Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Juni 2014, RSUD Banjarbaru Dibangun

Pemerintah Kota Banjarbaru melaksanakan penandatanganan nota kesepakatan bersama PT Adikarya untuk pembangunan RSUD Kota Banjarbaru, Senin, (12/5), di ruangan kerja Walikota Banjarbaru, kemarin.

Pemerintah Kota banjarbaru diwakili Ir Muryani dan dari PT Adikarya diwakili oleh Ir Harimawan MM. Kegiatan tersebut dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Wakil Walikota Banjarbaru H Ogi Fajar Nuzuli, Dinas PU, Dinkes, Staf Ahli Walikota dan beberapa perwakilan SKPD.

Pada kesempatan itu Kepala Dinas Pu Kota Banjarbaru Ir Jaya Kresna melaporkan, kegiatan akan asal mulanya ditargetkan telah berjalan mulai dari tahun 2013. “Tapi karena adanya berbagai kendala teknis maka baru sekarang dapat terlasana,” katanya.

Kepala Divisi V PT Adikarya Wilayah Kalimantan Ir Harimawan MM mengharapkan program kerjanya pembangunan RSUD dapat berjalan lancer dan pengerjaannya perkerjaannya tepat waktu, tepat mutu, tepat administrasi maupun volume.

“Meski pun waktu yang cukup singkat, mudah-mudahan dapat telaksana, dimulainya konstruksi pembangunan RSUD dimulai pada minggu ke 3 Bulan Juni 2014,” terangnya.

Pada kesempatan itu pula Walikota memberikan arahan dan harapan agar dapat bersinergi antara pihak kontraktor, konsultan maupaun Pemerintah Kota Banjarbaru.

“Walau lambat dalam memulainya tetapi dengan harapan, kita tidak akan ada masalah di kemudian hari. Sebab dari perencanaan awal pemerintah kota selalu berkonsultasi dengan BPK maupun BPKP, agar pembangunan RSUD berjalan sesuai dengan aturan,” harapnya.

Kejaksaan Musnahkan Barbuk Miras dan Narkotik

??????????????????????????????? Kejaksaan Tinggi Negri Kota Banjarbaru melaksanakan Pemusnahan Barang Bukti Miras dan Narkotika, Kamis, (13/2), di halaman Kejari Kota Banjarbaru, kemarin.

Kegiatan itu dihadiri juga oleh Wakil Walikota Banjarbaru H Ogi Fajar Nuzuli, Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Perwakilan MUI Kota Banjarbaru KH Nafiah Muza MUI, perwakilan Departemen Agama Kota Banjarbaru dan sejumlah aparat kepolisian.

???????????????????????????????Seksi Tindak Pidana Umum (Tipidum) Ajun Jaksa Idham Kholid SH MH kepada wartawan menyebutkan, pihaknya melakukan pemusnahan sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2006 pasal 7 yakni melarang setiap orang memiliki dan atau menyimpan minum keras.

“Kita melakukan pemusnahan barang bukti miras dan obat-obatan dengan rincian Narkotika Gol I jenis sabut-sabu seberat 110,153 gram, Ganja seberat 35,69 gram, Minukan keras aneka merek 2.828 botol, Tuak 962 liter, obat-obatan jenis Carminophen 3.670 butir, dan bbat warna pink merk love 20 butir,” paparnya.

ananda_masih segelPihaknya mengakui bahwa tahun 2014 ini mengalami pengingkatan dibandingkan pemeriksaan 6 bulan sebelumnya pada tanggal 29 Agustus 2013 yakni untuk jenis sabu 45,43 gram, miras aneka merek 342 botol, dan inex dua butir.

???????????????????????????????“Secara kuantitas memang meningkat tajam terlebih narkotik jenis sabut-sabut. Dengan ini kita juga meyakini bahwa Kota Banjarbaru masih menjadi tujuan peredaran gelap narkotika,” ungkapnya.

Wakil Walikota Banjarbaru H Ogi Fajar Nuzuli menuturkan, pemusnahan barbuk yang sudah didapat dalam proses 6 bulan terakhir tentu menjadi upaya untuk memberantas minuman haram tersebut.

“Dan ini menjadi satu proses pencegahan. Namun dilihat dari kuantitas tentu menjadi miris hati karena tingkat kejahatannya juga semakin meningkat. Pemakai dan konsumen pun meningkat. Kita berharap semoda di waktu ke depan ini dapan melakukan sweeping lebih intens dua kali lipat dari sebelumnya. Dan mendapatkan hasil yang jauh lebih sedikit, mudah-mudahan,” katanya.

Dikatakan Ogi, semakin meningkatnya produksi tentu ada kecendrungan tingkat kejahatan juga semakin tinggi. Terlebih Narkoba yang termasuk daftar G sangat mengganggu kesehatan.

???????????????????????????????

