Tentang Dirimu : sebuah cerpen

Hitam yang melintang memantulkan cahaya di layarku. Dingin memupuri kuningnya diri merajut malam yang kian hanyut. Aku berhenti di sini ketika lingkaran waktu tepat di timur laut. Saat menarik nafas panjang sembari merangkai kata.

Sudahlah. Seperti yang pernah aku ungkap sebelumnya. Aku bukan orang yang piawai bersastra atau pujangga yang pintar mengolah kata. Kebahagiaanku mutlak berada di dalam ketidakteraturan.Kesenanganku di dalam ketidaksopanan. Keriangan lebih mudah kujumpai di dalam kebebasan.Kurangkai kata tak beraturan tanpa batasan, tanpa aturan, tanpa aturan, tanpa aturan bebas namun tidak kebetulan. Biarlah orang gila berkata betapa rusaknyanya bekas tinta titian jemari orang gila di dini hari. Karena aku yakin tidak semua orang gila berbuat seperti ini.

Dirimu memang kurindu, namun tak terbayang. Dirimu memang kusuka, namun tak kusayang. Dirimu memang menarik, namun tak pula —karena memang teramat jauh— menuai hasrat untuk kucinta. Tetapi diriku tak luput akan peribahasa ‘Menjilat Ludah Sendiri’ hingga waktunya tiba.

Tidak  ada yang istimewa dan berbeda menurutku. Melainkan apa yang terjadi dan tersaji semakin menghamburkan tanda tanya yang membubung tinggi. Apa? Tidak ada. Semua hanya mimpi dan khayalan belaka. Sebaliknya, Aku kian mencari tahu tentang dirimu. Sesosok wanita yang dipuja, dipuji, dan disuka oleh kalangan pecinta. Padahal kau tidak cantik menurutku. Aku bertanya pada diriku sendiri, mengandalkan kemampuanku menganalisa dan mencerna. Ada apa dengan orang diluar sana. Hal fatal apa yang membuatku terlarang berdekatan denganmu. Baru saja aku melangkah dihadapan hatimu. Aku ketuk perlahan kau pun membuka pintu. Namun, Apa yang terjadi? Ketika kakiku perlahan melangkah masuk kedalam ruang kalbumu, butir-butir batu yang sudah lama kau tinggalkan menghalangiku. Aku tersandung namun tak jatuh. Aku heran. Sehebat apa dirimu? Alamat pintu hatimu pun aku tak tahu. Pintu itu datang ketika aku mabuk dalam buaian menikmati hari-hari menanam benih budaya.

 

Perkenalan belum bisa dikatakan seumur jagung. Jagung pun tidak dikatakan berumur. Terlalu dini menurutku. Lelah hasrat hati ini kian mencari jati dirimu disana. Disuatu kamar yang tidak bisa dijangkau oleh sepasang mata. Dunia maya hanya sekadar hiasan dinding belaka. Tak pernah kita reguk dalam buaian harap. Bahkan rasa dari buah manis setetes asmara. Hati bertanya. Penasaran menyelimut di dada. Siapa dirimu? Darimana aku akan mendapatkan berita tentangmu? Bertanya pun aku malu. Sungguh, hal ini sangat bertentangan dengan sifatku yang tidak tahu malu. Aha! Seperti serial kartun kanak-kanak yang mendapat ide. kubuka halaman demi halaman akun jejaring sosialmu. Tentu saja dengan harapan yang tak pernah kuharapkan. Ini sangat menyalahi. Rasa keingintahuan tentangmu datang  dan semakin menggerogoti hasratku. Perlahan tanpa kepastian. Tetapi, apa yang terjadi? Sebotol darah teronggok dihadapanku. Hati kembali bertanya. Siapa dirimu?

 

Halaman kian menjauh. Jauh. Teramat jauh melawan perputaran waktu. Seperti sebuah laci meja belajar Nobita yang menghantar menuju lorong waktu. kembali ke masa lalumu. Sebotol darah. Ya, sebotol darah! Lagi-lagi sebotol darah yang kutemukan. Siapa dirimu? Seperti drakula? Atau seorang pembunuh? Bisa saja seorang tukang jagal yang biasa bekerja dipasar daging? Semakin kukejar meniti ruang waktu, semakin aku tidak mengenalmu. Namun aku tahu.

 

Dirimu adalah seorang wanita yang tidak biasa. Sungguh tidak biasa. Parasmu yang tersembunyi menyeruak mengumbar anggun. Itu tidak akan tampak dilingkaran mata orang gila sepertiku. Semakin kumenyelam semakin kutenggelam. Terkadang aku merasa seperti dijejalkan kemaluan orang-orang dihadapanku. Tak ada mata-mata, hidung-hidung, Nafas-nafas, puja-puji, melainkan wajah yang mewakilkan segala kemaluan orang-orang diluar sana. Dan aku malu dengan Idealismeku sendiri.

 

Lingkaran waktu tepat kearah timur. Aku sadar telah membuang waktu di sekeliling teras hijau lingkungan hatimu yang putih. Sudah jauh nalarku bergeming masuk ke pintu aksara namamu. namun semakin luas duniamu. Terlagi jauh. Dan pun kembali aku tahu. Kau adalah wanita yang memiliki wawasan luas. Seluas bumi tak terbatas. Sudah banyak pengalaman yang kau miliki. Sudah banyak dunia yang kau selami dan masih banyak dunia yang akan kau lalui. Aku sudah mencarimu namun tak bertemu. Aku meniti jembatanmu namun tak berujung. Aku lelah. Lelah untuk terlalu ingin tahu.

