Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 2)

???????????????????????????????Akhirnya dengan perlahan dan bergoyang-goyang, kami berhasil melewati jembatan gantung yang mengerikan. Sepeda motor terus lanjut ke jalan-kalan perkampungan yang lebarnya tak muat jika mobil lewat sini. Melewati rumah-rumah klasik dan sekolahan SD di perkampungan.

Langit berwarna biru yang luas terpampang di atas kepala kami. Dilanjutkan dengan pemandangan air yang terhampar di hadapan. Panasnya matahari mendadak sejuk saat aku menatap air.

“Sudah kita parkir di sini saja,” ujar Sisy. Kami memarkiran kendaraan di belokan jalan sebelum melewati jembatan yang lebih kuat. Bukan seperti jembatan sebelumnya yang bergoyang-goyang. Awalnya kami memarkirkan kendaraan berjejer di depan rumah orang-orang pribumi. Itu lantaran lebih teduh. Namun karena kurang enak, akhirnya beralih ke tempat di samping rumah orang, meskipun pana manggantang. Kecuali kendaraan Sisy yang lokasinya sudah strategis, agak teduh.

Kak Hari berfoto di Jembatan

Kak Hari berfoto di Jembatan

Masing-masing dari kami sudah melepaskan bebeberapa atribut perjalanan. Dari sarung tangan, jaket, tutup muka, dan yang paling utama, Helm. Di sepanjang jalan kami sempatkan untuk berfoto. Aku juga banyak sekali memoto aktivitas yang ada di sana. Anak-anak yang mandi timbul tenggelam di sungai. Yang menarik lagi adalah penampung yang mereka gunakan. Bukannya dari kulit ban dalam yang biasa di pakai di kota-kota. Melainkan dari kantong plastik yang ukurannya agak besar diisin dengan angin. Hasilnya, pelampung itu tampak transparan.

Kemudian perjalanan kami kami ber-12 (termasuk Gendhis yang paling kecil anaknya Kak Harie) melewati anak-anak tangga ke atas. Di tangga ini pun sempat berhenti untuk sekadar berfoto. Setelah itu maju menuju pagar yang terhalang. Awalnya kami ragi apakah jalur di sini memang terbuka untuk umum? Untung aja ada kenalan lama Sisy yang merupakan orang setempat menjamin aman. Jalur masuk tersebut sebenarnya talah di kandang dengan besi. Menyisakan sedikit ruang di ujungnya untuk dimasuki seorang manusia dengan memiringkan badan. Kebayang gak sih, bagaimana kalau si buncit yang melewati pintu gerbang ini? Untungnya semua dari kami adalah manusia bertipe tubuh ideal.

???????????????????????????????Di sebelah kiri dan kanan kami adalah tebing-tebing yang dihiasi pepohonan layaknya hutan belantara. Menurut informasi, tebing tersebut memang telah terbangun sejak jaman penjajahan Belanda. Dan akhirnya, kami sampai. Di tempat yang dimaksudkan. Sungguh, sangat-sangat tidak menarik bagiku pribadi.

“Ya sudah… kita sampai disini saja. Buka makanannya,” tutur Mama Gendhis.

Semua duduk manis. Ada yang jongkok ada pula yang sekadar bersila. Aku asih melihat-lihat ke sekililing. Di hadapan kami merupakan pintu masuk menuju kantor PLN yang menangani turbin bendungan waduk Riam Kanan terpampang kandang. Bukan kandang permanen, hanya kayu yang melintang. Di situ bertuliskan “Selain Petugas Dilarang Masuk”.

???????????????????????????????“Ayo, kak. Kita foto-foto dulu!” ujar Diah mengajakku. Bukan, tapi mengajak kami semua, siapa saja yang bawa kamera. Inilah resiko fotografer atau smartphone kameranya berkualitas. Selalu disuruh-suruh menjadi pelayang mereka orang-orang yang doyan narsis. Itu adalah kutukan kawan.

Beberapa rekan sudah berfoto di tebing yang tinggi dan curam itu. Saat itu pula Kak Hari dan Zian sudah meninggalkan kami. Dia mengeluarkan alat pancing. Katanya mau ngetes, ikan disini makannya apa. Begitu.

Beberapa dari kami sempat memikirkan, bagaimana bisa sebuah batu besar itu dibentuk rapi sedemikian rupa. Tapi ya sudahlah. Kita tidak ingin membicarakan sebuah filsafat atau sejarah. Tapi nikmati saja udara yang menyejukkan di sekitar lingkungan sekarang. Jauh dari hiruk pikuk lalu lintas. Dan terbebas dari polusi udara. Aku menarik nafas panjang. Menghirup udara segar pegunungan. Kemudian, datang seorang satpam.

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

“Mau masuk?” Katanya.

“Gak Om. Di sini saja. Piknik,” sahut seorang dari kami.

“Kalau mau masuk bisa aja. Di dalam lebih nyaman lihat pemandangan waduknya. Kalau berfoto disitu juga pasti bagus. Asal jangan langsung semua. Bergantian aja. Dua orang atau tiga orang,” kata Satpam itu mengakhiri.

Aku juga sempat memikirkannya. Nantilah setelah season foto-foto di sini usai. Salah satu di antara kami (ini sengaja kebanyakan salah satu salah satu dan salah satu. Karena aku lupa waktu itu siapa yang melakukannya) menelpon Syaukani dan Dillah yang katanya sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka tiba. Gumamku.

**

Ocha di Pinggir Jembatan

Ocha di Pinggir Jembatan

Syaukani dan Dillah datang membawa beberapa minuman botol. Namun tak sampai 5 menit, di belakang mereka menyusul sejumlah anak-anak yang tampaka dari pelajar sekolahan islam. Ternyata benar, mereka adalah rombongan Madrasah Ibtidaiyah. Aku mengetahui itu setelah bertanya-tanya ke salah seorang rekan yang juga teman Syaukani. Awalnya aku sangat bingung. Bahasa komunikasi yang dipakai bukanlah bahasa manusia. Eh, maksudnya bukan bahasa banjar yang dipergunakan kita-kita. Tapi, logat mirip-mirip bahasa Thailand. Seperti film-film Thailan yang sering kutonton. Swadikap. Phai tot. Rehe-rehe. Dan lain-lain. Ups, ternyata bahasa itu adalah bahasa Madura.

