Kampanye Neraka

Baru saja saya menyaksikan sebuah program yang memang saya jadikan sebagai program talkshow terfavorit. Memang subjektif kesannya. Tak apa. Sang bintang tamu mengatakan, kita sedang berada dalam undangan promosi lokasi prostitusi moral. Yakni, kampanye Neraka.

Ibarat promosi, kita adalah manusia polos tanpa ilmu yang tidak mengetahui apa-apa, sedang dibawa oleh para malaikat menuju surga dan neraka. Di surgalah, kita diperlihatkan kedamaian, kesejahteraan, penuh ketenangan dan tentram. Lantas dibawalah kita untuk melihat neraka yang didalamnya dipertontonkan kegembiraan, pesta pora, kesenangan dan sejumlah hiburan. Yang diisi para pesohor-pesohor bintang dunia, cantik-cantik, glamaour dan penuh gairah. Sang malaikat pun bertanya. “Jika diminta memilih, anda pilih yang mana?” maka kita pun menjawab. “Neraka. Karena menggembirakan dan menyenangkan.” Lantas kembalilah kita di kehidupan nyata.

Singkatnya, tiba masa pemilihan tersebut. Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka dimasukkanlah kita ke dalam neraka. Tapi, alangkah terkejutnya kita dengan keadaan dan gambaran yang terjadi. Di dalam neraka, penuh dengan siksaan, orang-orang dibantai dan dibakar. Mereka yang memang tak bermolar digantung rambutnya. Disetrika punggungnya. Sampai mati dan dihidupkan lagi untuk disiksa. Mereka yang mengingkari janji dipotong lidahnya. Dipulihkan, lantas dipotong untuk ke sekian kalinya. Sampai mereka berucap tobat dan insyaf, namun apa daya. Sudah di dalam neraka. Maka kita pun melakukan pembelaan dengan bertanya kepada malaikat.

“Tuan Malaikat, bukankah neraka kemarin yang diperlihatkan tidak seperti ini?” lantas malaikat pun menjawab. “Kamu ini bagaimana. Kemarin, kan lagi kampanye. Promosi!”. Dan, apa lagi yang bisa kita perbuat.

Sebuah kelompok persaudaraan terbesar dunia pernah berucap, kebenaran yang kau dengar hari ini belum tentu menjadi kebenaran besok hari. Lantas, apa yang bisa kita percaya. Semua kembali kepada iman. Kepercayaan di dalam diri. Sebelum masuk neraka dan menyesal, alangkah baiknya kita bertafakur. Memikirkan baik dan buruk itu boleh, tapi terlalu membedakan bisa menjadi perpecahan. Alhasil, apa-apa yang kita janjikan tak semua bisa ditepati. Maka, berjanjilah sedikit saja, tapi berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Tanpa harus menebar janji. Apalagi menjanjikan neraka.

Menakar Pilpres

Bapak dan ibu, para pembaca koran yang tentu saja saya muliakan. Gegap gempita pemilihan kepala Negara Republik Indonesia sudah membuat kita menyelam ke dasar yang terdalam. Sejumlah informasi dipaparkan dengan gamblang. Sebanyak mata kita menampung gambar-gambar itu sudah ditayangkan. Baik yang memperkuat keyakinan atau yang membuat dahi berkerenyitan. Kita boleh saja men-judge yang ini benar dan yang itu salah. Pun sebaliknya. Semua masih menjadi teka-teki. Karena memang, mereka, para calon pemimpin Negara kita yang gagah berani, yang siap mengemban beban Negara Republik Indonesia ini, belum menjadi.

Lajunya perkembangan teknologi dan informasi membuat pencari referensi gelagapan. Hingga kalimat ini dituliskan, saya belum juga menentukan pilihan. Bukan tidak ada, tapi belum memutuskan. Bukannya tidak ada yang bagus, tapi tentu saja masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden punya kekurangan. Tinggal lagi kita menakar, mana yang benar-benar dibutuhkan rakyat seperti kita-kita ini.

Yang setiap hari bekerja membanting tulang, membanting pulpen, bangun pagi pergi ke sekolah, memotret, mengantarkan anak sekolah sembari ke kantor, pulang petang, masuk sift malam, pulang pagi dengan kepulan asap rokok, dan isitirahat di siang hari, terima gaji di akhir bulan.

Atau kita-kita yang sedang mempersiapkan undang-undang, peraturan daerah, duduk di kursi ternyaman untuk menyampaikan pesan dari rakyat, mengetuk palu, membacakan riwayat hidup, menjadi imam dan khatib di masjid, menerima gaji di awal bulan, atau sekadar yang duduk di perempatan lampu merah dan menengadahkan kedua tangannya. Apa yang sebenarnya kita butuhkan di Negara yang tercinta ini? Atau tak perlu kita, saya saja dan anda tak perlu ikut andil dalam pemilihan.

