Catatan Perjalanan, Ampah-Timpah (3/5)

 

Dari bundaran Kota Ampah, kami memutar ke wilayah Desa, masuk ke gang sempit di wilayah pasar. Lagi, lupa mengeja nama gangnya. Jalanan bebatuan yang tidak bisa dikatakan mulus, namun tidak juga buruk. Dari pinggir jalan raya sampai persis ke rumah Ali kurang lebih 1 Km. Semoga saya salah kira. Kammi sempat kelewatan. Sedikit saja.

Rumah semi permanen, bercat kuning pucat dengan tumpukan paketan potongan kayu untuk diperjual-belikan terpampang di hadapan. Kami memakirkan motor persis di bawah seng sebagai teduhan. Siang ini, Selasa, (12/7), matahari begitu terik. Panas luas biasa. Check point 3.

Sambutan yang hangat diiring seceret sirup jeruk es batu dan setoples kerupuk unyil. Entah bagaimana menggambarkannya, kerupuk ini terasa nikmat sekali. Mungkin mengenang jaman dulu jadi perantauan, kerupuk unyil jadi lauk wajib ketika lauk lain tidak ada lagi.

Obrolan seputar menanyakan kapan sarjana, kapan kawin, kapan lulus, kapan berumah tangga, dan kapan bla-bla bertebaran di setiap pertikel atom yang tiap sudutnya saling berpantulan memenuhi isi rumah.

Belum jeda 10 menit, satu teko jumbo es kelapa muda datang di meja, barusan dikupas di luar rumah. Hasil petikan pohon di belakang rumah. Sudah kubilang, matahari begitu terik. Panas luar biasa. Sedangkan di hadapan ada es kelapa muda. Gimana?

Bla-bla mengembang ke sana ke mari tanpa batas, tawa canda gelak tawa membawa kami beberapa kali ke toilet. Karena terlalu banyak minum. Kami ditawarin untuk menginap saja. Kulihat jam dinding di rumah Ali hampir pukul 12.00. Di dalam rumah ini minim sekali sinyal telkomsel, apalagi akses data. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Padahal aku sudah berniat membuka laptop dan mulai mengetik.

Makin lama obrolan sampai ke ahlu bait menghamparkan karpet/hambal tebal bermotif bulu macan di tengah rumah. Tuh, kan. Ada 4-5 buah bantal dan guling dihamburkan di sana.

Intinya, setelah bersopan santun tanpa perasaan menolak, kami berempat tertidur di waktu khoilullah. Sampai adzan dzuhur berakhir. Yang paling terakhir bangun adalah Bungker.

Terburu-buru kami bangun dan mencuci muka, terlihat terburu-buru juga kesannya akan meninggalkan rumah. Namun ditahan, ya seperti peringatan Bungker sebelumnya, tidak akan diizinkan beranjak pergi dari rumah ini sebelum santap siang. Sudah minum es kelapa muda, aku sempat membuka bungkus lisong yang baru (saking borosnya), tertidur di hamparan ambal bulu pula, nah ini, bau-bauan ikan bakar mulai tercium oleh perut. Gimana coba? Emang enak bangun tidur langsung disuruh makan. Enak.

Intinya tidak boleh pergi sebelum puas. Duduk lesehan, ada Haruan Baubar yang khas sekali dengan selera masakan Banjar di hadapan. Nasi panas yang harum, ada es sirup dan es teh juga. Sayurnya Pucuk Jawaw yang sudah direbus, juga hasil petikan di kebun sendiri, didampingi terong muda (yang juga dipetik di samping rumah) kecil-mungil juga. Ada sambal terasi dengan taburan Ampalam/mangga di atasnya. Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Ditemani Udang goreng dan kacang panjang. Kulihat bungker, wajah dan tubuhnya sudah basah karena keringat. Sambil ter hus-hus setelah colak-colek nakal di cobek.

Saya belum sanggup berdiri usai menyantap mengipung/mengilau haruan bakar sisa. Turunakan nasinya dulu. Kami lupa beberapa kali bersopan santun ketika menambah kautan nasi. Kenikmatan makan siang inilah yang tidak pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk lalu lintas perkotaan. Dan sayangnya, kami tak sempat berfoto ketika ini, sama sekali.