“Iya memang kebanyakan murid dan gurunya orang Madura. Sekolahannya itu di Pengaron,” jelas teman Syaukani setelah kita mengobrol banyak. Para murid yang jumlahnya hampir 60 orang itu pun juga membawa beberapa makanan ringan, minuman botol dan kaleng. Ini adalah momentum yang sangat aku sayangkan, semua sampah bekas makanan mereka di buang sembarangan di hamparan rumput hijau PLTA yang bersih. Mencolok sekali menjadi tak sedap di pandang. Semua murid juga menulis-nuliskan namanya di tebing-tebing batu. Mungkin karena memang sudah ada contoh yang mereka tiru. Kemudian pulang meninggalkan onggokan sampah-samapah tak bertuan.

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Aku dan teman-teman lainnya sempat memunguti beberapa bungkusan makanan ringan tersebut. Tapi tak semuanya. Lebih kepada lingkungan di sekitar kami berhampar dan berkumpul. Dan aku mengkhawatirkan, kami akan ditegur satpam gara-gara sampah yang berserakan. Padahal… dan satpam itu pun mendatangi kami.

“Maaf Om…” aku mendahului pembicaraan.

“Tadi ada beberapa orang siswa dan siswi katanya dari MI berlibur di sini. Sayangnya mereka sudah pulang dan meninggalkan sejumlah sampah di wilayah itu,” aku sembari menunjukkan.

“Ya, saya cuma antisipasi. Gak enak aja. Di kira kami yang menghamburkan sampah sekian banyak itu. Bahkan di setiap sudutnya,” jelasku.

“Ya sudah.. tak apa-apa. Ini serius gak mau masuk. Mumpung sepi. Dan yang jaga saya, kalau yang lain bisa gak dibolehin,” ujarnya.

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Aku menyampaikan maksud satpam itu kepada yang lainnya. Dan mereka mengangguk.

“Oke. Segera. Kami melihat-lihat di dalam,” tutupku.

Satpam itu menunggu dan beberapa dari kami berdiri untuk masuk beserta satpam tadi. Tinggal lagi Sari dan Diah tinggal untuk sementara menunggu beberapa perkakas dan makanan yang kami bawa.

Aku melihat dari beberapa yang kulihat. Kebun-kebun bunga yang terpotong dengan rapi. Kupu-kupu yang tak sempat terfoto. Juga Ular hijau yang melilit di pagar. Nah, kalau ular hijau yang ini sempat terfoto.

Aku juga sempat minta fotokan disamping plang yang berisi peringatan. Kini, semua sudah tak terkumpul, melainkan menyebar ke sana kemari. Ada yang di tengah bendungan. Juga menaiki bebatuan. Kami berfoto bersama-sama. Hanya Kak Harie yang tak sempat masuk ke sini. Sedangkan Zian telah datang menyusul kami.

**

???????????????????????????????Lama sekali kami di sini. Banyak pula obrolan serta percakapan yang saya tidak tuliskan. Apalagi foto, jangan ditanya. Hampir setiap deting. Ada yang bergaya pis, terbang, narsis, perkasa, sok imut, sok cantik, bahkan mengambil salah satu frame dalam film 5 Cm. Lihat saja fotonya yang saya tautkan dalam tulisan ini.

Demi mempersingkat waktu, cerita langsung ke kami keluar dari bendungan. Namun bergantian. Sekarang giliran Sari dan Diah yang masuk ke dalam dan berfoto-foto seadanya. Kami yang sudah keluar kembali ke titik tempat piknik membuka bungkusan nasi untuk makan. Selesai makan, kami bersiap pulang. Semua bersiap memakai perkakas dan atribut yang telah dipakai. Terlebih Gendhis yang sudah sangat ingin ketemu dengan bapakknya, Kak Harie. Sari dan Diah sudah dipanggil agar tak tertinggal. Dan kami kembali melewati medan yang sama. Hutan belantara. Anehnya, beberapa kali aku mengintip di tepi-tepian sungai aku tak melihat Kak Harie. Dimana dia? Apakah dimakan buaya?

Zian dan Pacarnya

Zian dan Pacarnya

Seketika Gendhis pun tampak khawatir. Dimana Bapak? Kok Gak Ada? Tanyanya. Kami menelusuri semak-semak belukar di balik pagar. Tapi tetap saja tidak ada. Sejumlah pagar besi yang robek kami lihati dan pandangi. Tidak ada seorang pun yang bertengger di tepian layaknya orang yang sedang memancing. Kami semakin cemas dan bingung, dimana Kak Harie sebenarnya berada? (bersambung)

???????????????????????????????

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Kantor Pembakal/Kepala Desa

Kantor Pembakal/Kepala Desa

???????????????????????????????

Ocha

Ocha

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Lutfie

Lutfie

???????????????????????????????

Diah

Diah

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Sisy

Sisy

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Spiderman or Cicakman?

Spiderman or Cicakman?

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Saat Penulis Numpang Narsis

Saat Penulis Numpang Narsis

???????????????????????????????

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

???????????????????????????????

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Syaukani Saat Beraksi

Syaukani Saat Beraksi

???????????????????????????????

Ruang Turbin Generator/Dynamo

Ruang Turbin Generator/Dynamo

???????????????????????????????

55 Cm

55 Cm

?????????????????????????????????????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 1)

Waduk Riam Kanan

Waduk Riam Kanan

Sebenarnya, ini adalah catatan usang sepekan lalu saat melakukan perjalanan ke Riam Kanan. Ada beberapa point yang sungguh berkesan menurutku, sayang rasanya jika tak diabadikan dalam bentuk tulisan. Terlebih, aku memotret terlalu banyak. Kalau tidak dipublikasikan, nanti akan hilang saat virus menyerang hardisk dalam laptop, pc, atau portableku. Semua foto yang aku ambil dalam perjalanan ini menggunakan Digital Pocket Prosumer Camera Canon PowerShot G11. Pada awalnya, perjalanan ini biasa-biasa saja. Tak ada yang membuatku “Ngeh”. Hanya karena Kak Harie kehilangan kunci motor, kami mendadak menjadi detektif seperti dalam cerita Sherlock Holmes. Ada-ada saja. Ingin menjadi pahlawan kesiangan namun tak sampai. Apalah daya, begini ceritanya.