Ibu dan bapak pembaca Koran yang semoga hari ini berbahagia. Setiap kita punya idola. Baik itu seorang utusan Tuhan, tokoh agama, pemimpin daerah, penyanyi, artis, penulis, dan sebagainya dan sebagainya. Beberapa orang yang saya idolakan sudah menentukan pilihannya. Yang ditampakkan dengan foto profil di beberapa sosial media mereka. Haruskah kita ikut-ikutan? Semua tergantung suara hati anda.

Kita boleh menimbang, tapi jangan keseringan, karena timbangan yang berulang-ulang bisa menjadi timpang. Kita boleh saja menghitung-hitung, tapi jangan berlebihan. Karena hitungan yang berlebihan bisa menjadi selisih paham. Kita boleh saja mengajak untuk mengikuti jalan yang dipilih, tapi ajakan yang keras kepala bisa menimbulkan kebuntuan. Pilihlah berdasarkan apa-apa yang memang betul-betul kita perlukan, bukan lantaran kita inginkan. Apa lagi ikut-ikutan. Termasuk memilih tontontan. Oh, Ya Tuhan, semoga Anda-anda paham dan mengerti maksud saya. Jikalau saya boleh, maka bolehkan saja saya mengutip perkataan Jack Canfield, Apapun yang Anda katakan kepada orang lain akan menghasilkan dampak dalam diri orang itu. Apa pun yang adan katakan akan menimbulkan dampak di dunia ini.

 

Apa Kabar Naskah?

Banjarbaru, 3 Januari 2014

Selamat sore naskah! Wah, lama tak berjumpa. Kasihan kamu tak kami tengok belakangan ini. Bagaimana kabarmu? Pasti banyak sarang laba-labanya ya? Maaf kami tak sempat memerhatikan kamu belakangan ini. Kami telah disibukkan dengan berbagai agenda yang harus menomor duakanmu.

Dewasa ini kami harus mempersiapkan pergantian tahun dengan tugas kampus, tugas sekolah, belum lagi persiapan untuk pernikahan dan perkawinan di New City. Belum lagi kawan-kawan kami yang susah untuk move on dari mantan kekasihnya yang sudah menjalin hubungan dengan kawan barunya. Belum lagi pikiran-pikiran untuk menjauh dari mu, keluar kota, pulang kampung, pulang kota, ke luar negri, mencari amplop, mencari isi amplop, menghadiri seminar, menghadiri undangan, menaman benih, berternak hewan, mencari pacar, PDKT dengan bintang kelas, bikin puisi-puisi cinta, kata-kata bijak, kata-kata galau, ngetwit, dan update status. Belum lagi kawan kami yang sibuk dengan uang, uang dan uang, buku, buku, buku dan jual buku. Tapi untuk menulis dan memerhatikanmu, kami terlupa.

Tapi yang lebih parah, terkadang kami tak sanggup melupakan jejaring sosial yang selalu meminta untuk menengok sejumlah pemberitahuan tak penting. Maafkan kami naskah, karena sudah membiarkanmu mogok di tengah jalan tanpa ada keinginan untuk mendorong atau memperbaikimu. Kami mengakui kesalahan itu. Itu karena kami malas untuk kembali memerhatikanmu dengan sepenuh hati. Perhatian kami selalu terbagi-bagi dengan kepentingan yang kami anggap penting padahal tidak terlalu penting sehingga menganggapmu bukanlah hal yang penting.

Namun di tahun ini, kami berharap bisa kembali memerhatikanmu. Memberikan kata-kata indah untuk menambah halamanmu. Mengevaluasi sejumlah kesalahan kata di halaman-halaman sebelummu. Mereveisi sejumlah halaman yang sudah menjadi dirimu meksi tak pernah rampung. Kami akan coba pertimbangkan untuk memerhatikanmu kembali wahai naskah, hanya saja. Kami baru ingin mempertingbangkamu, bukan memutuskan. Semoga kau tetap setia menunggu kehadiran kami dengan rangkaian kalimat menarik untuk para pembaca. Masalah baru datang lagi. Yaitu, kadang keinginan kami tak mencerminkan dengan perbuatan. Tetap saja kau tercampakkan di sudut ruang file komputer yang jarang tersentuh “klik”

Salam hangat dari kami

Calon Penulis

Surat Nomor 24

Wahai sahabatku kecilku, sampai di manakah kau sekarang? Bagaimana kabarmu? Keafiatan tentu selalu kami doakan kepadamu. Aku juga mengharapkan keadaanmu sekarang seperti yang pernah kau inginkan. Dalam jejak rekam kehidupanmu mengelilingi tata surya 24 tahun, ingatkah kau masih dengan kami? Kami adalah orang-orang yang menemani kamu saat bermain di waktu kecil. Menarik benang layang-layang, memasukan kelereng ke satu lubang di tanah, ada masa dimana bulu mata kita terbakar saat meniup lubang bambu yang berdentum keras di belakang rumah, terlebih saat bulan puasa. Atau bisa juga permainan yang membuatmu gusar karena tak pernah kesampaian seperti yang kami miliki? Padahal kamu saat menginginkannya waktu itu, semisal Nintendo, sepatu roda, remote control, robot-robot dengan lampu, bahkan sepeda yang katamu banyak giginya.