Semua usai, obrolan dan suasana terangnya suasana beranda rumah mengantarkan jarum jam dinding menuju angka 2. Setelah menggabungkan dua kewajiban berjamaah dengan Bungker, mempersiapkan segala. Packing ala touring. Berpamitan dengan segala kebaikan perangai, berterima kasih yang tak terhingga, dan sama-sama saling mengucap, “Jangan jara lah,” dan dijawab “Pian nang jangan jara,” sebagai penutupnya.

Kami melintas menuju jalan raya Kota Ampah di bawah terik mentari yang tiada terdinding. Entah, tampaknya sediki sekali awan menjelang sore ini. Tapi tenang, botol-botol minuman kami sudah terisi kembali. Diisi ulang.

Ya, setelah Kota Ampah, Saya harus mengejar wilayah berjaringan internet perkotaan selanjutnya, yakni Buntok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Obol, perjalanan Ampah Buntok memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati adalah pemukiman di atas rawa, persis seperti jalur Desa Sungai Tabuk dari Martapura menuju Banjarmasin.

Rumah-rumah tinggi di atas rawa dan pepohonan rindang di pinggiran jalan seakan membuat kesejukan perjalanan ini. Tanpa terlena, kami memacu kendaraan, karena saya sudah meminta waktu mereka untuk menunggu ketika saya mengetik berita nantinya.

“Dear all, sampai di kota kita harus mencari wifi id. Atau jika tak ada, kita singgah di warung/café yang ada colokan listriknya. Kurasa portable wifi di smartphone pada jaringan perkotaan bisa diandalkan,” ucapku.

“Pokoknya selesaikan saja urusan pian. Bila semua selesai, dan pian tenang. Kami tenang jua,” ucap Haji Udin diamini yang lainnya.

Saya belum pernah sama sekali menjejakan kaki di Kota Buntok. Dan ini adalah kali pertama, ketika lampu merah membuat kami berhenti, dan saya menurunkan kaki sebelah kiri ke aspal.

Selamat Datang di Kota Batuah, begitu kata plang yang terpampang besar di hadapan. Belok kiri melewati Jalan Pelita melalui Balai Kota. Saya menyempatkan membuka google maps untuk mencari Kantor Telkom. Ternyata kami salah jalur. Lantas kembali memutar ke arah dermaga. Damn, kami menemukannya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-03_com.instagram.android

Check point 4. Saya membuka semua peralatan kerja, menyambungkannya ke colokan listrik yang tersedia dan telah terhubung dengan internet. Saya mulai berselancar. Sedangkan Obol dan Haji Udin mencari kios untuk membeli beberapa minuman dingin.

Proses tersebut memakan waktu kurang dari satu jam. Di waktu itu pula, ternyata Bungker sempat-sempatnya tidur dengan pulas di bawah naungan wifi id berwarna merah. Done, tugas rampung, kami berangkat menuju Palangkaraya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-08_com.instagram.android

Satu belokan saja. Ya hanya satu belokan dengan plang kecil tanda panah yang bertuliskan Palangkaraya, kami akan tiba di tempat tujuan. Jembatan kecil, yang tidak bisa dikatakan bagus, dengan pemandangan hutan rimbun di hadapan.

Are you sure?” tanyaku menatap yang lain.

“Yakin?”

“Berdasarkan arahan, arah itulah yang mengatarkan kita ke tujuan!”

“Well, memangnya kita punya pilihan, Selain belok kanan surga?”

Screenshot_2016-07-19-20-02-15_com.instagram.android

Kami melaju dengan semangat. Sore itu sekitar pukul empat. Dengan tongsis di pinggang kupasang niat, menghantarkan matahari sampai tenggelam jika sempat. Karena kalau berfoto malam sudah pasti gelap pekat. Tas ransel diikat erat. Dan siapa yang tahu, ini adalah perjalanan terberat setelah ratusan kilometer yang sudah kami lewat. Sampai teruccap, “Jika lagi aku harus melalui jalur ini, cukup sekali seumur hidup melewatinya malam hari,” dan roda kami berputar dengan mantap. (bersambung)

 

Catatan Perjalanan Tamiyang Layang- Ampah (2/5)

Karena ingin sekali eksis dan menandai bahwa saya sedang berada di Kota Amuntai, maka saya niatkan untuk berfoto di icon Itik Alabio, meski sebenarnya sudah terlalu gelap. Alhasil, ketika tiba di lokasi, mood untuk berfoto saya hilang.