“Berangkat darimana, Kak Harie?”

“Dari Onoff aja. Beimbaian. Ini lagi di simpang 4. Setumat lagi aku kesitu!”

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Berkumpul di depan sekretariat Onoff Solutindo untuk persiapan menuju Riam Kanan

Telepon ditutup. Aku dan Sisy berangkat menuju bengkel untuk memperbaiki kedua bola mata kuda bututku yang telah lama mati. Mumpung ada rejeki. Kasihan juga dia, sudah lama buta di waktu malam.

Kami telah merencanakan hari Senin, (20/5/2013), untuk berwisata ke Riam Kanan. Bendungan PLTA tepatnya. Namun tidak menyebrang ke Pulau Pinus, hanya sampai pinggir dermaga saja. Ada 13 orang yang berangkat (Aku termasuk dalam hitungan), Aku, Sisy, Kak Harie, Istri Kak Hari (Mama Gendhis), Gendhis, Ocha, Diah, Sari, Lutfie, Zian dan Pacarnya (Lupa namanya siapa?). Sebenarnya masih ada Syaukani dan Dillah. Namun mereka tak berangkat barengan karena Syaukani harus menunggu Dillah yang sidang skripsi di kampus. Tersebab waktu itu jumlah sepeda motor pas, satu motor ditunggangi dua orang. Kecuali Kak Harie sekeluarga, bertiga dalam 1 motor.

Syaukani, dia baru saja meraih predikat Juara Harapan I Nanang Galuh Kabupaten Banjar dan juga menyandang predikat Duta Persahabatan. Suatu kebanggaan, bukan? Dan Dillah menjelang predikan sarjana. Alhamdulillah setelah telat beberapa tahun. Sayangnya aku juga terlambat menjadi sarjana.

???????????????????????????????Pukul 15.00 kami semua telah berkumpul di sekretarian Onoff Solutindo Jl Sukarelawan Banjarbaru. Setelah berdiskusi tentang tumpang menumpang. Syaukani harus ikut Dillah yang saat itu masih di kampus. Jadilah Syaukani di antar Lutfie terlebih dulu.

Tak lama ditunggu, Lutfie telah tiba dan berkumpul bersama. Prepare segala persiapan. Dan berangkat menuju Riam Kanan. Dalam perjalanan, kami semapat juga menegur Syaukani yang menunggu Dillah di Satpam. Jongkok sambil merokok. Seperti waktu Pup. Mirip gelandangan. Padahal aku menyarankan agar dia masuk saja ke dalam gedung kampus yang berbentuk ruko itu. Namun tampaknya dia malu. Malu-malu tikus.

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jalan ir P HM Noor Kecamatan Karangintan

Jarak menuju Riam Kanan tidaklah terlalu jauh, Bro. Sekitar 16 Kilometer dari pusat kota Banjarbaru. Di sepanjang Jalan Ir PH M Noor biasa kita temui sawah-sawah dan ladang penduduk setempat. Itu di awal-awal melewati Kelurahah Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru. Namun ketika memasuki daerah Mandiangin Timur akan lebih terlihat beberapa hutan dan kebun-kebun durian. Dulu, jalan menuju wilayah ini tak senyaman sekarang. Namun beberapa kali diperbaiki tetaplah tak semulus Jalan Nasional. Sebab Jl PM Noor merupakan akses satu-satunya truk pengangkut yang mengambil batu gunung, tanah, dan pasir di wilayah Mandiangin

Waktu itu, beberapa titik jalan sedang ada pengecoran. Karena beberapa hari sebelumnya juga sempat hujar, di beberapa luas jalan juga banyak yang becek dan berlumpur tebal. Untung saja untuk pengendara roda dua diberikan jalur ruas jalan yang sudah dicor dengan semen. Jadi tak terlalu bermasalah melewati lumpur-lumpur itu.

???????????????????????????????Usai melewati pintu gerbang Wisata Tahura, di antara lapangan sepakbola dan pasar, kami singgah di rumah calon mertuaku. Sebenarnya tak terlalu penting. Sekadar meletakkan beberapa perkakas Sisy di rumahnya. Setelah berpamitan kami juga kembali berangkat ke tujuan.

Dari sini, kita akan melalu beberapa pegunungan yang sudah robek. Maksudnya beberapa lereng tampak sudah gundul dan terkeruk. Dari situlah biasanya pengusaha material mengambil bebatuan dan tanah urukan. Khususnya batu yang biasa dipakai orang-orang untuk membuat pondasi rumah atau bangunan lainnya. Yakni Batu Gunung.

Sekitar 12 Km perjalanan, kita akan melewati jurang-jurang curam yang jika kamu memandang ke bawah, cukup membuatmu merinding. Kita juga melewati wisata Tambela. Biasa dipakai untuk ajang outbond. Di dalamnya disediakan pula penginapan, kolam renang, lapangan tenis, dan fasilitas umum lainnya.

???????????????????????????????Menuju ke atas lagi, terdapat tempat wisata air terjun dari waduk Riam Kanan yang disebut orang-orang dengan bermacam versi. Ada yang menyebutkan Sungai Kembang/Sungai Kambing/Ari Terjun Aranio/ dan masih banyak lagi. Aku agak sedikit lupa istilah-istilah penamaan yang pernah disebutkan orang tentang wisata Aranio. Sayangya, lokasi itu kini telah ditutup. Sebagaimana yang aku lihat saat melewatinya. Sekecil akses menuju ke tempat itu ditutup secara permanen. Kabar terakhir yang aku dengar, beberapa waktu yang lalu tempat itu terjadi perkelahian sengit antar preman yang biasa menguasai lahan parkir. Lebih tepatnya berebut wilayah. Mereka bertikai dan berakhir dengan kematian. Entah pihak mana yang mati dan apakah memang kasusnya ditangani kepolisian setempat, aku kurang tahu. Yang jelas kami terus menuju ke atas. Setelah bagian ini, banyak tikungan-tikungan tajam dan bertebing tinggi yang kalian lewati.

