Lebih Dari Cukup dari Karimun Wagon R

Jalan-Jalan Karimun di Banjarbaru 

ananda_Lomba tarik tambang Mobil Suzuki Karimun Wagon R di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru5Memahami akan kebutuhan masyarakat perkotaan akan kendaraan yang nyaman dan memudahkan perjalanan masyarakat modern Indonesia saat melakukan aktifitas sehari-hari, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) melaksanakan kegiatan bertajuk Jalan-Jalan Karimun Wagon R dengan platform compact MPV yang diperkenalkan sebagai kendaraan kompak sekaligus multi purpose.

ananda_Jalan-jalan Suzuki Karimun Wagon R di Lapangan Murjani Kota BanjarbaruHal tersebut disampaikan MKT Production Development PT SIS R Aulia Semijie didampingi Manager Salse Area PT SIS Ichwan Ronaldo, Manager Operasional PT Motra Megah Profitamas Raymond RA, dan Branch Manager PT MMP Benny Agung Prasetyo, di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru, Sabtu, (14/6), kemarin.

ananda_Jalan-jalan Suzuki Karimun Wagon R di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru3Dikatakanya, Karimun Wagon R merupakan produk kendaraan bermotor roda empat hemat energy dengan harga terjangkau (KBH2), or Low Cost Green Car (LCGC)  diluncurkan pada tanggal 10 November 2013 lalu di Indonesia oleh PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS).

ananda_Jalan-jalan Suzuki Karimun Wagon R di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru5“Maka ini menjadi jawaban bagi masyarakat modern Indonesia dengan memiliki unsur SUPER (Spacious, Useful, Practical, Efficient, Reasonable). Dengan perpaduan harapan dan kebutuhan akan kendaraan yang dapat menyelaraskan antara kebutuhan transportasi yang multiguna, gaya hidup dengan kepedulian lingkungan hidup itulah yang dikembangkan dengan oleh Suzuki yang mengerti akan kebutuhan masyarakat Indonesia yang selaras dengan brand promise dari Karimun Wagon R, yaitu  ”Lebih dari cukup”,” ujarnya.

ananda_Lomba Mewarnai kaos Mobil Suzuki Karimun Wagon R di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru5Dijelaskan, PT SIS menyelenggarakan acara “Jalan – Jalan Karimun Wagon R 2014” sebagai program tahunan yang diperuntukkan khusus bagi pengguna Suzuki Karimun (Karimuners) baik dari Karimun keluaran awal atau Legend hingga Karimun Wagon R.

“Acara Jalan-Jalan Karimun Wagon R 2014 bertujuan membangun kebersamaan, meningkatkan kekeluargaan dan solidaritas para Karimuners, sekaligus mendekatkan kehadiran Karimun Wagon R sebagai anggota terbaru keluarga besar Karimun,” tambahnya.

Menurutnya, menyadari kebersamaan dan memperat tali silaturahim antara Agen Pemegang Merek (APM) Suzuki sangat penting, baik itu dengan para pengguna serta atau pun konsumen mobil Karimun seluruh model baik dari generasi awal hingga teranyar.

“Maka dari itu kami dari PT SIS menggelar suatu acara Akbar dengan tajuk Jalan-Jalan Karimun Wagon R 2014. Acara Jalan-Jalan Karimun Wagon R (JJKWR) 2014 pertama diadakan pada tanggal 10 Mei 2014 di Taman Budaya, Sentul City, Jawa Barat. Dilatarbelakangi kesuksesan pelaksanaan  acara tersebut, maka JJKWR di 35 di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Kegiatan di Lapangan murjani tersebut menyedot kurang lebih 200 pengguna Karimun lbaik Legend, Estilo dan Wagon yang berdomisili di Kalimantan Selatan.

“Yang menarik kegiatan diisi oleh berbagai lomba dan hiburan semisal, Family Games, Kids Corner, Test Drive, Entertainment, Awarding dan Door Prize. Sementara itu, calon pengguna Karimun Wagon R dapat datang dan test drive Karimun Wagon R. Bagi calon pengguna yang melakukan test drive berkesempatan memenangkan hadiah menarik.

Sejak diluncurkan, Suzuki Karimun telah berhasil mencapai angka penjualan sebesar 27.341 unit (whole sales) dan 26.012 (retail sales) pada periode penjualan tahun 1998 – 2007.  Pada tahun 2007, Suzuki memperkenalkan model baru dari Karimun yaitu Karimun ESTILO dan berhasil mencapai penjualan sebesar 21.216 (whole sales) dan 21.226 (retail sales) periode 2007 – 2013. “Kita berharap Karimun bisa terus eksis di pasa mobil di Indonesia dan menjadi pilihan keluarga,” pungkasnya.

 

3030, Pertunjukan Holografik dari Tri

P3 - Dewi Drupadi dengan Teknologi Holografik

 

PT Hutchinson 3 Indonesia telah meluncurkan pertunjukan spektakuler bertajuk 3030 Show di Kota Banjarbaru, Jumat, (13/6), di Lapangan sepakbola Unlam Jl A Yani km 34, Simpang Empat Banjarbaru, kemarin. Setiap hari, pertunjukkan ini mampu menjaring 1000 orang pengunjung.

