Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Perjalanan, Timpah-Palangkaraya (4/5)

 

Mungkin inilah rute terpanjang yang kami lewati setelah sebelumnya. Jalan terasa hanya milik kami berempat. Saya telah merampungkan tugas di Kota Buntok, kami menuju Palangkaraya yang dibuka dengan jembatan dan aspal mulus yang sempit.

Jika disandingkan, suasana ini mirip sekali jalur Sungai Gampa menuju Marabahan. Itu pada awalnya. Kita tak pernah tahu bagaimana suasana jalan di tengah-tengahnya.

Tidak ada kesempatan saya membuka google maps. Setelah disadari, posisi kami jauh sekali dari pemukiman. Dan ini bukan hutan rimbun. Melainkan hutan kering dan rawa. Sedikit gersang. Di pertengahan jalan banyak sekali saya lihat pepohonan hitam kering yang menjulang tinggi dibandingkan tanaman di sekelilingnya. Pemandangan di sekitar kami selalu berubah-rubah setiap 1 sampai 2 Km jauhnya.

Melaju dengan tenangnya, stay control. Hanya ada beberapa buah sepeda motor dan mobil saja yang melintas berlawanan arah atau mengejar dari belakang. Boleh dibilang, jalan raya ini sepi sekali. Sangat sepi. (Flashback ke catatan pertama, saya banyak sekali berfoto di atas motor ketika ini, karena tidak sempat memostingnya, saya kehilangan file foto tersebut).

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula lah jalan yang terlihat di depan. Kadang kami mendapati tugu-tugu perbatasan wilayah kabupaten. Keluarlah kami dari Barito Timur, kini memasuki Kabupaten Barito Selatan.

Dear pembaca budiman, pernahkah kalian mendengar salah satu lirik lagu dari grup music bernamakan Payung Teduh.

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuuu…uuu….

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuu.. Huuu…

Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang

Tergoyang angin menantikan tubuh itu.

Di mana relasinya? Tidak ada. Hanya saja, ketika membaca salah satu plang penunjuk arah dari Dinas Perhubungan, saya mendapati Desa Bernama Pararapak. Mirip kan?

Screenshot_2016-07-20-20-48-06_com.google.android.apps.maps (1)

Pararapak adalah sebuah desa yang termasuk dalam Kecamatan Dusun Selatan, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Dari jalan raya saja, Desa ini nampak sepi sekali. Mungkin penduduknya hanya beberapa puluh ribu saja. Saking penasarannya setelah di kota, saya mencari tahu tentang desa ini.

Hanya numpang lewat. Tidak ada persinggahan yang layak di Desa ini. Kami terus melanjutkan perjalanan. Suasana udara yang nyaman dan matahari yang menyapa lembut di sebelah barat membawa perjalanan begitu menyenangkan. Dengan beberapa tikungan lembayung terasa asik sekali.

lirikkirikananblogspot

by net. lirik iri kanan blogspot.

Ada sebuah tikungan tajam ke sebelah kiri yang mengagetkan kami. Seorang rider muda dengan Jupiter MX berwarna biru menikung seperti pembalap dari arah berlawanan (ngajak bersaing). Lagaknya sudah seperti Komeng dalam iklannya. Untunglah Bungker sebagai rider sigap ketika ini.

Sejenak kita tinggalkan Desa Pararapak dengan lirik lagunya. Perjalanan berlanjut dengan aspal yang tenang namun bergelombang. Aspal yang berbatu-batu dan berpasir putih. Aspal yang masih setengah jadi. Sampai-sampai aspal yang masih dalam pengerjaan. Ya, kami menemui proyek pengaspalan di tengah jalan ini. Pemandangan yang sangat asing dan sangat jauh dari keramaian. Gersang. Dan lagi, saya tak sempat memotonya walau sempat terpikirkan.

Kemudian kami mendapati plang dengan nama yang terasa akrab para penggemar Anime. Adalah Desa Madara, salah satu desa di wilayah kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Saya bilang, penggemar Naruto pasi tahu ini. Kami putuskan untuk berhenti dan berfoto di depan plang. Sekaligus isitrahat.

