Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

AURI Syamsudin Noor Renungan SUCI di Bumi Kencana

AKRS Ok Dalam kegelapan malam dengan diterangi dua buah obor Inspektur Upacara membacakan naskah AKRS dengan penuh khidmat. Suasana bertambah sunyi ketika irup memimpin mengheningkan cipta. Seluruh peserta menundukkan kepala seraya mendoakan arwah para pahlawan yang telah rela berkorban dengan tulus iklhas merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

Personil Lanud Sjamsudin Noor Ikuti Taptu dan AKRS Memperingati HUT RI ke- 68 di Banjarmasin. Sejumlah personel Lanud Sjamsudin Noor baik Perwira, Bintara, dan Tamtama diikuti personel gabungan TNI-Polri dan Pelajar ikut dalam kegiatan Taptu yang digelar di depan Kediaman Kapolda Kalimantan Selatan dan dilanjutkan dengan Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) di TMP Bumi Kencana Landasan Ulin Banjarbaru, Jumat, tadi.

Hadir dalam acara tersebut yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Kapolda Kalsel, Komandan Lanud Sjamsudin Noor yang diwakili oleh Kadisops Lanud SAM, Danlanal BJM, Pejabat TNI dan Polri lainnya serta unsur muspida yang ada di provinsi Kalsel dan organisasi kepemudaan, guru, mahasiswa dan pelajar, serta segenap elemen masyarakat dan beberapa mantan pejuang yang tergabung dalam LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Komandan Korem 101/Ant Kolonel Inf Suharjono.

Taptu dan AKRS merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Taptu dan AKRS dilakukan untuk mengenang dan mendoakan jasa-jasa para pahlawan pejuang bangsa yang telah gugur  mendahului kita, tanpa mereka Indonesia tidak akan pernah merdeka.

Kegiatan tersebut merupakan aplikasi penghormatan dan mengenang jasa–jasa perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan dalam merebut kemerdekaan, yang tentunya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan memedomani semangat kebangsaan yang telah ditunjukkan oleh para pejuang dalam merebut kemerdekaan RI.

 

Pembebasan Lahan Capai 75%, Panitia Tunggu Keputusan BPN

Sebagai seorang ketua Panitia Pembebasan Lahan Bandara, Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran tampaknya tak mau muluk-muluk memastikan kapan dilaksanakan konsinyasi yang telah nyata memenuhi syarat. Dikatakannya, sebagai panitia pembebasan lahan perluasan Bandara Syamsudin Noor pihaknya telah selesai. Namun untuk pelaksanaan konsinyasi pihaknya masih menunggu keputusan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banjarabru.

“Meski sudah mencukup yakni lebih dari 75 persen namun tak bisa dipungkiri kubu yang setuju dan belum setuju itu mash ada. Padahal persoalan harga sudah dipastikan tidak bisa diganggugugat dan tidak ada perubahan sama sekali. Nah saat ini kita masih menunggu keputusan dari BPN sebagai Sekretaris pantia pembebasan lahan bandara kapan waktu konsinyasi tersebut dilaksanakan,” tegasnya.

Terkait masih adanya warga yang masih belum setuju tersebut ia mewakili panitia masih terus melakukan sosialisasi sebelum dilaksanakan konsinyasi. “Sebelum nantinya konsinyasi dilaksanakan maka kita pihak panitia sepenuhnya akan mengumumkan. Jadi tidak dadaka, diawali juga dengan sosialisasi di kelurahan-kelurahan. Boleh dikatakan aksi ini sebagai pengumuman agar warga bisa mengetahui dengan jelas,” pungkasnya.

Peluncuran dan Diskusi Novel

lampauNovel Lampau bercerita tentang seorang anak Dayak di Pegunungan Meratus bernama Sandayuhan atau Ayuh yang ingin melanjutkan pendidikan, namun menghadapi banyak kendala. Antara lain faktor ekonomi, akses yang sulit dan kultur masyarakat. Namun yang paling berat tuntutan dari ibunya sendiri, Uli Idang, seorang balian (dukun). Sang ibu menginginkan Ayuh mengikuti jejaknya sebagai balian yang sangat dibutuhkan masyarakat, bukan sebatas pengobatan juga untuk memimpin ritual keagamaan.

Posisi Uli Idang sebenarnya unik, karena dialah satu-satunya balian perempuan, sesuatu yang tidak lazim di kampung itu. Pada awalnya ia ditantang bahkan dianggap menyalahi aturan. Apalagi ia jadi balian setelah dua perkawinannya kandas. Perkawinan pertama dengan Katuy, anak pengusaha setempat, atas nama utang-piutang. Perkawinan kedua dengan seorang laki-laki dari kota, Genta, atas nama cinta. Di samping tak lazim, pilihan Uli Idang menjadi balian dianggap sebagai pelarian. Tapi karena keteguhannya, Uli Idang akhirnya sangat dibutuhkan masyarakat Loksado, sebuah kampung di Pegunungan Meratus yang terkenal dengan tradisi balanting paring (arung jeram dengan rakit bambu) di Sungai Amandit.