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Kak Hari Sekeluarga 1 Motor Bertiga

Setelah persimpangan tiga, kita menemui plang PT PLN. Itu merupakan lokasi kantor wilayah yang memang dikhususkan gupengoperasian turbin PLTA Riam Kanan. Dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Riam Kanan. Kampung itu tampak seperti di bawah lapisan bumi. Saat belok tikungan tajam kanan, kumpulan rumah-rumah klasik tampak di sebelah kiri. Pemandangan itu dibalut dengan birunya langit di latar belakangi pepohonan perbukitan. Kemudian memancar pantulan cahaya matahari di permukaan air waduk.

Kamu singgah sebentar di pintu gerbang selamat datang menunggu teman yang lain tertinggal di belakang. Ternyata Kak Harie sekeluarga, Diah, dan Sari sempat berhenti karena berfoto di tengah jalan. Dasar. Setelah semua berkumpul, lanjutlah menuju dermaga. Jalan perkampungan masih beebatuan, sampai kami semua dihadapakan pada jembatan gantung yang cukup reot dan berlubang.

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

Lutfie Sedang Narsis Saat Perjalanan Menuju Riam Kanan

“Jangan… aku takut. Jembatannya bergoyang saat dilewati kendaraan yang di depan sana. Biar satu persatu saja bergantian,” kata Sisy di belakangku ragu. Tiba-tiba sugesti dari juga membuatku ragu yang awalnya sudah yakin ingin tancap gas melewati. Yang lain pun sudah antri di belakang. Aku juga sempat menyuruh Sisy turun dari motor untuk berjalan kaki menyebrang untuk meringakan beban. Tapi dia menolak. Aku bingung, apakah aku hari melewatinya berbarengan dengan semua tumpangan, atau balik badan. Bagaimana nanti jika jembatan itu roboh dan kami jatuh ke jurang yang mengalir air waduk di bawahnya. Ini membahayakan. (bersambung)

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Zian, Owner BukuMurah.net dan kekasihnya juga sempat terfoto

Perjuangan Di Haul ke-8 Guru Sekumpul

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Penuh perjuangan. Itulah yang tersirat dalam pikiran saat aku menghadiri Haul ke-8 Al Alimul Alamah Asyekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa dengan Guru Sekumpul.

Pukul 17.30. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tulisan untuk mengisi salah satu halaman koran. Setelah sebelumnya mengikuti kelas penulisan Novel bersama dua orang penulis Kalsel favoritku. Bagiku, menjelang petang merupakan waktu yang sudah terlalu terlambat untuk menghadiri haulan Guru Sekumpul. Karena seperti yang kalian ketahui, Pengajian beliau saja sudah beribu-ribu umat manusia yang menghadiri. Apalagi ketika beliau wafat, dan haulan-haulan dari 1 sampai ke 7 kalinya diadakan. Setiap tahun, jamaah yang berhadir selalu bertambah dan melebihi hitungan angka manusia.

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Memakai kopiah haji, berbaju Taqwa berwarna hitam dan celana panjang yang juga warna hitam. Tas kamera berwarna hitam diselempangkan di pinggang. Bayangkan, seperti apa saya kelihatannya, seperti kotoran berkaki empat kah? Ya, mungkin saja. Tapi warnanya hanyar terbalik.

Lalu lintas memang sudah padat merayap. Panitia dan tim keamanan haul pun sudah berjaga-jaga di tiap persimpangan. Aku berangkat dari Banjarbaru Kota melewati jalan Sei Pering dan tembus ke Guntung Alaban Komplek Sekumpul Martapura. Sayangnya semua kendaraan bermotor harus berhenti di sini. Semua jamaah diharuskan berjalan kaki untuk menuju Musholla Ar-Raudhah. Aku memutuskan untuk memarkirkan kuda besi butut yang tak punya mata -karena lampu depannya rusak dan tidak menyala- ini parkir di halaman rumah orang. Rumah bedakan, yang diseberangnya rental penyewaaan mobil. Jarakanya masih cukup jauh untuk pejalan kaki memasuki sekumpul. Sekitar 1 Km.

???????????????????????????????Di persimpangan Jl Pendidikan sudah terlihat shaf-shaf rapi para jamaah yang sudah membaca shalawat sebelum adzan magrib berkumandang. Tidak menyangka, kukira seperti tahun sebelumnya, jam segini jalan Guntung Alaban setahuku belum dijadikan shaf-shaf tempat jamaah yang sholat. Karena tahun sebelumnya jamaah lebih banyak di belakang untuk mengikuti imam di Mushola Ar-Raudhah. Kalau di depan tentu tak bisa. Maka dari itulah sebagian jamaah memilih imam sendiri untuk sholat berjamaah di beberapa titik di depan Musholla.

Selanjutnya, aku bertemu dengan seorang yang sudah akrab denganku. Seorang politis yang juga tak jarang menjadi narasumber.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

“Eh, kemana hibak sudah urangnya?” Ujarnya dengan maksud menyapa dan langsungg menarik lengan kananku. Namanya H Jumli, anggota DPRD Kota Banjarbaru yang tinggal di Kecamatan Cempaka. Saat itu, entah dengan anak atau keponakan, ia duduk di warung gorengan untuk sekadar menunggu adzan magrib berkumandang.

Eh, Om. Lawan siapa pian? Kada handak ke dalam, kah?”

“Mana lagi kawa ke dalam jam seini.”

“He en lah. Aja beduduk ai dulu setumat nah. Bekajal banar jua sudah tadi ulun.”

“Minumkah dulu? Pesan gin?”

“Kada, ulun beduduk setumat aja habis tu bekeraut pulang begamatan ka tangah situ,” kataku mengakhiri percakapan.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Aku duduk sejenak. Menarik nafas. Dan mengeluarkan kamera dalam tas yang berselempang. Aku memotret beberapa suasan jamaah yang duduk dengan zikir dan shalawat. Ada juga yang membaca Al-Quran atau melihat-lihat jamaah lain yang berlalu lalang. Frame demi frame telah kuambil. Setelah dirasa cukup, aku beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan yang berat. Jarak yang cukup dekat, namun harus ditempuh dengan hati-hati dan akurat. Karena kuyakin, akan banyak jamaah yang membenci orang sepertiku. Salah langkah, bisa saja kakiku menimpa kepala-kepala mereka.

“Permisi Om lah. Ulun harus bejalan ke tengah!”

“Oh, Silahkan! Kalau untuk liputan spot disini memang kurang cocok,” sahutnya sembari aku melanjutkan langkah perlahan.

