Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surge bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera, dan Canon Ixus 105.

ini taman yang saya maksudkan

ini taman yang saya maksudkan

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempata untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Bale Petirtan Taman Narmada

Bale Petirtan Taman Narmada

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Follow me, oke!

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Cie Amang Befoto Banar

Cie Amang Befoto Banar

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

para penjual aksesori

para penjual aksesori

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_jualan mutiaraTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

ananda_Distro“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Suasana Dalam Bus

Suasana Dalam Bus

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr...

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr…

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampongnya mereka gitu. Kita yang singgah memang benar-benar kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya... eeeaaa!!!

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya… eeeaaa!!!

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…

 

Wagub Resmi Buka Book Fair

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru3Banjarbaru Book Fair (BBF) resmi dibula oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan, Sabtu, (30/3), kemarin. Pameran buku terbesar se kalsel ini dilaksanakan dari tanggal 30 Maret 2013 sampai dengan 7 April 2013. Pembukaan tersebut juga dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi, dan sejumlah took penulis Banjarbaru.

Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi mengatakan, adanya event buku terbesar yang diselenggarakan di Kalsel ini diharapkan mampu mengembangkan minta baca. Tak hanya itu, ia juga berharap keberadaan BBF bisa menjadi penghargaan tersendiri bagi pemerindah dan masyarkat yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru“Kegiatan yang meriah selain sebagai ajang untuk menambah wawasan juga sebagai perwujudan untuk mengembangkan minat baca serta wawasan. Saya berharap Banjarbaru mampu menjadi pioneer dan inspirasi bagi daerah lainnnya,” tutur Husni.

Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru Hj Nyuliani Dardie mengaku senang sekali kegiatan tersebut telah dibuka dengan meriah dan lancar. “Ini sebagai lanjutan darui kegiatan Banjarbaru Membaca yang menghadirkan Duta Baca Nasional Andy F Noya (Presenter Kick Andy!) tahun lalu. Di BBF 2013 ini juga digelar kegiatan hiburan seperti seni budaya dan lomba band,” ungkap Nunung, sapaan akrabnya.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru6Selain itu juga, BBF diselingi dengan kegiatan seperti seminar dan workshop tentang penulis dan buku. Jika tak ada aral melintang, sejumlah artis dan penulis ibukota juga akan dating di akhir-akhir kegiatan. Termasuk artis dan bintang sinetron Asmirandah.

Ais Wafat, Meski Sempat Sehat

Tentu masih ingat dengan Rusyda Rihhadatul’aisy (Ais), yang beberapa waktu lalu telah diberangkatkan menuju RSU Sejahtera dan Hypolistik Salatiga, Semarang untuk menjalani pengobatan secara intensif terhadap tumor langka yang menyerang bagian kepala dan lehernya. Kini anak 9 tahun sebelumnya berstatus sebagai pelajar di RSBI SD Idaman Banjarbaru telah berpulang untuk selama-lamanya, Rabu, (7/11) pukul 01.00 dini hari.

Kabar duka itu disampaikan Drs Arie Sophian sebagai ketua kordinator Gerakan Sayang Ais untuk penggalangan dana pengobatannya. “Jadi ada sesuatu yang hati sedih. Karena memang setelah sampainya Ais di RSU Sejahtera Semarang, penyakit tersebut dianggap sebagai tumor namun langka. Sangat jarang menimpa anak seumur Ais. Selama kurang lebih dua pekan menjalani pengobatan itu, Ais sudah menunjukkan perubahan luar biasa. Seperti bengkak di kepala yang mulai mengempis, dan respeck yang baik dari Ais sendiri sehingga ada harapan yang kuat dari keluarga. Tapi kita tahu Tuhan berkehendak lain,” ungkapnya ketika menghubungi hirangputihhabang.wordpress.com, Kamis, (8/11) kemarin.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Ibunda Ais, Tania, setiap peser dari  jumlah bantuan para donator kepada Ais selalu ditunjukkan. “Terkadang dengan wajah yang berseri, ais tersenyum dan tentu mengetahui begitu besar jumlah bantuan yang ia terima dan berapa jumlah terkuras untuk pengobatannya,” tutur Arie menceritakan Tania ketika melawat ke rumah duka Jl Trikora Komplek Green Tasbih Blok Wukuf A No 25.

