan unsure-unsur magis dan mistis (menurut saya) dipadu dalam rangkaian kata yang renyah dan menarik. Awalnya, saya berfikir Novel ini akan menceritakan super hero bekekuatan magis dari pedalaman Kalimantan, ternyata tidak, justru lebih dewasa dan sarat akan pelajaran kehidupan.

Masih dari segi penulisan, Sandi menulis dengan plot yang random namun terarah. Dalam kacamata pembaca yang belum membuahkan satu novel pun seperti saya, Sandi seoalaj-olah menceritakan lebih dulu keseluruhan novelnya yang dibagi menjadi layaknya cerpennya di tiap awal bab. Memasuki awal judul setelahnya, barulah Sandi menjabarkan satu persatu cerita yang sudah yang dirangkum di awal bab. Hingga pada ending novel, Sandi kembali membukanya dengan cerpen pembuka seperti awal bab, namun tak menjabarkan seperti halaman sebelumnya. Begitulah, akhir cerita yang membuat pembaca bertanya-tanya. Siapa pilihan Ayuh sebenarnya, Alia? Atau Ranti! Ini merupakan bumbu drama cerita percintaan remaja yang beranjak dewasa dalam Novel Lampau yang sarat akan kearifan lokal Dayak Kalimantan.

Faktor Proximtiy. Kedekatan pembaca dengan cerita yang dituliskan Sandi Firly dalam Novel Lampau membuat saya mudah membayangkan. Ini yang menjadi poin utama saya dalam menilai. Di mana di upacara Aruh Adat Dayak di awal masa panen yang pernah saya saksikan, seperti itu pula yang Sandi ceritakan. Dari keindahan Sungai Amandit dan sejumlah Air Terjun yang membuat Loksado sejuk dan memesona.

Kemudian dilanjutkan dengan perjalanannya dengan taxi menuju Kota Banjarbaru. Melewati Martapura yang kuat akan gelar Serambi Mekkah dan Kota Santri yang mana ketika kita lewat di jembatan Antasan Senor Martapura, Kabupaten Banjar, Kumpulan Santri Pondok Pesantren Darussalam Martapura berseliweran dengan sarung, kopiah, dan kitab-kitab besar yang dirangkulnya di dada.

Dilanjutkan dengan cerita kehidupan para Santri di Darul Ilmi yang sangat familiar bagi saya yang juga sempat merasakan kehidupan menjadi Pondokan –sebutan bagi santri pendatangan yang tinggal dan menuntut ilmu di Pesantren Martapura-. Sehingga sangat mudah bagi saya membayangkan setting cerita maupun karakter tokoh yang Sandi ceritakan ketika Ayuh berada di Pondok Pesantren. Nah, bagaimana ceritanya seorang Balian yang tidak memeluk agama Islam justru bersekolah di sekolah Pendidikan Agama Islam. Ini poin besar bagi pembaca fanatik akan agama, atau yang suka dengan perdebatan persoalan agama. Ini menjadi senjata Sandi untuk kembali membuat pembaca penasaran.

Selanjutnya, saya yang juga pernah merasakan berlayar dengan kapal besar menuju Surabaya sangat mudah membayangkan ketika Ayuh seakan mabuk laut. Dan memaksanya harus tinggal di kehidupan keras di Jakarta. Selanjutnya, saya bisa membayangkan alur cerita kehidupan Ayuh seperti cerita FTV yang ditayangkan SCTV. Itu menurut saya.

Pada akhirnya, sebagai Orang Banjar saya bangga dengan Novel Lampau karya Sandi Firly. Pembaca lokal Kalimantan saya jamin pasti menemui kemudahan dalam membayangkan setting cerita di Novel ini. Dengan cerita lokalitas kental yang berimbang dengan cerita drama percintaan sebagai bumbunya. Gagas Media selaku penerbit berhasil lagi menyajikan buku bagus yang juga menginspirasi para pembaca.

Sebenarnya banyak masih ungkapan pada Novel Lampau yang tak sempat tertuliskan. Pada akhirnya, saya terkesima dengan alur dan plot Novel Lampau yang sangat filmis. Bahkan saya pun sudah bercanda dengan imajinasi saya sendiri memilih para aktor dan artis dan menciptakan frame-frame sendiri saat melumatnya dalam satu malam. Membeli siang harinya, dan menamatkan di malamnya, dini hari tepatnya. Secara, setiap halamannya selalu berhasil memberi rasa penasaran. Karena factor proximity itu tadi, tak berlebihan rasanya jika saya memberikan bintang lima. Dan menungu Karya Sandi Firly selanjutnya. Sembari menulis mengharapkan melampaui “Lampau” ini nantinya. []

 

,