Taufik Aryo Winarko, Membuat Gitar Hingga Menasional

Suasana ruangan sederhana Aryo dalam proses pembuatan gitar dan bass custom di Komplek Perumahan Galuh Marindu 2 Banjarbaru

Suasana ruangan sederhana Aryo dalam proses pembuatan gitar dan bass custom di Komplek Perumahan Galuh Marindu 2 Banjarbaru

Membidani lebih 200 unit Gitar Custom

Mas Aryo, begitu ia disapa. Bagi sejumlah musisi di Kalimantan Selatan tentu sudah sangat mengenal pria yang satu ini. Pria kelahiran Sleman, Yogyakarta ini adalah seniman pembuat gitar custom yang membuka lapaknya di Komplek Perumahan Galuh Marindu 2, Banjarbaru.

Boerno Guitar Work adalah nama tempat usaha sekaligus kediamannya. Taufik Aryo Winarko, lebih sering bekerja sendiri, namun sesekali juga dibantu Budi, adiknya. Ia sudah menjalani profesinya selama 7 tahun. “Dulunya di Yogya, sekitar tahun 2006. Awalnya dari kawan-kawan sendiri yang minta bikinkan, semakin lama menyebar. Wal 2012 tinggal di Banjarbaru, ya Alhamdulillah malah tambah banyak lagi,” ungkapnya kepada wartawan MK saat berkunjun ke gudang gitar miliknya.

Bakatnya dalam mengukir rapi gitar dengan penuh perhitungan memang tak dating dari langit secepat kilat. “Awalnya kita belajar juga, belajar sama orang dan belajar sendiri secara otodidak. Dulunya sempat Sekolah Menengah Senirupa (SMS) jurusan Kriya Kayu. Disana diajarkan bagaimana mengolah dan mengenal, karakter dan jenis-jenis kayu khusus, senilukis, dan lain sebagainya. Kemudian sekitar trahun 2001 lanjut di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Desain Komunikasi dan Visual. Tapi gak sampe setahun dah keluar, lebih enak di luar,” aku pria kelahiran 4 Mei 1982 ini.

Suasana ruangan sederhana Aryo dalam proses pembuatan gitar dan bass custom di Komplek Perumahan Galuh Marindu 2 Banjarbaru

Suasana ruangan sederhana Aryo dalam proses pembuatan gitar dan bass custom di Komplek Perumahan Galuh Marindu 2 Banjarbaru

Persoalayan bayaran tergantung spesifikasi. Kata Aryo. Jika memang costumer ingin spare part yang kualitas jempolan maka ada rupa ada harga. “Pernah ada juga yang ngebayar 7 juta per unit gitar. Kalau ukuran standar, ya 2 jutaan sudah bagus dengan desain yang diingini,” paparnya.

Namun bukan berarti tak ada kendala yang serius, dalam jangka waktu 1 bulan saja Aryo mampu menjadikan 3 unit gitar atau bass. “Tanpa istirahat ya pasti selesai. Tapi sekarang orderan sudah menumpuk. Dalam jangkan satu pekan ada 2 unit orderan yang masuk. Kalau ditotalkan dari awal sudah mengeerjakan lebih 200-an lebih unit gitar dan bass. Belum yang ngatra buat service,” kata pria penyuka Keith Richard Gitaris Rolling Stone dan Abdee Slank ini.

Namun bukan berarti tak ada kendala. Konsentrasi dan fokus dalam bidang ini sangat diperlukan. Oleh sebab itulah, Aryo lebih sering melakukan pekerjaannya di malam hari, tetapi jika listrik sedang padam, ia mengaku tak keruan kerja lantaran suara mesin genset yang terlalu berisik karena memang sudah tak ada pilihan lagi. “Kalau kendala yang terlalu serius ya tidak ada. Terkadang ada juga costumer yang desai rumit minta selesai cepat. Kalau memang tidak bisa ya terpaksa kita mundur,” tutur penikmat genre musik blues dan reggae.

Meski demikian, ia mengaku tak akan pernah bosan dengan pekerjaan yang ia geluti sekarang. “Alhamdulillah disyukuri saja karena bagi saya perkerjaan ini mengasyikkan dan sangat menyenangkan. Seberat-beratnyanya pekerjaan tetap disyukuri,” ucapnya.

Dewasa ini yang membanggakan baginya adalah, gitar karyanya dibawa ke Jakarta untuk mengkuti Guitar Community of Indonesia Guitar Festival 2012 pada 17 November 2012 lalu. “Dan Azli, pemilik gitar, merupakan satu-satunya gitaris yang berangkat ke Jakarta pada event Nasional mewakili Kalimantan Selatan. Itu lantaran waktu pertama, gitarnya yang buatan dari sini dikasih merek fender. Ternyata gitaris yang lain memasang nama dan logo pembuatnya. Azli tetap kekeuh mau ditempelin mereknya dari logo saya,” ceritanya.