Uli Idang menginginkan putra satu-satunya menggantikan dirinya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Akan tetapi takdir berkata lain. Diberi semangat dan diantar oleh pamannya, Amang Dulalin, Ayuh nekad masuk ke pesantren di Banjarbaru. Amang Dulalin adalah sosok unik lainnya di Loksado; hidup semaunya tapi punya wawasan luas berkat kegemarannya membaca. Sang pamanlah yang berhasil meyakinkan Ayuh untuk melanjutkan pendidikan meskipun di pesantren ia harus bekerja lebih keras karena masuk melalui jalur “gratis”.

Namun, tidak seperti novel-novel “motivasi” atau edukasi lainnya, Lampau tidak memperlihatkan keberhasilan pendidikan dari satu sisi; tamat kuliah dan bekerja. Ayuh ternyata tidak berhasil menamatkan bangku pesantren, malah memutuskan keluar setelah difitnah oleh anak pendonor pondok. Ia menjalani pendidikan sendiri secara langsung dalam kehidupan yang lebih luas. Menjadi buruh angkut di Pelabuhan Laut Bandarmasih, naik kapal ke Surabaya, lalu naik kereta api ke Jakarta. Terdampar di Jakarta menjadi pekerja kasar di sebuah pasar, Ayuh tetap menghikmati suka-duka hidupnya. Ia berhasil di satu titik mengangkat taraf hidupnya lebih baik, namun ia akhirnya memutuskan pulang menemui ibu dan kampung halamannya. **

Oleh: Reng Paseser

Perjuangan Di Haul ke-8 Guru Sekumpul

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Penuh perjuangan. Itulah yang tersirat dalam pikiran saat aku menghadiri Haul ke-8 Al Alimul Alamah Asyekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa dengan Guru Sekumpul.

Pukul 17.30. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tulisan untuk mengisi salah satu halaman koran. Setelah sebelumnya mengikuti kelas penulisan Novel bersama dua orang penulis Kalsel favoritku. Bagiku, menjelang petang merupakan waktu yang sudah terlalu terlambat untuk menghadiri haulan Guru Sekumpul. Karena seperti yang kalian ketahui, Pengajian beliau saja sudah beribu-ribu umat manusia yang menghadiri. Apalagi ketika beliau wafat, dan haulan-haulan dari 1 sampai ke 7 kalinya diadakan. Setiap tahun, jamaah yang berhadir selalu bertambah dan melebihi hitungan angka manusia.

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Memakai kopiah haji, berbaju Taqwa berwarna hitam dan celana panjang yang juga warna hitam. Tas kamera berwarna hitam diselempangkan di pinggang. Bayangkan, seperti apa saya kelihatannya, seperti kotoran berkaki empat kah? Ya, mungkin saja. Tapi warnanya hanyar terbalik.

Lalu lintas memang sudah padat merayap. Panitia dan tim keamanan haul pun sudah berjaga-jaga di tiap persimpangan. Aku berangkat dari Banjarbaru Kota melewati jalan Sei Pering dan tembus ke Guntung Alaban Komplek Sekumpul Martapura. Sayangnya semua kendaraan bermotor harus berhenti di sini. Semua jamaah diharuskan berjalan kaki untuk menuju Musholla Ar-Raudhah. Aku memutuskan untuk memarkirkan kuda besi butut yang tak punya mata -karena lampu depannya rusak dan tidak menyala- ini parkir di halaman rumah orang. Rumah bedakan, yang diseberangnya rental penyewaaan mobil. Jarakanya masih cukup jauh untuk pejalan kaki memasuki sekumpul. Sekitar 1 Km.

???????????????????????????????Di persimpangan Jl Pendidikan sudah terlihat shaf-shaf rapi para jamaah yang sudah membaca shalawat sebelum adzan magrib berkumandang. Tidak menyangka, kukira seperti tahun sebelumnya, jam segini jalan Guntung Alaban setahuku belum dijadikan shaf-shaf tempat jamaah yang sholat. Karena tahun sebelumnya jamaah lebih banyak di belakang untuk mengikuti imam di Mushola Ar-Raudhah. Kalau di depan tentu tak bisa. Maka dari itulah sebagian jamaah memilih imam sendiri untuk sholat berjamaah di beberapa titik di depan Musholla.

Selanjutnya, aku bertemu dengan seorang yang sudah akrab denganku. Seorang politis yang juga tak jarang menjadi narasumber.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

“Eh, kemana hibak sudah urangnya?” Ujarnya dengan maksud menyapa dan langsungg menarik lengan kananku. Namanya H Jumli, anggota DPRD Kota Banjarbaru yang tinggal di Kecamatan Cempaka. Saat itu, entah dengan anak atau keponakan, ia duduk di warung gorengan untuk sekadar menunggu adzan magrib berkumandang.