Head of Brand Communication Andi Djoewarsa menuturkan, kegiatan masih bisa dinikmati sebagai pengalam menarik bagi masyarakat Kalsel hingga 18 Juni 2014 mendatang.

“Tak hanya itu, saat ini Tri sedang Gelar Uji Coba Teknologi LTE di Frekuensi 1800 Mhz, Tri memantapkan posisinya sebagai salah satu raksasa provider data di Indonesia. Uji coba ini berlangsung selama tiga bulan sejak 1 Mei hingga 31 Juli 2014 di DI Yogyakarta dan Bali,” katanya.

P2 - Arena Pertunjukan 3030Dijelaskannya, produk bertajuk AlwaysOn dari Tri telah dinobatkan sebagai The Best Data Plan pengakuan atas layanan data bergeraknya. Hal tersebut diberikan pada gelaran Indonesia Cellular Award 2014 (ICA 2014) pada tanggal 8 Juni 2014 lalu.

“Ajang tahunan penganugerahan kepada pelaku industri telekomunikasi Indonesia ini digelar oleh Tabloid SINYAL, dan Majalah FORSEL bekerjasama dengan Dyandra Promosindo dan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI). Tentu saja penghargaan diberikan berdasarkan pilihan konsumen Indonesia secara online melalui situs resmi Gramedia Majalah, Kompas Gramedia Group atau lewat situs Yahoo Indonesia,” terangnya.

P1 - Tokoh Punakawan SemarDiakuinya, menjadi suatu kehormatan bagi atas penghargaan yang diberikan oleh Tablod SINYAL, dan Majalah FORSEL dalam ajang Indonesia Cellular Award 2014.

ananda_pertunjukan panggung laser man dance dan teater komedi provider tri memberikan produknya2“Apresiasi yang tinggi kami berikan bagi masyarakat atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Penghargaan ini bukanlah tujuan akhir, tetapi menghadirkan layanan telekomunikasi inovatif terbaik kepada para pelanggan merupakan landasan utama kami,” ungkapnya.

Penganugerahan tersebut, jelasnya, diberikan melalui tiga tahap diawali dengan usulan dan seleksi untuk menentukan nominee dari 18 kategori dari dewan juri. Disusul dengan tahap rekonfirmasi data nominee pada setiap kategori.

ananda_pertunjukan panggung laser man dance dan teater komedi provider tri memberikan produknya“Tahap terakhir adalah proses voting yang berlangsung selama dua minggu. Konsumen dapat menentukan pilihannya melalui microsite yang tersedia di lebih dari tujuh website yang berada di bawah naungan Gramedia Majalah, Kompas Gramedia Group atau lewat situs Yahoo Indonesia. Mekanisme voting adalah satu orang untuk satu suara,” katanya.

Hingga batas akhir, terkumpul 13.208 vote yang selanjutnya diteruskan dengan sidang paripurna dewan juri untuk memastikan keabsahan pemenang yang merupakan murni hasil voting dari konsumen Indonesia.

“Oleh sebab itu, ICA 2014 merupakan satu-satunya ajang penghargaan yang melibatkan 100 persen konsumen dan tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Tri telah menghadirkan beragam layanan berbasis data yang memberikan pengalaman baru dalam berinternet. AlwyasOn merupakan salah satu layanan mobile internet yang telah dinikmati para pelanggan setia Tri sejak tahun 2012 hingga saat ini,” jelasnya.

AlwaysOn memberikan fleksibilitas karena memiliki masa berlaku sampai 12 bulan, sehingga pelanggan Tri tidak perlu khawatir kuota tidak dapat dipakai atau hangus sia-sia.

“Pelanggan mendapatkan bonus kuota 50 MB per bulan dan gratis akes ke 11 situs popular tanpa memotong pulsa maupun kuota. Pelanggan juga tidak perlu khawatir mengalami penurunan speed ketika kuota habis,” tambahnya.

Tri berkomitmen untuk menghadirkan kebebasan berinternet bagi Indonesia, mengkombinasikan akses cepat dan layanan yang lebih mudah digunakan. Ditambahkannya, Tri telah memperluas jangkauannya hingga mencakup sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia dengan jumlah pelanggan sebanyak 40 juta (per Q1 2014).

“Jaringan Tri diperkuat oleh 33.219 BTS, 14.512 diantaranya adalah BTS 3G yang terbentang di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Cakupan layanan HSDPA Tri telah melayani lebih dari 86% populasi penduduk Indonesia dengan sinyal di 278 kabupaten/kotamadya di 25 provinsi. Tri terus mengembangkan berbagai inovasi dan terobosan yang memaksimalkan keseluruhan pengalaman pengguna dalam menikmati layanan mobile internet,” pungkasnya.

Perjuangan Di Haul ke-8 Guru Sekumpul

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Penuh perjuangan. Itulah yang tersirat dalam pikiran saat aku menghadiri Haul ke-8 Al Alimul Alamah Asyekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa dengan Guru Sekumpul.

Pukul 17.30. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tulisan untuk mengisi salah satu halaman koran. Setelah sebelumnya mengikuti kelas penulisan Novel bersama dua orang penulis Kalsel favoritku. Bagiku, menjelang petang merupakan waktu yang sudah terlalu terlambat untuk menghadiri haulan Guru Sekumpul. Karena seperti yang kalian ketahui, Pengajian beliau saja sudah beribu-ribu umat manusia yang menghadiri. Apalagi ketika beliau wafat, dan haulan-haulan dari 1 sampai ke 7 kalinya diadakan. Setiap tahun, jamaah yang berhadir selalu bertambah dan melebihi hitungan angka manusia.