Di satu waktu, kita juga pernah bermandikan pasir saat bermain bola kasti. Mengumpulkan beberapa pecahan genteng untuk disusun sebelum bola tenis bekas itu membuat kulitmu membiru. Maaf sobat, itu karena kami terlalu keras melemparnya. Entahlah, apakah kau sekarang masih mengidam-idamkan menjadi pendekar bertopeng layaknya power ranger atau Baja Hitam RX. Sudahlah. Aku yakin kau tak mau meningatnya.

Wahai sahabat seperguruan. Aku tak habis pikir mengapa kau waktu itu ingin mengikuti jejakku merantau ke Kota Santri. Berhenti dari sekolah formal lanjutan pertama yang baru 1 tahun setengah. Kemudian kau memaksakan diri untuk tinggal satu atap bersama kami berlima. Padahal, kau orang baru. Dan ini bukan duniamu. Kau lebih tahu tentang dunia luar daripada kami. Anehnya, kau mau-mau saja. Bahkan terlalu cepat menjauhi orang tua. Alasanmu cuma satu waktu itu, ingin berkumpul dengan orang-orang soleh.

Namun seiring waktu berlalu, aku menyadari jalan ini adalah pijakanmu menuju pendewasaan. Ingatkah saat kita bangun subuh bersama. Tak hanya sehari, melainkan setiap hari menuju kampung melayu hanya untuk ikut-ikutan mengaji Hadist Bukhari dan Ihya Ulumudin. Aku tertawa geli saat kau mengayunkan pena di antara hurup-hurup arab yang sukar dibaca jika kau tidak belajar nahwu dan sharaf.

Kita pulang dengan nafas yang teropoh-gopoh saat mengayuh sepeda tua. Ketika malam Jumat tiba. Kita melakukan ritual yang biasa dilakukan para senior di sekolahan. Berziarah ke Kelampaian menyusuri kegelapan malam di semak belukar dan jalan bebatuan Kampung Melayu sampai ke Dalam Pagar. Katanya, kamu khawatir jalan mulus beraspal Ahmad Yani tersebab banyak truk-truk batu bara berseliweran. Itulah kamu, lebih memilih melewati pohon-pohon tua berhantu dengan bermacam binatang liar daripada truk-truk yang berdebu.

Besoknya, kau memutuskan menjadi mustami di pesantren ini. Sebagai pendengar setia. Belajar mendhabit kitab. Mengikuti kami yang terlalu banyak sholat sunat. Begitu, kan kamu bilang. Ah, kau lugu sekali waktu itu. Di tahun-tahun pertama, kau mulai tak mau lagi sering-sering pakai celana levis panjang. Kau lebih sering memakai sarung dan berkopiah haji sobat. Aku geli melihatnya. Meski hal demikian kuakui sebagai santri pemula.

Setelah namamu tercantol dalam absen guru, kau mulai pelangak-pelongok. Memahami nadzhom serta bait-bait yang harus dihapal. Begitu banyak ayat-ayat yang harus kau ingat. Begitu tebal kitab-kitab yang harus kau pelajari. Di waktu ini, kau banyak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, indahnya beribadah, nyamannya hidup, dan tragisnya kehidupan.

Namun waktu 10 tahun menjadi santri itu telah berlalu, pemikiranmu terlalu cepat berkembang. Kau justru memilih menjadi mahasiswa. Meski hal demikian tak pernah kami inginkan. Bahkan terpikirkan pun tidak. Tapi, iri kah kau saat melihat kami berbondong-bondong pergi ke rumah guru-guru melaksanakan berabgai ijazah? Namun lagi-lagi, kau memang selalu melangkah lebih dulu dari kami. Seharusnya kita berbarengan. Tapi ya sudahlah. Kau memang tak pernah segan untuk mengambil keputusan. Kau adalah teman kami yang keras kepala namun selalu beruntung. Kuharap, saat ini memang momentum yang kau impikan dan hasil-hasil yang telah kau tanam dulu.

Wahai anakku yang pertama, yang memancarkan cahaya-cahaya. Ingatkah kau dulu lahir dari rahimku. Dimasa-masa dalam ayunan kau begitu pengertian. Kau tidur saat ibu membuat beberapa bongkah kue untuk dijual di tempat orang. Usai mengerjakan beberapa keperluan, kau bangun untuk ditimang-timang. Kau selalu berusaha menyesuaikan keadaan. Kau begitu pengertian. Ketika beranjak menjadi dewasa, kau mulai menyusahkan.

