Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Danlanud Ingatkan Anak Buah Agar Tak Terlibat Persoalan Politik

Tabur Bunga di Tugu Makam Pahlawan Syuhada Landasan Ulin BanjarbaruMenyeruaknya kasus Babinsa yang terlibat dalam pengarahan politik di wilayah Jawa, Komandan Lanud Sjamsudin Noor Esron SB Sinaga peringatkan agar anak buahnya netral dan tidak terlibat dalam pergejolakan politik yang sedang terjadi.

“Mengingat dalam waktu dekat suhu politik saat semakin meningkat dengan akan dilaksanakannya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, agar prajurit Koopsau beserta jajarannya untuk tetap memegang teguh komitmen Netralitas TNI, tidak terlibat dalam politik praktis, tingkatkan kewaspadaan dengan tetap berpegang teguh pada Saptamarga dan Sumpah Prajurit,” ujarnya saat menjadi inspektur upacara dalam rangka  melaksanakan upacara Hari Koopsau ke 63 Tahun 2014, Minggu, (15/6), di Pangkalan TNI AU Sjamsudin Noor, kemarin.

Upacara yang dilaksanakan di lapangan Apel Lanud Sjamsudin Noor tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga SSos MA sebagai inspektur upacara dengan pasukan upacara terdiri dari Perwira, Bintara, Tamtama dan Pegawai Negeri Sipil Lanud Sjamsudin Noor.

Dalam sambutan Kasau yang dibacakan oleh Komandan Lanud SAM disebutkan, dalam usianya yang ke-63 ini, tentu menjadi upaya penggalian kembali meneladani semangat dan nilai-nilai kejuangan serta patriotisme yang telah ditunjukkan para pendahulu dan perintis Koopsau.

“Juga sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa dan pengorbanan mereka bagi kesinambungan tali sejarah masa lalu, masa kini dan masa depan,” katanya.

Disadari bahwa Koopsau selain masih dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, sambungnya, prajurit dan PNS Koopsau harus memiliki kemauan, tekad dan komitmen yang kuat untuk dapat melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan negara dan bertekad secara bersama-sama untuk dapat mewujudkan Koopsau sebagai Kotama Operasi yang professional.

“Sesuai dengan tema peringatan HUT Koopsau kali ini yaitu Dengan Dilandasi Semangat Abhibuthi Antarikshe dan Nilai-nilai Nasionalisme serta Patriotisme, Koopsau Siap Mewujudkan Keunggulan di Udara Guna Melindungi Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah NKRI. Menjadi menjadi sumber inspirasi dan dapat diimplementasikan guna menghadapi tantangan tugas-tugas di masa depan,” pesanya.

Ia mengharapkan Koopsau mampu menempatkan keselamatan terbang dan kerja pada prioritas yang paling utama disetiap pelaksanaan tugas, guna meraih zero accident. Pihaknya juga melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi makam pahlawan, melalukan tabor bunga untuk mengenang jasa para pahlawan.

Tanam Pohon Untuk Masa Depan

Peringati HKGB ke-62 dan HUT Bhayangkara ke-68 

ananda_LISTRI KAPOLDA_latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibit pohon di SPN Sungai Ulin Banjarbaru2Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon melaksanakan penanaman bibit pohon dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-62, Sabtu, (14/6), di SPN, Sungai Ulin Kota Banjarbaru, kemarin. Kegiatan itu juga sekaligus menjadi perayaan HUT Bhayangkara yang ke-68 yang dihadiri Kapolda Kalsel Brigadir Jendral Polisi Machfud Ariffin.

Ketua Bhayangkari Lita Machfud kepada sejumlah wartawan mengkritisi  lingkungan di Kalsel yang rusak akibat eksplorasi tambang namun minimnya upaya reklamasi atau penghijauan kembali. “Maka dari itu dengan dengan penanaman pohon ini diharapkan mampu menggerakkan semua elemen warga sebagai budaya penanaman pohon,” ujarnya.

ananda_Latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibi pohon di SPN Sungai Ulin BanjarbaruMenurutnya, tak pernah ada hal yang sia-sia terkait menanam pohon. Karena, katanya, efek dari penghijauan atau reklamasi merupakan jangka panjang yang akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Terlebih untuk anak cucu kita nantinya. Karena kita tak ingin di 10 hingga 20 tahun mendatang daerah yang kita cintai ini sudah tidak ada pepohonan yang menopang ekosistem dan mensterilkan udara. Hal ini sebagai upaya kita menyayangi bumi dan anak-cucu kita nanti,” ingatnya.

Tak hanya itu, kegiatan juga dilanjutkan dengan hiburan dan latihan menembak sejumlah jajaran Polda Kalsel. Dalam momentum tersebut Ketua Bhayangkari Lita Machfud dan jajaran lainnya berkesempatan berlatih memegang pistol, menarik pelatuk, dan membidik sasaran. Kegiatan juga dilanjutkan dengan kegiatan yang sama di GOR Rudy Resnawan Jl Trikora Kota Banjarbaru.

