Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 1)

Waduk Riam Kanan

Waduk Riam Kanan

Sebenarnya, ini adalah catatan usang sepekan lalu saat melakukan perjalanan ke Riam Kanan. Ada beberapa point yang sungguh berkesan menurutku, sayang rasanya jika tak diabadikan dalam bentuk tulisan. Terlebih, aku memotret terlalu banyak. Kalau tidak dipublikasikan, nanti akan hilang saat virus menyerang hardisk dalam laptop, pc, atau portableku. Semua foto yang aku ambil dalam perjalanan ini menggunakan Digital Pocket Prosumer Camera Canon PowerShot G11. Pada awalnya, perjalanan ini biasa-biasa saja. Tak ada yang membuatku “Ngeh”. Hanya karena Kak Harie kehilangan kunci motor, kami mendadak menjadi detektif seperti dalam cerita Sherlock Holmes. Ada-ada saja. Ingin menjadi pahlawan kesiangan namun tak sampai. Apalah daya, begini ceritanya.

“Berangkat darimana, Kak Harie?”

“Dari Onoff aja. Beimbaian. Ini lagi di simpang 4. Setumat lagi aku kesitu!”

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Telepon ditutup. Aku dan Sisy berangkat menuju bengkel untuk memperbaiki kedua bola mata kuda bututku yang telah lama mati. Mumpung ada rejeki. Kasihan juga dia, sudah lama buta di waktu malam.

Kami telah merencanakan hari Senin, (20/5/2013), untuk berwisata ke Riam Kanan. Bendungan PLTA tepatnya. Namun tidak menyebrang ke Pulau Pinus, hanya sampai pinggir dermaga saja. Ada 13 orang yang berangkat (Aku termasuk dalam hitungan), Aku, Sisy, Kak Harie, Istri Kak Hari (Mama Gendhis), Gendhis, Ocha, Diah, Sari, Lutfie, Zian dan Pacarnya (Lupa namanya siapa?). Sebenarnya masih ada Syaukani dan Dillah. Namun mereka tak berangkat barengan karena Syaukani harus menunggu Dillah yang sidang skripsi di kampus. Tersebab waktu itu jumlah sepeda motor pas, satu motor ditunggangi dua orang. Kecuali Kak Harie sekeluarga, bertiga dalam 1 motor.

Syaukani, dia baru saja meraih predikat Juara Harapan I Nanang Galuh Kabupaten Banjar dan juga menyandang predikat Duta Persahabatan. Suatu kebanggaan, bukan? Dan Dillah menjelang predikan sarjana. Alhamdulillah setelah telat beberapa tahun. Sayangnya aku juga terlambat menjadi sarjana.

???????????????????????????????Pukul 15.00 kami semua telah berkumpul di sekretarian Onoff Solutindo Jl Sukarelawan Banjarbaru. Setelah berdiskusi tentang tumpang menumpang. Syaukani harus ikut Dillah yang saat itu masih di kampus. Jadilah Syaukani di antar Lutfie terlebih dulu.

Tak lama ditunggu, Lutfie telah tiba dan berkumpul bersama. Prepare segala persiapan. Dan berangkat menuju Riam Kanan. Dalam perjalanan, kami semapat juga menegur Syaukani yang menunggu Dillah di Satpam. Jongkok sambil merokok. Seperti waktu Pup. Mirip gelandangan. Padahal aku menyarankan agar dia masuk saja ke dalam gedung kampus yang berbentuk ruko itu. Namun tampaknya dia malu. Malu-malu tikus.