Wahai anakku yang memancarkan cahaya, yang selalu aku andalkan. Aku Ayahmu. Masa labilmu adalah masa yang membuat aku sering sakit hati. Aku sempat mendambakan kau akan mengikuti jejakku menjadi orang penting di pemerintahan. Yang tak pernah lepas dari doa orang tua. Yang selalu mencium dan memeluk dengan kasih sayang. Tapi sangat disayangkan, kau begitu membuat emosiku beringas. Kau sering kali menjawab statement-statmen dariku dengan mulutmu. Masih jelas teringat di kepalaku saat aku memandikanmu dengan omelan-omelan sampah. Dengan cacian dan makian yang sebelumnya kau lemparkan ke wajahku, Ayahmu sendiri. Berapa buah ember plastik, rotan kayu, bahkan saking bengisnya, aku menyeret bajumu sampai robek ketika kau lupa waktu untuk pulang ke rumah. Kau terlalu bebas sebelum waktunya.

Meski sekarang aku sadar kini semua tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Saat kamu memutuskan untuk bersekolah di ranah agama. Aku tak melarang, aku ridho dengan keinginanmu. Dengan satu peringatan agar kau tidak sekadar membasahi sebelah kakimu di sana, melainkan basahkan seluruh tubuhmu. Aku tak pernah menyesal mendidikmu menjadi kepribadian yang saat ini kau miliki. Jauh dari pengawasan kami berdua bukan berarti kau semena-mena. Meski kami tak terlalu mengetahui pergaulanmu semasa perantauanmu menuntut ilmu, namun aku yakin, jalanmu sudah ditentukanNya. Semua penentuan kuserahkan kepadaNya.

Anakku yang memancarkan cahaya. Kau tak perlu ragu dengan dukungan kami dan saat kami berdoa. Segala doa-doa yang baik selalu kami panjatkan untukmu di sana. Banyak sekali perubahan yang kudapati saat kau pulang ke rumah. Tata bahasamu, pemikiranmu, jalan pilihanmu, tingkahlakumu yang pernah membuat amarahku memuncak kini telah padam.

Aku tak pernah tahu cita-citamu sebenarnya apa. Karena selalu berubah-ubah. Masih ingatkah dulu pembicaraan kita menjelang Idul Fitri. Katamu, jika memang kau lulus 10 tahun di pesantren kau akan meneruskan sekolah tahfidz. Menjadi penghapal Al-Quran. Dan mengabdikan diri menjadi khadam kepada guru-guru yang sempat mengajarkanmu beberapa disiplin ilmu. Tapi, bukankah sekarang keinginan itu berubah lagi.

Saat kau mulai masuk kuliah. Aku senang bercampur cemas. Aku senang kau mulai berpikir logis dan masuk akal. Namun aku cemas jika kuliahmu terkatung-katung dan terlambat menjadi sarjana. Ternyata kekhawtiranku benar. Kau tampak terkatung-katung dalam hal pendidikan. Tapi tidak dalam pemikiran. Kau tidak pintar, tapi kau cerdas. Aku tak pernah mengerti apakah profesimu sekarang itu cita-cita, atau sekadar karier belaka. Sudahkah kau bersyukur dengan nikmat-nikmat dan keberuntungan yang diberikanNya kepadamu wahai anakku. Coba kau ingat lagi kata-kata Ibumu tempo hari.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Doa Ibu di setiap sholat tak pernah lepas untuk kebahagiaanmu. Kau terlalu beruntung jauh dari pikiran kami sebelumnya. Ingatkah bahwa kau tak sempat menamatkan sekolah lanjutan pertamamu? Ingatkah pula bahwa kau tak sempat sekolah SMA seperti anak-anak yang lainnya. Namun justru kulihat kau lebih cerdas dari mereka yang sekolah-sekolah Tinggi. Kau memang tak jauh dari masa-masaku dulu. Senang membaca, hobi menulis. Namun tak tak kusangka kau memilih jalan yang kuanggap berbahaya, menjadi seorang jurnalis. Kau kira itu perihal mudah, Nak? Kau kira orang biasa bisa melakukan pekerjaan seperti yang kau kerjakan sekarang? Tidak. Itu tidak mudah.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan keadaanmu yang sekarang. Kau telah dewasa. Kau mempunyai pekerjaan. Kau bisa menjadi Imam untuk kami keluarga. Kau punya ilmu untuk selalu kita diskusikan di keluarga. Kau punya gaya. Kau terlalu cepat melangkah. Hanya saja aku ingatkan, agar jangan terlalu jauh melangkah sehingga kau lupa jalan untuk kembali. Kini, kau akan segera menikah. Kau akan meninggalkan kami dan membangun kehidupan baru, membina rumah tangga, dan menjalani masa-masamu menuju persoalan yang lebih rumit. Tapi, kau jangan mengkhawatirkannya. Selama kami, kedua orangtuamu masih ada, selama kami mampu, kami akan selalu membantu. Dan jangan khawatir tentang doa, kami akan selalu mendoakanmu, Nak.