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Memakai kopiah haji, berbaju Taqwa berwarna hitam dan celana panjang yang juga warna hitam. Tas kamera berwarna hitam diselempangkan di pinggang. Bayangkan, seperti apa saya kelihatannya, seperti kotoran berkaki empat kah? Ya, mungkin saja. Tapi warnanya hanyar terbalik.

Lalu lintas memang sudah padat merayap. Panitia dan tim keamanan haul pun sudah berjaga-jaga di tiap persimpangan. Aku berangkat dari Banjarbaru Kota melewati jalan Sei Pering dan tembus ke Guntung Alaban Komplek Sekumpul Martapura. Sayangnya semua kendaraan bermotor harus berhenti di sini. Semua jamaah diharuskan berjalan kaki untuk menuju Musholla Ar-Raudhah. Aku memutuskan untuk memarkirkan kuda besi butut yang tak punya mata -karena lampu depannya rusak dan tidak menyala- ini parkir di halaman rumah orang. Rumah bedakan, yang diseberangnya rental penyewaaan mobil. Jarakanya masih cukup jauh untuk pejalan kaki memasuki sekumpul. Sekitar 1 Km.

???????????????????????????????Di persimpangan Jl Pendidikan sudah terlihat shaf-shaf rapi para jamaah yang sudah membaca shalawat sebelum adzan magrib berkumandang. Tidak menyangka, kukira seperti tahun sebelumnya, jam segini jalan Guntung Alaban setahuku belum dijadikan shaf-shaf tempat jamaah yang sholat. Karena tahun sebelumnya jamaah lebih banyak di belakang untuk mengikuti imam di Mushola Ar-Raudhah. Kalau di depan tentu tak bisa. Maka dari itulah sebagian jamaah memilih imam sendiri untuk sholat berjamaah di beberapa titik di depan Musholla.

Selanjutnya, aku bertemu dengan seorang yang sudah akrab denganku. Seorang politis yang juga tak jarang menjadi narasumber.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

“Eh, kemana hibak sudah urangnya?” Ujarnya dengan maksud menyapa dan langsungg menarik lengan kananku. Namanya H Jumli, anggota DPRD Kota Banjarbaru yang tinggal di Kecamatan Cempaka. Saat itu, entah dengan anak atau keponakan, ia duduk di warung gorengan untuk sekadar menunggu adzan magrib berkumandang.

Eh, Om. Lawan siapa pian? Kada handak ke dalam, kah?”

“Mana lagi kawa ke dalam jam seini.”

“He en lah. Aja beduduk ai dulu setumat nah. Bekajal banar jua sudah tadi ulun.”

“Minumkah dulu? Pesan gin?”

“Kada, ulun beduduk setumat aja habis tu bekeraut pulang begamatan ka tangah situ,” kataku mengakhiri percakapan.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Aku duduk sejenak. Menarik nafas. Dan mengeluarkan kamera dalam tas yang berselempang. Aku memotret beberapa suasan jamaah yang duduk dengan zikir dan shalawat. Ada juga yang membaca Al-Quran atau melihat-lihat jamaah lain yang berlalu lalang. Frame demi frame telah kuambil. Setelah dirasa cukup, aku beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan yang berat. Jarak yang cukup dekat, namun harus ditempuh dengan hati-hati dan akurat. Karena kuyakin, akan banyak jamaah yang membenci orang sepertiku. Salah langkah, bisa saja kakiku menimpa kepala-kepala mereka.

“Permisi Om lah. Ulun harus bejalan ke tengah!”

“Oh, Silahkan! Kalau untuk liputan spot disini memang kurang cocok,” sahutnya sembari aku melanjutkan langkah perlahan.

Suasana di Dalam Musholla

Suasana di Dalam Musholla

Nah, aku akan berbagi tips untuk berjalan di sekumpulan orang-orang yang siap akan sholat. Sebenarnya ini tidak akan kulakukan kalau aku sekadar ingin hadir mengikuti semua amalan secara runtun, berdzikir, bershalawat, sholat berjamaah, dan membaca puji-pujian kepada Rasulullah. Tapi kali ini bukan tempo sewaktu aku masih Santri Pondok Pesanten Darussalam. Kali ini aku membawa tanggungjawab sebagai seorang bujangan yang berprofesi menjadi wartawan. Atau lebih tepatnya sebagai seorang Jurnalis, karena aku tak hanya diwajibkan menulis, tetapi juga memotret peristiwa, kejadian, atau apa saja yang berhubungan dengan ranah Jurnalistik lainnya. Tugas adalah tugas. Ibadah, tetap diniatkan.

Dengan kamera yang menggantung di antara ketiak sebelah kiri, aku perlahan melangkah kaki ke sajadah-sajadah para jamaah. Karena memang hamparan sajadah itulah satu-satu pijakan bagi kalian yang ingin berlalu lalang. Mungkin perjalananku baru sampai 100 meter namun sudah memakan waktu kurang lebih 15 menit. Bajuku basah karena keringat. Rasa lelah dan dahaga juga menghampiriku. Adzan magrib dari Mushollla Ar-Raudhah Sekumpul mulai menggetarkan setiap anggota badan. Beberapa jamah terlihat berdiri karena terlihat salah satu ulama, -entah siapa aku tidak melihat terlalu jelas- baru memasuki shaf dengan para protokoler panitia haul menuju mushala Ar-Raudhah. Setelah semua kembali duduk karena diperintah petugas, aku berhenti di salah satu kios portable atau lebih tepatnya gerobak dorong.