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jarak menuju Riam Kanan tidaklah terlalu jauh, Bro. Sekitar 16 Kilometer dari pusat kota Banjarbaru. Di sepanjang Jalan Ir PH M Noor biasa kita temui sawah-sawah dan ladang penduduk setempat. Itu di awal-awal melewati Kelurahah Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru. Namun ketika memasuki daerah Mandiangin Timur akan lebih terlihat beberapa hutan dan kebun-kebun durian. Dulu, jalan menuju wilayah ini tak senyaman sekarang. Namun beberapa kali diperbaiki tetaplah tak semulus Jalan Nasional. Sebab Jl PM Noor merupakan akses satu-satunya truk pengangkut yang mengambil batu gunung, tanah, dan pasir di wilayah Mandiangin

Waktu itu, beberapa titik jalan sedang ada pengecoran. Karena beberapa hari sebelumnya juga sempat hujar, di beberapa luas jalan juga banyak yang becek dan berlumpur tebal. Untung saja untuk pengendara roda dua diberikan jalur ruas jalan yang sudah dicor dengan semen. Jadi tak terlalu bermasalah melewati lumpur-lumpur itu.

???????????????????????????????Usai melewati pintu gerbang Wisata Tahura, di antara lapangan sepakbola dan pasar, kami singgah di rumah calon mertuaku. Sebenarnya tak terlalu penting. Sekadar meletakkan beberapa perkakas Sisy di rumahnya. Setelah berpamitan kami juga kembali berangkat ke tujuan.

Dari sini, kita akan melalu beberapa pegunungan yang sudah robek. Maksudnya beberapa lereng tampak sudah gundul dan terkeruk. Dari situlah biasanya pengusaha material mengambil bebatuan dan tanah urukan. Khususnya batu yang biasa dipakai orang-orang untuk membuat pondasi rumah atau bangunan lainnya. Yakni Batu Gunung.

Sekitar 12 Km perjalanan, kita akan melewati jurang-jurang curam yang jika kamu memandang ke bawah, cukup membuatmu merinding. Kita juga melewati wisata Tambela. Biasa dipakai untuk ajang outbond. Di dalamnya disediakan pula penginapan, kolam renang, lapangan tenis, dan fasilitas umum lainnya.

???????????????????????????????Menuju ke atas lagi, terdapat tempat wisata air terjun dari waduk Riam Kanan yang disebut orang-orang dengan bermacam versi. Ada yang menyebutkan Sungai Kembang/Sungai Kambing/Ari Terjun Aranio/ dan masih banyak lagi. Aku agak sedikit lupa istilah-istilah penamaan yang pernah disebutkan orang tentang wisata Aranio. Sayangya, lokasi itu kini telah ditutup. Sebagaimana yang aku lihat saat melewatinya. Sekecil akses menuju ke tempat itu ditutup secara permanen. Kabar terakhir yang aku dengar, beberapa waktu yang lalu tempat itu terjadi perkelahian sengit antar preman yang biasa menguasai lahan parkir. Lebih tepatnya berebut wilayah. Mereka bertikai dan berakhir dengan kematian. Entah pihak mana yang mati dan apakah memang kasusnya ditangani kepolisian setempat, aku kurang tahu. Yang jelas kami terus menuju ke atas. Setelah bagian ini, banyak tikungan-tikungan tajam dan bertebing tinggi yang kalian lewati.

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Setelah persimpangan tiga, kita menemui plang PT PLN. Itu merupakan lokasi kantor wilayah yang memang dikhususkan gupengoperasian turbin PLTA Riam Kanan. Dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Riam Kanan. Kampung itu tampak seperti di bawah lapisan bumi. Saat belok tikungan tajam kanan, kumpulan rumah-rumah klasik tampak di sebelah kiri. Pemandangan itu dibalut dengan birunya langit di latar belakangi pepohonan perbukitan. Kemudian memancar pantulan cahaya matahari di permukaan air waduk.

Kamu singgah sebentar di pintu gerbang selamat datang menunggu teman yang lain tertinggal di belakang. Ternyata Kak Harie sekeluarga, Diah, dan Sari sempat berhenti karena berfoto di tengah jalan. Dasar. Setelah semua berkumpul, lanjutlah menuju dermaga. Jalan perkampungan masih beebatuan, sampai kami semua dihadapakan pada jembatan gantung yang cukup reot dan berlubang.