Screenshot_2016-07-19-20-02-28_com.instagram.android

Pepohonan rindang menuju kegelapan seperti tampak di hadapan. Wajah matahari tinggal lagi setengahnya. Sebentar lagi Matahari tenggelam penuh. Kami sama sekali tidak melihat adanya penerangan jalan umum. Tiang dan kabel-kabelnya saja tidak ada.

Saya ingat angka digital pada arloji menunjukkan angka 18.05. Setelah beberapa kali melihat rumah-rumah berjejer lenggang, beserta rumah makan dan bis kota yang lewat, juga deretan kios menjual keperluan dan premium eceran, kami memasuki desa yang bernama Timpah.

“Bagaimana kalau kita mengopi sebentar?”

Tanyaku dengan jawaban yang dikembalikan “Terserah pian aja”. Kami berhenti di salah satu kios yang juga warung kopi. Membuka tangki bensin dan mengisi masing-masing dua liter. Dan saat membayar, baru kuketahui 1 liternya seharga Rp.9.000. Wajar, kan di tengah hutan. Check Point 5.

Screenshot_2016-07-19-20-02-21_com.instagram.android

Kami menunggu matahari tenggelam penuh di sini dengan berbagai obrolan. Sebagai tanda agar para follower mengetahui saya sedang berada di mana, maka saya sempatkan berfoto dan memostingnya walau sudah mengetahui suasana alam mulai gelap. Check Point 5. Ini adalah tempat peristirahatan.

Ada seorang paruh baya yang membeli rokok di kios ini. Dia menyempatkan bertanya saat melihat penampilan kami berempat.

“Dari mana, De?”

“Tamiyang Layang. Ke Palangka. Apa masih jauh , Pak?”

“Ya sekitar 80 Km lebih lah,”

“Mungkin 2 jam perjalanan, ya?”

“Buat saya ya 1 jam saja sudah nyampe.” (Bapak ini menggunakan Kawasaki KLX).

“Di perjalanan lumayan terang, kan, Pak?”

“Ya gelap lah. Mana ada lampu jalan.” Jawabnya sembari menutup pembicaraan. Kami menguncapkan terima kasih dan ia mulai melaju dengan trailnya.

Obol memaparkan, perkiraan kami sampai ke pusat kota Palangkaraya sepaling cepat pukul 21.00. Itu juga paling cepat. Kini suasana alam sudah mengaru biru. Biru dalam artian sebenarnya.

Screenshot_2016-07-18-00-52-59_com.google.android.apps.maps

Usai memantapkan niat. Kami memulai perjalanan. Saya sebagai rider. Dear pembaca, saya rasa kios barusan yang kami singgahi adalah penghujung kampung. Selanjutnya gelap, tak ada lagi rumah berpenghuni. Saya tak sadar, lebih tepatnya tidak melihat apakah ada gubuk atau rumah lagi, karena sudah tidak ada lagi cahaya selain lampu depan dan belakang motor kami. Bahkan garis putih pada jalanan pun tak terlihat.

Perjalanan sudah sangat jauh. Jauh sekali. Terasa sangat dalam, entahlah, seperti ke dalam goa kesannya. Beberapa kali ada mobil dengan cepat melewati kami. Beberapa kali juga jembatan demi jembatan kami libas. Ada juga beberapa pengendara tanpa helm yang membawa kayu kami lewat. Lagi, tanpa penerangan sama sekali.

Berdasarkan efek saya sehari yang lalu, kemungkinan kantuk akan menyerang saya sekitar setengah jam lagi. Sembari tetap berkonsentrasi, saya sadari duduk Bungker tampak menjauh di belakang saya. Saya tepuk, dan berusaha seperti mengangkapnya. Prasangka, mungkin dia yang sempat tertidur. Dan sadar kembali bahwa sedang dalam perjalanan mencekam.

Tiba-tiba di pertengahan jalan, saat kecepatan sedang digeber, sekelibat kami melihat 2 orang pejalan kaki yang satunya mendorong sebuah motor Suzuki Satria F150 di sebelah kiri.

Saya dan bungker tampak sepemikiran. Memperlahankan maju motor. Dan memutuskan untuk kembali mendatangi dua orang tadi. Kasihan sekali dia, saya bergumam. Hanya ada dua kemungkinan, musibah bocor ban, atau kehabisan bensin. Bagaimana jika posisi tersebut menimpa pada kami?