Dana sejumlah 108 jutaan merupakan saldo terkahir rekening Ais. Yang membuat Tania tak tahan lagi membendung air mata, saat Ais berucap agar sisa uang tersebut dipergunakan untuk panti asuhan dan membangun musholla. “Jikalau nanti Ais meninggal, sisa uangnya dikasihkan ke panti asuhan saja. Jika masih cukup untuk membangun musholla,” ucap Tania dengan mata lebam menceritakan ucapan Ais itu. Padahal, kata Tania, ia sebagai orang tua pun tidak sempat terpikirkan untuk menggunakan uang itu kemana.

Orang tua Ais, Ruszali (ayah) dan Tania (ibu) berterima kasih kepada seluruh masyarkat Banjarbaru yang telah perhatian, rekan wartawan di Banjarbaru yang telah memberitakan, Jajaran Dewan Kota Banjarbaru, Arie Sophian sekeluarga yang mana Ais merupakan sahabat dari putrid Arie Sophian -Karin-, serta terkhusus sejumlah donator yang menyumbangkan rejekinya demi kesembuhan Ais. “Sebagaimana pesan Ais, kita sudah melakukan survey ke beberapa panti asuhan di Banjarbaru yang memang belum ada musholla. Maka dipastikan dana tersebut insyaAllah cukup untuk pembangunan Musholla di panti asuhan yang dimaksud,” terangnya.

Rusyda Rihhadatul’aisy wafat pada Rabu, (7/11) pukul 01.00 dini hari dan dimakamkan pada Rabu malam, (7//11) usai disholatkan di Mesjid Agung Al Munawwarah Jl Trikora Banjarbaru ba’da Magrib. Dengan terbitnya berita ini, rekening BNI: 4545-000-466 atas nama: Russyda Rihhadatul’Aisy telah ditutup. Dan sejumlah dana ditarik untuk amal jariyah pembangunan musholla serta bantuan ke salah satu panti asuhan di Banjarbaru.

Uvaya dan IKPTK Serahkan Bantuan, Gerakan Sayang Ais Kota Banjarbaru

Kepedulian Masyarakat Banjarbaru kepada Rusyda Rihhadatul’Aisy yang menderita tumor ganas di kepala dan lehernya semakin ditunjukkan dengan banyaknya para penyumbang terlebih dari sekolahan-sekolahan yang terletak di Banjarbaru.

Tak hanya itu banyak banyak juga di antaranya yang menyumbang dari pihak kampus seperti yang dilakukan para mahasiswa dari Uiversitas Ahmad Yani (UVAYA) yang menyerahkan bantuan langsung secara simbolis kepada Sekretaris Koordinator Gerakan Sayang Ais Drs Yanie Makkie. “Memang kalau dari nominal jauh dari harapan. Hanya 500 ribu rupiah Tapi setidaknya bantuan kita ini bisa meringankan beban. Ini sebagai aksi sosial kami juga dari Mapala Arga. Hasil sumbangan itu terdiri dari beberapa kawan-kawan dan jajaran dosen Uvaya,” ujar senior Mapala Arga Nurul Huda didampingi Angga Arta sebagai ketua pelaksana di Ruangan Sekretaris DPRD Kota Banjarbaru, Senin, (15/10) kemarin.

Angga Arta dalam hal ini mengharapkan bantuan yang tidak seberapa tersebut bisa turut meringakan orang tua Ais dan mempermudah proses penyembuhannya. Di waktu yang bersamaan pula Ikatan Alumni Kepamong Prajaan (IKPTK) juga menitipkan bantuan berupa uang tunai senilai Rp 1.100.000.00 diserahkan oleh Fitrianor Msi dan disambut langsung oleh Sekretaris Gerakan Sayang Ais Yanie Makkie. “Mudahan-mudahan semua pertolongan dan keikhlasan para penyumbang  menjadi berkah. Ini sebagai bukti ungkapan rasa sayang kita kepada Ais yang mana warga kita Kota Banjaarbaru. Kita mengharapkan kegiatan ini juga bisa menggugah yang lain untuk turut berpartisipasi menyumbang guna meringankan beban orang tua Ais,” pungkasnya.