Pencahayaannya kurang menarik, dan tentu saja terlihat sangat buruk dalam frame foto. Kami urungkan niat berfoto di Itik dan hanya menyempatkan berfoto di Jembatan Paliwara saja. Saya tak punya lagi gambaran atau bayangan suasana jalanan yang bagaimana lagi setelah kami melewati Amuntai.

Malam semakin larut, hari semakin dingin, (klise banget ya) rasanya ingin sekali cepat tiba di lokasi. Haji Udin mengkonfirmasi sudah menghubungi Galapung (bukan nama sebenarnya, red) untuk bersiap menjemput kami di pinggir jalan raya guna membimbingnya ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari wilayah Pasar Panas, Tamiyang Layang.

Damn, Check Point 2. Di sinilah kami harus beristirahat, beruntungnya rumah yang bernomorkan 001 RT 00 1 RW 001 penghuninya sedang tidak di rumah, kami menginap berlima dengan Adiknya Asmat, (setelah diketahui, nama pemilik rumah, yang tak lain adalah kakaknya Galapung).

Sejujurnya saya tak menyangka akan tidur senyaman ini, maksudnya di atas kasur lipat, (setidaknya bukan di matras atau sarung yang sudah dipersiapkan dalam ransel). Karena kami sudah mengantisipasi kalau-kalau kemungkinan terburuk istirahat di tengah perjalanan, semisal ada musibah bocor ban, atau kondisi alam terlalu mencekam.

Galapung, dengan segala kerendahan hatinya memberikan pelayan sebaik mungkin kepada para raja yang berkunjung ke wilayahnya, menjamunya dengan sekuat tenaga, menyediakan hamparan mahligai untuk peristirahatan terbaik, dan… lebay sekali perumpamaannya.

Ya, kami mendapati kamar mandi terbaik untuk membersihkan diri, melaksanakan kewajiban, membuat minuman panas dan beberapa snack penghantar tidur. Menuju perbaringan, Bungker berpesan kepada kami “Jangan ada yang menggaraknya, awas mun wani!,” katanya. Mau bagaimana lagi.

Pukul 05.30 Wita. Saya ingat sekali karena ketika bangun menyalakan pencahyaan pada arloji. Ya, pertama, saya pernah mengungkapkan kepada sebagian kawan bahwa saya lebih mudah mengingat apa-apa yang terlihat daripada apa-apa yang terdengar. Dan kedua, saya adalah tipe manusia yang tidak suka melepas arloji dalam keadaan apa pun, baik itu tidur, atau pun mandi.

Usai kewajiban subuh, langit masih gelap membiru, mungkin mendung. Baru kusadari jika dibandingkan dengan jam dinding di rumah ini, ada perbedaan 30 menit dari waktu Martapura, lebih lambat. Untuk kadar penentuan waktu, tapi tidak untuk pergerakan matahari dan waktu sholat.

Lauk pauk dan hidangan yang tadi malam kembali dipanaskan untuk kami santap. Sebenarnya porsi begini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Ya, ini adalah salah satu moment foto makan bersama hilang, saya tak sempat memostingnya di instagram. Termasuk berfoto di depan plang nomor cantik, Nomor 001 RT 001 RW 001. Mau bagaimana lagi?

Screenshot_2016-07-19-20-01-12_com.instagram.android

Dari kiri ke kanan: Galapung, Haji Udin, Obol, saya, dan Bungker.

Sekitar pukul 08.00 Wita, setelah memanaskan mesin motor, packing keperluan prbadi, mengisi ulang botol air minum, (penghematan), dan berdoa, kami berangkat dari rumah Asmat dan juga bersama Galapung untuk mengantarkan kami ke rumah betang. Sebagian orang bilang, tugu di tengah jalan itu juga berarti perbatasan antara Kalsel dan Kalteng. Secara geografis, kami memang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah.

