Sombong

Disadari atau tidak, rasa sombong itu hinggap saat kita mengaku tidak merasa sombong. Bukannya aku sombong. Aku tidak sombong. Aku tak ingin sombong. Atau seaindainya aku boleh sombong. Saat kita tak merasa sombong itulah kesombongan akan datang.

 

Maka dari itu, lebih baik akui saja kesombongan. Sebab, saya punya teman yang saat ini sudah ada pada makam sombong. Sebaliknya, mungkin itulah hakikat kesombongan. Lalu, aku sombong dengan menerangkan semua kesombongan ini. Kata ahli kejiwaan, sombong itu diperlukan, yang penting tepat pada waktunya dan sesuai dengan tempatnya. Tempat dimana kita bisa mentertawakan kesombongan. Anda sombong? Mereka sombong? atau kita yang sombong?

 

Kalau sombong sudah bisa dimengerti dengan bijak, maka bentuknya akan seperti bola berwarna-warni yang rasanya manis. Kalau dicoba, bisa ketagihan. Kalau dipermainkan, akan jadi berebutan. Kalau diceritakan, akan terdengar lucu dan ditertawakan. Tapi bukankah disitu letak indahnya kesombongan.

 

Sombong itu seru sekali. Apalagi saat diajak berteman. Banyak bahan sombong yang bisa kita olah menjadi lelucon yang tak  bisa digantikan bahkan dengan cerita yang isinya hanya kesombongan. Nah, anda tidak paham? stress? Santai saja. Terkadang sombong juga merasa tidak paham, stress, dan juga sombong santai. Santai. Yang penting tetap sombong.

 

Awas, jangan gunakan sombong di sembarang tempat. Putar kepala. Jentikan jari. Jaga emosi. Dan lepaskan kesombongan. Nah, dimana berada sombong sekarang? Sayangnya, dia sudah berkarat dalam hati yang sombong. Kata teman saya sombong itu letakkan di tangan, saat tidak diperlukan kita tinggal lepas genggaman dan sombong pun hilang. Berbeda kalau menyimpannya dalam hati. Meski sombong itu hanya berada sebesar biji sesawi di ujung hati, rusaknya bisa menyebabkan sekali jasad.

 

Lalu saat ini kita sedang merasa tidak sombong. Nah, hati-hati. Ini adalah celah kesombongan singgah. Lalu bagaimana agar dia pergi. Selama jantung berdetak, kita tak akan pernah sadar kapan kita diliputi kesombong dan kapan kita melepaskan kesombongan. Kesombongan itu akan menjadi perbuatan yang terpuji jika kita paham.  Paham situasi dan kondisi. Sombong itu akan menjadi sangat lucu saat kita merasakannya. Rasakan. Betapa pentingnya sombong dalam kehidupan. Dan betapa lucunya jika sombong bisa kita tetawakan. Sudahkan anda sombong hari ini?

 

 

Eksistensi Seniman Dipertaruhkan

Akhirnya kepengurusan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru periode 2012-2017 resmi dilantik oleh Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Jumat, (10/8), di Aula Gawi Sabarataan, kemarin. Ketua Dewan Kesenian Kota Masih dilanjutkan oleh Ogi Fajar Nuzuli yang juga Wakil Walikota Banjarbaru.

Walikota Banjarbaru dalam sambutannya menuturkan, Pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Kota Banjarbaru tersebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah kota kepada para seniman untuk mengapresiasi segala bentuk dan usaha dalam kekaryaan di Kota Banjarbaru. “Diharapkan lima tahun ke depan DKD Kota Banjarbaru bias eksis penuh tanggung jawab, loyalitas, dan dedikasi tinggi untuk menggapai visi misi yang ditetapkan,” kata walikota.

Menurutnya, perlu adanya semangat dan pembaharuan dalam berkesenian.
“Karena kesenian juga menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya. Keberadaan DKD bias menjadi mitra pemerintah dalam memajukan kesenian dan kebudayaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Harian Dewan Kesenian Provinsi M Syarifuddin R menyampaikan, otorisasi dan tujuan Dewan Kesenian Provinsi sendiri mempunyai kesamaan dengan visi dan misi tidak terkecuali para apresiasi kepada par seniman. “Hal ini sebagai upaya pembinaan dan pengembangan dalam pertumbuhan budaya masyarakat. Semooga dapat dirasakan manfaatnya. Tak hanya Banjarbaru tetapi juga Kalsel, Mari berkarya dan bekerja dalam ranah kesenian,” pungkasnya.

“Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma”

Perayaan pembacaan 18 Mei dengan tema Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma yang dilaksanakan tadi malam, Jumat, (18/5) dihadiri oleh para seniman Kalsel, di Panggung Bunda Pujasera Mingguraya Banjarbaru. Acara tersebut m erupakan apresiasi terhadap karya sastra yang ditulis oleh tiga sastrawan Kalsel pada tahun 1978. Adalah D Zauhidie, Yustan Azidin, dan Hijaz Yamani.

Pembawa acara Ali Syamsudin Arsy mengatakan, digelarnya acara tersebut merupakan salah satu agenda dari seniman Banjarbaru untuk berkomitmen jalinan silaturahmi antar sastrawan dan seniman di Kalsel. Mereka yang dating ada yang dari Banjaramasin, Kota Baru, Hulu Sungai Tengah, dan lain-lain. Hadirin pun disuguhkan dengan berbagai macam kudapan dan makanan yang disediakan panitia. Kegiatan disi juga dengan penuturan dan berbagi cerita para sdeniman yang sempat bergaul dengan tiga seniman tersebut. Seniman asal Kota Baru yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjaru mengatakan, Hijaz Yamani merupakan salah seorang sosok yang focus dengan bidang yang ditekuni. “Tak hanya dalam berksenian, dalam pergaulan sehari-hari dan membina rumah tangga, beliau juga fokus untuk tetap memajukan sastra dan memimpin keluarganya,” ucap Eko ketika memberikan sambutan.

Di antara tokoh yang berhadir, Dewa Pahuluan, Darmawan Jaya Setiawan, Hamami Adaby, Ogi Fajar Nuzuli, Rico Hasyim, Arsyad Indradi, Yadi Muryadi, Kalsum Belggis, Abdurrahman El Husaini, Samsuni Sarman, Sirajul Huda, Aril M Noor, Harie Insani Putra, Zian Armie Wahyufi, Martha Ion Krishna, Enok, Rezqie Al Fajar Atmanegara, Ibramsyah Barbary, Muhammad Ramadhany Al Banjari, MS Arif, serta beberapa sastrawan dan teaterawan lainnya. Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli mengharapakan, dengan digelarnya kegiatan tersebut mampu menjadi tolak ukur kesenian yang kian berkem bang di Banjarbaru. “Dan saya harapkan terus berjalan dengan lancar dan sukses,” pungkasnya.

Berikut beberapa puisi para penyair yang pernah diterbitkan di Harian Umum Media Kalimantan

Oka Miharza S

Bintang Kecil Tanah Huma

 

Bintang kecil tanah huma

Dari mata rantai rumah Banjar

Bumbungan tinggi

Balai-balai dan bambu

Di hulu bukit

Merajut lanting

Di atas jerami Amandit

Menadah ke langit

Merengek menggantikan cahaya bintang

Aku hanya bintang kecil tanah huma

Tak lebih dari itu

Aku tergila-gila

Pada penyair

Sempat rela di parang maya

Sebagai bukti cinta kasihku

padaNya

Minggu Raya, 18 Mei 2012

Eko Suryadi WS

Jarak Kita Tak Cuma Sebatas Kenangan

 

Tanah Humamu

Kami tuguli

Hari ini kami panen puisi

Yang pohonnya kau tanam

 

Jarak kita tidak cuma sebatas kenangan

Tapi talinya terus kau bentang

Melewati ruang waktu

Dimensi hidup dan mati

Di panggun bundar ini

Kami sebut namamu

Seperti lentera, meninggalkan cahaya

Di lading, laut, dan semesta

Tuhan

      Bjarbaru, 19 Mei 2012

 

Zoel kanwa

Moksa Bersama Kata

 

Kusetubuhi Puisi

Tanah Huma dan koleksi

Menyatu dalam jiwa gadis ayu

Aku orgasme sambil mencandu

 

Pulihan puisi lelaku dan perempuan

Menikmati puisi yang menolak mati

Di mana aku dalam puisi?