Berikut Daftar Penyumbang Yang telah Masuk ke Rekenening Rusyda Rihhadatul’aisy per tanggal 12 Oktober 2012

No. Nama Penyumbang Jumlah Saldo
Saldo Awal Rp 56.082.200.00
1. SDN Banjarbaru Utara 3 Rp 1.315.700.00 Rp 57.397.900.00
2. SDN Islam Al Mansur Rp 350.000.00 Rp 57.747.900.00
3. SDN Sungai Besar 6 Rp 394.300.00 Rp 58.142.200.00
4. SDN Landasan Ulin Barat 1 Rp 650.100.00 Rp 58.792.600.00
5. SDN Landasan Ulin Timur 5 Rp 936.000.00 Rp 60.121.100.00
6. SDN Sungai Besar 7 Rp 425.000.00 RP 60.546.100.00
7. SDN Sungai Besar 5 Rp 533.000.00 RP 61.079.100.00
8. SDN Sungai Besar 3 Rp 105.000.00 Rp 61.184.100.00
9. SDN Sungai Besar 2 Rp 737.000.00 Rp 61.921.100.00
10. SDN Sungai Besar 4 Rp 500.000.00 Rp 62.421.100.00
11. SDN Banjarbaru Kota 9 Rp 1.270.000.00 Rp 63.691.100.00
12. NN Rp 100.000.00 Rp 63.791.100.00
13 NN 2 RP 100.000.00 Rp 63.891.100.00
  Total Akhir Rekening Rp 63.891.100.00

 

Diduga Malpraktek, Anak 9 Tahun Menderita Tumor

Ais difoto 9sebelah kanan foto pakai topi) sebelum kena tumor ganas yang membuat kepalanya membengkak

Ais difoto 9sebelah kanan foto pakai topi) sebelum kena tumor ganas yang membuat kepalanya membengkak

Rusyda Rihhadatul’aisy (Ais), Siswi SD RSBI Kota Banjarbaru yang berumur 9 tahun ini terpaksa istirahat mengikuti pelajaran di sekolahnya lantaran menderita tumor ganas. Menurut Laboratorium Patalogi Anatomi RS Islam Banjarmasin, Ais menderita tumor yang dalam bahasa kedokteran bernama Fibrous tumor intermediate malignancy.

Penyakit tersebut sudah ia derita dua bulan belakangan. AirAis hanya bisa terbaring ketika sejumlah wartawan, teman sekolah, guru dan orang tua siswa lain menjenguk di rumahnya Jl Trikora Komplek Green Tasbih Blok Wukuf A No 25, Senin, (1/10), kemarin.

Orang tua Ais, Ruszali (45) yang berstatus sebagai PNS di Dinas Perkebunan Banjarbaru ini mengaku, awalnya sekitar akhir 2011 Ais mengaku kepalanya terjeduk pintu di sekolahan. “lalu ketika diraba ada benjolan kecil di kepala. Ternyata setelah kurang lebihn dua bulan kita bawa ke rumah sakit,” katanya.

Pertama kali ia mengaku membawa Ais, anak kedua dari dua bersaudaranya itu,  ke RS Sari Mulia Banjarmasin untuk diagnosis. Alih-alih berkurang, tumor yang sudah bercokol dikulit kepala Ais malah semakin membesar. “Jadi setelah dioperasi makin membengkak. Kata Dokter Eko, ada tumbuh tumar karena luka di kepala. Dan infeksi di kepala itu lalu turun ke leher sebelah kiri, sampai sekarang,” ujarnya menceritakan dengan tabah.