Wahai muridku yang keras kepala. Ingatkah aku? Aku gurumu yang mengenalkan huruf demi huruf. Yang menjadi perantara hingga saat ini bisa kau membaca. Ketika mulai bisa berbahasa, kau menambah lagi untuk mengenal huruf-hufur hijayah. Sampai ketika kau bersekolah seperti anak yang lainnya. Ingatkah bahwa kau sangat cengeng waktu itu, kau sering menangis karena tak mampu mnengenali huruf yang berkelok-kelok itu. Kau bodoh.

Berapa guru yang sudah mengajarimu? Berapa ilmu yang sudah kau dapat dari mereka? Sudahkah kau amalkan ilmu yang mereka ajarkan. Sudahkah kau gunakan dengan baik apa-apa yang sudah mereka berikan? Pertanyaan itu hanya bisa kau jawab sendiri Ananda. Kau bisa mengaji. Kau juga menuntut ilmu agama. Tahukah sudah kau yang mana yang harus dilaksanakan dan yang mana yang harus kau jahui. Kami guru-gurumu mengharapkan kamu bisa menjadi “orang”. Menggapai cita-cita, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami berikan. Kau kini sudah dewasa. Tentu bisa memilah yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Semua terserah padamu.

Aku hanya beraharap agar kau tak sombong. Aku juga ingin agar kau selalu ingin belajar. Siapapun yang mengajarkanmu suatu ilmu, dia adalah gurumu. Kurasa aku tak perlu memberikanmu terlalu banyak penjelasan. Di umurmu yang sekarang, aku yakin kau mengerti arti semuanya. Sebagai guru, aku hanya berharap murid-muridku berhasil mengamalkan apa-apa yang telah kau pelajari. Dan menggapai cita-cita.

Wahai calon suamiku, ingatkah masa-masa kita bertemu dulu? Ingatkah betapa kita berjuang melewati segala rintangan. Aku tahu sebenarnya tak sedikit kita melakukan kesalahan. Dan tak sedikit pula kita beradu pembenaran-pembenaran. Beradu argumentasi. Saling keras kepala. Kadang tak mau mengalah. Tapi sejauh ini, aku sadar kau sering mengalah. Kau terkadang egois, tapi justru membuatku sadar. Aku tak pernah mempunyai alasan mengapa aku selalu sayang sampai detik ini. Kau pun tak pernah punyai alasan mengapa sampai menyayangiku saat ini. Aku berharap rasa ini memang murni karena ketentuan dariNya. Juga kita harapkan. Aku selalu berdoa. Segala doa-doa yang baik aku panjatkan kehadiratNya. Aku ingin kau menjadi Imamku. Menjadi yang halal bagimu. Yang membimbingku kelak kepada keridhaan Ilahi. Aku tak perlu bertanya apakah kau bisa melakukannya. Aku sudah yakin. Aku tak ingin keyakinanku berubah. Semua kuserahkan padaNya.

Wahai hambaKu yang terlena, ingatkah kau sekarang kepadaKu. Aku menegurmu bukan berarti kau makhluk istimewa dibandingkan makhluk yang lainnya. Semua kedudukan manusia sama. Tak ada yang berbeda. Perbedaan bagiKu hanya ketaqwaan hamba kepadaKu. Sudah sampaikah kau mencapai taqwa itu? Tidak. Wahai hambaKu. Kau tidak ada apa-apanya di dunia yang fana ini. Kubiarkan kau berpijak dibumiKu, kubiarkan hidup di bawah matahariKu yang sering membuatmu kepanasan. Padahal kamu tahu, dibandingkan nerakaKu, tak ada apa-apanya. Banggakah diumurmu yang telah sampai 24 tahun ini hidup dalam pengawasanKu? Sadarkah dalam kurun waktu yang pendek itu kau kuberikan segala kenikmatan? Kenikmatan semua panca indra. Kenikmatan semua kebutuhan untuk sekadar kau hidup. Sesekali kau ingat denganKu. Namun seringkali kau justru lupa. Jikapun Aku mau, bisa saja aku cabut semua kenikmatan dan pengetahuanmu saat ini. Kamu mau apa, hambaKu?

Wahai hambaKu yang terlena, pemberian nikmat mana yang bisa kau dustakan dariKu. Kau telah belajar tentang keesaanKu dari rasulKu Muhammad SAW yang telah kuutus ke bumi beribu-ribu tahun silam dari masamu melalui turunan-turunan dan pewaris segala ilmu pesuruhKu. Sampai kepada manusia-manusia yang tak lain hambaKu juga. Termasuk kamu yang saat ini, aku tahu, sedang memikirkanKu.

