Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Wagub Resmi Buka Book Fair

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru3Banjarbaru Book Fair (BBF) resmi dibula oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan, Sabtu, (30/3), kemarin. Pameran buku terbesar se kalsel ini dilaksanakan dari tanggal 30 Maret 2013 sampai dengan 7 April 2013. Pembukaan tersebut juga dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi, dan sejumlah took penulis Banjarbaru.

Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi mengatakan, adanya event buku terbesar yang diselenggarakan di Kalsel ini diharapkan mampu mengembangkan minta baca. Tak hanya itu, ia juga berharap keberadaan BBF bisa menjadi penghargaan tersendiri bagi pemerindah dan masyarkat yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru“Kegiatan yang meriah selain sebagai ajang untuk menambah wawasan juga sebagai perwujudan untuk mengembangkan minat baca serta wawasan. Saya berharap Banjarbaru mampu menjadi pioneer dan inspirasi bagi daerah lainnnya,” tutur Husni.

Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru Hj Nyuliani Dardie mengaku senang sekali kegiatan tersebut telah dibuka dengan meriah dan lancar. “Ini sebagai lanjutan darui kegiatan Banjarbaru Membaca yang menghadirkan Duta Baca Nasional Andy F Noya (Presenter Kick Andy!) tahun lalu. Di BBF 2013 ini juga digelar kegiatan hiburan seperti seni budaya dan lomba band,” ungkap Nunung, sapaan akrabnya.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru6Selain itu juga, BBF diselingi dengan kegiatan seperti seminar dan workshop tentang penulis dan buku. Jika tak ada aral melintang, sejumlah artis dan penulis ibukota juga akan dating di akhir-akhir kegiatan. Termasuk artis dan bintang sinetron Asmirandah.

SMAN 7 Banjarmasin Juara

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2013 berakhir sudah. Beruntungnya, SMAN 7 Kabbanjar Banjarmasin berhasil memboyong gelar juara pertama dan berhak untuk kembali mengikuti pertandingan yang sama di tingkat Nasional di Jakarta.

Gelaran putaran final yang dilaksnakan pada Jumat, (30/3), kemarin, mempertemukan tiga sekolah terbaik yang menyingkirkan lawan dari sekolahan lain yakni SMAN Jorong, SMA Darul Hijrah Putri Martapura, dan SMAN 7 Banjarmasin. Ketiganya begitu antusias menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan dengan dinilai denganm seksama oleh 3 orang juri yakni Wakil Sekjend MPR RI Selvi Jaeni, Anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar Dr Ir Hetifah MPP dan anggota DPD perwakilan Sulewesi Barat Saifullah Malonda.

A Naufal Hajiji ketua regu dari SMAN 7 Banjarmasin mengaku, persiapan menjelang lomba tersebut telah dilaksanakan sekolahannya sejak Oktober 2012 lalu. “Tentunya gugup sekali apalagi saat seleksi dengan 33 sekolah di Banjarmasin. Ketika sampai tingkat provinsi makin gorgi karena dari sekolah lain juga hebat apalagi saat melawan SMAN 1 Kandangan dan SMA Tanjung. Sedangkan di final barusan saya sangat bahagia dan merasa beruntung karena soal yang diberikan terkahir sebagai penentu poin pemenang adalah soal yang pernah kita jawab ketika latihan di sekolahan,” ingatnya.

Penanggung Jawab Kegiatan Kepala Dinas Pendidikan provinsi Ngadimun ketika membacakan sambutan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin berucap, para pelajar terutama siswa tingkat SLTA diharapkan sudah mampu menjaga, memahami dan mengamalkan isi dari 4 pilar kehiduypan berbangsa dan bernegara tersebut. “Ini adalah bukti para pekajar Kalsel cukup antusias terhadap 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Tidak hanya tekstual tetapi juga mendalam. Diharapkan dalam kegiatan lomba ini bisa terus terlaksana dan berkembang. Serta terus melakukan pembinaan ke sekolah-sekolah” ujarnya.

Di samping itu ia juga mengharapkan sekolah yang mewakili Kalsel ke tingkat Nasional bisa bersaing dengan sehat dan juara.

Sedangkan Kasi Ketenagaan Pembelajaran dan Sistem Pengujian Dinas Pendidikan Prov Kalsel Drs H Thalmas yang juga sebagai ketua Panitia Pelaksana didampingi Hj Abdurrahim menuturkan, lomba yang telah berlangsung sejak 26 Maret 2013 itu merupakan program dari MPR RI guna membangun karakter bangsa. “Dari pemuda inilah tentunya lahir generasi penerus bangsa. Tentu keberadaan lomba ini diharapkan mampun mecetak jiwa ke pemimpinan sejati di masa yang akan datang,” katanya.