Adalah Desa Pasar Panas, Kecamatan Banua Lima, Taniran, Kabupaten Barito Timor, Kalimantan Tengah. Betang Lewu Hante, demikian situs ini dinamakan. Bangunan yang terbuat dari kayu terkeras di dunia ini sebenarnya hanyalah replika alias tiruan dari keadaan yang sebenarnya sebagai tempat ritual bagi masyarakat Dayak Kalteng di pedalaman, bukan di tengah jalan raya yang kami singgahi dalam perjalanan ini.

Screenshot_2016-07-19-20-01-27_com.instagram.android

Di depan patung icon masyarakat Kalteng berpakaian Adat. Dari kiri ke kanan: Galapung, Obol, Saya, Bungker, dan Haji Udin.

Meski demikian, replika ini lengkap dengan segala aksesoris yang detail. Termasuk ukiran-ukiran di kayu jatinya. Beruntung saya sendiri sempat minta fotokan di sini dan memostingnya. Walau terlanjut diedit menjadi hitam putih dan kehilangan file aslinya.

aku_kalteng

Screenshot_2016-07-19-20-01-34_com.instagram.android

Beberapa bangunan berdiri di atas tanah sekitar 2 hektar. Ada panggung terbuka yang biasa dipakai untuk pertunjukan seni, penginapan, taman, serta tak lupa dua buah bangunan rumah betang yang salah satunya difungsikan sebagai museum.

Museum memang belum buka ketika kami sampai, dan ketika momentum berfoto bersama pula, kami sempat bertegur sapa dengan ibu cantik berpakaian PNS ketat yang bertugas menjaga museum tersebut, “Selamat Pagi ibu, permisi numpat foto!,” begitu.

Screenshot_2016-07-19-20-01-40_com.instagram.android

Telah disebutkan, meski tidak masuk ke dalam, saya memunyai insting museum tersebut memiliki beberapa koleksi peninggalan jaman dahulu seperti pistol peninggalan perang, piring malawen, guci kuno, samurai jepang dan senjata tradisional dayak lainnya seperti mandau dan tombak. (Untuk lebih detailnya kamu bisa searching sendiri di google. Sudah banyak, kok yang menulisnya, red).

Screenshot_2016-07-19-20-01-47_com.instagram.android

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering disebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di pelbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Setelah dirasa puas untuk berfoto, kami berangkat menuju kunjungan selanjutnya, finish point kami adalah Palangkaraya, berarti kami masih harus melalui Kota Ampah, Buntok, dan Timpah, sebelum melewati Sungai Kahayan Palangkaraya lewan Jembatannya, kita akan tiba pada bagian ini nanti.

Screenshot_2016-07-19-20-01-55_com.instagram.android

Semilir angin berhembus mendadak berhenti, matahari terik terlindung dedaunan nan rimbun. Aroma semesta berubah dengan bau-bauan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kami seperti melewati dinding tak kasat meta setelah tugu burung itu. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berubah. Hutan dan rumah-rumah desain bahari yang masih bertahan, kawanan kucing yang menjulurkan lidah dan kambing berkaki pendek bertebaran di sana sini. Sebenarnya ini bahasa Haji Udin yang saya pinjam untuk mendeskripsikan Anjing dan Babi. Jangan tersinggung!.

Sekitar 500 meter perjalanan santai 40Km/jam, kami singgah di rumah saudara sepupu perempuan cantik dan putih-nya Obol. Dan, Suaminya. Sekadar silaturahmi pasca idul fitri, obrolan maaf lahir bathin dan menanyakan keluarga satu dengan yang lainnya menjadi latar belakang kami bertiga untuk mengisap sebatang lisong. Setelah pamitan, kami berangkat menuju kota.

Tamiyang Layang, dengan segala kemajuan dan perkembangan kotanya, saya ingat betul, dulu sekali, mungkin 10 tahun yang lalu berkunjung ke rumah Acil alias adik dari ibu saya di kota ini dan sampai sekarang masih di sini. Saya tak berniatkan singgah karena pagi di hari kerja yang sudah barang tentu tidak akan ada orangnya di rumah. Kami berempat berhenti di kios yang masih tutup di seberang Dinas Pekerjaaan Umum Kota Tamiyang Layang. Saya mencoba menghubungi Mama Tity, (panggilan akrab, red) acil saya yang bermukim di kota ini. Hanya untuk bilang, “Ma, ulun permisi lewat di Tamiyang Layang dan kada singgah,” itu saja.