“Kenapa?”.

“Habis minyak,” sahutnya.

“Ya sudah. Buat, aku dorong,” jawab saya sok kuat.

Ternyata, mendorong motor mogok yang ditunggangi 2 orang itu berat sekali. Mungkin belum 1 Km perjalanan 50km di tengah gelap malam, kaki kiri saya di pedal belakang terasa sangat nyeri. Sudahlah, saya putuskan bertukar joki saja.

Bungker ambil alih kemudi. Sembari saya menyeimbangkan di belakang. Saya menaruh kepercayaan penuh di sosok badan tegap layaknya prajurit ini. Jauh sekali ini. Membayangkannya mendorong motor itu sampai mendapati kios yang berjualan bensin, dan tanpa penerangan jalan sekali pun.

Proses itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Sampai kami mendapati kios berjualan bensin di pinggir sebelah kiri. Semoga ini kampung pembuka dari kampung-kampung berikutnya. Lumayan ada penerang di pinggir-pinggir jalan, kan.

“Mau di isi berapa liter?” Tanya saya.

“2,” jawabnya.

Saya melihat mimik ragu di wajahnya. Sangat tidak meyakinkan. Sedangkan satu kawannya lagi mengobrak-abrik ranselnya. Seperti mencari sesuatu yang memang tidak ada.

Saya berikan selembar uang yang tidak banyak.

“Ini untuk tambahan, semoga cukup,” ucap saya menyerahkan sembari berpesan agar hati-hati di jalan berikutnya. Kami berangkat meninggalkan paman yang menuangkan bensin di tangki mereka. Tak lupa ucapan terima kasih yang terdengar sayup tampak malu.

Ada beberapa obrolan yang terjadi sebelum, seperti pertanyaan perkenalan dan pertanyaan dari mana. Saya dan Bungker membicarakan hal yang sama. Motor termaksud memang bernopol DA. Tentu sama dari daerah kami berasal. Namun penampilan mereka bukan musafir dari luar daerah. Benar saja, keduanya mengaku dari desa yang tak jauh dari Timpah, pergi berangkat bekerja dan pulang dalam sehari saja.

Secara pribadi, tidak mungkin sebagai penduduk setempat tidak memperhitungkan jumlah bahan bakar yang mereka perlukan dalam sekali pulang dan pergi. Dan saya berprasangka kuat mereka memang sedang kehabisan uang. Terlepas prasangka itu mendekati kebenaran, Wallahualam.

“Tinggal berapa jam perjalanan lagi?”

“Ya tak jauh, setengah jam mungkin,”

“Sedikit lagi,”

Kami melaju dengan tenang. Sembari mengobrol beberapa. Kampung demi kampung belampu redup terlewati. Sampai kami mendapati plang besar penunjuk jalan yang bertuliskan Palangkaraya 45km. Kamu melaju berharap mendapati lampu-lampu perkotaan.

Sampai pada persimpangan tanpa penunjuk arah. Saya dan bungker berhenti di depan SPBU yang tututp menunggu Obol dan Haji Udin yang tertinggal jauh. Sembari membenarkan selangkangan, turun dari motor berganti joki lagi untuk merenggangkan otot-otot pinggang yang tegang.

Kami bertemu. “Masih jauh?”. “Parak ja, paling 10 menit lagi,” sahut Obol. Kuanggap itu sebagai penghibur saja. Bukankan kita sudah mengeja angka kilometer pada plang yang tampak terlihat.

Perjalanan terus melaju dengan beberapa tikungan tajam dan jembatan-jembatan lagi. Palangkaraya 29km, Palangkaraya 16km, Palangkaraya 7km, Palangkaraya blablabla. Sepanjagn jalan kami selalu terhibur dengan plang-plang penunjuk tersebut. Saya tak sabar menantikan warna-warni perkotaan, Obol bilang, sebagai pintu masuk, kami akan melewati Jembatan Kahayan yang berwarna-warni. Senang sekali mendengarnya.