Wahai hambaku yang terlena, kau memang selalu berprasangka baik kepadaKu. Kau juga sadar arti kau hidup di dunia untuk menyembah kepadaKu. Kau tahu perihal yang Aku larang dan yang aku suruh. Tapi mengapa kau sering melanggarnya. Kau sering lupa menghadapKu tapi kau tahu bahwa Aku tak pernah lupa mengingatkanmu. Kau sadar dengan bentuk-bentuk teguran yang Aku tampakkan melalui beberapa kejadian dalam kehidupanmu. Tapi mengapa kau masih sering lupa kepadaKu.

Jikalau Aku ingin, bisa saja menyudahi kehidupanmu. Saat ini pun Aku tahu kau sedang berkeringat dingin. Tapi apakah kamu tahu, takdir kehidupanmu sampai mana. Katamu, ulang tahun hanyalah perpendekan umur dari kadar jatah manusia sebagaimana kekasihKu Muhammad yang Ku ambil saat dia berumur 63 tahun. Begitu? Berarti kamu tahu jatahmu tinggal di duniaKu tinggal lagi 39 tahun. Itu pun jika aku memanjangkan umurmu sampai 63 tahun. Jika tidak, kau mau apa, wahai hambaKu yang terlena.

Kau masih ingat bahwa golongamu hanyalah hewan yang mampu bertutur. Kalian dimuliakan hanya lantaran bisa berbicara, bisa berakal, bisa berpikir, bisa sadar akan kekuasaanKu. Jika tidak, kalian tak lebih sekadar binatang. Kau pernah sombong, berbohong, toma, kasar, angkuh, serakah,  Kamu beruntung sampai sekarang masih menjadi manusia, wahai Ananda. Aku menganugerahkan kemampuan berpikir dalam otakmu, kemampuan yang normal disemua inderamu. Kau bisa membaca kalamKu. Kau sering berusaha berkomunkasi dengan ayat-ayat suci itu. Tapi kenapa pikiranmu kemana-mana. Apakah kau tidak ingat aku sedang mendengarkanmu berbicara denganKu. Kau lupa Ananda.

Aku tidak mencacatkanmu seperti hamba-hambaKu yang lain. Semua itu hanyalah secuil bukti kekuasaanku. Ingatlah hambaKu Ananda, ada Raqib dan Atid yang kusuruh mencatat semua perihal tentangmu. Kau tahu itu, kau juga meniru-meniru mereka dengan mencatat-catat kebaikan dan kesalahan orang lain. Lalu apakah kau sadar bahwa dirimu juga sedang dicatat oleh malaikatKu? Diam dan gerakmu dalam kuasaKu. Aku bisa melakukanmu sesukaKu. Namun kuberi kau secuil keberuntungan karena kau selalu berprasangka baik kepadaKu. Meski kau sering kufur, dan lupa akan kenikmatan yang aku berikan. Jika kusuruh Izrail saat ini datang kepadamu, kau mau apa? Mau tobat. Memangnya sempat?

Wahai hambaKu yang terlena, aku tahu masih ada ketakutan dalam hatiMu. Namun terkadang aku juga menemukan keberanian dan kerinduan terhadaKu. Hatimu masih berbolak-balik. Namun, prasangkaMu terhadapKu masih saja baik. Aku selalu mengawasimu. Sadarkah kau beberapa kali melakukan kesalahan, melanggar perintah, melakukan dosa-dosa, namun aku tak segera menghukummu? Aku sengaja membiarkanmu dan menegur dengan kejadian-kejadian kecil saja. Agar kelak kau sadar. Aku masih membiarkanmu berbuat sesuatu dan selalu mengawasimu. Aku ingin keimanan dan kepercayanMu terhadapku masih ada dalam benakmu meski meski sekadar biji sesawi. Sampai tiba waktunya aku perintahkan Izrail mendatangimu. Tapi tidak sekarang. Nanti. Itu rahasiaku bersama para malaikat. Golongan manusia tak boleh tahu. Aku hanya memberikan beberapa klu jika waktunya tiba. Memangnya siapa yang bisa mendahului kehendakKu? Tidak ada wahai hambaKu yang terlena.

Di hadapan, Aku sudah mengatur beberapa skenario perjalanan untuk kau jalani. Skenario itu bukan berarti baku. Aku memberikan kesempatan untuk kau revisi sendiri. Bukankah sekarang katanya kau sudah punya ilmu? Walaupun menurutku itu tak ada apa-apa bagiKu. Tapi lakukan saja, kau bisa merevisinya dengan perlakuanmu. Dengan taqwamu, dengan doa-doa yang kau panjatkan terlebih saat kau sadar dari keterlelapan malam. Di sepertiga malam. Ah, kau tahu itu Ananda, tapi tak kau lakukan tersebab menuruti kemauan iblis yang sering menyimpul matamu. Padahal kau tahu, ia juga makhlukKu yang kuperintahkan.