Aku moksa bersama kata

 

Rizqie Muhammad Al ajar

Menebar Darah Hitam di Tanah Huma

 

Apa warna tanah huma kita?

Pada sebatang ulin merah kita diperkenalkan

Memikul keranda-keranda disobek malam

Kutitipkan rindu dirumbai kain kafannya

Maaf, jika aku terlanjur melintas ke tanah huma

Dalam lahapan dosa pualam

 

Angin bertiup tanpa irama mayat

Kita meneguk aroma cendana di pinggiran

Cangkir retak

Tiga ruh itu menyala ketika asa dilukiskan

Pada selembar kanvas malam

Satu-persatu darah disayat atas daun-daun nirwana-Nya

Mingguraya/Bjb 18 Mei 2012

 

Hari Insani Putra

Bertanah Huma

 

Bertanah-tanah Huma

Bilakah ia disapa?

“Halo selamat pagi, napa habar pahumaan kita?”

 

 

Samsuni Sarman (Barito Kuala)

Di Hulu ke Tanah Huma

 

Palak kelelatu membasahi riuh

Di altar putih penuh kenangan

Lintasan malam di hulu, menepi

Menyalami kata dan suara

Sedangkan tanah huma

Tinggi di puncak perputaran angin

Mingguraya 180512

 

Ariel Lawang

Tanah Huma

 

Selembar kertas putih

Dan sebuah pena

Disodorkan kepadaku

Di mala mini…

Tepat pukul 21.45 dan suhu 30°

Saat terakhir nikmati kata-kata

Bagi sepetak tanah…

Untuk serumpun huma…

Maafkan aku bapak…

Aku terlambat untuk tau

Siapa engkau yang duduk di dingin

Itu tangga beton, dinding tak bisa diam

Merengek bagai bayi kehabisan air susu

Dan sandal jepit

Maafkan aku bapak…

Aku terlambat untuk tau…

Engkau yang bicara padaku

Di malam hening tak punya baju…

 

Kalsum Belgis

Tanah Huma

Tanahku tanah moyangku

Dimana terdapat lembah madu

Dan lading susu

Sungai arak yang mengaliri ceruk-ceruk

Berbatu tersuling dari nira-nira kelapa

Dan buah timbatu

Terhirup aroma tanah huma tatkala

Para petani membajak sawahnya.

 

Kembang-kembang belukar menjalar

Aneka warna

Menhias tiap bibir lembah

 

Tanahku tanah moyangku

Tanahku tanah humaku

Tanahku telah luka

Miris meringis dalam tangis

 

Menjunjung gedung pabrik

Pencakar lengit

 

Tanah humaku semakin menyempit,

Sesempit parit pembatas jalan sempit

 

Fahmi Wahid

Huma-Huma

Huma-huma kering tergadai

Uma-umaku berlumpur

Dan air mata

Umai-umai narista

Kehilangan mimpi-mimpi indah

Harapan di dada benua

 

 

Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam Wakili Kalsel Ke Mataram

Usaha mereka dalam  menjaga eksistensinya di bidang kesenian Kalse memang terbilang tidak sia-sia. Nyatanya, pada Juli mendatang salah seorang anggota Sanggar Ar-Rumi, Bambang, akan bertolak ke Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk menghadiri Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS). Itu setelah ia lolos seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) pada tanggal 7 Mei 2013 yang di selenggarakan di Kampus STKIP PGRI Banjarmasin.

Sebagai wadah berekspresi yang melahirkan bakat-bakat para mahasiswanya, Sanggar Ar-Rumi (selanjutnya disingkat SA) resmi berdiri pada 14 Januari 2003 atas prakarsa Budi Rahman, Ma’ruf M. Muzakkar, Madiansyah, Kasmani, dan Maisunah. Dukungan penuh pun mengalir dari Udien Adiest (alm) dan Azis Muslim. Sanggar Ar-Rumi mengalami pergantian ketua umum sebanyak 9 kali. Pada periode kepemimpinan sekarang yang diketuai oleh Rhajudin, lebih akrab disapa Udin. Berbagai agenda rutin dalam tiap tahun pun selalu dilaksanakan oleh SA, diantaranya Latihan Alam (Latal),  Musyawarah Besar, pementasan peringatan  (Hari Lahir) Harlah, napak tilas, dan buka puasa bersama. Dan baru saja pada tanggal 8 Mei kemarin, mereka menghibur masyarakat Kampung Suriyan, Pamatang Dana Kabupaten Banjar dengan naskah berjudul Pasukan Tengol. Dengan bawaan yang konyol dan ngocak abis.