Eh, Om. Lawan siapa pian? Kada handak ke dalam, kah?”

“Mana lagi kawa ke dalam jam seini.”

“He en lah. Aja beduduk ai dulu setumat nah. Bekajal banar jua sudah tadi ulun.”

“Minumkah dulu? Pesan gin?”

“Kada, ulun beduduk setumat aja habis tu bekeraut pulang begamatan ka tangah situ,” kataku mengakhiri percakapan.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Aku duduk sejenak. Menarik nafas. Dan mengeluarkan kamera dalam tas yang berselempang. Aku memotret beberapa suasan jamaah yang duduk dengan zikir dan shalawat. Ada juga yang membaca Al-Quran atau melihat-lihat jamaah lain yang berlalu lalang. Frame demi frame telah kuambil. Setelah dirasa cukup, aku beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan yang berat. Jarak yang cukup dekat, namun harus ditempuh dengan hati-hati dan akurat. Karena kuyakin, akan banyak jamaah yang membenci orang sepertiku. Salah langkah, bisa saja kakiku menimpa kepala-kepala mereka.

“Permisi Om lah. Ulun harus bejalan ke tengah!”

“Oh, Silahkan! Kalau untuk liputan spot disini memang kurang cocok,” sahutnya sembari aku melanjutkan langkah perlahan.

Suasana di Dalam Musholla

Suasana di Dalam Musholla

Nah, aku akan berbagi tips untuk berjalan di sekumpulan orang-orang yang siap akan sholat. Sebenarnya ini tidak akan kulakukan kalau aku sekadar ingin hadir mengikuti semua amalan secara runtun, berdzikir, bershalawat, sholat berjamaah, dan membaca puji-pujian kepada Rasulullah. Tapi kali ini bukan tempo sewaktu aku masih Santri Pondok Pesanten Darussalam. Kali ini aku membawa tanggungjawab sebagai seorang bujangan yang berprofesi menjadi wartawan. Atau lebih tepatnya sebagai seorang Jurnalis, karena aku tak hanya diwajibkan menulis, tetapi juga memotret peristiwa, kejadian, atau apa saja yang berhubungan dengan ranah Jurnalistik lainnya. Tugas adalah tugas. Ibadah, tetap diniatkan.

Dengan kamera yang menggantung di antara ketiak sebelah kiri, aku perlahan melangkah kaki ke sajadah-sajadah para jamaah. Karena memang hamparan sajadah itulah satu-satu pijakan bagi kalian yang ingin berlalu lalang. Mungkin perjalananku baru sampai 100 meter namun sudah memakan waktu kurang lebih 15 menit. Bajuku basah karena keringat. Rasa lelah dan dahaga juga menghampiriku. Adzan magrib dari Mushollla Ar-Raudhah Sekumpul mulai menggetarkan setiap anggota badan. Beberapa jamah terlihat berdiri karena terlihat salah satu ulama, -entah siapa aku tidak melihat terlalu jelas- baru memasuki shaf dengan para protokoler panitia haul menuju mushala Ar-Raudhah. Setelah semua kembali duduk karena diperintah petugas, aku berhenti di salah satu kios portable atau lebih tepatnya gerobak dorong.

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Hari menejelang gelap dan adzan sudah usai berkumandang. Kemudian para jamaah berdiri bersiap melaksanakan kewajiban. Sedangkan aku, terperangkap di antara mereka. Aku memang tak membawa sajadah. Karena tidak berniat untuk singgah atau konsisten di satu titik saja. Melainkan harus berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk menjadi berita. Pada akhirnya aku duduk di kios tadi dan menunggu sholat berjamaah usai. Sembari memotret mereka yang sedang khusyuk menghadap Tuhan dari berbagai sudut pandang.

Perjuangan tahap kedua dimulai. Setelah melepaskan kedua sandal, aku memasang tekad untuk bermuka tebal dan rasa permisi yang kuat. Sembari mengayunkan tangan di antara pundak-pundak mereka yang beramalan wiridan selepas Sholat Magrib. Mau bagaimana lagi, tak mungkin menunggu mereka semua berdiri. Tugas adalah tugas. Bagaimanapun caranya harus aku jalankan. Tetap dengan aksi penuh kehati-hatian. Melewati putih-putih umat Rasulullah dengan segala kelas umur. Tak peduli muda ataupun tua. Semua dilewati dengan rasa sedikit bersalah. Karena tidak datang lebih awal.

???????????????????????????????Akhirnya perjalanan lama itu ditunda sementara. Aku singgah di rumah Kak Abdil yang masih berkaitan keluarga. Bapak Zani kakak dari ayahku bersama Ibu Fifah sudah ada di dalam rumah. Tapi tak semudah itu. Pagar rumah memang telah dikunci karena halaman rumah juga sudah penuh dengan jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada pilihan dan memanggil orang di dalam untuk membukakan pagar pun tidak mungkin. Singkatnya, aku masuk dengan meloncat pagar. Bayangkan berapa pasang mata yang focus melihat aksiku meloncat pagar. Ini bukan momentum konser music live lho, tapi acara keagamaan, haul Guru Sekumpul.

