Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Tanam Pohon Untuk Masa Depan

Peringati HKGB ke-62 dan HUT Bhayangkara ke-68 

ananda_LISTRI KAPOLDA_latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibit pohon di SPN Sungai Ulin Banjarbaru2Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon melaksanakan penanaman bibit pohon dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-62, Sabtu, (14/6), di SPN, Sungai Ulin Kota Banjarbaru, kemarin. Kegiatan itu juga sekaligus menjadi perayaan HUT Bhayangkara yang ke-68 yang dihadiri Kapolda Kalsel Brigadir Jendral Polisi Machfud Ariffin.

Ketua Bhayangkari Lita Machfud kepada sejumlah wartawan mengkritisi  lingkungan di Kalsel yang rusak akibat eksplorasi tambang namun minimnya upaya reklamasi atau penghijauan kembali. “Maka dari itu dengan dengan penanaman pohon ini diharapkan mampu menggerakkan semua elemen warga sebagai budaya penanaman pohon,” ujarnya.

ananda_Latihan menembak dari sejumlah Jajaran Polda Kalsel disertai istri usai penanaman bibi pohon di SPN Sungai Ulin BanjarbaruMenurutnya, tak pernah ada hal yang sia-sia terkait menanam pohon. Karena, katanya, efek dari penghijauan atau reklamasi merupakan jangka panjang yang akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Terlebih untuk anak cucu kita nantinya. Karena kita tak ingin di 10 hingga 20 tahun mendatang daerah yang kita cintai ini sudah tidak ada pepohonan yang menopang ekosistem dan mensterilkan udara. Hal ini sebagai upaya kita menyayangi bumi dan anak-cucu kita nanti,” ingatnya.

Tak hanya itu, kegiatan juga dilanjutkan dengan hiburan dan latihan menembak sejumlah jajaran Polda Kalsel. Dalam momentum tersebut Ketua Bhayangkari Lita Machfud dan jajaran lainnya berkesempatan berlatih memegang pistol, menarik pelatuk, dan membidik sasaran. Kegiatan juga dilanjutkan dengan kegiatan yang sama di GOR Rudy Resnawan Jl Trikora Kota Banjarbaru.

Tak Berizin, Satpol Ancam Tutup Mutia Optik

???????????????????????????????Dewasan ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarbaru sedang gencar-gencarnya melakukan penertiba. Kali ini giliran bangunan yang tak berizin dan sejumlah usaha yang tidak mempunyai izin operasi.

Anggota Satpol PP menyirisi sejumlah badan usaha termasuk usaha kacamata. Refraksionis Optisien Ahli Kacamata Mutia Optik yang terlektak di Jalan A Yani km 34 terdata tidak memiliki izin operasional dan surak rekomendasi dari Dinas Kesehatan yang mestinya berujung pada perizinan.

Mutia Optik sendiri pada awalnya sudah menerima peringatan pertama pada tanggal 5 Februari 2014. Namun tak digubris dan tak ada upaya untuk mengurus segala bentuk perizinan, akhirnya Dinas Kesehatan pun melayangkan surat peringatan kedua.

Pemilik Mutia Optik dalam obrolannya melalui telepon genggam dengan anggita Satpol PP mengaku sudah mempunyai izin resmi. Namun sayang surat yang ditunjukkan tersebut dari perizinan wilayah Kabupaten Banjar bukan dari Kota Banjarbaru

Seksi Operational Syukeri menuturkan, jika yang bersangkutan belum juga melakukan pengajuan untuk mengurusi izin operasinal dalam jangka waktu 14 hari waktu kerja, pihaknya akan melakukan pemanggilan resmi dan usaha tersebut dipastikan akan ditutup secara paksa. Maka si pemilik akan diproses secara hukum.

“Beberaoa waktu lalu sudah diberi peringatan. Pemilik mengatakan sudah mengurus pengajuan perizinan atas nama anaknya. Tapi nyatanya saat kita konfirmasi ke Dinas Kesehatan justru tidak ada sama sekali,” jelasnya.

Kepala Bidag Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehata (PSDMK) Zanak Arifin SSos MAp MMkes memastikan bahwa pihak Mutia Optik memang tidak ada mengajukan izin apa pun.

“Memang pada tanggal 5 Februari sudah kita berikan teguran untuk mengurus perizinan. Namun terakhir, hari ini, (kemrin, red) pihaknya BP2T memang belum mengantarkan berkas pengajuan oleh yang bersangkutan. Sebab sebagaimana pelayanan satu pintu. Setiap hari BP2T mengatar berkas untuk dilakukan survey cek ke kapangan yang berakhir pada rekomendasi, tempat yang dimaksud layak,” terangnya.

Ia juga menghubungi pihak Mutia Optik yang mengaku sudah mengurus perizinan beberapa waktu lalu. Namun kenyataannnya memang tidak ada pengajuan apa pun yang ia terima.

Berdsasarjkan syrat NO.503/030-PSDMK/Dinkes yakni pada tanggal 7 Januari 2014 sudah diberikan surat peringatan kedua.