Well, nada sambung berakhir dan telepon tak diangkat, dengan prasangka posisi handphone sedang berada jauh dari pemiliknya. Mumpung jaringan internet sedang soleh-solehnya, di perkotaan, saya sempatkan memosting beberapa foto. Menjaga perhatian para follower, karena saya sudah meniatkan dari awal agar posisi saya diketahui publik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Waktu menunjukan 09.10 di arloji. Waktu setempat sudah berbeda sekitar 1 jam alias Waktu Indonesia Barat. (Berikutnya saya hanya menggunakan patokan waktu di arloji saya tanpa penyesuaian lokasi). Perjalanan dilanjutkan setelah singgah di SPBU Tamiyang Layang, menerobos deretan pepohonan besar nan rimbun di sekeliling. Dengan aspal yang tidak bisa dikatakan lebar.

Bong demi Bong selalu rutin ditampilkan di kanan dan kiri jalan. Beberapa plang peringatan “Daerah Rawan Kecelakaan” serta “Awas Tikungan Tajam” tak habis-habisnya menghalangi pandangan. Sedikit saja oleng, kamu bisa bertabrakan. Tidak banyak transportasi yang berlalu-lalang membuat setiap pengemudi menambah kecepatan, suka tak suka kita juga harus ikut-ikutan. Saya sangat suka ketika memiringkan motor saat di tikungan, layaknya pembalap Moto GP yang sering saya tonton di kost-kostan kawan. Dan tetap menjaga timbangan serta irama berakhiran –an. Ya, kan?

Karena jalanan yang cukup lengang, kami menempuh jarak kurang lebih 70km dengan waktu 2 jam kurang sedikit. Buktinya kami sampai di Bundaran Kota Ampah sekitar pukul 11.00.

Kami sempat membatalkan niat tidak mampir di Kota Ampah karena mengejar ketertinggalan waktu. Namun kembali ke perencanaan di malam sebelum berangkat, kami akan mampir ke rumah Ali, sahabat yang juga saudara se-Kampus di Martapura yang sedang berada di rumah mertuanya di Kota Ampah, dia dari Samarinda, istrinya yang dari Kota Ampah. Perlu saya rincikan lagi?

“Masih banyak waktu untuk singgah. Bagaimana?,” ujar Bungker.

“Apakah ada jaminan kita akan sebentar saja?” balasku bertanya.

“Tidak ada. Aku jamin kita pasti ditahan!”

“Maksudmu?”

“Kita akan ditahan. Tak sekadar minuman, cemilan, bahkan mungkin segala suguhan makanan yang akan menahan kita. Bahkan kita mungkin disediakan tempat tidur untuk beristirahat.”

“Sebaik itu kah? Jangan lupa, Aku juga mengejar deadline sebelum pukul empat. Kita harus sudah sampai ke kota yang kuat jaringannya untuk aku membuka email. Aku sudah menyiapkan berita wajib yang kukirim sore ini untuk terbit besok,” tegasku dengan niat agar perjalanan terus berjalan dengan lancar.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mengenal Ali. Tapi Bungker, Haji Udin, dan Obol sebagai angkatan setelahku di kampus lebih sering bercengkrama dan berbagi rasa bersama baik itu seputar urusan kampus dan kekeluargaan lainnya. Banyak cerita yang saya tidak bisa nimbrung terlalu banyak nantinya.

Saya tak menyangka jika peringatan Bungker sebelumnya menjadi kenyataan, saya juga menyayangkan karena saking nikmatnya santap siang ala desa, lupa memotonya, saya juga sangat menyayangkan… ah terlalu banyak sayang di Kota Ampah. Sayang… (bersambung)

 

 

 

 

 

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surge bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera, dan Canon Ixus 105.

ini taman yang saya maksudkan

ini taman yang saya maksudkan

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempata untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Bale Petirtan Taman Narmada

Bale Petirtan Taman Narmada

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Follow me, oke!

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Cie Amang Befoto Banar

Cie Amang Befoto Banar

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

para penjual aksesori

para penjual aksesori

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_jualan mutiaraTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

ananda_Distro“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Suasana Dalam Bus

Suasana Dalam Bus

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr...