Wahai hambaku yang terlena. Bersyukurlah karena kau sudah kuatur dalam keluarga dan orang-orang yang sayang kepadamu. Nikmat-nikmatmu yang selalu kuturunkan namun kau tidak tahu. Arrrgghhhh… aku terkadang benci dengan keterlupaanmu padaku. Tapi, aku bangga kau masih saja berprasangka baik denganKu. Berapa kalam lagi harus kusampaikan agar kau bersyukur. Kau hanya kurang beryukur. Kurang bersyukur. Kurang bersyukur. Kuran bersyukur. Sekarang, kita lihat. Apa kau sudah sadar.

 

Banjarbaru, di kesunyian malam 07.06.2013.

 

Sombong

Disadari atau tidak, rasa sombong itu hinggap saat kita mengaku tidak merasa sombong. Bukannya aku sombong. Aku tidak sombong. Aku tak ingin sombong. Atau seaindainya aku boleh sombong. Saat kita tak merasa sombong itulah kesombongan akan datang.

 

Maka dari itu, lebih baik akui saja kesombongan. Sebab, saya punya teman yang saat ini sudah ada pada makam sombong. Sebaliknya, mungkin itulah hakikat kesombongan. Lalu, aku sombong dengan menerangkan semua kesombongan ini. Kata ahli kejiwaan, sombong itu diperlukan, yang penting tepat pada waktunya dan sesuai dengan tempatnya. Tempat dimana kita bisa mentertawakan kesombongan. Anda sombong? Mereka sombong? atau kita yang sombong?

 

Kalau sombong sudah bisa dimengerti dengan bijak, maka bentuknya akan seperti bola berwarna-warni yang rasanya manis. Kalau dicoba, bisa ketagihan. Kalau dipermainkan, akan jadi berebutan. Kalau diceritakan, akan terdengar lucu dan ditertawakan. Tapi bukankah disitu letak indahnya kesombongan.

 

Sombong itu seru sekali. Apalagi saat diajak berteman. Banyak bahan sombong yang bisa kita olah menjadi lelucon yang tak  bisa digantikan bahkan dengan cerita yang isinya hanya kesombongan. Nah, anda tidak paham? stress? Santai saja. Terkadang sombong juga merasa tidak paham, stress, dan juga sombong santai. Santai. Yang penting tetap sombong.

 

Awas, jangan gunakan sombong di sembarang tempat. Putar kepala. Jentikan jari. Jaga emosi. Dan lepaskan kesombongan. Nah, dimana berada sombong sekarang? Sayangnya, dia sudah berkarat dalam hati yang sombong. Kata teman saya sombong itu letakkan di tangan, saat tidak diperlukan kita tinggal lepas genggaman dan sombong pun hilang. Berbeda kalau menyimpannya dalam hati. Meski sombong itu hanya berada sebesar biji sesawi di ujung hati, rusaknya bisa menyebabkan sekali jasad.

 

Lalu saat ini kita sedang merasa tidak sombong. Nah, hati-hati. Ini adalah celah kesombongan singgah. Lalu bagaimana agar dia pergi. Selama jantung berdetak, kita tak akan pernah sadar kapan kita diliputi kesombong dan kapan kita melepaskan kesombongan. Kesombongan itu akan menjadi perbuatan yang terpuji jika kita paham.  Paham situasi dan kondisi. Sombong itu akan menjadi sangat lucu saat kita merasakannya. Rasakan. Betapa pentingnya sombong dalam kehidupan. Dan betapa lucunya jika sombong bisa kita tetawakan. Sudahkan anda sombong hari ini?

 

 

Lampau, Menjelma Kini Mewujud Lalu

17732143

Judul Buku ; Lampau
Penulis : Sandi Firly
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal : x + 346 hlm; 13 x 19 cm
Rate : 3 of 5

Karena bagaimanapun, masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar – Khaled Hosseini, The Kite Runner

 

Keinginan dan keutamaan dalam menuntut ilmu lah menurut saya mendasari tokoh utama dalam buku ini. Sandayuhan atau Ayuh merupakan seorang anak laki-laki yang lahir dari seorang Balian di sebuah pedalaman Loksado, Kandangan, Kalimantan Selatan. Uli Idang -Ibu Ayuh- terpaksan membersarkannya Ayuh seorang diri hanya karena alasan yang tidak saya terima, sebagai pembaca.

Hingga pada suatu jalan, Ayuh harus memilih untuk keluar dari tanah kelahirannya demi sebuah keinginan, yakni menuntut ilmnu. Sebagaimana yang disebutkan Sandi Firly dalam novelnya yang kedua ini, Ayuh –tokoh utama dalam novel tersebut- justru bingung, sama sekali tidak mempunyai cita-cita. Hidupnya mengikuti arus sungai menurut apa yang dilakukannya. Sampai dimana ia menentang suatu adat Dayak Meratus yang sakral.