Masa penantian itu pun tiba, hiruk pikuk lalu lintas berpolusi mulai terasa. Tampaknya, ini perbatasan Kabupaten, dan lihat di sana, warna-warni Jembatan Kahayan. Tampak muda-mudi berkendara hilir mudik, dan kami melewati Jembatan Kahayan dengan riang gembir.

Sampai di penghujung jembatan, memutar ke kanan dan berhenti di bawahnya. Persis di depan mural dan paman pentor terparki. Kami juga memarkir. Dan saya sempat berfoto sendiri di depan mural.

“Kita sudah sampai?”

“Ya, kita sudah di Palangkaraya,”

Belum ada ide kami akan kemana selanjutnya. Yang jelas sudah di Palangkaraya. Mungkin setelah ini ke tengah kota, melewati Kantor Gubernur dan DPRD, atau singgah di taman kota, atau… entahlah. Saya masih mati pikir dalam kondisi fisik sudah teramat lelah. Mata dan kepala sudah berat. Dan kami belum merencanakan… akan tidur di mana malam ini. Kutatap arloji, 21. 15. Kita tak pernah tahu. (bersambung)

Catatan Perjalanan, Ampah-Timpah (3/5)

 

Dari bundaran Kota Ampah, kami memutar ke wilayah Desa, masuk ke gang sempit di wilayah pasar. Lagi, lupa mengeja nama gangnya. Jalanan bebatuan yang tidak bisa dikatakan mulus, namun tidak juga buruk. Dari pinggir jalan raya sampai persis ke rumah Ali kurang lebih 1 Km. Semoga saya salah kira. Kammi sempat kelewatan. Sedikit saja.

Rumah semi permanen, bercat kuning pucat dengan tumpukan paketan potongan kayu untuk diperjual-belikan terpampang di hadapan. Kami memakirkan motor persis di bawah seng sebagai teduhan. Siang ini, Selasa, (12/7), matahari begitu terik. Panas luas biasa. Check point 3.

Sambutan yang hangat diiring seceret sirup jeruk es batu dan setoples kerupuk unyil. Entah bagaimana menggambarkannya, kerupuk ini terasa nikmat sekali. Mungkin mengenang jaman dulu jadi perantauan, kerupuk unyil jadi lauk wajib ketika lauk lain tidak ada lagi.

Obrolan seputar menanyakan kapan sarjana, kapan kawin, kapan lulus, kapan berumah tangga, dan kapan bla-bla bertebaran di setiap pertikel atom yang tiap sudutnya saling berpantulan memenuhi isi rumah.

Belum jeda 10 menit, satu teko jumbo es kelapa muda datang di meja, barusan dikupas di luar rumah. Hasil petikan pohon di belakang rumah. Sudah kubilang, matahari begitu terik. Panas luar biasa. Sedangkan di hadapan ada es kelapa muda. Gimana?

Bla-bla mengembang ke sana ke mari tanpa batas, tawa canda gelak tawa membawa kami beberapa kali ke toilet. Karena terlalu banyak minum. Kami ditawarin untuk menginap saja. Kulihat jam dinding di rumah Ali hampir pukul 12.00. Di dalam rumah ini minim sekali sinyal telkomsel, apalagi akses data. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Padahal aku sudah berniat membuka laptop dan mulai mengetik.

Makin lama obrolan sampai ke ahlu bait menghamparkan karpet/hambal tebal bermotif bulu macan di tengah rumah. Tuh, kan. Ada 4-5 buah bantal dan guling dihamburkan di sana.

Intinya, setelah bersopan santun tanpa perasaan menolak, kami berempat tertidur di waktu khoilullah. Sampai adzan dzuhur berakhir. Yang paling terakhir bangun adalah Bungker.

Terburu-buru kami bangun dan mencuci muka, terlihat terburu-buru juga kesannya akan meninggalkan rumah. Namun ditahan, ya seperti peringatan Bungker sebelumnya, tidak akan diizinkan beranjak pergi dari rumah ini sebelum santap siang. Sudah minum es kelapa muda, aku sempat membuka bungkus lisong yang baru (saking borosnya), tertidur di hamparan ambal bulu pula, nah ini, bau-bauan ikan bakar mulai tercium oleh perut. Gimana coba? Emang enak bangun tidur langsung disuruh makan. Enak.