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

“Jangan… aku takut. Jembatannya bergoyang saat dilewati kendaraan yang di depan sana. Biar satu persatu saja bergantian,” kata Sisy di belakangku ragu. Tiba-tiba sugesti dari juga membuatku ragu yang awalnya sudah yakin ingin tancap gas melewati. Yang lain pun sudah antri di belakang. Aku juga sempat menyuruh Sisy turun dari motor untuk berjalan kaki menyebrang untuk meringakan beban. Tapi dia menolak. Aku bingung, apakah aku hari melewatinya berbarengan dengan semua tumpangan, atau balik badan. Bagaimana nanti jika jembatan itu roboh dan kami jatuh ke jurang yang mengalir air waduk di bawahnya. Ini membahayakan. (bersambung)

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Wagub Resmi Buka Book Fair

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru3Banjarbaru Book Fair (BBF) resmi dibula oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan, Sabtu, (30/3), kemarin. Pameran buku terbesar se kalsel ini dilaksanakan dari tanggal 30 Maret 2013 sampai dengan 7 April 2013. Pembukaan tersebut juga dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi, dan sejumlah took penulis Banjarbaru.

Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi mengatakan, adanya event buku terbesar yang diselenggarakan di Kalsel ini diharapkan mampu mengembangkan minta baca. Tak hanya itu, ia juga berharap keberadaan BBF bisa menjadi penghargaan tersendiri bagi pemerindah dan masyarkat yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru“Kegiatan yang meriah selain sebagai ajang untuk menambah wawasan juga sebagai perwujudan untuk mengembangkan minat baca serta wawasan. Saya berharap Banjarbaru mampu menjadi pioneer dan inspirasi bagi daerah lainnnya,” tutur Husni.

Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru Hj Nyuliani Dardie mengaku senang sekali kegiatan tersebut telah dibuka dengan meriah dan lancar. “Ini sebagai lanjutan darui kegiatan Banjarbaru Membaca yang menghadirkan Duta Baca Nasional Andy F Noya (Presenter Kick Andy!) tahun lalu. Di BBF 2013 ini juga digelar kegiatan hiburan seperti seni budaya dan lomba band,” ungkap Nunung, sapaan akrabnya.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru6Selain itu juga, BBF diselingi dengan kegiatan seperti seminar dan workshop tentang penulis dan buku. Jika tak ada aral melintang, sejumlah artis dan penulis ibukota juga akan dating di akhir-akhir kegiatan. Termasuk artis dan bintang sinetron Asmirandah.

4 hari, Untung 1 Juta, Kisah Penjual Terompet Yang Juga Mahasiswa Hukum

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebagaimana biasanya, menjelang perayaan tahun baru akan banyak sekali para penjual terompet dengan berbagai macam jenis. Sebagaimana yang dilakoi Ahmad Rahim (25). Pemuda yang saat ini juga berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum STIH Sulktan Adam Banjarmasin ini mengaku sangat menikmati pekerjaannya sebagai penjual terompet tahunan kala menjelang pergantian tahun. “Sudah 7 tahun sejak saya lulus SMA. Uang hasilnya ya untuk kebutuhan hidup dan yar kuliah. Belajar mandiri untuk selalu minta uang ke orang tua,” tuturnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com saat melayani pembeli di Taman Air Mancur Kota Banjarbaru, Selasa, (25/12), kemarin sore.

Tak hanya terompet, ia juga meperdagangkan beberapa jenis mainan topeng berwajah jenis binatang seperti srigala, monyet, dan lainnya. Harganya pun bervariasi, dari 35 ribu rupiah sampai ratusan ribu. Tergantung bahan dan motfi yang digunakan. “Kalau terompet kita jual dengan harga yang paling murah dari 20 ribu rupiah sampai 200 ribu. Kalau bahannya kertas tentu agak murah. Resikonya tak tahan lama, mudah hancur. Kalau berbahan plastik biasanya lebih awt. Bahkwa suaranya pun bias diganti-gantinya. Bisa agak keras keras suaranya dan tak terlalu nyaring. Ada setingannya,” sahutnya.