 

Sudah. Kepakkan saja sayapmu. Terbanglah tinggi dengan orang gila yang tak henti memujamu. Siapapun dirimu. Kupejamkan mata menikmati lelah yang sudah terasah. Kututup kelopak mata yang berontak karena terlambat memberikan haknya. Namun setelah sejenak aku memejamkan mata. Hati bergumam. Ah, Sungguh aneh. Parasmu jelas dihadapanku. Cahayamu menerangi kegelapan alam bawah sadarku. Kubuka mata dan lagi-lagi kubuka halaman aktivitas mayamu. Berulang-ulang sampai server menghalangi niatku ‘Koneksi jaringan di putus oleh server, harap verivikasi.’ Damn. Apa maksudnya? Apa mungkin Server tidak menyukaiku menggali dan mencari tahu lagi tentangmu. Kesal. Keluh kesah melanda hatiku. Aku tersadar. Aku terbangun dari emosi. Mengapa aku seorang penganut paham anti mengeluh tenggelam dalam pusara mengenalmu. Aku heran. Siapa dirimu?

 

Dikala aku menatap keheningan malam. Terkadang bulan seakan mentertawakan kebingunganku. Aku tak sanggup menatap sang purnama. Bahkan lingkaran kesempurnaan lagi terang benderang itu tak mampu memberikan jawaban kegundahan hati. Aku mengurungkan niat bertanya kepada sang bulan. Aku bertanya kepada sang bintang, malam, siang, matahari, tumbuhan, dan pada semua binatang yang bertutur dilangit dan bumi. Layaknya dedaunan yang dililit oleh belukar tak mampu melepas jeratannya. Ini akan terasa sangat lama bagiku untuk berkebun cinta. Cinta! Apa itu cinta? Akh, semua hanya omong kosong. Sudah terlalu sering aku mebaca dan teramat sering aku mendengar tentang cinta. Semua hanya sebatas mulut dan pendengaran saja. Aku tahu, cinta yang hakiki hanya kepada yang Maha Kuasa. Tetapi, bukankah karena kekuasaan-Nya yang menanamkan rasa cinta di setiap jiwa makhluk di dunia. Semua hanya tinggal bagaimana makhluk itu membuat alur ceritanya. Lagi-lagi aku menarik nafas panjang menyambut hujan melepas kemarau. Walau bukan musim yang tepat untuk menanam benih rasa, namun selalu kucoba. Aku bukan pemimpi atau lelaki yang suka berharap. Bukan! Itu bukan diriku. Tapi, kali ini, kehadirannmu justru mengkhawatirkanku.

 

Aku mulai bersikukuh menggemburkan tanah putih ini dan menanam huruf demi huruf hanya karena kamu. Kupelajari tentang tanaman-tanaman yang sempurna dari para petani huruf sesuai dengan bidangnya. Ah, semakin luas saja ladang ini. Kuakui kali ini aku menyalahi. Apa yang sudah aku yakini dalam hal pemimpi. Aku mulai berharap. Tapi, bagaimana jikalau nanti aku tersesat di kebunku sendiri?

 

Hingga suatu obrolan tiga puluh menit yang sangat terikat erat dalam ingatanku.

“Lidah dan otakku sering kaku bila terbayang sosokmu.” Ungkapku di waktu tengah malam itu.

“Apakah aku se-Extreme itu?” Jawabmu.

“Ya, extreme lagi membingungkan.”

“Benarkah? Seberapa membingungkan bagimu?”

“Seperti rasa sayang yang mulai kutanamkan”

“Ah, kau membuatku melayang”

“Ini serius! aku tak main-main.”

“Waktu yang singkat kau sudah menanam rasa sayang?”

“Singkat tapi padat!”

“Jadi, sampai kapan kau terus jadi petualang?”

“Belum pasti. Apakah bibitku nanti berbuah sama dengan jenisnya?”

“Asal rajin dirawat dan disiram.”

“Akankah maniskah rasanya?”

“Di kasih pupuk juga pasti manis rasanya!”

“Bagaimana jika  berbuah pahit?”

“Artinya, musimnya belum tepat. Akh, tapi selama bibit itu dirawat, diperhatikan, disiram, pokoknya yang baik-baik, kemungkinan besar, berbuah manis.”

“Selalu sama. Seperti musim-musim sebelumnya, selalu berulang-ulang. Tak adakah suatu jaminan yang menyemangatiku dalam menanam, mendukung, mendorong, ataupun sesuatu yang membuatku tersenyum?”

“Sesuatu yang membuatmu tersenyum hanyalah… kau adalah lelaki yang tersesat dalam kegilaanku.”

“Namun, apakah kegilaanmu menuntun tanganku?”

“Dibalik kegilaanku, kusiapkan sebuah arah mata angin yang menuju pada maumu.”

Kubuang jauh-jauh ragu. Kubuang jauh prasangka. Kubuang jauh lelah kubuang jauh kesah hingga seperti sampah. Aku sadar aku terlarut dengan hatiku sendiri. Tapi, siapa dirimu? Kelak hari ini akan kujaga. Kelak hati akan menghina. Kelak suatu masa aku akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya. []

Martapura, 2011