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Suasana di Samping Kubah Makam Guru Sekumpul

Hari menejelang gelap dan adzan sudah usai berkumandang. Kemudian para jamaah berdiri bersiap melaksanakan kewajiban. Sedangkan aku, terperangkap di antara mereka. Aku memang tak membawa sajadah. Karena tidak berniat untuk singgah atau konsisten di satu titik saja. Melainkan harus berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk menjadi berita. Pada akhirnya aku duduk di kios tadi dan menunggu sholat berjamaah usai. Sembari memotret mereka yang sedang khusyuk menghadap Tuhan dari berbagai sudut pandang.

Perjuangan tahap kedua dimulai. Setelah melepaskan kedua sandal, aku memasang tekad untuk bermuka tebal dan rasa permisi yang kuat. Sembari mengayunkan tangan di antara pundak-pundak mereka yang beramalan wiridan selepas Sholat Magrib. Mau bagaimana lagi, tak mungkin menunggu mereka semua berdiri. Tugas adalah tugas. Bagaimanapun caranya harus aku jalankan. Tetap dengan aksi penuh kehati-hatian. Melewati putih-putih umat Rasulullah dengan segala kelas umur. Tak peduli muda ataupun tua. Semua dilewati dengan rasa sedikit bersalah. Karena tidak datang lebih awal.

???????????????????????????????Akhirnya perjalanan lama itu ditunda sementara. Aku singgah di rumah Kak Abdil yang masih berkaitan keluarga. Bapak Zani kakak dari ayahku bersama Ibu Fifah sudah ada di dalam rumah. Tapi tak semudah itu. Pagar rumah memang telah dikunci karena halaman rumah juga sudah penuh dengan jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada pilihan dan memanggil orang di dalam untuk membukakan pagar pun tidak mungkin. Singkatnya, aku masuk dengan meloncat pagar. Bayangkan berapa pasang mata yang focus melihat aksiku meloncat pagar. Ini bukan momentum konser music live lho, tapi acara keagamaan, haul Guru Sekumpul.

Dengan penuh perhitungan, tas pinggang dieratkan serta kedua sandal yang telah kulempar ke balik pagar. Aku meloncat. “Hap”, tak ada yang menangkap. Aku berhasil mendarat dan memasang kedua sandal. Dan perlahan, lagi-lagi, melewati jamaah yang masih wiridan hingga ke dalam rumah.

Hanyar ja kah? Jam berapa tadi tulak?” kata Kak Abidl menyapa.

Jam setengah enam Ka. Menuntungakan gawian dulu tadi sedikit,” jawabku.

“Beeeeeiiih… payahnya. Urang mun tulak haulan handak ke dalam tu sungsungi, jadi kada manggangu urang,” tutupnya kemudian menuju tempat beruwudhu. Dan segera aku juga menunuaikan sholat Magrib yang tertinggal dari jamaah lain.

**

???????????????????????????????“Bu, ulun langsung kaluar, amun bakaina sawat asrakal kada sampat mamutu!” itu kuucapkan setelah sebelumnya duduk di depan tv melihat tayangan langsung pembacaan Maulid Habsyi dari dalam Musholla Ar-Raudhah sekumpul.

Tampaknya tak perlu kuulang. Tapi tak apalah, tak ada melarang jika aku mendeskripsikan kembali. Karena inilah yang namanya perjuangan. Sampai di depan pagar, aku kembali melakukan perhitungan. Menghitung berapa langkah lagi aku melewati kepala-kepala dan membokongi para jamaah yang sedang khusyuk. Memang, perasaan bersalah itu singgah di dalam pikiran ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kuletakan kedua sandal di balik pagar untuk menuju keluar. Aku melakukan aksi lompat pagar untuk kedua kalinya. Di antara layar tancap itu aku melangkah, meniti jemari di antara pundak jamaah. Sampai akhirya para penjaga menghadangku di depan pintu gerbang musholla Ar-Rhaudah.

“Kada boleh masuk Ding, sudah hibak!” ujarnya.

“Setumat aja ulun Bang, handak memotret di atas aja. Boleh ai kalu lah? Ulun wartawan.”

“Darimana?”

“Wartawan di Media, bang!”

“Mana ID Cardnya?”

Penjaga itu melirik ID Card pers di dada yang sedari awal masuk telah kukalungkan. Hanya agak tertutup tali atas sehingga harus kugeserkan agar tampak.

“Ya sudah. Masuk ja”

“Arah kemana menuju tangga naik ke atas tuh?”

“Terus aja arah ke pewudhuan. Habis tu kam belok kiri masuk ke ruangan. Disitu kam sudah behadapan tangga naik ke atas.”