Kemudian ia kembali membawa Ais beberapa kali ke rumah sakit. Semisal RS Ulin, RS Islam, dan ke Dokter Specialis lainnya. “Dan permulaan yang memvonis Ais terkena tumor ya di RS Sari Mulia. Rencananya akan saya bawa ke RSU Sejahtera dan Hypolistik Salatiga, Semarang. Karena info keluarga disana ada pengobatan medis yang disandingkan dengan akupuntur cina untuk menangani penyakit seperti ini,” jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sampai 5 Kali Salah Suntik

Tania (45), ibu dari Ais mengaku sangat miris harinya melihat kondisi anaknya seperti sekarang. Sembari ia memperlihatkan foto Ais yang bersama kakaknya Nita Yusrina (11). “Sudah tidak ingin lagi balik ke rumah sakit di sini. Khawatir mengecewakan lagi. Kita sangat khawatir apalagi Ais bercerita waktu itu disuntik sampai 5 kali gara-gara perawat yang menangai tidak ketemu mencari uratnya. Pada akhirnya disuntik dimata kaki karena tidak ketemu ditangan. Kasihan dia yang merasakan sakitnya. Seharusnya untuk mengangaki anak-anak itu yang berpengalaman,” tuturnya kepada penulis hirangputihabang.wordpress.com.

Operasi tersebut telah berlangsung setahun yang lalu sekitar akhir tahun 2011. Tania mengatakan, Rekomendasi dari pihak rumah sakit menginginkan agar Ais dikemoteraphy saja. “Tetapi inisiatif kita agar dibawa ke RSU Semarang saja dengan surat izin layak terbang dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru,” katanya.

Dikatakan Tania, berat badan Ais pun turun drastic 10 kg semenjak benjolan di kepala itu semakin membesar. “Beruntung Ais sempat mengikuti ujian kenaikan kelas. Ais mengaku tidak sakit, tetapi gatal itu yang tidak bias ditahan. Kalau makannya normal saja,  kali sehari. Berdiri dan duduk pun bisa saja. Tetapi beginilah keadaan fisiknya,” ungkap Tania dengan sabar dan mata lebam.

Jika tak ada aral melintang, Ais akan diterbangkan hari ini dari Bandara Syamsudin Noor ke Semarang untuk menjalani pengobatan di RSU Sejahtera dan Hypolistik Salatiga, pukul 17.30 Wita.

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian beserta Isrti, yang menjenguk ke kediaman Ais mengaku prihatin. “Kebetulan Ais ini teman satu sekolah putri saya, Karin. Yang mana Ais pun sering kerumah untuk belajar bersama Karin. Setelah mendengar kabar in, agar melihat secara langsung maka saya putuskan untuk menjenguk dan ternyata sampai separah ini penyakit yang dideritanya,” ungkapnya sembari memberikan sekadar bantuan untuk sedikit meringankan biaya pengobatan Ais.

Arie mengaku sudah menyampaikan kondisi yang diderita Ais dengan Walikota dan rumah sakit. “Kita berharap ada yang bisa memberikan bantuan dan meringankan beban. Nah, besok (hari ini, red) ada upaya dari keluarganya untuk membawa ke semarang karena pengobtan medis yang mengawinka dengan tekni akupuntur bisa mengatasi penyaki ini. Insya Allah kita akan tetap memantau untuk memeberikan dorongan kepada keluarga. Serta masyarkat yang mampu untuk turut membantu,” ujarnya.

Ruszali, Ayah Ais ketika memperlihatkan hasil ronsen kepala anaknya yang terkena penyakit tumar kepada wartawan

Ruszali, Ayah Ais ketika memperlihatkan hasil ronsen kepala anaknya yang terkena penyakit tumar kepada wartawan

Dijelaskan Arie, dengan umur seperti Ais, sangat disayangkan penyakit tersebut oleh dideritanya. “Entah karena kesalahan siapa kita tidak menduga. Jadi karena kebetulan warga kita di Banjarbaru, juga sekolah di RSBI Banjarbaru maka melalui saya dan rekan semua, kita akan pantau terus perkembangan pengobatan Ais. Dan ini telah kita koordinasikan dengan pihak pemerintah daerah. Bantuan apa saja nantinya akan kita handle dan sampaikan ke bersangkutan. Ini tak lain adalah perhatian dan kepedulian kita semua,” ingatnya.

Desti dan Karin, teman satu kelas dengan Ais mengharapkan Ais bisa cepat sembuh. “Soalnya kita sering main dan belajar bareng apalagi habis olah raga. Mudahan Ais cepat sembuh bisa sekolah dan main-main. Kami semua sayang dengan Ais,” harapnya dengan sedih.