Suasana di Dalam Musholla

Suasana di Dalam Musholla

Nah, aku akan berbagi tips untuk berjalan di sekumpulan orang-orang yang siap akan sholat. Sebenarnya ini tidak akan kulakukan kalau aku sekadar ingin hadir mengikuti semua amalan secara runtun, berdzikir, bershalawat, sholat berjamaah, dan membaca puji-pujian kepada Rasulullah. Tapi kali ini bukan tempo sewaktu aku masih Santri Pondok Pesanten Darussalam. Kali ini aku membawa tanggungjawab sebagai seorang bujangan yang berprofesi menjadi wartawan. Atau lebih tepatnya sebagai seorang Jurnalis, karena aku tak hanya diwajibkan menulis, tetapi juga memotret peristiwa, kejadian, atau apa saja yang berhubungan dengan ranah Jurnalistik lainnya. Tugas adalah tugas. Ibadah, tetap diniatkan.

Dengan kamera yang menggantung di antara ketiak sebelah kiri, aku perlahan melangkah kaki ke sajadah-sajadah para jamaah. Karena memang hamparan sajadah itulah satu-satu pijakan bagi kalian yang ingin berlalu lalang. Mungkin perjalananku baru sampai 100 meter namun sudah memakan waktu kurang lebih 15 menit. Bajuku basah karena keringat. Rasa lelah dan dahaga juga menghampiriku. Adzan magrib dari Mushollla Ar-Raudhah Sekumpul mulai menggetarkan setiap anggota badan. Beberapa jamah terlihat berdiri karena terlihat salah satu ulama, -entah siapa aku tidak melihat terlalu jelas- baru memasuki shaf dengan para protokoler panitia haul menuju mushala Ar-Raudhah. Setelah semua kembali duduk karena diperintah petugas, aku berhenti di salah satu kios portable atau lebih tepatnya gerobak dorong.

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Hari menejelang gelap dan adzan sudah usai berkumandang. Kemudian para jamaah berdiri bersiap melaksanakan kewajiban. Sedangkan aku, terperangkap di antara mereka. Aku memang tak membawa sajadah. Karena tidak berniat untuk singgah atau konsisten di satu titik saja. Melainkan harus berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk menjadi berita. Pada akhirnya aku duduk di kios tadi dan menunggu sholat berjamaah usai. Sembari memotret mereka yang sedang khusyuk menghadap Tuhan dari berbagai sudut pandang.

Perjuangan tahap kedua dimulai. Setelah melepaskan kedua sandal, aku memasang tekad untuk bermuka tebal dan rasa permisi yang kuat. Sembari mengayunkan tangan di antara pundak-pundak mereka yang beramalan wiridan selepas Sholat Magrib. Mau bagaimana lagi, tak mungkin menunggu mereka semua berdiri. Tugas adalah tugas. Bagaimanapun caranya harus aku jalankan. Tetap dengan aksi penuh kehati-hatian. Melewati putih-putih umat Rasulullah dengan segala kelas umur. Tak peduli muda ataupun tua. Semua dilewati dengan rasa sedikit bersalah. Karena tidak datang lebih awal.

???????????????????????????????Akhirnya perjalanan lama itu ditunda sementara. Aku singgah di rumah Kak Abdil yang masih berkaitan keluarga. Bapak Zani kakak dari ayahku bersama Ibu Fifah sudah ada di dalam rumah. Tapi tak semudah itu. Pagar rumah memang telah dikunci karena halaman rumah juga sudah penuh dengan jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada pilihan dan memanggil orang di dalam untuk membukakan pagar pun tidak mungkin. Singkatnya, aku masuk dengan meloncat pagar. Bayangkan berapa pasang mata yang focus melihat aksiku meloncat pagar. Ini bukan momentum konser music live lho, tapi acara keagamaan, haul Guru Sekumpul.

Dengan penuh perhitungan, tas pinggang dieratkan serta kedua sandal yang telah kulempar ke balik pagar. Aku meloncat. “Hap”, tak ada yang menangkap. Aku berhasil mendarat dan memasang kedua sandal. Dan perlahan, lagi-lagi, melewati jamaah yang masih wiridan hingga ke dalam rumah.

Hanyar ja kah? Jam berapa tadi tulak?” kata Kak Abidl menyapa.

Jam setengah enam Ka. Menuntungakan gawian dulu tadi sedikit,” jawabku.

“Beeeeeiiih… payahnya. Urang mun tulak haulan handak ke dalam tu sungsungi, jadi kada manggangu urang,” tutupnya kemudian menuju tempat beruwudhu. Dan segera aku juga menunuaikan sholat Magrib yang tertinggal dari jamaah lain.

**

???????????????????????????????“Bu, ulun langsung kaluar, amun bakaina sawat asrakal kada sampat mamutu!” itu kuucapkan setelah sebelumnya duduk di depan tv melihat tayangan langsung pembacaan Maulid Habsyi dari dalam Musholla Ar-Raudhah sekumpul.

Tampaknya tak perlu kuulang. Tapi tak apalah, tak ada melarang jika aku mendeskripsikan kembali. Karena inilah yang namanya perjuangan. Sampai di depan pagar, aku kembali melakukan perhitungan. Menghitung berapa langkah lagi aku melewati kepala-kepala dan membokongi para jamaah yang sedang khusyuk. Memang, perasaan bersalah itu singgah di dalam pikiran ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kuletakan kedua sandal di balik pagar untuk menuju keluar. Aku melakukan aksi lompat pagar untuk kedua kalinya. Di antara layar tancap itu aku melangkah, meniti jemari di antara pundak jamaah. Sampai akhirya para penjaga menghadangku di depan pintu gerbang musholla Ar-Rhaudah.

“Kada boleh masuk Ding, sudah hibak!” ujarnya.

“Setumat aja ulun Bang, handak memotret di atas aja. Boleh ai kalu lah? Ulun wartawan.”

“Darimana?”

“Wartawan di Media, bang!”

“Mana ID Cardnya?”

Penjaga itu melirik ID Card pers di dada yang sedari awal masuk telah kukalungkan. Hanya agak tertutup tali atas sehingga harus kugeserkan agar tampak.

“Ya sudah. Masuk ja”

“Arah kemana menuju tangga naik ke atas tuh?”