“Dengan adanya SA ini, saya berharap kesenian dan kebudayaan daerah kita lebih dikenal para remaja dan pemuda Kal-Sel. Karena menurut saya saat ini kesenian daerah kurang dikenal dan pemerintah kabupaten cenderung berpihak kepada satu jenis kesenian saja,” ujar Ketua Umum, Rhajuddin. SA selalu menyambut dengan hangat bila ada kawan-kawan yang bertandang ke markasnya yang berada di Jl. Perwira komplek Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Pangung Minggurya Jadi Panggung Kesenian

Hudan Nur dan Ali Syamsudin Arsy

Hudan Nur dan Ali Syamsudin Arsy

Beberapa pekan yang lalu, panggung bundar yang berada di tengah pujasera Mingguraya diramaikan dengan aksi para penyair dan seniman membacakan puisi. Mereka datang dari berbagai daerah karena ikut berpartisipasi dalam kegiatan Mingguraya, dan Puisi Anda di Waktu Malam memperingati wafatnya penyair Nasional Chairil Anwar yang wafat pada 28 April 1949.

Namun, cukup sampai dsitukah untuk meramaikan? Tidak, salah seorang pencetus beberapa acara kesenian di Banjarbaru HE Benyamine mengungkapkan, dalam waktu dekat di Panggung tersebut akan kembali diadakan kegiatan bertajuk “Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma”. Menurutnya, buku Tanah Huma adalah Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan yang perlu mendapatkan apresiasi sesuai dengan sumbangsihnya yang begitu berharga dalam perkembangan dan kegairahan di bidang sastra Kalsel sejak diterbitkannya pada tahun 1978. “Ini merupakan upaya kita untuk meramaikan Banjarbaru khususnnya di Mingguraya dengan kegiatan kesenian,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com pada satu kesempatan.

Sandi Firly ketika membacakan salah satu puisi Kahlil Gibran pada malam peringatan mengenang Penyair Chairil Anwar di Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru

Sandi Firly ketika membacakan salah satu puisi Kahlil Gibran pada malam peringatan mengenang Penyair Chairil Anwar di Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru

Alhasil, HE Benyamine dan kawn-kawan mengundan secara umum bagi masyarakat umum agar bisa berhadir dan turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut di Mingguraya pada Sabtu, 18 Mei 2012. “Kita juga mempersilahkan kepada siapa saja yang anntinya datang untuk membawa kudapan, atau ingin memberikan sumbangan berbentuk buku sebagaimana yang kita lakukan pada event yang telah lewat. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Dewan Kesenian Kota Banjarbaru,” pungkasnya.

Zeusagi Library Hadiri Temu TBM Nasional

Dengan tujuan membangun konsilidasi dan kemitraan yang lebih solid, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) menyelenggarakan Temu Forum Taman Bacaan Masyarakat Tingkat Nasional Tahun 2012 di Rumah Jambnu Luwuk Malioboro Jogjakarta pada tanggal 19-22 Maret mendatang. Kegiatan tersebut akan diikuti TBM Pusat dan beberapa Forum TBM Provinsi yang terpilih. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Zeusagi Library Hudan Nur. “Beruntung, dari seluruh Nusantara, Zeusagi Library diundang oleh pusat untuk mewakili Kalsel,” tuturnya, Jumat, (16/3) kemarin.

Diaktakan Hudan, Ia beserta rekan yang lainnya berusaha mengelola dan memberikan kegiatan yang berdampak kebiasaan membaca kepada masyarakat. “Kita ingin mengajak semua lapisan orang untuk ‘melek’ baca. Sejauh ini juga Zeusagi Library telah berkerja sama dengan beberapa inbstansi menyelenggarakan kegiatan yang bersifat peduli dengan anjuran membaca. Semisal, Lomba baca puisi, lomba baca cerpen, diskusi naskah drama dan artistic,” ungkapnya.