 

Jamaah Kab Banjar dilepas Pangeran, Jamaah Kloter 3 Masuk Asrama Sabtu

Jamaah calhaj kolter 2 asal Kabupaten Banjar Emberkasi Banjarmasin yang berjumlah sebanyak 316 orang ditambah 4 orang panitia pembimbingtelah diberangkatkan tadi malam, Rabu, (26/9) sekitar pukul 20.15 Wita menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 8102. Dan diperkirakan tiba dini hari tadi, Kamis, (27/9) pukul 03.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Para jamaah yang telah memasuki asrama Selasa malam telah melalui proses cek kesehatan. Dan terkahir sekitar pukul 17.00 Wita dilakukan cek barang menggunakan sensor di Asrama Haji, Landasan Ulin Banjarbaru. Jamaah dilepas langsung secara resmi oleh Bupati Banjar Haji Pangeran Khairul Saleh yang juga didampingi Sekda Kabupaten Banjar Ir H Nasrunsyah beserta perwakilan Dari Depag Kabupaten Banjar lainnya.

Kakanwil Kemenag Kalsel Haji Abdul Halim ketika memberikan sambutan dihadapan para jamaah sangat mengharapkan, seluruh jamaah bisa berangkat dengan sehat dan kembali dengan selamat. “Alhamdulillah 99% dan hampir 100% jamaah Kab Banjar dalam keadaan sehat waalafiat. Kita mengharapkan para jamaah mampu menjaga kesehatan sebaik-baiknya dan fisik jangan terlalu diporsir. Semoga semuanya bernagkat tidak ada ketinggalan dan tidak ada yang malas untuk melaksanakan ibadah arbain di mesjid Nabawi,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar para jamaah bisa meningkatkan kesabaran dalam  dalam melaksanakan ibadah. Dan paling penting sabar dalam batatukar (berbelanja, red). “Baik itu di Madinah atau di Mekah. Karena sebagian securitu di arab pernah mengatakan, Orang Indonesia itu tidak hanya orangnya bisa betianan (hamil, red) tetapi tasnya juga bisa hamil. Jadi jangan sampai ada perselisihan paham apalagi suami istri ketika mengisi tas,” ujarnya diiringi tawa jamaah.

Bupati Banjar Pangeran Haji Khairul Saleh berpesan agart para jamaah calhaj betul-betul bisa memanfaatkan waktu ketika di mekah. “Karena pian-pian berataan orang pilihan. Soalnya banyak orang yang uangnya berlebihan namun justru tidak kepingin naik haji. Ada yang berani terhutang tapi tidak jadi berangkat karena memang tidak diundang. Aplagi yang tidak ada uang sama sekali. Maka para jamaah calhaj ini adalah tamu-tamu Allahj SWT,” ingatnya.

Ia juga berpesan agar para jamaah bisa menjaga nama baik daerah dan nama baik keluarga. “Jadi kalau ada persoalan dengan jamaah lain upayakan sabar. Sesama Sesama jamaah pasti ujiannya sama sesuai kadar kemampuannya. Tetapi tak ada balasan lain selain surge. Kita mendoakan selamat dan pulanng membawa semangat menjadi haji mabrur,” katanya.

Di samping itu, ia juga mengucapkan syukur atas bantuan H Pangeran Heriansyah yang menyumbang jamaah haji berupa beras 5 liter. “Itu inisiatif beliau yang kita ikuti karena meang tidak ada anggaran di pemerintah daerah. Semoga semua kabul hajat sehat dengan mengharapkan ridho Allah,” harapnya.

Salah seorang jamaah, Rusmawardi (60) mengaku sangat bersyikur. “Alhamdulillah. Saya menunggu 5 tahun pemberangkatan ini. Dan ketika cek kesehatan saya sehat. Mudah-mudahan sampai,” ungakpnya.

Menurut jadwal Pemberangkatan dari PPIH, para jamaah calhaj koloter 3 Kota Banjarmasin akan check in ke Asrama Haji pada Sabtu, (29/9) pukul 10.00 Wita dan akan diberangkatkan pada Minggu, (30/9), pukul 09.45 Wita.