Wakil Sekjend MPR RI Selvi Zaini mengatakan, ketua MPR telah berpesan kepada bahwa begitu merindukan para pelajar tersebut untuk bertemu di Jakarta. “Ini tingkat seleksi yang ke 14 dari 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan  Penyelenggaraan merupakan kali ke e6 oleh MPR RI. Sangat diharapkan generaasi muda siswa ini mampu menjadi pemimpin Kalsel di masa mendatang bahkan memimpin Indonesia nantinya. Karena di tangan kaum mudalah nasib sebuah bangsa ditentukan,” pungakasnya. 

Pesiapan Ujicoba Dimaksimalkan

Ketua Tim Pelaksanaan Wisata Kuliner Murjani atau Car Free Night Banjarbaru Drs H Suriansyah menerangkan, sementara ini setelah ujicoba selama kurang lenbih 2 minggu, pihak kembali melakukan evaluasi menentukan titik kelemahannya. “Konsep penataan wisata kuliner malam di Lapangan Murjani akan tetap kami laksanakan. Tetapi sebelum dimulai tentu kita diskusikan kembali agar betul-betul siap,” ujarnya kepada MK, Kamis, (21/3), kemarin.

Dikatakan Suriansyah, dalam jangka beberapa hari kedepan sosialisasi diupayakan betul-betul maksimal. Termasuk sarana dan prasarana yang sangat mendukung lancarnya kegiatan ujicoba wiata kuliner malam Lapangan Murjani. “Mungkin Care Free Night nya tidak setiap malam seperti ujicoba. Nanti cukup 1 atau 2 malam saja. Tentang kapan waktu pelaksanaan tentu setelah ada kebijakan baik berupa Perwali dan ada tim pengelolanya,” tuturnya.

Sebelumnya, Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor mengaku belum bisa berkomentar banyak menyikapi persoalan yang dimaksudkan. Tersebab belum sampainya laporan kepadanya meskipun sebelumnya ia telah mengetahui kondisi tersebut. 

Perda Rumah Kost Tak Harus Idealis

Wakil Ketua DPRD Kota Banjarbaru Joko Triono mengatakan, raperda rumah kost yang saat ini masih dalam proses penggarapan terkendala pembahasan status. Salah satunya yakni pengalihan fungsi semisal rumah tinggal yang mana disewakan dan si penyewa menjadikannya bisnis kost-kostan.

“Raperda ini nantinya diharapkan fleksibel. Sejauh mana pemilik menyebutnya sebagai rumah kost maka wajib mentaati peraturan ini. Terlebih yang benar-benar bentuk bangunannya perkamar yang memang sebagai bisnis usaha si pemilik,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Selasa, (19/3), kemarim.

Di samping itu, pemilik rumah kost nantinya diharuskan tinggal di lokasi rumah kost atau paling tidak meletakkan seorang penanggung jawab atau keamanan. “Sebenarnya, jangan pula terlalu idealis semisal harus ada ruang tamu. Yang penting harus ada penanggung jawab dan keamanannya. Karena yang dikhwatirkan tak hanya penyalahan fungsi semisal menjadi tempat berkumpul yang tidak wajar, tetapi juga kerawanan akan barang-barang berharga semisal kecurian kendaraan bermotor dan peralatan elektronik,” katanya.

Rancangan raperda rumah kost nantinya diharapkan menjadi payung hukum atas keberadaannya disesuaikan dengan kondisi dan dinamika masyarakat Kota Banjarbaru. Sistem peraturan di rumah kost-kostaan itu terus dibahas secara spesifik bersama anggota DPRD Kota Banjarbaru dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Sebagian PNS Tak Paham UU Kepegawaian

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru Dr Syahriani Syahran mendorong kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkunang Pemko Banajrbaru bisa mengatur secara tegas mengenai wewenang, kewajiban, hak dan tanggungjawab setiap individualnya.

“Sebagaimana penerbitan peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010 ini didasarkan bahwa peraturan yang lama, yakni peraturan pemerintah nomor 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil dan pasal 12 peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1979 tentang pemberhentian Pegawai Negeri Sipil serta beberapa substansinya tidak sesuai lagi dengan kebutuhan saat ini,” ujarnya kepada sosialisasi PP nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS, Senin, (25/2), du Aula Gawi Sabarataan Pemko Banjarbaru, kemarin.

Dikatakannya, jumlah PNS di Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 4,7 juta orang dan dari jumlah yang sangat banyak tersebut ini tentu mempunyai sikap dan perilaku yang berbeda-beda untuk masing-masing persoanalnya. “Ada yang  berperilaku patut sesuai dengan martabat PNS. Namun, tidak jarang pula PNS yang bersikap dan berperilaku tidak sesuai dengan martabat pns. Contoh, PNS belanja untuk kepentingan pribadi pada jam kerja. Tidak tidak masuk kerja lebih dari 5 hari tanpa izin, tersangkut kasus pidana, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Menurutnya, keperluan pengaturan sikap dan perliku tersebutlah yang mendasari ditetapkannya PP No 53 tahun 2010 sebagai pengganti dari PP No 30 tahun 1980 tentang disiplin PNS. Hal tersebut dinilainya lantaran  tuntutan masyarakat terhadap peningkatan kinerja dan pelayanan PNS seiring dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. “Sehingga tupoksi PNS bisa berjalan dan kinerja PNS semakin meningkat. Apabila terjadi pelanggaran disiplin, maka dapat segera mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman disiplin terhadap PNS yang bersangkutan,” tegasnya.