Meski demikian, keadaan fisiknya yang tidak memungkinkan untukn berangkat diwakilkan oleh Ketua Harian Pelaksana Ananda Rumi. Dikatakannya, Kegiatan Temu Forum TBM Nasional tersebut nerupakan event besar yang pertama kali. “Memang benar ini yang pertama. Namun, setelah ini mungkin akan jadi agenda rutin pemerintah lewat Kemendikbud,” tuturnya.

Dijelaskannya kembali, dalam kegiatan tersebut akan diarahkan pola sistem teknis dalam membangun paham keliterasian serta nilai moral sebagai transformasi budaya. “Di tahun ini pun, rencananya kita akan adakan beberapa program yang baik secara litereter. Seperti menggalakkan roadshow kampanye baca dan gerakan #Banjarbaru Membaca. Ini semua semata-mata untuk literasi Banjarbaru ‘melek’ baca,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Zeusagi Library yang beralamat di Jalan Bina Putra No 40 Kelurahan Guntung Payung ini mempunyai 1500 koleksi bacaan. Diantara daftar bidanya ada majalah, teologi, sastra, sejarah, sosiologi, antropoligy, dan psikologi.

Musikalisasi Puisi oleh Belgis of Art

Gelar sastra “Laila” Puisi karya Kalsum Belgis pada malam harinya

Gelar sastra “Laila” Puisi karya Kalsum Belgis pada malam harinya

Pada lomba musikalisasi puisi yang di selenggarakan oleh Belgis of Art beberapa waktu lalu ada 15 grup yang beradu keratifitas pada hari  Sabtu, (11/2) di Aula Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. “Kita mengundang Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru untuk memberikan sambutan dan yang punya hajat yaitu Bunda Kalsum Belgis sebagai yang punya hajat,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Nasrillah kepada penulis.

Wakil Ketua Panitia Pelaksana Andi Sahludin menegaskan, hampir keseluruhan peserta yang mengikuti Lomba Musikalisasi Puisi karya Kalsum Belgis ini didominasi oleh kelompok teater yang tersebar di Kalsel. “Kita juga salut terhadap antusias peserta. Karena ada diantara peserta yang mengirimkan dua sampai tiga grup dalam satu Kampus. Kita mengharapkan pula lomba ini sebagai ajang silaturahmi para pegiat seni di Kalsel. Maka dari itu pihak panitia Balgis of Art akan mempersempahkan gelar sastra berjudul Laila puisi karya Kalsum Belgis. Dan suguhan baca puisi multimedia oleh Andi Sahludin dan Handriyan Yudha Sakti,” tegasnya meyakinkan.

Di samping itu, launching dua buku kumpulan puisi karya Kalsum Belgis  dilaunching pada malam harinya. Penulis buku kumpulan puisi Mantra Rindu dan Mantra Petapa Kalsum Belgis berharap, gelaran pertunjukan seperti ini tidak dilaksanakan sekadar memeriahkan launching buku saja. “Semoga setelah ini pertunjukan seni lebih marak di gelar lagi. Seperti teater, gelar sastra, tarian, dan lain-lain. Khususnya komuntas Belgis of Art agar selalu memberikan ide-ide menarik untuk melaksanakan kegiatan senia yang meramaikan ranah kesenian di Kalimantan Selatan. Dan kita memacu semangat para pegiat seni yang muda-muda agar selalu melahirkan karya-karya,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, 15 grup musikalisasi puisi yang akan beradu pada hari itu sebagai berikut sesuai dengan nomor urut tampil: Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam Martapura, Teater Wasi Putih Politeknik Negeri Banjarmasin, SMAN 4 Banjarbaru, Sanggar Titian Berantai Unsika Banjarmasin, Sanggar Langit, Sanggar Titian Barantai Uniska Banjarbaru, Sanggar Titian Barantai B Banjarmasin, Sanggar Kereta IAIN Antasari Banjarmasin, Teater Himasindo FKIP Unlam Banjarmasin, Sanggar Ada Banjarmasin, Sanggat Tangga Lasung SMA 3 Tanjung, Forum Apresiasi Seni Fakultas Hukum Unlam, Sanggar Anam Banua, dan Sanggar Bahana IAIN Antasari Banjarmasin. Selain trophy dan uang pembinaan kepada para juara I, II, III, serta favorit, seluruh peserta  mendapatkan piagam penghargaan dari panitia pelaksana Belgis Of Art.