Barang-barang tersebut didatangkan dari Pulau Jawa melalui kapal. Sepanjang 7 tahun karirnya menjadi penjual terompet, ia mengepalai atau mengkoordinir beberapa anak buah yang juga berprofesi sama di Banjarmasin. “Kita jualan mulai dari tanggal 22 Desember, 1 pekan sebelum tahun baru. Biasanya menjelang malam puncak pembeli tambah banyak. Dan bila menghabiskan semua barang dagangan sampai 1 Januari, maka ada komisi lebih dari bos yang lebih tinggi,” katanya.

Dalam satu hari pertama, keuntungan yang ia dapat pun cukup lumayan, yaitu 350 ribu rupiah. Hingga sampai hari kemarin, ia sudah mendapatkan untung uang sejumlah 1 juta dalam kurun waktu kurang lebih 4 hari. “Uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan tentunya bayar kuliah juga. Sekarang sudah menjelang tugas akhir. Sambil kerjakan skripsi kita terus berusaha, agar tak memberatkan orang tua,” paparnya yang saat ini sedang menjalani kuliah semester ke 7.

Sebagai kiat khusus, ia biasanya bersama rekan lain akan mengobral sejumlah terompet menjelang akhir tahun. Dan tak hanya di banjarbaru, bisnis berjalan terompet sudah ia jalani samapi ke Samarinda. “Saya jalan 7 tahun. Sudah. Banyuk makan hidup dari usaha ini jadi gak dilepaskan,” tandasnya.

Tak ada kendala, rasa malu, atau pun takut bersaing baginya dalam menjalani sebagaian hidup sebagai penjual terompet. Hal itu dilakukannya karena semangat yang ia miliki. “Banyak teman saya yang sudah lulus termasuk yang sarjana hukum tetapi tak berbuat apa-apa. Hanya duduk manis dirumah sembari menadah tangan kepada orang tua. Baginya pekerjaan sebagai penjual terompet justru sangat menjanjikan. Dari segi keuntungan pun besar,” terangnya sebari tersenyum ketika ditanya mengapa tidak kuliah di fakultas ekonomi saja.

Ia berkomitmen untuk meraih cita-cita sebagai pengacara. “Saya ingin jadi jaksa atau hakim. Tapi di bangku perkulihan saja, kita hanya dapatkan teori semata. Tidak ada pengalaman kalau tidak turun ke lapangan. Saya menganggap semua permasalahan itu gampang. Termasuk menjalani hidup. Berusaha mencari uang dengan berjualan terompet pun sebagai jalan hidup. Soal perdata atau pidana kita kita tak hanya membahasnya di bangku kuliah, tapi di kehidupan nyata seperti berjualan. Karena juga ada namanya hukum perusahaan, hukum tambang, dan hukum lainnya,” ungakapnya yang sempat bekerja di tambang sebagai supir ini.

Ia berharap rekannya yang lain terus semangat dalam menjalani hidup dengan belajar mandiri sejak muda. Artinya tak selalu mengharapkan pemberian orang tua. “Tak harus berjualan terompet. Banyak pekerjaan halal lain yang lebih menguntungkan. Daripada harus selalu berpenampilan borjuis dengan mobil mewah orang tua dan isi dompet 50 ribu saja. Apalagi yang sudah sarjana, hampir 3 tahun ijazah dijadikan bungkus kacang, mendingan kerja sampingan,” pungkasnya.

Diduga Malpraktek, Anak 9 Tahun Menderita Tumor

Ais difoto 9sebelah kanan foto pakai topi) sebelum kena tumor ganas yang membuat kepalanya membengkak

Ais difoto 9sebelah kanan foto pakai topi) sebelum kena tumor ganas yang membuat kepalanya membengkak

Rusyda Rihhadatul’aisy (Ais), Siswi SD RSBI Kota Banjarbaru yang berumur 9 tahun ini terpaksa istirahat mengikuti pelajaran di sekolahnya lantaran menderita tumor ganas. Menurut Laboratorium Patalogi Anatomi RS Islam Banjarmasin, Ais menderita tumor yang dalam bahasa kedokteran bernama Fibrous tumor intermediate malignancy.