Intinya tidak boleh pergi sebelum puas. Duduk lesehan, ada Haruan Baubar yang khas sekali dengan selera masakan Banjar di hadapan. Nasi panas yang harum, ada es sirup dan es teh juga. Sayurnya Pucuk Jawaw yang sudah direbus, juga hasil petikan di kebun sendiri, didampingi terong muda (yang juga dipetik di samping rumah) kecil-mungil juga. Ada sambal terasi dengan taburan Ampalam/mangga di atasnya. Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Ditemani Udang goreng dan kacang panjang. Kulihat bungker, wajah dan tubuhnya sudah basah karena keringat. Sambil ter hus-hus setelah colak-colek nakal di cobek.

Saya belum sanggup berdiri usai menyantap mengipung/mengilau haruan bakar sisa. Turunakan nasinya dulu. Kami lupa beberapa kali bersopan santun ketika menambah kautan nasi. Kenikmatan makan siang inilah yang tidak pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk lalu lintas perkotaan. Dan sayangnya, kami tak sempat berfoto ketika ini, sama sekali.

Semua usai, obrolan dan suasana terangnya suasana beranda rumah mengantarkan jarum jam dinding menuju angka 2. Setelah menggabungkan dua kewajiban berjamaah dengan Bungker, mempersiapkan segala. Packing ala touring. Berpamitan dengan segala kebaikan perangai, berterima kasih yang tak terhingga, dan sama-sama saling mengucap, “Jangan jara lah,” dan dijawab “Pian nang jangan jara,” sebagai penutupnya.

Kami melintas menuju jalan raya Kota Ampah di bawah terik mentari yang tiada terdinding. Entah, tampaknya sediki sekali awan menjelang sore ini. Tapi tenang, botol-botol minuman kami sudah terisi kembali. Diisi ulang.

Ya, setelah Kota Ampah, Saya harus mengejar wilayah berjaringan internet perkotaan selanjutnya, yakni Buntok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Obol, perjalanan Ampah Buntok memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati adalah pemukiman di atas rawa, persis seperti jalur Desa Sungai Tabuk dari Martapura menuju Banjarmasin.

Rumah-rumah tinggi di atas rawa dan pepohonan rindang di pinggiran jalan seakan membuat kesejukan perjalanan ini. Tanpa terlena, kami memacu kendaraan, karena saya sudah meminta waktu mereka untuk menunggu ketika saya mengetik berita nantinya.

“Dear all, sampai di kota kita harus mencari wifi id. Atau jika tak ada, kita singgah di warung/café yang ada colokan listriknya. Kurasa portable wifi di smartphone pada jaringan perkotaan bisa diandalkan,” ucapku.

“Pokoknya selesaikan saja urusan pian. Bila semua selesai, dan pian tenang. Kami tenang jua,” ucap Haji Udin diamini yang lainnya.

Saya belum pernah sama sekali menjejakan kaki di Kota Buntok. Dan ini adalah kali pertama, ketika lampu merah membuat kami berhenti, dan saya menurunkan kaki sebelah kiri ke aspal.

Selamat Datang di Kota Batuah, begitu kata plang yang terpampang besar di hadapan. Belok kiri melewati Jalan Pelita melalui Balai Kota. Saya menyempatkan membuka google maps untuk mencari Kantor Telkom. Ternyata kami salah jalur. Lantas kembali memutar ke arah dermaga. Damn, kami menemukannya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-03_com.instagram.android

Check point 4. Saya membuka semua peralatan kerja, menyambungkannya ke colokan listrik yang tersedia dan telah terhubung dengan internet. Saya mulai berselancar. Sedangkan Obol dan Haji Udin mencari kios untuk membeli beberapa minuman dingin.

Proses tersebut memakan waktu kurang dari satu jam. Di waktu itu pula, ternyata Bungker sempat-sempatnya tidur dengan pulas di bawah naungan wifi id berwarna merah. Done, tugas rampung, kami berangkat menuju Palangkaraya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-08_com.instagram.android

Satu belokan saja. Ya hanya satu belokan dengan plang kecil tanda panah yang bertuliskan Palangkaraya, kami akan tiba di tempat tujuan. Jembatan kecil, yang tidak bisa dikatakan bagus, dengan pemandangan hutan rimbun di hadapan.