“Dalam surat sudah jelas dimohon untuk menghentikan operasional/kegiatan optikal sampai diterbitkan izin. Hal ini mengacu pada menaati peraturean Mentri Kesehatan Nomor 1424/Menkes/SK/XI/2002 tentang pedoman penyelenggaraan Optikal Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa setiap penyelenggara optikal wajib memiliki izin,” tambahnya. Di antaranya juga bermaksud untuk mentaati Peratudan Daerah (Perda) Kota Banjarbaru Nomor 17 tahun 2009 tentang izin Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta (SPKS).

Jelaskan Undang-Undang APN

 Walikota Banjarbaru HM. Ruzaidin Noor didampingi Wakil Walikota Banjarbaru H Ogi Fajar Nuzuli serta Plh Sekdako Banjarbaru Dr H Burhanuddin SE MSi menghadiri sekaligus membuka kegiatan sosialisasi kelembagaan Dewan Pengurus KORPRI Kota Banjarbaru, Senin, (17/2), di Aula Gawi Sabarataan Kota Banjarbaru, kemarin.

Dalam sambutannya Walikota menyampaikan, terkait peningkatan wawasan pegawai sehubungan dengan undang-undang ASN (Aparatur Sipil Negara), maka posisi dan kedudukan KORPRI dengan adanya undang-undang ASN ini diberlakukan.

“Kita harapkan penguatan organisasi KORPRI diseluruh SKPD, terhadap semua pengurus KORPRI, baik itu di SKPD, maupun kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.

Selain itu, menilai sosialisasi kelembagaan diharapkan menjadi dasar bagi anggota KORPRI untuk dapat melakukan pelayanan optimal kepada  masyarakat, sehingga secara otomatis pegawai negeri sipil telah menjalankan tugas pelayanan sebagai abdi masyarakat, negara, dan pemerintah, sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang 1945.

“Melalui sosialisasi ini diharapkan mampu memberikan tambahan wawasan dan panutan kepada seluruh anggota korpri dan juga bagi masyarakat  pada umumnya, dengan peningkatan kinerja yang optimal kedepannya,” katanya.

Walikota menjelaskan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014  Tentang Aparatur Sipil Negara, agar melakukan perencanaan kinerja yang dilaporkan kepada masing-masing pimpinan SKPD, dan apabila pegawai tersebut tidak sanggup memenuhi sasaran kerja yang dicapai maka bisa mengundurkan diri dari jabatannya, poin penting pada pasal 77 ayat (6) PNS yang penilaian kinerjanya tidak mencapai target kinerja dikenakan sanksi administrasi sampai dengan pemberhentian sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

“PNS sebagaimana dimaksud merupakan Pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dan memiliki nomor induk pegawai secara nasional. Adapun PPPK merupakan Pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) sesuai dengan kebutuhan Instansi Pemerintah dan ketentuan Undang-Undang ASN. Jadi Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur negara, yang melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan Instansi Pemerintah, harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu Walikota Banjarbaru menyerahkan tali asih kepada anggota KORPRI yang telah memasuki purna tugas, didampingi Wakil Walikota dan Plh Sekdako Banjarbaru.

Dana Sertifikasi Guru Segera Cair

Kabar gembira bagi para guru yang bersertifikasi di Banjarbaru. Pasalnya dalam waktu dekat ini dana sertifikasi akan segera dicairkan. Hal tersebut terkuak setelah ditimpa banyak keluhan keterlambatan yang terjadi.

Kepala DPPKAD Kota Banjarbaru Drs Thalmie Hasani menuturkan, dana sertifikasi guru yang terlambat selama ini di Kota Banjarbaru akan dibayar setelah perubahan APBD Banjarbaru di akhir bulan Sepetember mendatang.

“Kita memang menerima informasi banyaknya keluhan para guru tentang dana sertifikasi mereka yang selalu kurang dari rata-rata dalam 14 bulan belakangan yang belum dicairkan,” katanya. Meski demikian pencairan danan segera cair usai disetujui oleh dewan pada APBD perubahan.

Ketua DPRD Kota Banjarbaru Drs H Arie Sophian MSi, memaparkan pihaknya bersama pemkot sepakat menyiapkan anggaran yang dibutuhkan untuk membayar kekurangan tunjangan bagi tenaga pendidik tersebut.

“Dananya dialokasikan dalam APBD Perubahan 2013 dan disepakati akan dibayar jika sudah ada persetujuan APBD Perubahan secara keseluruhan,” ujar Arie kepada sejumlah wartawan, Selasa, kemarin.

Dikatakannya, anggaran yang disiapkan sebesar Rp 8 miliar untuk membayar kekurangan tunjangan sertifikasi bagi 1.270 guru yang tersebar di sekolah-sekolah kota itu. “Sebagaimana yang diketahui kita dari pemerintah dan dewan cukup banyak menerima keluhan dari para guru yang sudah mengantongi sertifikasi karena tidak menerima tunjangan selama satu tahun penuh,” katanya.

Keluhan tersebut seputar tunjangan yang tidak dibayar penuh sejak 2010. Bahkan ada pula yang mengatakan tertinggal satu hingga dua bulan sehingga mengadukan permasalahan tersebut ke DPRD. Keluhan tersebut juga disampaikan kepada Pemerintah Kota Banjarbaru.