“Terus aja arah ke pewudhuan. Habis tu kam belok kiri masuk ke ruangan. Disitu kam sudah behadapan tangga naik ke atas.”

???????????????????????????????Dengan memegang kedua sandal di dada, aku perlahan melangkah kembali melewati titik-titik kecil hamparan sajadah jamaah. Hingga memasuki ruangan yang dimaksudkan penjaga. Kedua sandal kuletakkan di bawah anak tangga pertama. Dan perlahan menaikinya. Sampai di lantai dua aku kembali melewati cara yang sama. Hanya saja karena lantainya sudah berkeramik jadi hanya sediki sajadah yang dihampar disana. Dan sampai lah aku ke pintu keluar lantai dua. Yang tak lain adalah atap Mushola Ar-Rhaudah Sekumpul Martapura.

**

“Eh, pian ni melelain pada nang lain. Urang baju putih-putih semuanya. Pian kenapa memakai warna hirang!” ujarku menyapa bercanda Joe, salah seorang rekan fotografer yang kutepuk pundaknya di sisi jendela. Padahal ini bukan perlakuan yang baik sesame fotografer. Yakni menepuk pundak saat si fotofgrafer sedang membidik. Bisa kehilangan momentum dia.

???????????????????????????????“Ah, sama haja, situ saraba hirang jua. Sampai ka salawar lagi. Lamun aku baju aja. Salawarnya levisnya warna biru,” jawabnya sembari tawa kecil kawan-kawan di antara bacaaan rawi Maulid. Kurang beradab. Tapi yakin saja, suara kami tidak akan sampai ke dalam Musholla.

Aku mengeluarkan kamera, mengambil beberapa frame dan momentumnya. Sembari menyahut beberapa shalawat yang dilantunkan Ahmad Hafy Badali dan Muhaamad Amin Badali, keduanya adalah putra Guru Sekumpul.

Muhammad Amin yang berdagu seperti lebah bergantung, mewarisi perwajahan yang sangat mirip dengan ayahnya. Suara, gerakan bibirnya saat membaca huruf-huruf hijayah, tatapan mata, dan perawakannya yang kini telah beranjak dewasa. Mata yang penuh dengan tatapan kedalaman ilmu dan cahaya itu juga diwariskan kepada Ahmad Hafy, keterampilan, kehalusan kulit, dan gerak-gerik sang Guru hadir dalam diri keduanya. Keberadaan Amin dan Hafy seaolah-olah menjadi obat rindu para jamaah kepada Guru Sekumpul. Tak ada yang pernah bisa mendeskripsikan kebaikan rupa dan kemuliaan kedua putra Guru Sekumpul, karena nyatanya, melebihi apa-apa yang tersirat dan tersurat. Sang pewaris Quthbul Gauz.

???????????????????????????????Di atas sini kurang lebih ada 6 fotografer yang sebagian sudah saling mengenal. Dan di antara ada dua wartawan televisi lokal Kalsel yang meliput kegiatan sejak tadi sore. Mereka memang telah datang lebih awal.

Beberapa momentum pembacaan syair maulid, asrakal, sudah kita laksanakan. Beberapa frame foto juga sudah kami ambil dengan seksama dan cukup untuk pemberitaan masing-masing media cetak dan elektronik. Sejenak, kami kadang merasa beruntung karena sedikit lebih leluasa bergerak dan melihat-lihat langsung suasana di dalam Musholla. Namun bukan berarti karena telah difasilitasi oleh panitia kami rekan pers bisa semena-mena. Sesekali tetap larut dalam alunan dzikir dan shalawat yang dibaca ratusan ribu jamaah sana. Menurutku, haul kali ini lebih banyak jamaah yang datang serta lebih terkoodinir dengan solid oleh panitia. Kerja keras panitia pasti terbayarkan dengan barokah pahala yang tak pernah terhitung oleh manusia.

???????????????????????????????Setelah pembacaan Maulid Al Habsyi dilanjutkan dengan Dzikir Nasyid. Berbeda dengan tahlilan biasa. Ada dua regu yang berdzikir dengan kalimat berbeda, beberapa guru pesantren yang memang sudah dikenal dengan sebutan penyairan maulid melantunkan syair yang juga khusus untuk Dzikir Nasyid. Kemudian jamaah menyahut dengan Dzikir Tahlil. Kalimatnya berbeda beda, di Syair pertama jamaah menyahut dengan Lailahailallah. Sedangkan di dzikir kedua jamaah berucap A hu A hu Allah beberapa kali sesuai ketukan syair. Begitulah. Dan ratusan ribu jamaah itu juga harus bergerak senada dengan dzikir ke kiri dan kanan. Salah gerak sekali atau seorang saja, kepala bisa terantuk jamaah di sebelah. Apalagi jika salah satunya menggoyangkan kepala dengan kencang. Coba.

Aku melihat hamparan jamaah dalam shaf-shaf yang teratur di bawah. Seperti suasana Masjidil Haram. Yang pernah kulihat dalam televise-televisi Arab Saudi. -Karena memang aku belum berhaji. Tapi niat itu ada. Dan yakin sajalah, rejeki ke sana pasti ada. Hanya saja Allah mengatur waktu yang tepat). Dalam momentum ini, saya merinding. Memang pada momentum ini saya tidak ikut berdzikir berduduk bertelempoh seperti jamaah lainnya yang berada di bawah. Tetapi memotret dengan teknik slow shoot agar menghasilkan efek gerak pada bingkai kamera. Sesekali saya menikmati alunan tubuh yang berdzikir itu. Layaknya gelombang air laur yang berirama teratur dan perlahan. Meneduhi segala pikiran dan ingatan akan kegemerlapan dunia. Semua hilang, hilang dalam kefanaan. Melainkan hanya satu. Kepada Nya.