Are you sure?” tanyaku menatap yang lain.

“Yakin?”

“Berdasarkan arahan, arah itulah yang mengatarkan kita ke tujuan!”

“Well, memangnya kita punya pilihan, Selain belok kanan surga?”

Screenshot_2016-07-19-20-02-15_com.instagram.android

Kami melaju dengan semangat. Sore itu sekitar pukul empat. Dengan tongsis di pinggang kupasang niat, menghantarkan matahari sampai tenggelam jika sempat. Karena kalau berfoto malam sudah pasti gelap pekat. Tas ransel diikat erat. Dan siapa yang tahu, ini adalah perjalanan terberat setelah ratusan kilometer yang sudah kami lewat. Sampai teruccap, “Jika lagi aku harus melalui jalur ini, cukup sekali seumur hidup melewatinya malam hari,” dan roda kami berputar dengan mantap. (bersambung)

 

Catatan Perjalanan Tamiyang Layang- Ampah (2/5)

Karena ingin sekali eksis dan menandai bahwa saya sedang berada di Kota Amuntai, maka saya niatkan untuk berfoto di icon Itik Alabio, meski sebenarnya sudah terlalu gelap. Alhasil, ketika tiba di lokasi, mood untuk berfoto saya hilang.

Pencahayaannya kurang menarik, dan tentu saja terlihat sangat buruk dalam frame foto. Kami urungkan niat berfoto di Itik dan hanya menyempatkan berfoto di Jembatan Paliwara saja. Saya tak punya lagi gambaran atau bayangan suasana jalanan yang bagaimana lagi setelah kami melewati Amuntai.

Malam semakin larut, hari semakin dingin, (klise banget ya) rasanya ingin sekali cepat tiba di lokasi. Haji Udin mengkonfirmasi sudah menghubungi Galapung (bukan nama sebenarnya, red) untuk bersiap menjemput kami di pinggir jalan raya guna membimbingnya ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari wilayah Pasar Panas, Tamiyang Layang.

Damn, Check Point 2. Di sinilah kami harus beristirahat, beruntungnya rumah yang bernomorkan 001 RT 00 1 RW 001 penghuninya sedang tidak di rumah, kami menginap berlima dengan Adiknya Asmat, (setelah diketahui, nama pemilik rumah, yang tak lain adalah kakaknya Galapung).

Sejujurnya saya tak menyangka akan tidur senyaman ini, maksudnya di atas kasur lipat, (setidaknya bukan di matras atau sarung yang sudah dipersiapkan dalam ransel). Karena kami sudah mengantisipasi kalau-kalau kemungkinan terburuk istirahat di tengah perjalanan, semisal ada musibah bocor ban, atau kondisi alam terlalu mencekam.

Galapung, dengan segala kerendahan hatinya memberikan pelayan sebaik mungkin kepada para raja yang berkunjung ke wilayahnya, menjamunya dengan sekuat tenaga, menyediakan hamparan mahligai untuk peristirahatan terbaik, dan… lebay sekali perumpamaannya.

Ya, kami mendapati kamar mandi terbaik untuk membersihkan diri, melaksanakan kewajiban, membuat minuman panas dan beberapa snack penghantar tidur. Menuju perbaringan, Bungker berpesan kepada kami “Jangan ada yang menggaraknya, awas mun wani!,” katanya. Mau bagaimana lagi.

Pukul 05.30 Wita. Saya ingat sekali karena ketika bangun menyalakan pencahyaan pada arloji. Ya, pertama, saya pernah mengungkapkan kepada sebagian kawan bahwa saya lebih mudah mengingat apa-apa yang terlihat daripada apa-apa yang terdengar. Dan kedua, saya adalah tipe manusia yang tidak suka melepas arloji dalam keadaan apa pun, baik itu tidur, atau pun mandi.

Usai kewajiban subuh, langit masih gelap membiru, mungkin mendung. Baru kusadari jika dibandingkan dengan jam dinding di rumah ini, ada perbedaan 30 menit dari waktu Martapura, lebih lambat. Untuk kadar penentuan waktu, tapi tidak untuk pergerakan matahari dan waktu sholat.