Dengan penuh perhitungan, tas pinggang dieratkan serta kedua sandal yang telah kulempar ke balik pagar. Aku meloncat. “Hap”, tak ada yang menangkap. Aku berhasil mendarat dan memasang kedua sandal. Dan perlahan, lagi-lagi, melewati jamaah yang masih wiridan hingga ke dalam rumah.

Hanyar ja kah? Jam berapa tadi tulak?” kata Kak Abidl menyapa.

Jam setengah enam Ka. Menuntungakan gawian dulu tadi sedikit,” jawabku.

“Beeeeeiiih… payahnya. Urang mun tulak haulan handak ke dalam tu sungsungi, jadi kada manggangu urang,” tutupnya kemudian menuju tempat beruwudhu. Dan segera aku juga menunuaikan sholat Magrib yang tertinggal dari jamaah lain.

**

???????????????????????????????“Bu, ulun langsung kaluar, amun bakaina sawat asrakal kada sampat mamutu!” itu kuucapkan setelah sebelumnya duduk di depan tv melihat tayangan langsung pembacaan Maulid Habsyi dari dalam Musholla Ar-Raudhah sekumpul.

Tampaknya tak perlu kuulang. Tapi tak apalah, tak ada melarang jika aku mendeskripsikan kembali. Karena inilah yang namanya perjuangan. Sampai di depan pagar, aku kembali melakukan perhitungan. Menghitung berapa langkah lagi aku melewati kepala-kepala dan membokongi para jamaah yang sedang khusyuk. Memang, perasaan bersalah itu singgah di dalam pikiran ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kuletakan kedua sandal di balik pagar untuk menuju keluar. Aku melakukan aksi lompat pagar untuk kedua kalinya. Di antara layar tancap itu aku melangkah, meniti jemari di antara pundak jamaah. Sampai akhirya para penjaga menghadangku di depan pintu gerbang musholla Ar-Rhaudah.

“Kada boleh masuk Ding, sudah hibak!” ujarnya.

“Setumat aja ulun Bang, handak memotret di atas aja. Boleh ai kalu lah? Ulun wartawan.”

“Darimana?”

“Wartawan di Media, bang!”

“Mana ID Cardnya?”

Penjaga itu melirik ID Card pers di dada yang sedari awal masuk telah kukalungkan. Hanya agak tertutup tali atas sehingga harus kugeserkan agar tampak.

“Ya sudah. Masuk ja”

“Arah kemana menuju tangga naik ke atas tuh?”

“Terus aja arah ke pewudhuan. Habis tu kam belok kiri masuk ke ruangan. Disitu kam sudah behadapan tangga naik ke atas.”

???????????????????????????????Dengan memegang kedua sandal di dada, aku perlahan melangkah kembali melewati titik-titik kecil hamparan sajadah jamaah. Hingga memasuki ruangan yang dimaksudkan penjaga. Kedua sandal kuletakkan di bawah anak tangga pertama. Dan perlahan menaikinya. Sampai di lantai dua aku kembali melewati cara yang sama. Hanya saja karena lantainya sudah berkeramik jadi hanya sediki sajadah yang dihampar disana. Dan sampai lah aku ke pintu keluar lantai dua. Yang tak lain adalah atap Mushola Ar-Rhaudah Sekumpul Martapura.

**

“Eh, pian ni melelain pada nang lain. Urang baju putih-putih semuanya. Pian kenapa memakai warna hirang!” ujarku menyapa bercanda Joe, salah seorang rekan fotografer yang kutepuk pundaknya di sisi jendela. Padahal ini bukan perlakuan yang baik sesame fotografer. Yakni menepuk pundak saat si fotofgrafer sedang membidik. Bisa kehilangan momentum dia.

???????????????????????????????“Ah, sama haja, situ saraba hirang jua. Sampai ka salawar lagi. Lamun aku baju aja. Salawarnya levisnya warna biru,” jawabnya sembari tawa kecil kawan-kawan di antara bacaaan rawi Maulid. Kurang beradab. Tapi yakin saja, suara kami tidak akan sampai ke dalam Musholla.

Aku mengeluarkan kamera, mengambil beberapa frame dan momentumnya. Sembari menyahut beberapa shalawat yang dilantunkan Ahmad Hafy Badali dan Muhaamad Amin Badali, keduanya adalah putra Guru Sekumpul.