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr…

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampongnya mereka gitu. Kita yang singgah memang benar-benar kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya... eeeaaa!!!

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya… eeeaaa!!!

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…

 

Proyeksi Pekerjaan Kegiatan Pembangunan Jembatan Jalan Zam Zam Jaelani, Kelurahan Kemuning Paket 1, Kecamatan Banjarbaru Selatan,

OLYMPUS DIGITAL CAMERADinas Pekerjaan Umum Kota Banjarbaru Bidang Bina Marga melaksankan proyeksi pekerjaan kegiatan pembangunan Jembatan Jalan Zam Zam Jaelani, Kelurahan Kemuning Paket 1, Kecamatan Banjarbaru Selatan, dengan volume jembatan 11 Meter. Pembangunan atau perbaikan jembatan tersebut didanai melalui APBD Pemko Banjarbaru Tahun Anggaran 2013 dengan nilai kontrak sebesar Rp 742.740.000.

Proyek bernomor kontrak 62/02/SP/BANG.JB-/DPU/2013 itu sudah mulai dikerjakan tanggal 28 Juni 2013 lalu oleh kontraktor CV Azhar Attoya Perkasa dengan Wakutu pelaksanaan 150 hari kalender dan 180 hari kalender disertai konsultan pengawas CV Presmatek Consultant.

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 1)

Waduk Riam Kanan

Waduk Riam Kanan

Sebenarnya, ini adalah catatan usang sepekan lalu saat melakukan perjalanan ke Riam Kanan. Ada beberapa point yang sungguh berkesan menurutku, sayang rasanya jika tak diabadikan dalam bentuk tulisan. Terlebih, aku memotret terlalu banyak. Kalau tidak dipublikasikan, nanti akan hilang saat virus menyerang hardisk dalam laptop, pc, atau portableku. Semua foto yang aku ambil dalam perjalanan ini menggunakan Digital Pocket Prosumer Camera Canon PowerShot G11. Pada awalnya, perjalanan ini biasa-biasa saja. Tak ada yang membuatku “Ngeh”. Hanya karena Kak Harie kehilangan kunci motor, kami mendadak menjadi detektif seperti dalam cerita Sherlock Holmes. Ada-ada saja. Ingin menjadi pahlawan kesiangan namun tak sampai. Apalah daya, begini ceritanya.

“Berangkat darimana, Kak Harie?”

“Dari Onoff aja. Beimbaian. Ini lagi di simpang 4. Setumat lagi aku kesitu!”

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Telepon ditutup. Aku dan Sisy berangkat menuju bengkel untuk memperbaiki kedua bola mata kuda bututku yang telah lama mati. Mumpung ada rejeki. Kasihan juga dia, sudah lama buta di waktu malam.

Kami telah merencanakan hari Senin, (20/5/2013), untuk berwisata ke Riam Kanan. Bendungan PLTA tepatnya. Namun tidak menyebrang ke Pulau Pinus, hanya sampai pinggir dermaga saja. Ada 13 orang yang berangkat (Aku termasuk dalam hitungan), Aku, Sisy, Kak Harie, Istri Kak Hari (Mama Gendhis), Gendhis, Ocha, Diah, Sari, Lutfie, Zian dan Pacarnya (Lupa namanya siapa?). Sebenarnya masih ada Syaukani dan Dillah. Namun mereka tak berangkat barengan karena Syaukani harus menunggu Dillah yang sidang skripsi di kampus. Tersebab waktu itu jumlah sepeda motor pas, satu motor ditunggangi dua orang. Kecuali Kak Harie sekeluarga, bertiga dalam 1 motor.

Syaukani, dia baru saja meraih predikat Juara Harapan I Nanang Galuh Kabupaten Banjar dan juga menyandang predikat Duta Persahabatan. Suatu kebanggaan, bukan? Dan Dillah menjelang predikan sarjana. Alhamdulillah setelah telat beberapa tahun. Sayangnya aku juga terlambat menjadi sarjana.