Lauk pauk dan hidangan yang tadi malam kembali dipanaskan untuk kami santap. Sebenarnya porsi begini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Ya, ini adalah salah satu moment foto makan bersama hilang, saya tak sempat memostingnya di instagram. Termasuk berfoto di depan plang nomor cantik, Nomor 001 RT 001 RW 001. Mau bagaimana lagi?

Screenshot_2016-07-19-20-01-12_com.instagram.android

Dari kiri ke kanan: Galapung, Haji Udin, Obol, saya, dan Bungker.

Sekitar pukul 08.00 Wita, setelah memanaskan mesin motor, packing keperluan prbadi, mengisi ulang botol air minum, (penghematan), dan berdoa, kami berangkat dari rumah Asmat dan juga bersama Galapung untuk mengantarkan kami ke rumah betang. Sebagian orang bilang, tugu di tengah jalan itu juga berarti perbatasan antara Kalsel dan Kalteng. Secara geografis, kami memang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah.

Adalah Desa Pasar Panas, Kecamatan Banua Lima, Taniran, Kabupaten Barito Timor, Kalimantan Tengah. Betang Lewu Hante, demikian situs ini dinamakan. Bangunan yang terbuat dari kayu terkeras di dunia ini sebenarnya hanyalah replika alias tiruan dari keadaan yang sebenarnya sebagai tempat ritual bagi masyarakat Dayak Kalteng di pedalaman, bukan di tengah jalan raya yang kami singgahi dalam perjalanan ini.

Screenshot_2016-07-19-20-01-27_com.instagram.android

Di depan patung icon masyarakat Kalteng berpakaian Adat. Dari kiri ke kanan: Galapung, Obol, Saya, Bungker, dan Haji Udin.

Meski demikian, replika ini lengkap dengan segala aksesoris yang detail. Termasuk ukiran-ukiran di kayu jatinya. Beruntung saya sendiri sempat minta fotokan di sini dan memostingnya. Walau terlanjut diedit menjadi hitam putih dan kehilangan file aslinya.

aku_kalteng

Screenshot_2016-07-19-20-01-34_com.instagram.android

Beberapa bangunan berdiri di atas tanah sekitar 2 hektar. Ada panggung terbuka yang biasa dipakai untuk pertunjukan seni, penginapan, taman, serta tak lupa dua buah bangunan rumah betang yang salah satunya difungsikan sebagai museum.

Museum memang belum buka ketika kami sampai, dan ketika momentum berfoto bersama pula, kami sempat bertegur sapa dengan ibu cantik berpakaian PNS ketat yang bertugas menjaga museum tersebut, “Selamat Pagi ibu, permisi numpat foto!,” begitu.

Screenshot_2016-07-19-20-01-40_com.instagram.android

Telah disebutkan, meski tidak masuk ke dalam, saya memunyai insting museum tersebut memiliki beberapa koleksi peninggalan jaman dahulu seperti pistol peninggalan perang, piring malawen, guci kuno, samurai jepang dan senjata tradisional dayak lainnya seperti mandau dan tombak. (Untuk lebih detailnya kamu bisa searching sendiri di google. Sudah banyak, kok yang menulisnya, red).

Screenshot_2016-07-19-20-01-47_com.instagram.android

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering disebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di pelbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Setelah dirasa puas untuk berfoto, kami berangkat menuju kunjungan selanjutnya, finish point kami adalah Palangkaraya, berarti kami masih harus melalui Kota Ampah, Buntok, dan Timpah, sebelum melewati Sungai Kahayan Palangkaraya lewan Jembatannya, kita akan tiba pada bagian ini nanti.

Screenshot_2016-07-19-20-01-55_com.instagram.android

Semilir angin berhembus mendadak berhenti, matahari terik terlindung dedaunan nan rimbun. Aroma semesta berubah dengan bau-bauan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kami seperti melewati dinding tak kasat meta setelah tugu burung itu. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berubah. Hutan dan rumah-rumah desain bahari yang masih bertahan, kawanan kucing yang menjulurkan lidah dan kambing berkaki pendek bertebaran di sana sini. Sebenarnya ini bahasa Haji Udin yang saya pinjam untuk mendeskripsikan Anjing dan Babi. Jangan tersinggung!.