ananda_haul guru sekumpul ke-8 di Komplek Ar Raudah Sekumpul Martapura21Aku berdiri sembari menyandarkan kedua tangaku di pinggiran atap mushola yang bentuknya seperti plang nama nisan di kuburan muslimin. Di atas lampu neon hijau tulisan arab Mushola Ar-Raudhah. Melihat raut muka jamaah yang terpejam, terlarut, yang mabuk akan mengingat Tuhannya. Tiba-tiba getaran itu terasa dari dinding-dinding mushola. Suara “Hu” yang keluar dari ratusan ribu jamaah membuat atap-atap, dinding dan kaca mushola bergetar. Itu kurasakan setelah tanganku betul-betul memegangnya. Lalu aku bergumam, begini ternyata dahsyatnya dzikir yang dilakukan ratusan ribu kepala manusia. Bahkan aku yakin sekali, semua benda mati baik itu dinding rumah, pepohonan, tumbuhan, sampai segala pojok ruang yang ada di komplek sekumpul malam ini bergetar, turut berdizikir. Dan tentunya akibat gelombang suara “Hu” yang serempak. Itu semua terjadi. Betapa dahsyatnya gelombang suara manusia jika digabungkan. Sungguh sangat luar biasa. Ah, sungguh, aku terenyuh saat momentum ini. Sampai semua hilang tenang dan tentram saat dzikir terakhir diiringi shawalat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Rasululullah SAW.

Semua amalan telah dilaksanakan. Juga doa haul khususnya kepada Guru Sekumpul. Tinggal lagi Adzan untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Aku bersama Om Oneal, seorang fotografer ternama dari Banjarmasin berinisiatif untuk turun terlebih dahulu. Karena konsekuensinya, jika memang bertahan sampai akhir shalat Isya berjamaah, lebih baik sekaligus saja. Karena kurang nyaman jika kau memutuskan untuk berjejal-jejal. Tapi, proses itu memang harus dilalui. Seakan kita memang tak diberikan pilihan.

???????????????????????????????Keluar Musholla dengan cara yang sama. Aku berjalan di depan Om Oneal mencari-cari alur jalan yang sedikit terlihat tidak terlalu padat. Setidaknya menyisakan setapak ruang untuk jamaah yang memilih keluar. Syukurlah. Sampai kami berdua di Guntung Alaban, Iqamah usai berkumandang.

“Pian ni sengaja kada besandal kah tadi masuk ke dalam?” tanyaku kepada Om Oneal.
“Kadanya pang, sandalku di parak gerbang langgar. Tapi kada mungkin lagi jua aku maambil bacacarian, biar aja sudah barilaan,”
sahutnya.

Beberapa shaf di sebalah kanan kami sudah mengangkat takbir. Untungnya di alur sebelah kiri pinggir jalan tersedia untuk para jamaah yang keluar. Tapi tak boleh diserobot. Langkah para jamaah juga harus satu senti satu senti. Salah langkah bisa tercebur ke comberan selokan. Jadi harus antri, seperti membeli BBM di SPBU.

Akhirkanya aku terlepas dari sesak dan jejal berbagai macam aroma. Aku berjalan perlahan menuju kuda besi yang telah kuparkirkan di rumah penduduk yang jaraknya masih kurang lebih 1 Km. Jaraknya itu tak akan terasa jauh jika kalian menjalaninya bersama dengan banyak orang. Dan beramai-ramai seperti saat ini.

**

Malam semakin larut, semakin dingin, dan awan tampak lebih gelap dari sebelumnya. Beberpa “U Turn” Jalan Ahmad Yani ditutup demi kelancaran lalu lintas. Tak berlama-lama karena lalu lintas keluar juga belum terlalu padat, aku telah sampai di sekretariat kawan-kawan, Onoff Solutindo Project. Bergegas membuka komputer dan menyambungkannya ke internet. Karena kantor redaksi memang sudah menunggu hasil setoranku di malam ini. Malam perjuangan penuh berkah. Penuh keringat dan lelah. Di luar hujan turun deras sekali. Aku merebahkan diri sembari menarik nafas panjang relaksasi. Rasa syukur kuucapkan dan segera beristirahat usai melaksanakan kewajiban. Untuk kembali menemui hari yang sama dengan cerita berbeda. Dan menyaksikan hasil fotoku terbit besok di halaman depan koran. Barakallah, Allahuma Yarham, Al Alimul Alamah Syekh Zaini Abdul Ghani Sekumpul Martapura.[]

???????????????????????????????

Majelis Ta’lim Keluhkan Sikap PDAM

Sejumlah jamaah majelis Ta’lim Zawiyatul Hikmah yang terletak di Jl Kendedes Blok E, Komplek Balitan 3, Banjarbaru merasa tak terima dengan tuduhan PDAM yang mengatakan mereka mencuri air. Seperti yang disampaikan Pembina Majelis Ta’lim Arie Sophian yang juga sebagai Ketua DPRD Kota Banjarabaru mengaku tak habis piker dengan perlakuan pihak petugas PDAM itu.

“itu terjadi sekitar 10 hari yang lalu. Kami dengan Ni ID 051434 biasanya bayar paling tinggi Rp. 100.000. Tiba-tiba ada tagihan dari PDAM hamperir 4,5 juta rupiah. Tentu kita terkejut. Setelah kita periksa memang ada kebocoran di selang bagian bawah yang mengarah ke tanah. Tidak tampak terlihat jika sambil lewat. Nah, Dalam kapasitas Pembina majelis ta’lim, bukan lantaran nggota dewan, dan juga pimpinan majelis KH Husni Thamrin Al Jufri meminta keringanan dan kebijakan,” ujarnya kepada wartawan penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Kamis, (17/1), kemarin.

Namun ia sangat menyayangkan surat yang datang kepada piak majelis tetap saja tidak berubah dan tidak mengurangi sedikit pun. “Apakah kebocoran yang mengarah kepada ke rumah pelanggan tanpa diketahui itu dibebani kepada pelanggan manakala ketika ada kebocoran tanpa diketahui,” tuturnya mempertanyakan.

Bahkan yang ia paling tidak bisa diterima diprasangkai yang tidak bagus oleh direktur PDAM Rifky Basri. “Yakni, kami dikira memasukkan air tersebut ke dalam sumur. Naaudzubillahimindzalik. Itu diceritakan salah seorang anggota majelis ta’lim kami saat menghadap direktur PDAM sekaligus menyampaikan surat permohonan keringanan itu,” tambahnya.