“Tidak normal dalam berpikirnya. Ada kemungkinan saat memakai kendaraan menabrak atau jatuh sendiri. Kan, ini yang kita hindari bersama. Upaya untuk mengurangi resiko kecelakaan. Maka Pemko Banjarbaru beserta Kejaksaan dan Pengadilamn, Polresta juga selalu giat melaksanakan pemeriksaan di berbagai tempat yang sudh di investugasi.  Jadi kalau razia tanpa investigasi sebelumnya juga tidak dibenarkan menurut undang-undang. Dalam 6 bulan akan ditargetkan dua kali,” pungkasnya.

Donor Darah Peringati Hari Jadi AURI

Lanud Syamsudin Noor merayakan rangkaian acara untuk memperingati HUT TNI AU ke-67. Salah satunya dengan menggelar kegiatan Donor Darah, Rabu, (3/4), di Rumah Sakit AURI, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, kemarin.

Danlanud Syamsudin Noor Letkol Pnb M Mukshon langsung melihat-lihat ke TKP donor darah sambil mengawasi bersama jajaran AURI lainnya. Ketua Panitia Pelaksananaan HUT TNI AU Lanud Syamsudin Noor Mayor Lektro Petrus PS menuturkan, peringatan HUT TNI AU pada 9 April itu juga nantinya diselkingi dengan kegiatan penanaman pohonb yang bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Prov Kalsel, Ziara Tanam makam Pahlawan, dan pada acara puncak nantinya digelarlah Upacara HUT TNI AU di Lapangan Upacara Lanud Syamsudin Noor.

“Kegiatan Donor darah diikuti setidaknya dari 12 intansiyang telah kita undang. Yakni, Denzipur 8 GM, Kasat Brimobda Kalsel, PPAD, Kodim 1006 Martapura,  Yonif 623, SPN Banjarbaru, Polresta Banjarbaru, Dekan FK Unlam, Akbid Borneo, Basarnas, Rindam VI Mulawarman, Lanud Syansudin Noor, PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor, Yapkesbi, PPAU, SMUN 1 Banjarbaru, SMUN 2 Banjarbaru, sera para Lurah dan Camat setempat,” katanya kepada watawan MK.

Terselenggaranya kegiatan sosial donor darah itu berkat kerjasama AURI Lanud Syamsudin Noor dengan PMI Kab Banjar. Kegiatan donor darah tersebut, kata Petrus, diharapkan mampu menjadi ikatan sosial yang kuat sebagai militer yang berjiwa kemanusiaan. Serta bisa memberikan manfaat bagi kalangan luas. “Kita optimis bisa memperoleh lebih dari 200 kantong darah. Sebab semua yang kita undang dating ditambah lagi masyarkat umum,” katanya.

Dijelaskanya, kegiatan donor darah itu telah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan AURI Lanuds Syamsudin Noor 2 kali dalam setahun. Adalah saat peringatan hari jadi TNI dan Hari Bhakti. “Saya berharap hasil donor darah disini menjadi tambahan stok darah di PMI yang tak lain manfaatnya untuk membantu masyarkat membutuhkan darah demi menyelamatkan nyawa. Sembari kita membangun solidaritas sesame penjaga keamanan, baik itu TNI, Polisi dan masyarakat sipiil,” pungkasnya. 

Pembangunan RSUD Diprioritaskan

Pemerintah Kota Banjarbaru kembali menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrebang) Daerah untuk tahun 2014 mendatang di Aula Gawi Sabarataan Pemko Banjarbaru, Senin, (25/3), kemarin.

Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor di dalam forum menyebutkan, Sebagaimana amanah Undang-undang NO 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah, bahwa Musrenbang begitu penting guna menentukan arah dan tujuan pembangunan Kota Banjarbaru dalam satu tahun ke depan.

“Karenanya partisipasi stakeholder sangat diperlukan guna kesempurnaan draf untuk menjadi RKPD. Pada tahun 2014 konsentrasi pembangunan Kota Banjarbaru masih pada infrastruktur untuk memenuhi kepentingan public seperti, jalan, jembatan, sekolah, dan lain-lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga walikota mengungkapkan kprioritasan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Tersebab ketidak mampuan RS yang sekarang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan. “Terutama keterbatasan ruang inap untuk pasien. Maka dari itu, tahun 2014 Pemerintah Kota Banjarbaru akan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan RSUD dimaksud sehingga ditahun 2015 RSUD yang baru sudah dapat dioperasionalkan,” paparnya.

Dikatakan Walikota, perlu adanya solusi seperti beberapa kebijakan dan program strategis guna memacu percepatan pencapaian target pembanguan Kota Banjarbaru. Sehingga RKPD Kota Banjarbaru tahun 2014 sesuai dengan tujuan yang diinginkan bersama sdebagaimana perencanaan benar-benar berawal dari masyarakat dan untuk masyarakat.