???????????????????????????????Pukul 15.00 kami semua telah berkumpul di sekretarian Onoff Solutindo Jl Sukarelawan Banjarbaru. Setelah berdiskusi tentang tumpang menumpang. Syaukani harus ikut Dillah yang saat itu masih di kampus. Jadilah Syaukani di antar Lutfie terlebih dulu.

Tak lama ditunggu, Lutfie telah tiba dan berkumpul bersama. Prepare segala persiapan. Dan berangkat menuju Riam Kanan. Dalam perjalanan, kami semapat juga menegur Syaukani yang menunggu Dillah di Satpam. Jongkok sambil merokok. Seperti waktu Pup. Mirip gelandangan. Padahal aku menyarankan agar dia masuk saja ke dalam gedung kampus yang berbentuk ruko itu. Namun tampaknya dia malu. Malu-malu tikus.

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jarak menuju Riam Kanan tidaklah terlalu jauh, Bro. Sekitar 16 Kilometer dari pusat kota Banjarbaru. Di sepanjang Jalan Ir PH M Noor biasa kita temui sawah-sawah dan ladang penduduk setempat. Itu di awal-awal melewati Kelurahah Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru. Namun ketika memasuki daerah Mandiangin Timur akan lebih terlihat beberapa hutan dan kebun-kebun durian. Dulu, jalan menuju wilayah ini tak senyaman sekarang. Namun beberapa kali diperbaiki tetaplah tak semulus Jalan Nasional. Sebab Jl PM Noor merupakan akses satu-satunya truk pengangkut yang mengambil batu gunung, tanah, dan pasir di wilayah Mandiangin

Waktu itu, beberapa titik jalan sedang ada pengecoran. Karena beberapa hari sebelumnya juga sempat hujar, di beberapa luas jalan juga banyak yang becek dan berlumpur tebal. Untung saja untuk pengendara roda dua diberikan jalur ruas jalan yang sudah dicor dengan semen. Jadi tak terlalu bermasalah melewati lumpur-lumpur itu.

???????????????????????????????Usai melewati pintu gerbang Wisata Tahura, di antara lapangan sepakbola dan pasar, kami singgah di rumah calon mertuaku. Sebenarnya tak terlalu penting. Sekadar meletakkan beberapa perkakas Sisy di rumahnya. Setelah berpamitan kami juga kembali berangkat ke tujuan.

Dari sini, kita akan melalu beberapa pegunungan yang sudah robek. Maksudnya beberapa lereng tampak sudah gundul dan terkeruk. Dari situlah biasanya pengusaha material mengambil bebatuan dan tanah urukan. Khususnya batu yang biasa dipakai orang-orang untuk membuat pondasi rumah atau bangunan lainnya. Yakni Batu Gunung.

Sekitar 12 Km perjalanan, kita akan melewati jurang-jurang curam yang jika kamu memandang ke bawah, cukup membuatmu merinding. Kita juga melewati wisata Tambela. Biasa dipakai untuk ajang outbond. Di dalamnya disediakan pula penginapan, kolam renang, lapangan tenis, dan fasilitas umum lainnya.

???????????????????????????????Menuju ke atas lagi, terdapat tempat wisata air terjun dari waduk Riam Kanan yang disebut orang-orang dengan bermacam versi. Ada yang menyebutkan Sungai Kembang/Sungai Kambing/Ari Terjun Aranio/ dan masih banyak lagi. Aku agak sedikit lupa istilah-istilah penamaan yang pernah disebutkan orang tentang wisata Aranio. Sayangya, lokasi itu kini telah ditutup. Sebagaimana yang aku lihat saat melewatinya. Sekecil akses menuju ke tempat itu ditutup secara permanen. Kabar terakhir yang aku dengar, beberapa waktu yang lalu tempat itu terjadi perkelahian sengit antar preman yang biasa menguasai lahan parkir. Lebih tepatnya berebut wilayah. Mereka bertikai dan berakhir dengan kematian. Entah pihak mana yang mati dan apakah memang kasusnya ditangani kepolisian setempat, aku kurang tahu. Yang jelas kami terus menuju ke atas. Setelah bagian ini, banyak tikungan-tikungan tajam dan bertebing tinggi yang kalian lewati.