Ia berharap tetap terus konsisten dan menasional dan karyanya bisa dipakai banyak orang. “Sudah terlanjur dan benar-benar mencintai pekerjaan ini. Kemungkingan tidak bakalan bosan dan gak bakalan cari pekerjaan lain. Seberat-beratnya pekerjaan ini tetap dijalani dan disyukuri,” pungkasnya.

Ogi Dapat Kue Ulang Tahun Dari Musisi Mingguraya

Kelompok Kebersamaan dalam Mingguraya Live Music memberikan kejutan kepada Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli di hari ulang tahunnya ke 46

Kelompok Kebersamaan dalam Mingguraya Live Music memberikan kejutan kepada Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli di hari ulang tahunnya ke 46

Di malam yang sama usai ditutupnya acara Poetry in Action, Wakil Walikota Banjarbaru yang datang setelah pukul 00.00 Wita, Sabtu, (29/12), dini hari kemarin, mendapat kejutan dari sejumlah rekan musisi di Mingguraya Music Live. Tersebab hari ulang tahunnya ke-46, sebuah kue tart diserahkan dihadapan Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru itu. “Kalau yang beli kue ini para kepala SKPD, ya biasa saja. Wajar gajih mereka sudah jutaan, hal begini kecil. Tapi kali ini yang memberi saya para pengamen yang mengabiskan waktunya menghibur pengunjung di Mingguraya, ini jadi menjadi penghargaan tersendiri bagi saya pribadi dan sungguh luar biasa,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com dan rekan musisi yang berhadir malam itu.

???????????????????????????????Perwakilan dari Mingguraya Music Live, Amax, menungkapkan. Bagi mereka, Wakil Walikota sudah dianggap mereka sebagai bapak. “Beliau komandan kami yang juga kami anggap sebagai bapak sendiri. Dan diterimanya kami disini sebagai perjuangan. Berjuang mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan beliau dan masyarakat Banjarbaru pada umumnya,” ujar lelaki bernama asli Arif Rahman Hakim ini didampingi Rina, Istrinya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa musik yang mereka usung tak seperti yang selama ini dinilai sebagian orang dari luarnya saja. “Disinilah kita memberikan kebersamaan. Kadang dianggap sebagai guyonan. Tapi kita berusaha membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Perjuangan kami cuma satu. Merpertahankan kepercayaan. Itu yang membuat mereka stay disini. Selamat Ulang Tahun Bang Ogi. Sehatlah selalu” katanya.

Kelompok Kebersamaan dalam Mingguraya Live Music memberikan kejutan kepada Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli di hari ulang tahunnya ke 46

Kelompok Kebersamaan dalam Mingguraya Live Music memberikan kejutan kepada Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli di hari ulang tahunnya ke 46

Tahun Berganti Puisi Tak Berganti

Poetry in Action

???????????????????????????????Ada yang berbeda pada gelaran acara Poetry in Action. Meski rinai hujan tak hentinya membasahi ruas-ruas jalanan di Kota Banjarbaru, para pegiat seni maupun penikmat puisi tetap bertahan dan kunjung berdatangan ke panggung bundar Mingguraya, Jumat, (28/12), kemarin malam.

Kegiatan rutin itu dihiasi dengan kolaborasi musik dan penampilan apik dari Mingguraya Live Musik dikoordinatori oleh Amax. “Saya rasa sastra dengan musik itu erat hubungannya. Jadi ini bukanlah hal yang baru, Hanya saja kita baru memulai untuk menggabungkannya malam ini,” ujarnya kepada Media Kalimantan.

???????????????????????????????Beberapa penampil puisi di antaranya, Rizqie Muhaamad Al Fajar, Raji Leonardo, Xlima talenta Randjiwa, Sanggar Ar-Rumi STAi Darussalam Martapura, dan sejumlah rekan dari Dewan Kesenian Banjarbaru. Sedangkan beberapa tokoh yang berhadir ada Dewa Pahuluan, Radius Ardanias Hadariah, Harie Insani Putra, dan lainnya.

Beberapa grup musik juga turut menampilkan beberapa musikalisasi puisi menyarakan suara-suara mereka memandang tataran sosial kehidupan dan menyuarakan nasionalis sebagai masayrakat berbangsa di Indonesia.