Muhammad Amin yang berdagu seperti lebah bergantung, mewarisi perwajahan yang sangat mirip dengan ayahnya. Suara, gerakan bibirnya saat membaca huruf-huruf hijayah, tatapan mata, dan perawakannya yang kini telah beranjak dewasa. Mata yang penuh dengan tatapan kedalaman ilmu dan cahaya itu juga diwariskan kepada Ahmad Hafy, keterampilan, kehalusan kulit, dan gerak-gerik sang Guru hadir dalam diri keduanya. Keberadaan Amin dan Hafy seaolah-olah menjadi obat rindu para jamaah kepada Guru Sekumpul. Tak ada yang pernah bisa mendeskripsikan kebaikan rupa dan kemuliaan kedua putra Guru Sekumpul, karena nyatanya, melebihi apa-apa yang tersirat dan tersurat. Sang pewaris Quthbul Gauz.

???????????????????????????????Di atas sini kurang lebih ada 6 fotografer yang sebagian sudah saling mengenal. Dan di antara ada dua wartawan televisi lokal Kalsel yang meliput kegiatan sejak tadi sore. Mereka memang telah datang lebih awal.

Beberapa momentum pembacaan syair maulid, asrakal, sudah kita laksanakan. Beberapa frame foto juga sudah kami ambil dengan seksama dan cukup untuk pemberitaan masing-masing media cetak dan elektronik. Sejenak, kami kadang merasa beruntung karena sedikit lebih leluasa bergerak dan melihat-lihat langsung suasana di dalam Musholla. Namun bukan berarti karena telah difasilitasi oleh panitia kami rekan pers bisa semena-mena. Sesekali tetap larut dalam alunan dzikir dan shalawat yang dibaca ratusan ribu jamaah sana. Menurutku, haul kali ini lebih banyak jamaah yang datang serta lebih terkoodinir dengan solid oleh panitia. Kerja keras panitia pasti terbayarkan dengan barokah pahala yang tak pernah terhitung oleh manusia.

???????????????????????????????Setelah pembacaan Maulid Al Habsyi dilanjutkan dengan Dzikir Nasyid. Berbeda dengan tahlilan biasa. Ada dua regu yang berdzikir dengan kalimat berbeda, beberapa guru pesantren yang memang sudah dikenal dengan sebutan penyairan maulid melantunkan syair yang juga khusus untuk Dzikir Nasyid. Kemudian jamaah menyahut dengan Dzikir Tahlil. Kalimatnya berbeda beda, di Syair pertama jamaah menyahut dengan Lailahailallah. Sedangkan di dzikir kedua jamaah berucap A hu A hu Allah beberapa kali sesuai ketukan syair. Begitulah. Dan ratusan ribu jamaah itu juga harus bergerak senada dengan dzikir ke kiri dan kanan. Salah gerak sekali atau seorang saja, kepala bisa terantuk jamaah di sebelah. Apalagi jika salah satunya menggoyangkan kepala dengan kencang. Coba.

Aku melihat hamparan jamaah dalam shaf-shaf yang teratur di bawah. Seperti suasana Masjidil Haram. Yang pernah kulihat dalam televise-televisi Arab Saudi. -Karena memang aku belum berhaji. Tapi niat itu ada. Dan yakin sajalah, rejeki ke sana pasti ada. Hanya saja Allah mengatur waktu yang tepat). Dalam momentum ini, saya merinding. Memang pada momentum ini saya tidak ikut berdzikir berduduk bertelempoh seperti jamaah lainnya yang berada di bawah. Tetapi memotret dengan teknik slow shoot agar menghasilkan efek gerak pada bingkai kamera. Sesekali saya menikmati alunan tubuh yang berdzikir itu. Layaknya gelombang air laur yang berirama teratur dan perlahan. Meneduhi segala pikiran dan ingatan akan kegemerlapan dunia. Semua hilang, hilang dalam kefanaan. Melainkan hanya satu. Kepada Nya.

ananda_haul guru sekumpul ke-8 di Komplek Ar Raudah Sekumpul Martapura21Aku berdiri sembari menyandarkan kedua tangaku di pinggiran atap mushola yang bentuknya seperti plang nama nisan di kuburan muslimin. Di atas lampu neon hijau tulisan arab Mushola Ar-Raudhah. Melihat raut muka jamaah yang terpejam, terlarut, yang mabuk akan mengingat Tuhannya. Tiba-tiba getaran itu terasa dari dinding-dinding mushola. Suara “Hu” yang keluar dari ratusan ribu jamaah membuat atap-atap, dinding dan kaca mushola bergetar. Itu kurasakan setelah tanganku betul-betul memegangnya. Lalu aku bergumam, begini ternyata dahsyatnya dzikir yang dilakukan ratusan ribu kepala manusia. Bahkan aku yakin sekali, semua benda mati baik itu dinding rumah, pepohonan, tumbuhan, sampai segala pojok ruang yang ada di komplek sekumpul malam ini bergetar, turut berdizikir. Dan tentunya akibat gelombang suara “Hu” yang serempak. Itu semua terjadi. Betapa dahsyatnya gelombang suara manusia jika digabungkan. Sungguh sangat luar biasa. Ah, sungguh, aku terenyuh saat momentum ini. Sampai semua hilang tenang dan tentram saat dzikir terakhir diiringi shawalat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Rasululullah SAW.