Penyakit tersebut sudah ia derita dua bulan belakangan. AirAis hanya bisa terbaring ketika sejumlah wartawan, teman sekolah, guru dan orang tua siswa lain menjenguk di rumahnya Jl Trikora Komplek Green Tasbih Blok Wukuf A No 25, Senin, (1/10), kemarin.

Orang tua Ais, Ruszali (45) yang berstatus sebagai PNS di Dinas Perkebunan Banjarbaru ini mengaku, awalnya sekitar akhir 2011 Ais mengaku kepalanya terjeduk pintu di sekolahan. “lalu ketika diraba ada benjolan kecil di kepala. Ternyata setelah kurang lebihn dua bulan kita bawa ke rumah sakit,” katanya.

Pertama kali ia mengaku membawa Ais, anak kedua dari dua bersaudaranya itu,  ke RS Sari Mulia Banjarmasin untuk diagnosis. Alih-alih berkurang, tumor yang sudah bercokol dikulit kepala Ais malah semakin membesar. “Jadi setelah dioperasi makin membengkak. Kata Dokter Eko, ada tumbuh tumar karena luka di kepala. Dan infeksi di kepala itu lalu turun ke leher sebelah kiri, sampai sekarang,” ujarnya menceritakan dengan tabah.

Kemudian ia kembali membawa Ais beberapa kali ke rumah sakit. Semisal RS Ulin, RS Islam, dan ke Dokter Specialis lainnya. “Dan permulaan yang memvonis Ais terkena tumor ya di RS Sari Mulia. Rencananya akan saya bawa ke RSU Sejahtera dan Hypolistik Salatiga, Semarang. Karena info keluarga disana ada pengobatan medis yang disandingkan dengan akupuntur cina untuk menangani penyakit seperti ini,” jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sampai 5 Kali Salah Suntik

Tania (45), ibu dari Ais mengaku sangat miris harinya melihat kondisi anaknya seperti sekarang. Sembari ia memperlihatkan foto Ais yang bersama kakaknya Nita Yusrina (11). “Sudah tidak ingin lagi balik ke rumah sakit di sini. Khawatir mengecewakan lagi. Kita sangat khawatir apalagi Ais bercerita waktu itu disuntik sampai 5 kali gara-gara perawat yang menangai tidak ketemu mencari uratnya. Pada akhirnya disuntik dimata kaki karena tidak ketemu ditangan. Kasihan dia yang merasakan sakitnya. Seharusnya untuk mengangaki anak-anak itu yang berpengalaman,” tuturnya kepada penulis hirangputihabang.wordpress.com.

Operasi tersebut telah berlangsung setahun yang lalu sekitar akhir tahun 2011. Tania mengatakan, Rekomendasi dari pihak rumah sakit menginginkan agar Ais dikemoteraphy saja. “Tetapi inisiatif kita agar dibawa ke RSU Semarang saja dengan surat izin layak terbang dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru,” katanya.

Dikatakan Tania, berat badan Ais pun turun drastic 10 kg semenjak benjolan di kepala itu semakin membesar. “Beruntung Ais sempat mengikuti ujian kenaikan kelas. Ais mengaku tidak sakit, tetapi gatal itu yang tidak bias ditahan. Kalau makannya normal saja,  kali sehari. Berdiri dan duduk pun bisa saja. Tetapi beginilah keadaan fisiknya,” ungkap Tania dengan sabar dan mata lebam.

Jika tak ada aral melintang, Ais akan diterbangkan hari ini dari Bandara Syamsudin Noor ke Semarang untuk menjalani pengobatan di RSU Sejahtera dan Hypolistik Salatiga, pukul 17.30 Wita.

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian beserta Isrti, yang menjenguk ke kediaman Ais mengaku prihatin. “Kebetulan Ais ini teman satu sekolah putri saya, Karin. Yang mana Ais pun sering kerumah untuk belajar bersama Karin. Setelah mendengar kabar in, agar melihat secara langsung maka saya putuskan untuk menjenguk dan ternyata sampai separah ini penyakit yang dideritanya,” ungkapnya sembari memberikan sekadar bantuan untuk sedikit meringankan biaya pengobatan Ais.