Mengintip Dapur Modern Danrindam VI/Mulawarman

ananda_Mengintip Dapur Modern Danrindam VI MulawarmanUpaya-upaya pembenahan terus dilakukan oleh Komandan Rindam VI/Mulawarman Kolonel Infanteri Awal Nur. Kali ini, ia menunjukkan suasana Dapur Modern yang sesuai standar lembaga pendidikan tempur se-Nusantara.

“Meningkatkan kualitas lulusan lembaga pendidikan, salah satunya adalah pembenahan dapur umum tempat menyediakan makan yang memenuhi standar gizi maupun kesehatan bagi peserta didik yang lagi digodok,” ujarnya usai membuka Upacara Pembukaan Pendidikan Pertama Tamtama TNI AD Gelombang I Tahap I TA 2014, Senin, (28/4), Lapangan Kejujuran Rindam VI/Mlw Jl A Yani km 26 Landasan Ulin Banjarbaru Kalsel.

Menurutnya, perbaikan dapur umum ke arah yang lebih modern sudah sesuai dengan standar se-Indonesia, perwujudan memanusiakan standar kepatutan bagi sebagai pelayanan kepada siswa baik itu calon sekolah Bintara, Tamtama, Pendiikan Secaba, Secata, maupun pendidikan non militer.

“Dari dapur modern ini kita menjamin kebersihan, menjaga kualitas makanan hinggalayak untuk disajikan sesuai dengan peraturan yang berlaku di TNI Angkatan Darat,” katanya.

Dalam setiap harinya, ada sekitar 50 kg beras yang dimasak untuk memfasilitasi sekitar 250 sampai 300 orang siswa di Rindam VI/Mulawarman. Untuk keseharian, lauk yang dimasak dan disediakan sesuai dengan jadwal menu.

“Jadi bervariasi sesuai jadwal menu. Mulai dari ayam, ikan, dan sayuran termasuk tahu dan tempe. Siswa dilarang memang dilarang mengkonsumsi jenis makanan yang pedas. Jadi, tidak ada pembuatan sambal di sini,” ujarnya kepada wartawan MK.

Untuk kebutuhan air minum, pihaknya mempunyai galon berukuran besar yang berkapasitas sehari bisa sampai 200 galon yang airnya bersumber dari sumur Rindam VI/Mulawarman.

“Semua fasilitas modern ini kita prioritaskan untuk kebutuhan siswa semuanya. Dapur modern ini dioperasikan 5 sampai 6 orang anggota yang specialis menghandle urusan logistic dan konsumsi,” katanya.

Ia mengharapkan modernisasi dapur dengan sejumlah alat-alat canggih tersebut bisa semakin menuju perlakuan humanisasi. “Kalau dulu memang masih tradisional, kayu bakar dan kompor gas kecil. Sekarang ditingkatkan menjadi modern. Peng-upgrade-an ini menyeluruh se-Nasional. Kita melaksanakan secara bertahap jadi semuanya bakal di upgrade ke lebih modern. Kita mulai dari belakang dulu, dari dapur, terus lanjut ke depan seperti batalyon, Tamtama remaja, satuan tempur juga mulai memakai dapur modern,” ungkapnya.

Dijelaskan, dapur umum bagi suatu lembaga pendidikan militer, kata Danrindam, menjadi sarana yang sangat vital tersebab dalam waktu singkat harus mampu menyediakan makanan yang memenuhi standar asupan gizi seorang prajurit dalam jumlah yang besar. “Maka dari itu, Rindam VI/Mulawarman memprioritaskan dapur umum dalam pembenahan satuan,” pungkasnya.

TNI AU Wajib Komitmen Netral

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga SSos mengatakan, terkait dengan pemilu yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, seluruh prajurit TNI AU di manapun bertugas wajib menjaga komitmen Netralitas TNI.

“Jangan terbawa dan terjebak dalam politik praktis, peka terhadap lingkungan serta memiliki Sense Of Security dan Sense Of Intelijen dan patuhilah semua pedoman, petunjuk, rambu-rambu dan aturan yang telah ditetapkan dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai upaya untuk mempertahankan soliditas satuan dan membangun profesionalisme Prajurit TNI AU,” ujarnya saat memimpin langsung pelaksanaan Upacara Bendera 17-an di bulan Februari tahun 2014.

Upacara yang dilaksanakan tersebut diikuti oleh para Kadis Lanud SAM, para Perwira, Bintara dan Tamtama serta PNS Lanud SAM. Bertindak sebagai Komandan Upacara Kepala Gawat Darurat (Kagadar) Rumkit Lanud SAM Kapten Kes dr Ika Nindyawiyati.