Semua amalan telah dilaksanakan. Juga doa haul khususnya kepada Guru Sekumpul. Tinggal lagi Adzan untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Aku bersama Om Oneal, seorang fotografer ternama dari Banjarmasin berinisiatif untuk turun terlebih dahulu. Karena konsekuensinya, jika memang bertahan sampai akhir shalat Isya berjamaah, lebih baik sekaligus saja. Karena kurang nyaman jika kau memutuskan untuk berjejal-jejal. Tapi, proses itu memang harus dilalui. Seakan kita memang tak diberikan pilihan.

???????????????????????????????Keluar Musholla dengan cara yang sama. Aku berjalan di depan Om Oneal mencari-cari alur jalan yang sedikit terlihat tidak terlalu padat. Setidaknya menyisakan setapak ruang untuk jamaah yang memilih keluar. Syukurlah. Sampai kami berdua di Guntung Alaban, Iqamah usai berkumandang.

“Pian ni sengaja kada besandal kah tadi masuk ke dalam?” tanyaku kepada Om Oneal.
“Kadanya pang, sandalku di parak gerbang langgar. Tapi kada mungkin lagi jua aku maambil bacacarian, biar aja sudah barilaan,”
sahutnya.

Beberapa shaf di sebalah kanan kami sudah mengangkat takbir. Untungnya di alur sebelah kiri pinggir jalan tersedia untuk para jamaah yang keluar. Tapi tak boleh diserobot. Langkah para jamaah juga harus satu senti satu senti. Salah langkah bisa tercebur ke comberan selokan. Jadi harus antri, seperti membeli BBM di SPBU.

Akhirkanya aku terlepas dari sesak dan jejal berbagai macam aroma. Aku berjalan perlahan menuju kuda besi yang telah kuparkirkan di rumah penduduk yang jaraknya masih kurang lebih 1 Km. Jaraknya itu tak akan terasa jauh jika kalian menjalaninya bersama dengan banyak orang. Dan beramai-ramai seperti saat ini.

**

Malam semakin larut, semakin dingin, dan awan tampak lebih gelap dari sebelumnya. Beberpa “U Turn” Jalan Ahmad Yani ditutup demi kelancaran lalu lintas. Tak berlama-lama karena lalu lintas keluar juga belum terlalu padat, aku telah sampai di sekretariat kawan-kawan, Onoff Solutindo Project. Bergegas membuka komputer dan menyambungkannya ke internet. Karena kantor redaksi memang sudah menunggu hasil setoranku di malam ini. Malam perjuangan penuh berkah. Penuh keringat dan lelah. Di luar hujan turun deras sekali. Aku merebahkan diri sembari menarik nafas panjang relaksasi. Rasa syukur kuucapkan dan segera beristirahat usai melaksanakan kewajiban. Untuk kembali menemui hari yang sama dengan cerita berbeda. Dan menyaksikan hasil fotoku terbit besok di halaman depan koran. Barakallah, Allahuma Yarham, Al Alimul Alamah Syekh Zaini Abdul Ghani Sekumpul Martapura.[]

???????????????????????????????

Soal UN Yang Tiba Belum Lengkap

ananda_Soal UN Kalsel4Ketua Panitia Pelaksana UN Prov Kalsel yang juga sekretaris Dinas Pendidikan Prov Kalsel Dr Amka membenarkan, 19 koli soal yang tiba di Kantor Pos Regional IX belum sepenuhnya melainkan baru Kab Kota Baru saja. “Kepastian sampai sekitar pukul 14.00 Wita menggunakan pesawat Lion Air,” ujarnya yang ditemui wartawan MK di kantor Pos Indonesia Regional IX Kota Banjarbaru, Jumat, (12/4), kemarin petang.

Setelah melalui beberapa verivikasi dan pemeriksaan di bandara Syamsudin Noor soal dipastikan tiba kurang lebih pukul 16.00 Wita. Sayangya dari sejumlah soal yang tiba tersebut tidak disertakan 12 provinsi lainnya. Dalam paketan 19 Koli tersebut juga tersisipkan untuk SMKN 1 Banjarmasin 5 koli dan 14 koli lainnya khusus Kab Kota Baru.

ananda_Soal UN KalselDikatakan Amka, setelah dilakukan tanda terima dan berita acara dari pihak Kantor Pos disaskikan unsur Kepolisian, Perguruan Tinggi dan Dinas Pendidikan langsung didistribusikan ke Kota Baru khususnya di wilayah semisal Pulau Sembilan, Sungai Durian, Desa Pamukan, dan wilayah Pedalaman lainnya yang jarak tempuhnya labih jauh. “Sesampainya disana akan dicek kembali dan dipastikan semua lamat pengiriman sudah beres. Dari Polresta langsung ke Polsek-polsek di Kecamtan. Kemudian di Hari H nya baru pihak sekolahan yang mengambil di kepolisian setempat,” tambahnya.