HE Benyamine selaku panitia dalam kegiatan ini memaparkan, tema “Tahun Berganti Puisi tak Terganti” erat maknanya dengan kenangan indah dan pahit yang mungkin tetap terbawa ke tahun berikutnya. “Tahun 2012 berganti, tapi puisi tak terganti. Jadi puisi-puisi yang sudah kita suarakan adalah puisi yang tak terganti di tahun selanjutnya. Puisi ada dan pada detik-detik waktu di tahun selanjutnya. Seperti Plato bilang, At the touch of love everyone becomes a poet,” ujarnya mengutip.

ananda_poetry in action tahun berakhir puisi tak pernah berakhirTerselenggaranya kegiatan tersebut juga tak lepas dari dukungan serta donasi beberapa pihak. Di antaranya Ketua Dewan Keseneian Kota Banjarbaru yang juga Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, Dewa Pahuluan (Fitri Zamzam), Radius Ardanias Hadariah, Kalsum Belgis, Radius Ardanias Hadariah, HR Budiman serta penyumbang hadiah buku Fahrurraji Asmuni, Sabhan Saberi Syukur, dan Micky Hidayat atau nama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Banjarmasin serta berbagai pihak yang terlibat hingga terlaksananya acara.

4 hari, Untung 1 Juta, Kisah Penjual Terompet Yang Juga Mahasiswa Hukum

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebagaimana biasanya, menjelang perayaan tahun baru akan banyak sekali para penjual terompet dengan berbagai macam jenis. Sebagaimana yang dilakoi Ahmad Rahim (25). Pemuda yang saat ini juga berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum STIH Sulktan Adam Banjarmasin ini mengaku sangat menikmati pekerjaannya sebagai penjual terompet tahunan kala menjelang pergantian tahun. “Sudah 7 tahun sejak saya lulus SMA. Uang hasilnya ya untuk kebutuhan hidup dan yar kuliah. Belajar mandiri untuk selalu minta uang ke orang tua,” tuturnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com saat melayani pembeli di Taman Air Mancur Kota Banjarbaru, Selasa, (25/12), kemarin sore.

Tak hanya terompet, ia juga meperdagangkan beberapa jenis mainan topeng berwajah jenis binatang seperti srigala, monyet, dan lainnya. Harganya pun bervariasi, dari 35 ribu rupiah sampai ratusan ribu. Tergantung bahan dan motfi yang digunakan. “Kalau terompet kita jual dengan harga yang paling murah dari 20 ribu rupiah sampai 200 ribu. Kalau bahannya kertas tentu agak murah. Resikonya tak tahan lama, mudah hancur. Kalau berbahan plastik biasanya lebih awt. Bahkwa suaranya pun bias diganti-gantinya. Bisa agak keras keras suaranya dan tak terlalu nyaring. Ada setingannya,” sahutnya.

Barang-barang tersebut didatangkan dari Pulau Jawa melalui kapal. Sepanjang 7 tahun karirnya menjadi penjual terompet, ia mengepalai atau mengkoordinir beberapa anak buah yang juga berprofesi sama di Banjarmasin. “Kita jualan mulai dari tanggal 22 Desember, 1 pekan sebelum tahun baru. Biasanya menjelang malam puncak pembeli tambah banyak. Dan bila menghabiskan semua barang dagangan sampai 1 Januari, maka ada komisi lebih dari bos yang lebih tinggi,” katanya.

Dalam satu hari pertama, keuntungan yang ia dapat pun cukup lumayan, yaitu 350 ribu rupiah. Hingga sampai hari kemarin, ia sudah mendapatkan untung uang sejumlah 1 juta dalam kurun waktu kurang lebih 4 hari. “Uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan tentunya bayar kuliah juga. Sekarang sudah menjelang tugas akhir. Sambil kerjakan skripsi kita terus berusaha, agar tak memberatkan orang tua,” paparnya yang saat ini sedang menjalani kuliah semester ke 7.

Sebagai kiat khusus, ia biasanya bersama rekan lain akan mengobral sejumlah terompet menjelang akhir tahun. Dan tak hanya di banjarbaru, bisnis berjalan terompet sudah ia jalani samapi ke Samarinda. “Saya jalan 7 tahun. Sudah. Banyuk makan hidup dari usaha ini jadi gak dilepaskan,” tandasnya.

Tak ada kendala, rasa malu, atau pun takut bersaing baginya dalam menjalani sebagaian hidup sebagai penjual terompet. Hal itu dilakukannya karena semangat yang ia miliki. “Banyak teman saya yang sudah lulus termasuk yang sarjana hukum tetapi tak berbuat apa-apa. Hanya duduk manis dirumah sembari menadah tangan kepada orang tua. Baginya pekerjaan sebagai penjual terompet justru sangat menjanjikan. Dari segi keuntungan pun besar,” terangnya sebari tersenyum ketika ditanya mengapa tidak kuliah di fakultas ekonomi saja.