Dikatakab pula, guna optimalisasi pelaksanaan tugas-tugas kedepan dan pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas, KASAU memberikan beberapa penekanan di antaranya, memegang teguh Saptamarga, Sumpah Prajurit dan Delapan Wajib TNI dalam setiap pelaksanaan tugas dengan didasari prinsip integritas serta mengutamakan kepentingan Negara daripada pribadi maupun kelompok dan golongan.

“Disipilin, Loyalitas, Dedikasi dan Etos Kerja untuk menjaga kesiapan dan kemampuan TNI AU secara optimal. Membudayakan berfikir kreatif, inovatif, solutif dan integratif sebagai benteng dalam menghadapi berbagai keterbatasan dan hambatan dalam penugasan di lapangan,” tambahnya.

Ia mengharapkan dengan saling bersinerginya antar anggota TNI AU terutama AURI Syamsudin Noor dapat menghasilkan sikap pegang teguh Netralitas TNI. “Dan selalu menjaga solidaritas antar satuan di TNI AU, TNI, maupun Polri serta hindari konflik dengan masyarakat,” ingatnya.

Rayakan HUT Proklamasi, Lanud Syamsudin Noor Datangi 3 Lokasi

Keluarga Besar Lanud Sjamsudin Noor turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 di Provinsi Kalimantan Selatan dengan mengikuti Upacara Peringatan yang dilaksanakan di Tiga tempat yaitu di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan Banjarmasin, di Lapangan Dr Murdjani Banjarbaru dan di halaman kantor Bupati Kabupaten Banjar Martapura, Sabtu (17/8).

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga Ssos yang diwakili oleh Kadisops Lanud SAM Mayor Lek Petrus Prihatin S beserta Isteri turut hadir mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke-68 yang digelar di halaman kantor Gubernur Kalsel yang bergabung dengan tamu undangan yang terdiri dari pejabat sipil dan militer Muspida tingkat I Propinsi Kalsel, serta para tamu dan undangan dari pejabat Pemerintah Propinsi Kalsel, Veteran, organisasi kemasyarakatan pemuda, partai politik dan lainnya.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Gubernur Kalimantan Selatan H.Rudy Ariffin.  Pasukan upacara dari Lanud Sjamsudin Noor bergabung dengan pasukan upacara yang terdiri dari TNI-AD, TNI-AL, POLRI, Instansi sipil dan gabungan pelajar dari kota Banjarmasin.

Upacara dimulai pukul 10.00 WITA diawali pengibaran Bendera Merah Putih dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Kalimantan Selatan  beranggotaan pasukan 17, 8 dan prajurit Lanud Sjamsudin Noor sebagai pasukan 45. Selanjutnya pembacaan naskah proklamasi oleh ketua DPRD Propinsi Kalsel.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-68 tahun 2013 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, partisipasi prajurit TNI AU selain upacara puncak detik-detik proklamasi sebelumnya juga telah mengikuti berbagai acara pendukung seperti pengukuhan Paskibraka, Upacara Renungan Suci, Upacara Sarinande dan gelar senja.

AURI Syamsudin Noor Renungan SUCI di Bumi Kencana

AKRS Ok Dalam kegelapan malam dengan diterangi dua buah obor Inspektur Upacara membacakan naskah AKRS dengan penuh khidmat. Suasana bertambah sunyi ketika irup memimpin mengheningkan cipta. Seluruh peserta menundukkan kepala seraya mendoakan arwah para pahlawan yang telah rela berkorban dengan tulus iklhas merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

Personil Lanud Sjamsudin Noor Ikuti Taptu dan AKRS Memperingati HUT RI ke- 68 di Banjarmasin. Sejumlah personel Lanud Sjamsudin Noor baik Perwira, Bintara, dan Tamtama diikuti personel gabungan TNI-Polri dan Pelajar ikut dalam kegiatan Taptu yang digelar di depan Kediaman Kapolda Kalimantan Selatan dan dilanjutkan dengan Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) di TMP Bumi Kencana Landasan Ulin Banjarbaru, Jumat, tadi.

Hadir dalam acara tersebut yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Kapolda Kalsel, Komandan Lanud Sjamsudin Noor yang diwakili oleh Kadisops Lanud SAM, Danlanal BJM, Pejabat TNI dan Polri lainnya serta unsur muspida yang ada di provinsi Kalsel dan organisasi kepemudaan, guru, mahasiswa dan pelajar, serta segenap elemen masyarakat dan beberapa mantan pejuang yang tergabung dalam LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Komandan Korem 101/Ant Kolonel Inf Suharjono.

Taptu dan AKRS merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Taptu dan AKRS dilakukan untuk mengenang dan mendoakan jasa-jasa para pahlawan pejuang bangsa yang telah gugur  mendahului kita, tanpa mereka Indonesia tidak akan pernah merdeka.

Kegiatan tersebut merupakan aplikasi penghormatan dan mengenang jasa–jasa perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan dalam merebut kemerdekaan, yang tentunya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan memedomani semangat kebangsaan yang telah ditunjukkan oleh para pejuang dalam merebut kemerdekaan RI.