Menurutnya, kedatangan itu pun telah molor dari kesepakatan yang seharusnya soal sudah tiba pada Rabu tanggal 10 April 2013 lalu dikirm dari Jakarta jadi tanggal 11 penngriman ke daerah-daerah sudah dilakukan. Ia juga tidak mengetahui dengan pasti keterlambatan tersebut karena dari percetakan sendiri sulit sekali untuk melakukan komunikasi palagi koordinasi.

ananda_Soal UN Kalsel8“Seharusnya H-5 sudah tiba. Dan pada tanggal 11 Ditribusi ke daerah-daerah sudah berlangsung. Namun ternyata 2 hari molornya. Kita terus mendesak agar dipercepat karena untuk 12 provinsi lain belum sepenuhnya datang. Menurut informasi dari percetakan malam ini, (tadi malam, red), dikirim dari Jakarta,” paparnya.

Sejumlah petugas dan panitia yang ada di lokasi juga sempat bingung karena ketika didata dilakukan verivikasi justru dari SMAN 1 Kotabaru tidak ada. Bahkan para petugas sempat gelagapan karena secara otomatis soal pihak yang mengawal harus kembali mengatrakan ke Kota Baru di waktu yang berbeda. “kenapa gak sekalian aja, kalau begini kan susah. Kita jadi dua kali ngantar,” cetus salah seorang petugas usai pendataan di Kantor Pos.

ananda_Soal UN Kalsel2Oleh karena sulitnya komunkasi dari Panitia ke percetakan, Kata Amka, pihaknya pun mengirimkan 6 orang yang ditugaskan untuk mengetahui kabar dari percetakan tersebut. “Padahal kita dari panitia sudah mengupayakan komunkasi. Tapi tidak tembus sampai ke dalam. Hanya sampai security saja dan disuruh titip pesan. Setelah kita 6 orang tenaga khsuusnya perwakilan Kalsel yakni 3 orang dari perguruan tinggi dan 3 orang dari Disdik provinsi. Jadi dari merekalah kita bisa tau informasi dimana kondisi barang sedang parking dimana, sudah sampai mana prosesnya, sudah dikirim atau belum. Jadi justru bukan dari jasa pengiriman apalagi percertakannya,” ungkapnya cemas.

Bahkan katanya, menurut kabar yang ia terima sempat ada pertemuan dari Wamendik Musdiar Kasim dan Dirjen Balitbang merpat ke percetakan Galia, di Jawi. “Ditongkrongin sama wamen,” cetusnya.

Menurutnya, keterlambatan tahun in lebih parah dari tahun sebelumnya. Sebab di tahun 2012 terlamabt satu hari yang saat ini 2 hari dan membuat panitia khususnya di daerah-daerah resah. “Sebab mereka panitia di daerah juga persiapan penyambutan distribusi, semakin pendek waktu semakin \susah mengatur jadwalnya. Kalau kita dari Prov ke 12 Kab/Kota. Kalau mereka ke setiap kecamatan, lebih banyak dan jadi lebih rumit lagi,” ungkapnya.

Dijelaskan Amka, proses pembuatan soal dari Percetakan tersebut berla njut ke ekspedisi hingga ke Bandara. Dari Bandara Syamsudin Noor barulah ke Kantor Pos dikawal dengan beberapa unsur dari Kepolisian. Kemudian perndaratan terakhri di Polsek-polsek. Dari situ para pihak sekolahan yang mengambil di hari H UN pada tanggal 15 April 2013.

ananda_Soal UN Kalsel5Kantor Pos Sulit Lakukan Koordinasi

Manager Penjualan Area Regional IX Kalimantan Kantor Pos Indonesia Adrian Kurniawan didampingi Asisten Operational Gusti Chairil Asyadi mengatakan, pihaknya mengakuin sulit sekali melakukan apalagi mengecek pengiriman sual UN tersebut dikarenakan keterlibatan Kantor Pos hanya saat soal sampai ke Kantor Pos.

“Ketika soal sampai di Kantor pos kemudian diantar ke Kabupaten-kabupaten/Kota. Maka dari itu sulit sekali kita melakukan koordinasi bahkan meminta informasi. Ekspedisinya juga tidak kami ketahui memakai apa. Berbeda denga daerah lain yang menggunakan jasa kantor pos untuk seluruh pengiriman,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan.

Bahkan pada akhirnya, karena tidak adanya penjemputan atau angkutan kendaraan yang menerima kedatangan di Bandara, maka pihaknya ambil kemudi untuk menjemput soal tersebut di bandara. “Daripada terkatung-katung tidak jelas,” katanya.