Ia berkomitmen untuk meraih cita-cita sebagai pengacara. “Saya ingin jadi jaksa atau hakim. Tapi di bangku perkulihan saja, kita hanya dapatkan teori semata. Tidak ada pengalaman kalau tidak turun ke lapangan. Saya menganggap semua permasalahan itu gampang. Termasuk menjalani hidup. Berusaha mencari uang dengan berjualan terompet pun sebagai jalan hidup. Soal perdata atau pidana kita kita tak hanya membahasnya di bangku kuliah, tapi di kehidupan nyata seperti berjualan. Karena juga ada namanya hukum perusahaan, hukum tambang, dan hukum lainnya,” ungakapnya yang sempat bekerja di tambang sebagai supir ini.

Ia berharap rekannya yang lain terus semangat dalam menjalani hidup dengan belajar mandiri sejak muda. Artinya tak selalu mengharapkan pemberian orang tua. “Tak harus berjualan terompet. Banyak pekerjaan halal lain yang lebih menguntungkan. Daripada harus selalu berpenampilan borjuis dengan mobil mewah orang tua dan isi dompet 50 ribu saja. Apalagi yang sudah sarjana, hampir 3 tahun ijazah dijadikan bungkus kacang, mendingan kerja sampingan,” pungkasnya.

Eksis Ngejam Meski Puasa

Banyak yang dilakukan sobat kawula muda Spirit Ramadhan saat mengisi-mengisi waktu dikala berpuasa. Ada yang mengisinya dengan kegiatan positif ada negative. Ada yang bermain game, mengaji, bermain komputer, internetan seharian, jalan-jalan, ada pula yang hanya tidur sampai waktu berbuka.

Nah, lain lagi sobat Spirit Ramadhan yang satu ini. Juice Heart Noise atau yang akrab dikenal dengan JHN ini merupakan band lokal Banjarbaru yang belakangan eksis diranah industry musik Kalimantan Selatan. Band yang telah berdiri lebih dari dua tahun ini punya event dan pengalaman menarik saat bulan Ramadhan tiba. Yaitu ngejam atau latihan rutin di sore hari menjelang berbuka. “Latihan memang menjadi suatu yang sangat intim dalam JHN. Maka dari itu, tak sekadar keharusan, melainkan seperti kewajiban bagi kami,” ujar Oliel sang Vokalis Band kepada Spirit Ramadhan, Jumat, (27/7) kemarin.

Menurut pemuda yang bernama lengkap Kholilullah ini, ia telah rutin mengatur jadwal bermain musik bersama 4 rekannya, Ezha (Guitar), Reza (Bass), Arul (Drum), dan Kevin (Synthesizer) satu hari dalam sepekan. “Kita rutin latihan seminggu sekali tak hanya di bulan puasa. Tetapi juga bulan yang lainnya juga. Namun stamina kita rasanya lebih tertantang ketika ngejam kala berpuasa,” katanya.

Band yang telah dua kali lolos di gelaran Meet The Label salah satu vendor produk ini mengaku Ramadhan menjadi momentum untuk melatih eksistensi mereka dalama bermusik. “Selain ibadah yang juga kami tingkatkan selalu. Puasa tentu tidak menjadi penghalang untuk ngeband. Walaupun takb bisa dipungkiri, latihan saat puasa memang agak melelahkan. Namun, jangan sampai deh, membatalkan puasa hanya karena jingkrak-jingkrak bermain musik,” ingatnya.

Oliel mewakili rekan-rekannya di JHN berharap, Ramadhan yang penuh berkah ini tak hanya menjadi momentum dalam menambah kada ibadah. “Tetapi juga bisa menjadi eksistensi kita dan persiapan manggun di berbagai kota usai Ramadhan nanti. Insya Allah, beberapa jadwal sudah menunggu buat manggung. Selalu semangat,” pungkasnya.

Tempat Berkumpul Anak Punk dan Underground

Jangan heran jika anda sempat bertandang ke pujasera Mingguraya, lalu bertemu dengan sekumpulan pemuda yang sering menggunakan T-Shirt hitam. Mereka dalah sekumpulan anak punk dan underground yang sering menggelar hiburan-hiburan musik bernuansa cadas di Taman Air Mancur Kota Banjarbaru. Rendi misalnya, lelaki berusia 20 tahun ini hampir setiap malam nongkrong di Mingguaraya. Katanya, mingguraya lebih cocok dengan mereka karena sangat bebas dan terlepas dari pemeriksaan para aparak kepolisian yang sering patrol di Lapangan Murjani. “Kita nongkrongnya disini, tapi kalau ngemen ya seputar Murjani,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com. Meski demikian, Mingguraya masih terlalu rawan dengan para pemabuk dan premaniseme. Hal itu terlihat dari pantaun hirangputihhabang.wordpress.com belakangan yang sering melihat para pemabuk yang sering berkelahi. Padahal kalangan ini sudah pernah ditertibkan oleh pemerintah setempat.