“Pemko Banjarbaru telah menyampaikan perihal tersebit yang segera kita bahasa bersama DPRD mengalokasikan tambahan dana ke Kementerian Keuangan untuk membayar kekurangan tunjangan sertifikasi tersebut,” tambahnya.

Lantas tambahan dana sertifikasi nantinya disetujui Kemenkeu sehingga dana bisa bisa dialokasikan dalam APBD perubahan dan dijadwalkan bulan Oktober sudah bisa dicairkan.

“Ditekankan Arie, tidak dibayarnya dana tunjangan sertifikasi secara penuh itu bukan kesalahan pemkot tetapi karena masalah teknis yang berhubungan dengan Kementerian Keuangan.

Kepala Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPKKAD) Banjarbaru Thalmi Hasani mengatakan, pihaknya menyiapkan dana untuk membayar sertifikasi guru sebesar Rp56 miliar termasuk kekurangan sejak 2010.

Ditambahkan, kekurangan dana tunjangan sertifikasi terjadi karena dana yang dikucurkan Kemenkeu tidak cukup bagi guru penerima sertifikasi yang jumlahnya bertambah setelah dana tunjangan dicairkan.

“Awalnya jumlah guru penerima sertifikasi diajukan ke Kemenkeu. Namun begitu dananya dicairkan, ternyata ada tambahan guru bersertifikasi yang harus dibayarkan. Oleh karena dana kurang sehingga dana yang sudah tersedia dibayarkan tetapi tidak bisa penuh satu tahun. Maka ada kekurangan satu hingga dua bulan yang tidak dibayar,” pungkasnya.

Proyeksi Pekerjaan Kegiatan Pembangunan Jembatan Jalan Zam Zam Jaelani, Kelurahan Kemuning Paket 1, Kecamatan Banjarbaru Selatan,

OLYMPUS DIGITAL CAMERADinas Pekerjaan Umum Kota Banjarbaru Bidang Bina Marga melaksankan proyeksi pekerjaan kegiatan pembangunan Jembatan Jalan Zam Zam Jaelani, Kelurahan Kemuning Paket 1, Kecamatan Banjarbaru Selatan, dengan volume jembatan 11 Meter. Pembangunan atau perbaikan jembatan tersebut didanai melalui APBD Pemko Banjarbaru Tahun Anggaran 2013 dengan nilai kontrak sebesar Rp 742.740.000.

Proyek bernomor kontrak 62/02/SP/BANG.JB-/DPU/2013 itu sudah mulai dikerjakan tanggal 28 Juni 2013 lalu oleh kontraktor CV Azhar Attoya Perkasa dengan Wakutu pelaksanaan 150 hari kalender dan 180 hari kalender disertai konsultan pengawas CV Presmatek Consultant.

Bimtek Diharapkan Mampu Tingkatkan Sasaran Kerja Pegawai Pemko Banjarbaru

Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor didampingi Kepala BKD dan Diklat Drs Firdaus Hazairin serta perwakilan dari BKN menghadiri acara pembukaan Bimbingan Teknis sasaran kerja Pegawai Angkatan I tahun 2013 di Aula Linggangan Intan DPRD Kota Banjarbaru, Selasa, (20/8), kemarin.

Pelaksanaan bimbingan teknis dimaksudkan sebagai pemberian bekal pengetahuan dan wawasan bagi PNS dalam menyusun dan memberikan penilaian sasaran  kerja pegawai.

“Sedangkan tujuannya diharapakan Peserta mampu memahami prosedur penyusunan kerja pegawai, mampu memberikan penilaian sasaran kerja pegawai yang obyektif, terciptanya standar yang sama dalam penyusunan maupun penilaian sasaran kerja pegawai,” ujar kepala BKD Kota Banjarbaru Drs Firdaus Hazairin.

Dijelaskannya, materi yang disampaikan kepada peserta Bimtek angkatan I yaitu seputar Kebijakan umum tentang prestasi kerja pegawai, peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja PNS, Perka BKN Nomor I Tahun 2013 tentang ketentuan pelaksanaan Peraturan pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 dan praktek.

“Peserta bimtek ini sebanyak 60 orang pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru selama dua hari. Pelaksanaan bimtek sasaran kerja Pegawai ini dilakukan dalam 7 angkatan,” tambahnya.

Ruzaidin dalam sambutannya mengatakan, dengan semakin kritisnya masyarakat dan sejalan dengan reformasi birokrasi sekarang, kinerja aparatur negara sedang dan akan terus menjadi sorotan masyarakat, sehingga aparatur negara tidak bisa lagi bertindak dan bersikap sekehendaknya tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat.

“Mereka akan terus dituntut untuk meningkatkan pelayanannya baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Semoga melalui kegiatan bimtek ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab individual pegawai dan organisasi secara utuh, meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan tugas, menciptakan standar kinerja dan memastikan pelaksanaan tugas penyelenggara pemerintahan,” punkasnya. (ananda)