Bicara dari segi penulisan, Sandi berhasil mebuka cerita dengan prolog yang memang di setting untuk membuat pembaca penasaran. Nilai tradisi dalam upacara adat yang disebut Aruh telah dipaparkan Sandi di Bab pertama. Cerita tentan kelahirannya yang tak lazim dengan unsure-unsur magis dan mistis (menurut saya) dipadu dalam rangkaian kata yang renyah dan menarik. Awalnya, saya berfikir Novel ini akan menceritakan super hero bekekuatan magis dari pedalaman Kalimantan, ternyata tidak, justru lebih dewasa dan sarat akan pelajaran kehidupan.

Masih dari segi penulisan, Sandi menulis dengan plot yang random namun terarah. Dalam kacamata pembaca yang belum membuahkan satu novel pun seperti saya, Sandi seoalaj-olah menceritakan lebih dulu keseluruhan novelnya yang dibagi menjadi layaknya cerpennya di tiap awal bab. Memasuki awal judul setelahnya, barulah Sandi menjabarkan satu persatu cerita yang sudah yang dirangkum di awal bab. Hingga pada ending novel, Sandi kembali membukanya dengan cerpen pembuka seperti awal bab, namun tak menjabarkan seperti halaman sebelumnya. Begitulah, akhir cerita yang membuat pembaca bertanya-tanya. Siapa pilihan Ayuh sebenarnya, Alia? Atau Ranti! Ini merupakan bumbu drama cerita percintaan remaja yang beranjak dewasa dalam Novel Lampau yang sarat akan kearifan lokal Dayak Kalimantan.

Faktor Proximtiy. Kedekatan pembaca dengan cerita yang dituliskan Sandi Firly dalam Novel Lampau membuat saya mudah membayangkan. Ini yang menjadi poin utama saya dalam menilai. Di mana di upacara Aruh Adat Dayak di awal masa panen yang pernah saya saksikan, seperti itu pula yang Sandi ceritakan. Dari keindahan Sungai Amandit dan sejumlah Air Terjun yang membuat Loksado sejuk dan memesona.

Kemudian dilanjutkan dengan perjalanannya dengan taxi menuju Kota Banjarbaru. Melewati Martapura yang kuat akan gelar Serambi Mekkah dan Kota Santri yang mana ketika kita lewat di jembatan Antasan Senor Martapura, Kabupaten Banjar, Kumpulan Santri Pondok Pesantren Darussalam Martapura berseliweran dengan sarung, kopiah, dan kitab-kitab besar yang dirangkulnya di dada.

Dilanjutkan dengan cerita kehidupan para Santri di Darul Ilmi yang sangat familiar bagi saya yang juga sempat merasakan kehidupan menjadi Pondokan –sebutan bagi santri pendatangan yang tinggal dan menuntut ilmu di Pesantren Martapura-. Sehingga sangat mudah bagi saya membayangkan setting cerita maupun karakter tokoh yang Sandi ceritakan ketika Ayuh berada di Pondok Pesantren. Nah, bagaimana ceritanya seorang Balian yang tidak memeluk agama Islam justru bersekolah di sekolah Pendidikan Agama Islam. Ini poin besar bagi pembaca fanatik akan agama, atau yang suka dengan perdebatan persoalan agama. Ini menjadi senjata Sandi untuk kembali membuat pembaca penasaran.

Selanjutnya, saya yang juga pernah merasakan berlayar dengan kapal besar menuju Surabaya sangat mudah membayangkan ketika Ayuh seakan mabuk laut. Dan memaksanya harus tinggal di kehidupan keras di Jakarta. Selanjutnya, saya bisa membayangkan alur cerita kehidupan Ayuh seperti cerita FTV yang ditayangkan SCTV. Itu menurut saya.

Pada akhirnya, sebagai Orang Banjar saya bangga dengan Novel Lampau karya Sandi Firly. Pembaca lokal Kalimantan saya jamin pasti menemui kemudahan dalam membayangkan setting cerita di Novel ini. Dengan cerita lokalitas kental yang berimbang dengan cerita drama percintaan sebagai bumbunya. Gagas Media selaku penerbit berhasil lagi menyajikan buku bagus yang juga menginspirasi para pembaca.

Sebenarnya banyak masih ungkapan pada Novel Lampau yang tak sempat tertuliskan. Pada akhirnya, saya terkesima dengan alur dan plot Novel Lampau yang sangat filmis. Bahkan saya pun sudah bercanda dengan imajinasi saya sendiri memilih para aktor dan artis dan menciptakan frame-frame sendiri saat melumatnya dalam satu malam. Membeli siang harinya, dan menamatkan di malamnya, dini hari tepatnya. Secara, setiap halamannya selalu berhasil memberi rasa penasaran. Karena factor proximity itu tadi, tak berlebihan rasanya jika saya memberikan bintang lima. Dan menungu Karya Sandi Firly selanjutnya. Sembari menulis mengharapkan melampaui “Lampau” ini nantinya. []

 

,