???????????????????????????????Dengan memegang kedua sandal di dada, aku perlahan melangkah kembali melewati titik-titik kecil hamparan sajadah jamaah. Hingga memasuki ruangan yang dimaksudkan penjaga. Kedua sandal kuletakkan di bawah anak tangga pertama. Dan perlahan menaikinya. Sampai di lantai dua aku kembali melewati cara yang sama. Hanya saja karena lantainya sudah berkeramik jadi hanya sediki sajadah yang dihampar disana. Dan sampai lah aku ke pintu keluar lantai dua. Yang tak lain adalah atap Mushola Ar-Rhaudah Sekumpul Martapura.

**

“Eh, pian ni melelain pada nang lain. Urang baju putih-putih semuanya. Pian kenapa memakai warna hirang!” ujarku menyapa bercanda Joe, salah seorang rekan fotografer yang kutepuk pundaknya di sisi jendela. Padahal ini bukan perlakuan yang baik sesame fotografer. Yakni menepuk pundak saat si fotofgrafer sedang membidik. Bisa kehilangan momentum dia.

???????????????????????????????“Ah, sama haja, situ saraba hirang jua. Sampai ka salawar lagi. Lamun aku baju aja. Salawarnya levisnya warna biru,” jawabnya sembari tawa kecil kawan-kawan di antara bacaaan rawi Maulid. Kurang beradab. Tapi yakin saja, suara kami tidak akan sampai ke dalam Musholla.

Aku mengeluarkan kamera, mengambil beberapa frame dan momentumnya. Sembari menyahut beberapa shalawat yang dilantunkan Ahmad Hafy Badali dan Muhaamad Amin Badali, keduanya adalah putra Guru Sekumpul.

Muhammad Amin yang berdagu seperti lebah bergantung, mewarisi perwajahan yang sangat mirip dengan ayahnya. Suara, gerakan bibirnya saat membaca huruf-huruf hijayah, tatapan mata, dan perawakannya yang kini telah beranjak dewasa. Mata yang penuh dengan tatapan kedalaman ilmu dan cahaya itu juga diwariskan kepada Ahmad Hafy, keterampilan, kehalusan kulit, dan gerak-gerik sang Guru hadir dalam diri keduanya. Keberadaan Amin dan Hafy seaolah-olah menjadi obat rindu para jamaah kepada Guru Sekumpul. Tak ada yang pernah bisa mendeskripsikan kebaikan rupa dan kemuliaan kedua putra Guru Sekumpul, karena nyatanya, melebihi apa-apa yang tersirat dan tersurat. Sang pewaris Quthbul Gauz.

???????????????????????????????Di atas sini kurang lebih ada 6 fotografer yang sebagian sudah saling mengenal. Dan di antara ada dua wartawan televisi lokal Kalsel yang meliput kegiatan sejak tadi sore. Mereka memang telah datang lebih awal.

Beberapa momentum pembacaan syair maulid, asrakal, sudah kita laksanakan. Beberapa frame foto juga sudah kami ambil dengan seksama dan cukup untuk pemberitaan masing-masing media cetak dan elektronik. Sejenak, kami kadang merasa beruntung karena sedikit lebih leluasa bergerak dan melihat-lihat langsung suasana di dalam Musholla. Namun bukan berarti karena telah difasilitasi oleh panitia kami rekan pers bisa semena-mena. Sesekali tetap larut dalam alunan dzikir dan shalawat yang dibaca ratusan ribu jamaah sana. Menurutku, haul kali ini lebih banyak jamaah yang datang serta lebih terkoodinir dengan solid oleh panitia. Kerja keras panitia pasti terbayarkan dengan barokah pahala yang tak pernah terhitung oleh manusia.

???????????????????????????????Setelah pembacaan Maulid Al Habsyi dilanjutkan dengan Dzikir Nasyid. Berbeda dengan tahlilan biasa. Ada dua regu yang berdzikir dengan kalimat berbeda, beberapa guru pesantren yang memang sudah dikenal dengan sebutan penyairan maulid melantunkan syair yang juga khusus untuk Dzikir Nasyid. Kemudian jamaah menyahut dengan Dzikir Tahlil. Kalimatnya berbeda beda, di Syair pertama jamaah menyahut dengan Lailahailallah. Sedangkan di dzikir kedua jamaah berucap A hu A hu Allah beberapa kali sesuai ketukan syair. Begitulah. Dan ratusan ribu jamaah itu juga harus bergerak senada dengan dzikir ke kiri dan kanan. Salah gerak sekali atau seorang saja, kepala bisa terantuk jamaah di sebelah. Apalagi jika salah satunya menggoyangkan kepala dengan kencang. Coba.

Aku melihat hamparan jamaah dalam shaf-shaf yang teratur di bawah. Seperti suasana Masjidil Haram. Yang pernah kulihat dalam televise-televisi Arab Saudi. -Karena memang aku belum berhaji. Tapi niat itu ada. Dan yakin sajalah, rejeki ke sana pasti ada. Hanya saja Allah mengatur waktu yang tepat). Dalam momentum ini, saya merinding. Memang pada momentum ini saya tidak ikut berdzikir berduduk bertelempoh seperti jamaah lainnya yang berada di bawah. Tetapi memotret dengan teknik slow shoot agar menghasilkan efek gerak pada bingkai kamera. Sesekali saya menikmati alunan tubuh yang berdzikir itu. Layaknya gelombang air laur yang berirama teratur dan perlahan. Meneduhi segala pikiran dan ingatan akan kegemerlapan dunia. Semua hilang, hilang dalam kefanaan. Melainkan hanya satu. Kepada Nya.