Sebenarny, kata Sekda, PP nomor 53 tahun 2010 tersebut telah telah diundangkan sejak tanggal 6 juni 2010. Selain PP No 53 2010, Badan Kepegawaian Negara (BKN) juga sudah menyiapkan pengganti dari PP No 10 tahun 1979 tentang penilaian pelaksanaan pekerjaan PNS yang selama ini dikenal dengan DP3.

“Dalam PP yang baru DP3 diganti dengan kontrak kinerja yang dibuat dalam bentuk sasaran kerja pegawai (SKP), yang didalamnya memuat prestasi kerja dengan presentase penilaian sebesar 60% dan perilaku kerja 40%. Secara umum, materi peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010 masih mengatur tentang kewajiban, larangan, sanksi hukuman disiplin, pejabat yang berwenang menghukum, tatacara pemberian sanksi, pengajuan keberatan dan banding administratif,” bebernya.

Ia mengharapkan dalam sosialisasi tersebut didapatkan pemahaman dan penyamaan persepsi secara jelas dan gambalang terhadap peraturan perundang-udangan bidang kepegawaian. “Satu hal terpenting yang perlu diingat bahwa diperlukan komitmen bersama yang dimulai dari kesadaran diri dari masing-masing pribadi dalam menerapkan disiplin PNS, bukan semata-mata karena ancaman hukuman disiplin. Dengan demikian, melalui disiplin PNS dapat terwujud reformasi birokrasi dan good governance di Kota Banjarbaru,” pungkasnya.

Prihatin Kondisi Bangsa, Pemerintah Pahamkan Pancasila

Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor dalam sambutannya yang dibacakan Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran menuturkan, pemahaman tentang elemen-elemen dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika harus kembali dipahami dan ditingkatkan kepahamannya.

“Seban dewasa ini, karakter bangsa memang sedang mengalami degradasi seperti maraknya korupsi, konflik, narkoba, tawuran, dan sebagainya. Demokratisasi yang tengah dilaksanakan di negeru ini belum mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana seharusnya. Bahkan bahkan telah dicemari oleh berbagai tindakan kekerasan baik dalam bentuk konflik antar warga maupun bentuk-bentuk lainnya,” ungkapnya pada sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang juga dihadiri narasumber dari Unlam yaitu Ir H Adhriani SH MH, Kemarin.

Menurutnya, penilaiannya terhadap bangsa Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Sebab kondisi sebagian birokrasi kini tak lagi berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa indonesia yang seharusnya menjadi asas dan rambu-rambu dalam menyelesaikan segala masalah bangsa.

“Sebagai ideologi dan falsafah negara, Pancasila harus diimplementasikan dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat undang-undang dasar 1945 yang telah di amandemen sampai empat kali. Juga tidak perlu diperdebatkan karena ia mampu menyelesaikan persoalan politik dan ke negaraan sesuai dengan kebutuhan yang merupakan syarat mutlak bagi pembangunan bangsa dalam rangka mengisi kemerdekaan,” paparnya.

Dalam forum itu pula, Ir H Adhriani mengingatkan, perlu rasanya UUD 1945 dilestarikan karena memuat aturan-aturan pokok tentang penyelenggaraan negara dan pemerintah serta berisikan dasar falsafah negara dan pandangan hidup bangsa yang telah berakar dan tumbuh berabad- abad lamanya teruji melalui  perjuangan panjang dan pengorbanan.

 

“Kemantapan UUD 1945 telah menjadikan kebutuhan bagi seluruh bangsa Indonesia pada umumnya dan bagi generasi muda khususnya untuk mempertahankan dan mengamankan. NKRI juga menjadi komitmen bangsa Indonesia yang tidak bisa ditawar lagi, semangat kebangsaan yang telah ditanamkan sejak pergerakan Budi Utomo. Dan Bhineka Tunggal Ika bukanlah gagasan yang tidak bermakna,” ingatnya.

Ia mengharapkan kepada masyarakat khususnya Kota Banjarbaru paham akan pentingnya memajukan politik yang telah dialami indonesia sekaligus memberikan harapan kepada masyarakat mengenai masa depan Indonesia yang lebih baik. “Lebih akomodatif terhadap kepentingan masyarakat umum. Kita harus mampu membangkitkan kembali semangat kesatuan dan persatuan. Indonesia sebagai negara besar yang kuat terdiri dari keberagaman agama, suku, ras dan etnis tentu mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar Indonesia menjadi negara yang lebih besar dan sejahtera,” pungkasnya.