Pada intinya ia dari pihak Kantor Pos mengaku siap mengkoordinasikan soal Unyang datang. “Karena memang perlu proses yang cepat. Sebab waktunya sudah mepet sekali. Proses selesai kita siap berangkat. Sore ini, (kemarin, red) Soal sudah didistribusikan ke Kota Baru menggunakan mobil kecil saja berjenis Xenia atau grand max. Pokoknya tergantung situasi dan kondisi. Pokoknya kita ambil yang bisa akses secapat mungkin. Karena perjalanan saja dipastikan kurang lebih 6 jam tiba di lokasi dengan menggunakan jalur darat.

Arie: Mutu Pendidikan Biar Masyarkat Yang Menilai

Terkait Keputusan MK Hapuskan RSBI
Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjadi dasar pembentukan RSBI dan SBI, artinya keberadaan RSBI dan SBI dihapuskan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pencabutan atau penghapusan RSBI menimbulkan reaksi pro dan kontra di berbagai pihak yang berkaitan. Tak luput juga, sebagaimana keterangan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Drs Ahmadi Arsyad yang justru menyiapkan RSBI menjadi SBI di tahun 2014 harus kandas di awal tahun ini.
Menyikapi keputusan itu, Kadisdik Kota Banjarbaru Drs Ahmadi Arsyad mengaku tak mempersoalkannya. “Keputusan itu memang sudah dari pusat. Tapi kita di daerah tentu harus menindak lanjuti lagi. Namun, untuk peningkatan mutu dan kualitas tentu sudah kita antisipasi,” ujarnya ketika dihubungi penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Kamis, (10/1), kemarin.
Menurutnya, dihapuskannya sistem RSBI tidak masalah, asalkan peningkatan mutu di tiap sekolahan tetap dijaga sebagaimana juga yang terjadi di RSBI Idaman yang terletak di Jalan RO Ulin Kota Banjarbaru. “Penginkatan kualitas dan mutu saja yang kita lanjutkan tapi status sekolahan biasa. Bukan lagi RSBI,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kota Banjarbaru Drs H Arie sophian Msi menganggap RSBI Idaman tersebut memang telah gagal dari tahun-tahun sebelumnya. “Makanya anak saya yang awalnya memang bersekolah di RSBI Idaman saya pindahkan. Saya yakin saat hal ini terjadi karena diaunlis sebagai diskriminasi sosial dan pendidikan. Maka benar saja, seiring dengan keputusan MK di pusat bahwa RSBi dihentikan,” jelasnya.
Menurut Arie, efek dari keputusan penghapusan atau pemberhentian RSBI tersebut kemungkinan akan memuinculkan pro dan kontra dari orang tua siswa atau bahkan dari siswanya. “Karena ada yang mengatakan RSBI memang baik dalam segala hal. Tetapi ada juga yang mengatakan buruk. Niat pemerintah untuk mengingkatkan kualitas penidikan melalui RSBI itu bagus. Hanya caranya yang salah. Caranya mengadakan membentuk sebuah sekolah yang dalam pelaksanaannya justru menimbulkan diskriminasi baik terhadap siswa, guru, fasilitas, dan lainnya justru tak berjaln baik,” paparnya.
Selain itu, ia berasumsi peraturan perundang-undangan bermaksud agar di daerah tidak boleh melahirkan sesuatu yang bersifat diskriminasi. “Nah ini kan UU yang melahirkan RSBI/SBI dianggap diskrimuinatif. Itu yang tidak boleh. Suka tidak suka kita harus terima,” tegasnya.
Ia berharap nantinya akan ada eks RSBI tetapi mekanisme rekurtmen siswa,  sarana pra sarana, tidak sebagaimana sistem RSBI. “Ya mungkin menjadikan sekolah unggulan semisal siswa-siswa dengan nilai terbaik dikumpulkan di sekolahan itu. Soal penilaian bagus atau tidaknya biarlah masyarakat yang menilai, katanya.
Artinya, kata Arie, pasca keputusan dari MK tersebut diterima maka pemerintah tak lagi berhak mencap lebel sekolahan itu baik atau tidak. Tersebab penilaian yang terbaik adalah dari masyarakat. “Kalau orang tua siswa yakin anaknya memiliki kuialitas di atas rata-rata, bisa saja orang tuanya yang mengarahkan tanpa unsur paksaan. Atau untuk menunjang mutu dan kualitas pendidikan khususnya wilayah kita Kota Banjarbaru, bisa saja para guru dan tenaga pengajar yang berkompeten S2 linier disebar didrop ke SD lainnya,” imbaunya.
Ia berharap, justru dari sinilah akan munccuk kompetisi peningkatan mutu yang fair. “Tidak yang terjadi belakangan, pemerintah justru mendikte RSBI yang terbaik dan kompetisi peningkatan mutu pun tak jalan. Penilaian mutu sekolahan itu biar masyarakat yang menilai,” pungkasnya.