Arie mengaku sudah menyampaikan kondisi yang diderita Ais dengan Walikota dan rumah sakit. “Kita berharap ada yang bisa memberikan bantuan dan meringankan beban. Nah, besok (hari ini, red) ada upaya dari keluarganya untuk membawa ke semarang karena pengobtan medis yang mengawinka dengan tekni akupuntur bisa mengatasi penyaki ini. Insya Allah kita akan tetap memantau untuk memeberikan dorongan kepada keluarga. Serta masyarkat yang mampu untuk turut membantu,” ujarnya.

Ruszali, Ayah Ais ketika memperlihatkan hasil ronsen kepala anaknya yang terkena penyakit tumar kepada wartawan

Ruszali, Ayah Ais ketika memperlihatkan hasil ronsen kepala anaknya yang terkena penyakit tumar kepada wartawan

Dijelaskan Arie, dengan umur seperti Ais, sangat disayangkan penyakit tersebut oleh dideritanya. “Entah karena kesalahan siapa kita tidak menduga. Jadi karena kebetulan warga kita di Banjarbaru, juga sekolah di RSBI Banjarbaru maka melalui saya dan rekan semua, kita akan pantau terus perkembangan pengobatan Ais. Dan ini telah kita koordinasikan dengan pihak pemerintah daerah. Bantuan apa saja nantinya akan kita handle dan sampaikan ke bersangkutan. Ini tak lain adalah perhatian dan kepedulian kita semua,” ingatnya.

Desti dan Karin, teman satu kelas dengan Ais mengharapkan Ais bisa cepat sembuh. “Soalnya kita sering main dan belajar bareng apalagi habis olah raga. Mudahan Ais cepat sembuh bisa sekolah dan main-main. Kami semua sayang dengan Ais,” harapnya dengan sedih.

 

Suka-Suka Nan Cozy

Pintu utama yang dihiasi kain bundar mirip kelambu unik nan menarik

Pintu utama yang dihiasi kain bundar mirip kelambu unik nan menarik

“Selamat Siang!”

“Mari. Silahkan Masuk!” ujar tuan rumah sembari menawarkan kami beberapa minuman. Siapa yang menyangka, rumah yang dari luar terlihat biasa. Ternyata perabotan di dalamnya berisi sangat luar biasa. Ya, itulah rumah Keluarga Kardsujono yang terletak di Jalan Semarang Komplek Perumahan Klausreppe Loktabat Banjarbaru.

Melihat rumahnya ini dari luar, sebenarnya kita sudah melihat hal yang menarik. Seperti pintu utama yang dihiasi kelambu sekeliling pintunya. Nah, apalagi jika menengok ke dalamnya, berbagai macam perabotan jadul terpampang di setiap sudutnya. “Ya, hobinya memang koleksi barang-barang antik. Jadi hampir semua isinya barang antik. Hehehehe” ujar Maureene, pemilik rumah No 118 ini. Ia yang tinggal bersama 3 orang anaknya sering sekali melakukan bongkar pasang perabotan dan properti rumahnya. “Kami disini cepat bosan. Kalau nggak tiga bulan sekali, bisa juga setengah tahun sekali posisi letak perabotan udah dibongkar pasang aja,” tuturnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, pada satu kesempatan.

Kami diajak untuk melihat hal-hal yang sangat memberikan kesan klasik, sederhana, namun menarik rasa. “Lalu, bergaya konsep apa rumah ini?” kata kami menanyakannya. “Konsep rumah dari hati aja. Gak terinspirasi dari apa-apa. Suka-suka nan cozy, lah. Nggak ngikutin siapa-siapa,” sahut Maureene.