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Setelah persimpangan tiga, kita menemui plang PT PLN. Itu merupakan lokasi kantor wilayah yang memang dikhususkan gupengoperasian turbin PLTA Riam Kanan. Dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Riam Kanan. Kampung itu tampak seperti di bawah lapisan bumi. Saat belok tikungan tajam kanan, kumpulan rumah-rumah klasik tampak di sebelah kiri. Pemandangan itu dibalut dengan birunya langit di latar belakangi pepohonan perbukitan. Kemudian memancar pantulan cahaya matahari di permukaan air waduk.

Kamu singgah sebentar di pintu gerbang selamat datang menunggu teman yang lain tertinggal di belakang. Ternyata Kak Harie sekeluarga, Diah, dan Sari sempat berhenti karena berfoto di tengah jalan. Dasar. Setelah semua berkumpul, lanjutlah menuju dermaga. Jalan perkampungan masih beebatuan, sampai kami semua dihadapakan pada jembatan gantung yang cukup reot dan berlubang.

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

“Jangan… aku takut. Jembatannya bergoyang saat dilewati kendaraan yang di depan sana. Biar satu persatu saja bergantian,” kata Sisy di belakangku ragu. Tiba-tiba sugesti dari juga membuatku ragu yang awalnya sudah yakin ingin tancap gas melewati. Yang lain pun sudah antri di belakang. Aku juga sempat menyuruh Sisy turun dari motor untuk berjalan kaki menyebrang untuk meringakan beban. Tapi dia menolak. Aku bingung, apakah aku hari melewatinya berbarengan dengan semua tumpangan, atau balik badan. Bagaimana nanti jika jembatan itu roboh dan kami jatuh ke jurang yang mengalir air waduk di bawahnya. Ini membahayakan. (bersambung)

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Rufaidah Suguhkan “Robohnya Surau Kami”

 Kematian tragis seorang kakek penjaga suaru itu sungguh mencekam. Mayatnya ditemukan dengan leher yang digorok oleh tangannya sendiri. Hal itu diketahui dari cerita Ajo Sidi, si pembual, yang berkisah tentang Haji Soleh. Haji solehn dicritakan masuk neraka meskipun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Mesjid. Sebgaimana yang telah dilakukan si Kakek.

Haji Soleh yang terkenal dengan sifat rajin beribadah dengan keseluruhan jiwa dan raganya memprotes Tuhan saat hari keputusan. Ajo Sidi bercerita bahwa Haji Soleh mengira tuhan lupa, lupa akan usaha ibadahnya selama hidup di dunia. Maka dari itu, Tuhan menjelaskan sebab ia masuk neraka adalah membiarkan diri melarat hingga anak cucunya. Padahal ia tinggal di tanah Indonesia yang kaya raya. Ia yang gemar beribadah saja, tetapi tidak pernah mmbanting tulang mencari nafkah untuk anak, istri, sampai, keturunannya.

Si kakek merasa tersindir dan menganggap bualan Ajo Sidi begitu serius. Kakek memutuskan untuk bunuh diri dengan menggorok leher dengan pisau cukur yang ia asah sendiri. Sedangkan Ajo Sidi yang betul-betul mengetahui, hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Naskah yang dimainkan oleh Teater Rufaidah tersebut berakar dari Cerpennya A A Navis yang berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ diadaptasi oleh Hermana AMT dan disutradarai oleh MS Arif digelar di Gedung Balairung Sari Taman Budaya, Banjarmasin, Kalsel, Senin, (24/) kemarin pada sore pukul 16.00 Wita dan Malam pukul 20.00 Wita. “Kami sengaja menampilkan visual yang lebih local seperti seperti property sarung agar terasa kental Indonesianya. Serta tatanan gerakan yang diharapkan menarik penonton,” ujarnya.

Zian Armie Wahyufi, anggota teater Rufaidah yang memerankan tokoh kakek mengaku puas dengan penampilan mereka. “Kita bersyukur dari orang tua yang support dan rela datang berbondong-bondong ke Gedung Balairung Sari, terlebih kawan-kawan yang sangat membantu suksesnya penampilan ini. Saya berharap yang pertama ini bukan yang terkahir, tetapi menjadi pengalaman dan motivasi Teater Rufaidah STIKES Muhammadiyah Banjarmasin untuk terus maju dan menampilkan penampilan terbaik berikutnya,” pungkasnya.