Menurutnya, pernyataan tersebut sangat tidak mengenakan. Ia menilai pernyataan itu sama saja mengatakan pihak majelis ta’lim mencuri air pemerintah. “Ini, kan menyakitkan hati. Itu fitnah. Mestinya dilihat dulu, ada complain permasalahan barulah membuat statement. Ini termasuk perlakuan yang tidak menyenangkan dan fitnah. Kalau hal ini kami laporkan kepada pihak yang berwajib mungkin ada sanksi hukum,” tegasnya.

Di samping itu, pihaknya atas nama majelis melakukan musyawarah secara berjamaah. “Untuk pembayaran tidak mungkin dilakukan sendiri. Karena uang dengan jumlah segitu sama dengan separuh gajih anggota DPR. Tapi saya tekankan lagi, Apakah mekanisme seperti itu mejadi beban pelanggan. Sebagai pembina maupun anggota majelis kami berharap ke depan jangan sampai asalbuast statement. Periksa dulu baru buat stetment,” tandasnya.

Dikonfrimasi perihal tersebut, Humas PDAM Intan Banjar Dedy Rahmat Setiawan menjelaskan, tanggungjawab PDAM dalam pembiyaan dalam hal kebocoran yakni dari meteran air ke pipa. “Tetapi kebocoran yang terjadi setelah meteran air ke dalam rumah maka itu menjadi tanggunjawab pelanggan,” ujarnya kepada penulis.

Ia menjelaskan, keluhan tersebut sering ia temui dan kenyataan yang terjadi saat tagihan pembayaran tinggi. Namun ketika cek di lapangan ternyata kebocoran yang terjadi instalasi dari meteran ke dalam rumah. “padahal pelanggan mengaku memang pemakai tidak sesuai dengan kadar meteran tersebut namun volume air yang digunakan masyarkat,” katanya.

Lalu bagaimana kebijakan PDAM mengenai surat permohonan keringanan dari pelanggan? Ia menegaskan untuk mengurangi pembiayaan tetap tidak bisa. “Tapi PDAM bisa memberikan upaya keringanan dengan kemungkinan pelanggan membayar dengan cicilan atau diangsur beberapa kali. Tapi kalau untuk mengurangi angka tersebut secara aturan tidak diperbolehkn. Dan masalah ini menjadi tanggunjawab pelanggan. Jika dibiarkan tentu tingkat kehilangsn air kita akan semakin tinggi,” pungkasnya.

 

Jamaah Kab Banjar dilepas Pangeran, Jamaah Kloter 3 Masuk Asrama Sabtu

Jamaah calhaj kolter 2 asal Kabupaten Banjar Emberkasi Banjarmasin yang berjumlah sebanyak 316 orang ditambah 4 orang panitia pembimbingtelah diberangkatkan tadi malam, Rabu, (26/9) sekitar pukul 20.15 Wita menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 8102. Dan diperkirakan tiba dini hari tadi, Kamis, (27/9) pukul 03.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Para jamaah yang telah memasuki asrama Selasa malam telah melalui proses cek kesehatan. Dan terkahir sekitar pukul 17.00 Wita dilakukan cek barang menggunakan sensor di Asrama Haji, Landasan Ulin Banjarbaru. Jamaah dilepas langsung secara resmi oleh Bupati Banjar Haji Pangeran Khairul Saleh yang juga didampingi Sekda Kabupaten Banjar Ir H Nasrunsyah beserta perwakilan Dari Depag Kabupaten Banjar lainnya.

Kakanwil Kemenag Kalsel Haji Abdul Halim ketika memberikan sambutan dihadapan para jamaah sangat mengharapkan, seluruh jamaah bisa berangkat dengan sehat dan kembali dengan selamat. “Alhamdulillah 99% dan hampir 100% jamaah Kab Banjar dalam keadaan sehat waalafiat. Kita mengharapkan para jamaah mampu menjaga kesehatan sebaik-baiknya dan fisik jangan terlalu diporsir. Semoga semuanya bernagkat tidak ada ketinggalan dan tidak ada yang malas untuk melaksanakan ibadah arbain di mesjid Nabawi,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar para jamaah bisa meningkatkan kesabaran dalam  dalam melaksanakan ibadah. Dan paling penting sabar dalam batatukar (berbelanja, red). “Baik itu di Madinah atau di Mekah. Karena sebagian securitu di arab pernah mengatakan, Orang Indonesia itu tidak hanya orangnya bisa betianan (hamil, red) tetapi tasnya juga bisa hamil. Jadi jangan sampai ada perselisihan paham apalagi suami istri ketika mengisi tas,” ujarnya diiringi tawa jamaah.

Bupati Banjar Pangeran Haji Khairul Saleh berpesan agart para jamaah calhaj betul-betul bisa memanfaatkan waktu ketika di mekah. “Karena pian-pian berataan orang pilihan. Soalnya banyak orang yang uangnya berlebihan namun justru tidak kepingin naik haji. Ada yang berani terhutang tapi tidak jadi berangkat karena memang tidak diundang. Aplagi yang tidak ada uang sama sekali. Maka para jamaah calhaj ini adalah tamu-tamu Allahj SWT,” ingatnya.

Ia juga berpesan agar para jamaah bisa menjaga nama baik daerah dan nama baik keluarga. “Jadi kalau ada persoalan dengan jamaah lain upayakan sabar. Sesama Sesama jamaah pasti ujiannya sama sesuai kadar kemampuannya. Tetapi tak ada balasan lain selain surge. Kita mendoakan selamat dan pulanng membawa semangat menjadi haji mabrur,” katanya.

Di samping itu, ia juga mengucapkan syukur atas bantuan H Pangeran Heriansyah yang menyumbang jamaah haji berupa beras 5 liter. “Itu inisiatif beliau yang kita ikuti karena meang tidak ada anggaran di pemerintah daerah. Semoga semua kabul hajat sehat dengan mengharapkan ridho Allah,” harapnya.

Salah seorang jamaah, Rusmawardi (60) mengaku sangat bersyikur. “Alhamdulillah. Saya menunggu 5 tahun pemberangkatan ini. Dan ketika cek kesehatan saya sehat. Mudah-mudahan sampai,” ungakpnya.

Menurut jadwal Pemberangkatan dari PPIH, para jamaah calhaj koloter 3 Kota Banjarmasin akan check in ke Asrama Haji pada Sabtu, (29/9) pukul 10.00 Wita dan akan diberangkatkan pada Minggu, (30/9), pukul 09.45 Wita.