ananda_haul guru sekumpul ke-8 di Komplek Ar Raudah Sekumpul Martapura21Aku berdiri sembari menyandarkan kedua tangaku di pinggiran atap mushola yang bentuknya seperti plang nama nisan di kuburan muslimin. Di atas lampu neon hijau tulisan arab Mushola Ar-Raudhah. Melihat raut muka jamaah yang terpejam, terlarut, yang mabuk akan mengingat Tuhannya. Tiba-tiba getaran itu terasa dari dinding-dinding mushola. Suara “Hu” yang keluar dari ratusan ribu jamaah membuat atap-atap, dinding dan kaca mushola bergetar. Itu kurasakan setelah tanganku betul-betul memegangnya. Lalu aku bergumam, begini ternyata dahsyatnya dzikir yang dilakukan ratusan ribu kepala manusia. Bahkan aku yakin sekali, semua benda mati baik itu dinding rumah, pepohonan, tumbuhan, sampai segala pojok ruang yang ada di komplek sekumpul malam ini bergetar, turut berdizikir. Dan tentunya akibat gelombang suara “Hu” yang serempak. Itu semua terjadi. Betapa dahsyatnya gelombang suara manusia jika digabungkan. Sungguh sangat luar biasa. Ah, sungguh, aku terenyuh saat momentum ini. Sampai semua hilang tenang dan tentram saat dzikir terakhir diiringi shawalat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Rasululullah SAW.

Semua amalan telah dilaksanakan. Juga doa haul khususnya kepada Guru Sekumpul. Tinggal lagi Adzan untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Aku bersama Om Oneal, seorang fotografer ternama dari Banjarmasin berinisiatif untuk turun terlebih dahulu. Karena konsekuensinya, jika memang bertahan sampai akhir shalat Isya berjamaah, lebih baik sekaligus saja. Karena kurang nyaman jika kau memutuskan untuk berjejal-jejal. Tapi, proses itu memang harus dilalui. Seakan kita memang tak diberikan pilihan.

???????????????????????????????Keluar Musholla dengan cara yang sama. Aku berjalan di depan Om Oneal mencari-cari alur jalan yang sedikit terlihat tidak terlalu padat. Setidaknya menyisakan setapak ruang untuk jamaah yang memilih keluar. Syukurlah. Sampai kami berdua di Guntung Alaban, Iqamah usai berkumandang.

“Pian ni sengaja kada besandal kah tadi masuk ke dalam?” tanyaku kepada Om Oneal.
“Kadanya pang, sandalku di parak gerbang langgar. Tapi kada mungkin lagi jua aku maambil bacacarian, biar aja sudah barilaan,”
sahutnya.

Beberapa shaf di sebalah kanan kami sudah mengangkat takbir. Untungnya di alur sebelah kiri pinggir jalan tersedia untuk para jamaah yang keluar. Tapi tak boleh diserobot. Langkah para jamaah juga harus satu senti satu senti. Salah langkah bisa tercebur ke comberan selokan. Jadi harus antri, seperti membeli BBM di SPBU.

Akhirkanya aku terlepas dari sesak dan jejal berbagai macam aroma. Aku berjalan perlahan menuju kuda besi yang telah kuparkirkan di rumah penduduk yang jaraknya masih kurang lebih 1 Km. Jaraknya itu tak akan terasa jauh jika kalian menjalaninya bersama dengan banyak orang. Dan beramai-ramai seperti saat ini.

**

Malam semakin larut, semakin dingin, dan awan tampak lebih gelap dari sebelumnya. Beberpa “U Turn” Jalan Ahmad Yani ditutup demi kelancaran lalu lintas. Tak berlama-lama karena lalu lintas keluar juga belum terlalu padat, aku telah sampai di sekretariat kawan-kawan, Onoff Solutindo Project. Bergegas membuka komputer dan menyambungkannya ke internet. Karena kantor redaksi memang sudah menunggu hasil setoranku di malam ini. Malam perjuangan penuh berkah. Penuh keringat dan lelah. Di luar hujan turun deras sekali. Aku merebahkan diri sembari menarik nafas panjang relaksasi. Rasa syukur kuucapkan dan segera beristirahat usai melaksanakan kewajiban. Untuk kembali menemui hari yang sama dengan cerita berbeda. Dan menyaksikan hasil fotoku terbit besok di halaman depan koran. Barakallah, Allahuma Yarham, Al Alimul Alamah Syekh Zaini Abdul Ghani Sekumpul Martapura.[]

???????????????????????????????

Karaoke di Banjarbaru Dibatasi

Wajar rasanya Kota Banjarbaru sebagai kota metropolitan berhamburan berabgai jenis tempat hiburan atau tongkrongan seperti café, mall, dan karaoke. Namun sayangnya, jenjang waktu ke depan jenis tempat hiburan karaoke tak akan mungkin lagi bertambah.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu (BP2T) Drs Gusriansyah. Dikatakannya, Pemerintah Kota Banjarbaru dengan instansi terkait telah bersepakat untuk tidak lagi memberikan izin bagi tempat hiburan karaoke yang akan baru mulai dibangun. “Sebenarnya ini menjadi pembatasan terhadap bisnis hiburan seperti karaoke. Jumlah sudah terlalu besar. Dan dikhwatirkan angka kerawanan akan peredaran narkoba maupun minuma keras semakin bertambah,” katanya cemas.