Ketua Panitia Pelaksana Maulana SE mengatakan, dalam musrenbang diharapkan adanya masukan untuk penyempurnaan dokumen RKPD Banjarbaru Tahun 2014. “Sebelumnya sudah dilaksanakan ditingkat Kelurahan, Kecamatan, Forum Konsultasi Publik dan Forum SKPD/Gabungan SKPD,” paparnya.

Dalam kesemaptan itu juga turut berhadir beberapa perwakilan dari Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan, Bappeda dan Penanaman Modal Kota Banjarbaru, PDAM Intan Banjar, PLN Wilayah Kalimantan Selatan/Tengah, seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Banjarbaru, Camat dan Lurah se Kota Banjarbaru, Ketua DPD Aosiasi LPM Kota Banjarbaru, Forum RT/RW Kota Banjarbaru, Ketua LPM Kecamatan & Kelurahan se kota Banjarbaru, LSM, para Akademisi dan para Fasilitator kecamatan dan kelurahan se kota Banjarbaru.

Rudy Kampanyekan Gizi dan Jalan Sehat

Sejumlah masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya berbondong-bondong mendatangi lapangan Van der Pijl. Bahkan sejumlah warga yang biasanya menghabiskan waktu untuk sekadar joging pun turut serta. Itu lantaranya diadakannya Kampanye Gizi Melangakah Bersama Gubernur Kalsel oleh Keluarga Besar Pelaku Usaha Perunggasan Provinsi Kalimantan Selatan yang juga kerjasama dengan Dinas Peternakan, Prov Kalsel, Minggu, (24/3), kemarin.

Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin melepas rombongan jalan sehat yang berjumlah sekitar 1200 peserta mulai dari Van der Pijl, melewati Jl A Yani, kemudian Jl Rajawali samping Museum Lambung Mangkurat, hingga finish kembali di Taman Van der Pijl.

Selain jalan sehat, para peserta juga berkesempatan mendapatkan doorprize dengan 3 buah kulkas, 3 unit sepeda gunung, 3 buah TV LCD 21 inch, 3 buah kompor gas, 5 buah kipas angin, 5 buah DVD player, 5 buah dispenser, dan 100 buah hadiah hiburan. Kemudian diadakan pula Bazaar Poultry yang menyuguhkan sejumlah produk perunggasan dengan harga murah. Sedangkan untuk anak seumuran TK, dan tingkat SD mengikuti Lomba Mewarnai dan Melukis.

Panitia pendaftara Kampanye Gizi Jalan Sehat Bersama Gubernur, Agung, menuturkan, ada 150 orang anak yang mengikuti lomba mewarnai. “Dan 50 orang lagi lomba ikut lomba melukis. Kita mengharapkan lomba ini bisa juga membantu mengembangkan keterampilan mereka serta kemampuan berkarya dalam seni krasi,” ujarnya ketika ditanya wartawan.

Kampanye gizi oleh Keluarga Besar Pelaku Usaha Perunggasan Provinsi Kalimantan Selatan dan EO Jhunizar, didukung pula Pemprov Kalsel, Pemkot Banjarbaru, Dinas Peternakan Kalsel, Forum Komunikasi Inti Broiler (FKIB), JAFPA, Asosisasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Wonokoyo, Pokphand, Bank Danamon.

Kegiatan itu juga dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran. Beberapa Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Banjarbaru Kepala SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Kepala SKPD Lingkup Pemerintah Kota Banjarbaru. Dan pula turut hadir anggota Komisi III DPR RI H Aditya Mufti Ariffin SH putra dari Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin.

Dukung RS Baru

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru Drs Syahriani Syahran mengungkapkan, besarnya biaya yang dibutuhkan guna membangun rumah sakit baru nantinya setara dengan pelayanan. Sebab rumah sakit yang baru itu merupakah rumah sakit representratif bagi seluruh masyarakat.

“Pun jikalau ke depan nanti biaya yang telah dianggarkan sebesar 217 miliar rupiah itu tidak mencukupi maka kita mengharapkan kembali bantuan dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Pemko Banjarbaru, katanya, baru saja meminta dukungan kepada anggota DPD RI guna mewujudkan mega proyek tersebut. “Pemko juga sudah sampaikan kepada anggota DPD RI dapil Kalsel Sofwat Hadi. Dan tentunya juga dukungan dari masyarakat agar bisa teruwujud dengan lancar,” ungkapnya.

Ia mengatakan untuk lokasi pembangunan rumah sakit yang sudah ditentukan yakni di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin. Dengan luas tanah enam hektare.

Menyikapi pernyataan itu, Anggota DPD RI Sofwat Hadi mengaku siap memperjuangkan permohonan bantuan pembangunan rumah sakit yang direncanakan pemko Banjarbaru. “Kita usahakan untuk menyampaikan langsung ke pemerintah maupun Kementerian Kesehatan. Jadi pembangunan rumah sakit teralisasi disertai pelayanan yang baik,” katanya.