Telepon kabel hasil lelang dari kantor Hitler di Australia

Telepon kabel hasil lelang dari kantor Hitler di Australia

Banyak Perabotan Antik

Diantara perabotan dalam rumah itu, terdapat sejumlah barang-barang klasik alias jadul. Seperti pemutar piringan hitam yang biasa dipakai orang-orang mendengarkan musik di masa 80 an, telepon kabel jaman dahulu, berbagai macam koleksi setrika besi yang memakai arang pada jaman dulu, dan koleksi lainnya datang dari berbagai negara di seluruh dunia. Oleh sebab itulah, ia mempunyai almari yang special untuk souvenir dari beberapa negara seperti Roma, Amerika, China, Jepang, Eropa, Mesir, dan lain-lain. “Cuma dari Afrika aja yang belum punya,” sahut Maureene. Di meja yang terletak di beberapa sudut ruangan, tampak mesin tik jaman dulu yang dibeli langsung ketika lelang di Wina Austria. Kata Maureene, salah satu mesin tiknya adalah dari kantornya Hitler. Wuih, mantap!

Ruang Tengah Tanpa Atap

Ruang berkumpul yang special di desain untuk bisa langsung merasakan dinginnya suasana hujan dan panasnya terik matahari

Ruang berkumpul yang special di desain untuk bisa langsung merasakan dinginnya suasana hujan dan panasnya terik matahari

Pabila masuk ke ruang tengah, maka akan menemui tangga yang berputar melilit tiang untuk menuju gudang alat musik di lantai atas. “Ada biola, bass, gitar dan alat musik lainnya. Karena kami sekeluarga suka main musik dan menyanyi,” sahut Bianca, anak dari Maureene.

Ada lagi satu ruang lebih mirip dengan bar minuman di film-film koboi. Yang tak kalah menarik, persis di tengah rumah ini ada tempat untuk bersantai. Pabila kita memandang ke atas, maka pandangan kita tidak akan melihat atap rumah untuk menaungi dari terik sinar matahari atau berteduh dari air hujan, tetapi langsung menjurus ke langit alias polos tidak pakai atap. “Lho, kalau hujan gimana tante?” kata kami bertanya.

“Ya, hujan-hujanan sebasahnya. Toh, ada saluran airnya mengalir sudah disediakan,” Sahutnya. Sengaja memang tidak memakai atap. Katanya, biar matahari langsung masuk tanpa perantara apa pun.

Nah, disamping tempat untuk berkumpul itu, tampak dinding air terjun buatan. Kemudian berbagai macam koleksi setrika besi yang memakai arang jaman dulu. Ada pula koleksi rumah-rumahan.

Kala boleh kita mengintip kamarnya Bianca, maka pembaca akan dihadapkan dengan Rak Buku Ada juga kamar yang penuh dengan rak buku, karena katanya, seluruh keluarga memang suka membaca apa saja. Maureen dan keluarga tak terlalu suka dengan barang-barang yang terlalu mewah. “Kalau beli-beli barang yang kecil lebih suka beli di pasar loak. Kayak lampu telpok, miniatur sepatu, dan lain-lain. Gak perlu mahal-mahal yang penting unik,” pungkasnya. Sambil merapikan beberapa perabotan. “Nanti mampir kesini lagi ya! Dhaaaah!” ucap Keluarga Maureene seraya melambaikan tangan.

Ruang Utama

Biodata Pemilik Rumah

Keluarga Keluarga Anthunius Junianto Karsudjono bekerja di PT Mangium Anugrah Lestari sebagai Presiden Direktur. Istrinya Maureen Nasiboe dan tiga orang anaknya Bianca Karsudjono Naomi Kardsudjono, dan Beybi Karsudjono.

Dinding pembatas antara ruang berkumpul dengan mini bar

Dinding pembatas antara ruang berkumpul dengan mini bar

Perpustakaan kamar tidur

Perpustakaan kamar tidur

Kumpulan rangkaian bunga mempercantik pandangan mata

Kumpulan rangkaian bunga mempercantik pandangan mata

Membaca sambil menonton tv juga menjadin kegiatan yang asik di dalam kamar

menjadin kegiatan yang asik di dalam kamar