Menurutnya, keberadaan bisnis hiburan Karaoke di Kota Banjarbaru sudah overloadalias penuh. Menurutnya untuk perkembangan sebuah kota, menjamurnya tempat hiburan tak akan menjamin pertumbuhan ekonomi yang layak. Justru perkembangan bisa menjadi tak sehat dan rawan akan penilaian negatif.

“Dalam jenjang 1 tahun terakhir terdata 12 unit tempat karaoke yang legal atau mendapatkan izin operasi di Kota Banjarbaru. Angka ini saya rasa sudah cukup tinggi lantaran didominasi oleh dua Kecamatan saja yaitu Kecamatan Banjarbaru Kota dan Kecamatan Banjarbaru selatan. Yang mana Banjarbaru hanya terbagi 4 kecamatan,” paparnya menjelaskan.

Meski terkesan membidik tempat hiburan baru, ia juga tak segan menyatakan aturan tersebut berlaku pula untuk TH karaoke yang telah lama beroperasi. Setiap waktu yang ditentukan TH yang ada di Banjarbaru biasanya akan dilkukan obsservasi dan evaluasi. “Makanya jangan heran jika dengan tiba-tiba satpol PP melakukan survey dan patroli. Ini sebagai upaya evaluasi kita terhadap hiburan di Kota Banjarbaru. Jika salah satu tempat hiburan didapati perilaku negatif dan tak wajar, maka izinnya terancam tidak akan diperpanjang,” tandasnya.

Ia mencontohkan penyalahgunaan tempat hiburan yang tak wajar semisal menjadi pusat pergerakan atau peredaran narkoba, minum-minuman keras, kegaduhan yang dilaporkan karena sudah menggangu penduduk di sekitar TH, apalagi sudah menjadi lokasi untuk melakukan perbuatan haram seperti mesum.

“Kita sudah banyak menerima laporan pelanggaran ketertiban umum dari beberapa element masyarkat. Nah, untuk menyikapi ini, pemko telah terapkan perizinan operasi TH sejenis Karaoke atau biliard dibatasi sampai pukul 00.00 Wita. Ditambah lagi dengan imbauan untuk tidak beroperasi di Malam Jumat. Budaya masyarakat yang beribadah lebih di malam Jumat menjadi acuan kita agar pihak pengelola hiburan memahami itu,” jelasnya.

Sebelumnya ia juga mengaku sempat diberi imbauan oleh MUI Kota Banjarbaur untuk menutup langsung TH yang beroperasi di Malam Jumat. Namun ia mengaku menutup satu bisnis yang telah mengantongi izin tak semudah membalikkan telapak tangan. Masih ada perturan yang berlaku dan berjalan sesuai prosedur.

“Kita berharap pembatasan izin TH yang sudah ada dalam Perda tersebut bisa menjadi landasan hukum mencegah penyalahgunaan. Boleh hiburan asal jangan kelewatan ke arah yang negatif. Sebagaimana tujuan awal TH Karoke diharapkan menjadi tujuan bagi keluarga, bukan pasangan mesum,” pungkasnya.

Rhoma Doakan Banjarbaru Sukses

OLYMPUS DIGITAL CAMERARibuan masyarkat berdendang bersama dengan hentakan irama dangdut oleh Raja Dangdut Indonesia H Rhoma Irama di Lapangan Murjani Banjarbaru, (27/4) bersama bersama Soneta Group dan Soneta Femina lainnya.

Rhoma Irama menbuka konser yang bertajuk Nada dan Dakwah tersebut sejumlah lagu andalannya seperti Selamat Malam, Menunggu, Azza, Gali Lobang Tutup Lobang, Terjana, dan diakhiri dengan Lagu Stop yang membuat para penonton berdendendan dan bergoyang bersama.

Di pertengahan konser itu pula Rhoma Irama yang terkenal dengan dakwahnya tersebut sembari memuji-muji Kota Banjarbaru yang mana warganya ramah dengan siapa saja. “Saya yakin disini tidak ada yang minum-minuman keras dan narkoba. Dan berani jamin acara akan aman dan tertib,” ujarnya dilanjutkan dengan lagu Mirasantika.

Dalam konser tersebut juga Rhoma Irama mengharapkan di Hari Jadi yang ke 14 tersebut menjadi kota yang kian pesat pembangunannya dan sukses pemerintahannya. Sembari berceramah, Rhoma Irama yang juga membawakan lagu “Ibu” berpesan agar setiap manusia yang curhat lebgih afdolnya curhat kepada Allah.

Konser yang juga dihadiri pejabat Pemko seperti Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran, sejumlah staf Ahli, Kapolresta Banjarbaru, Dandrem, Danlanud Syamsudin Noor dan para tokoh lainnya.

Sebelum Rhoma tampil, terlebih dahulu dimulai dengan imbauan kepada masyarakat agar tertib. Panitia telah mewanti-wanti agar membatasi penonton supaya tidak terlalu dekat panggung.

Ketua Panitia Hari Jadi Kota Banjarbaru ke-14 Darmawan Jaya Setiawan mengungkapkan, Ia berharap dukungan dan kerjasama yang baik sehingga seluruh rangkaian Hari Jadi bisa berjalan dengan baik dan lancar termasuk kepada masyarakat dan ulama.

Book Fair Tingkat Nasional Maret

Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru Hj Nurlianie Dardie mengaku, saai ini ia sudah pegang rekomendasi Nomor 030/0237-DPPKAD/2013 untuk pemakaian Lapangan Murjani dalam kegiatan Book Fair Tingkat Nasional Maret mendatang. “Semoga tidak ada perubahan atau halangan lagi. Makanya rekomendasi ini sangat saya pegang agar semua konsisten dari pendukung baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Banjarbaru,” tuturnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Rabu, (16/1), kemarin.

Kegiatan berskala Nasional itu kata Bunda Nunung, sapaan akrabnya, bakal menjadi kegiatan terbesar dan pertama kali di Kalsel pada 30 Maret hingga 7 April 2013. Berlokasi di Lapangan Murjani dengan menggunakan tenda roder built up ukuran 20m x 50m (1000 m2). Dan stand maksimal 60 buah dengan ukuran 3m x 3m.

“Kita sudah melakukan MoU oleh Wakil Walikota Ogi Fajar Nuzuli dengan IKAPI. Kemudian melakukan launching kegiatan tersebut tanggal 11 januari di Istora Senayan Jakarta pada acara Pesta Buku Murah dihadapan ratusan penerbit pada pesta buku murah. Alahamdulillah sudah 50 penerbit yang menyatakan keikutsertaannya. Nah, kita mengusahakan semua ini agar jangan sampai kosong. Semua tim bekerja,” jelasnya.

Selain itu, kegiatan tersebut katanya telah mendapat sambutan positif dari rekan dan para sahabatnya ketiga memposting di jejaring sosial facebook. Dan kemarin juga, ia telah melakukan sosialisasi saat menghadiri undangan rutin Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA-MA se-Kota Banjarbaru sekaligus mensosialisasikan minat baca serta keikutsertaan dalam Book Fair Tingkat Nasional.

“Saya ingin merubah paradigma bahwa perpustakaan itu membosankan. Saya ingin menjadikan perpustakaan tak hanya sebagai tempat buku-buku tetapi tempat berkumpulnya, para pemikir, para intelektual untuk mendiskusikan berbagaui keperluan. Dan ini sebagai upaya pendukung. Pada Jumat malam nanti, kita sudah persilakan para seniman maupun pemerhati sosial memakai aula Pustarda untuk melakukan diskusi,” paparnya.

Senada dengan Bunda Nunung, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Drs Ahmadi Arsyad mengaku sangat mendukung kegaitan Book Fair Tingkat Nasional itu. Tersebab, nantinya yang akan banyak buku-buku yang ditampilkan para penerbit senusantara. “Dunia buku dengan pendidikan itu sangat berkaitan erat. Yang mana Disdik tak hanya menaungi sekolah formal, tetapi non-formal juga,” katanya.

Ia mengimbau kepada masyarakat umum bisa suport. “Ini akan sangat membantu memperluas wawasan dan hiburan berbeda. Mungkin kali kita akan banyak dapat segala jenis buku yang bahkan tidak pernah kita temukan di perpustakaan. Segala jenis buku pengayaan, fiksi dan non fiksi, dan tentunya langsung dari sang penerbitnya,” pungkasnya.

Komitmen Turunkan Angka Pengguna Narkoba

Ketua Badan Nakotika Nasiona Kota (BNNK) Banjarbaru Nor Fadillah S Sos mengatakan komitmennya lembaga yang diketuainya untuk menurunkan angka tinggi pengguna narkoba di Banjarbaru di tahun 2013 ini. “Sebagaimana tahun lalu, kita komitmen untuk menjalankan program semisal sosialisasi di Intansi Pemerintahan, kampus-kampus, bahkan sekolahan. Terutama pelajar karena mereka merupakan generasi penerus bangsa sebagai pembentuk karakter pemerintahan kita,” ujarnya kepada hirangputihhabang.wordpress.com, Senin, (14/1), kemarin.

Pada tahun ini juga, katanya, pihak BNNK Kota Bnajarbaru akan membentuk kader penyuluhan anti narkoba. Serta melakukan pendeteksian dini seperti test urine rehabilitas pecandu secara bertahap sebagaimana jadwal atau timeline yang sidah dibuat di tahun 2013 ini. “Kita sudah lakukan tes urine sekitar 600 PNS di lingkungan Pemko Banjarbaru, sebagaimana implementasi dari Instruksi Presiden No 12 tahun 2011 tentang Jantranas atau Kebijakan Strategis Nasional Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaan Gelap Narkotika. Kemudian tak hanya pejabat eksekutif, tapi juga legislative,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga kembali akan melakukan pengambilan urine ke beberapa Markas Polres dan Polsek di Kota berjuluk Idaman ini. “Sesuai inpres terkait pelaksanaan advokasi Penyuluhan, Penanggulangan, Pemberantasan dan Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika (P4GN). Kita melakukan koordinasi dan MoU sebelumnya. Meski demikian kita tak bisa melakukan penindakan, karena itu lebih kepada pihak yang berwenang. Kita memaksunalkan kinerja untuk melakukan pencegahan. Semoga tahun ini terealisasi semua program BNNK dan bisa menurunkan angka penggua di Banjarbaru bahkan Kalsel pada umumnya,” pungkas Fadil.