Sekitar 500 meter perjalanan santai 40Km/jam, kami singgah di rumah saudara sepupu perempuan cantik dan putih-nya Obol. Dan, Suaminya. Sekadar silaturahmi pasca idul fitri, obrolan maaf lahir bathin dan menanyakan keluarga satu dengan yang lainnya menjadi latar belakang kami bertiga untuk mengisap sebatang lisong. Setelah pamitan, kami berangkat menuju kota.

Tamiyang Layang, dengan segala kemajuan dan perkembangan kotanya, saya ingat betul, dulu sekali, mungkin 10 tahun yang lalu berkunjung ke rumah Acil alias adik dari ibu saya di kota ini dan sampai sekarang masih di sini. Saya tak berniatkan singgah karena pagi di hari kerja yang sudah barang tentu tidak akan ada orangnya di rumah. Kami berempat berhenti di kios yang masih tutup di seberang Dinas Pekerjaaan Umum Kota Tamiyang Layang. Saya mencoba menghubungi Mama Tity, (panggilan akrab, red) acil saya yang bermukim di kota ini. Hanya untuk bilang, “Ma, ulun permisi lewat di Tamiyang Layang dan kada singgah,” itu saja.

Well, nada sambung berakhir dan telepon tak diangkat, dengan prasangka posisi handphone sedang berada jauh dari pemiliknya. Mumpung jaringan internet sedang soleh-solehnya, di perkotaan, saya sempatkan memosting beberapa foto. Menjaga perhatian para follower, karena saya sudah meniatkan dari awal agar posisi saya diketahui publik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Waktu menunjukan 09.10 di arloji. Waktu setempat sudah berbeda sekitar 1 jam alias Waktu Indonesia Barat. (Berikutnya saya hanya menggunakan patokan waktu di arloji saya tanpa penyesuaian lokasi). Perjalanan dilanjutkan setelah singgah di SPBU Tamiyang Layang, menerobos deretan pepohonan besar nan rimbun di sekeliling. Dengan aspal yang tidak bisa dikatakan lebar.

Bong demi Bong selalu rutin ditampilkan di kanan dan kiri jalan. Beberapa plang peringatan “Daerah Rawan Kecelakaan” serta “Awas Tikungan Tajam” tak habis-habisnya menghalangi pandangan. Sedikit saja oleng, kamu bisa bertabrakan. Tidak banyak transportasi yang berlalu-lalang membuat setiap pengemudi menambah kecepatan, suka tak suka kita juga harus ikut-ikutan. Saya sangat suka ketika memiringkan motor saat di tikungan, layaknya pembalap Moto GP yang sering saya tonton di kost-kostan kawan. Dan tetap menjaga timbangan serta irama berakhiran –an. Ya, kan?

Karena jalanan yang cukup lengang, kami menempuh jarak kurang lebih 70km dengan waktu 2 jam kurang sedikit. Buktinya kami sampai di Bundaran Kota Ampah sekitar pukul 11.00.

Kami sempat membatalkan niat tidak mampir di Kota Ampah karena mengejar ketertinggalan waktu. Namun kembali ke perencanaan di malam sebelum berangkat, kami akan mampir ke rumah Ali, sahabat yang juga saudara se-Kampus di Martapura yang sedang berada di rumah mertuanya di Kota Ampah, dia dari Samarinda, istrinya yang dari Kota Ampah. Perlu saya rincikan lagi?

“Masih banyak waktu untuk singgah. Bagaimana?,” ujar Bungker.

“Apakah ada jaminan kita akan sebentar saja?” balasku bertanya.

“Tidak ada. Aku jamin kita pasti ditahan!”

“Maksudmu?”

“Kita akan ditahan. Tak sekadar minuman, cemilan, bahkan mungkin segala suguhan makanan yang akan menahan kita. Bahkan kita mungkin disediakan tempat tidur untuk beristirahat.”

“Sebaik itu kah? Jangan lupa, Aku juga mengejar deadline sebelum pukul empat. Kita harus sudah sampai ke kota yang kuat jaringannya untuk aku membuka email. Aku sudah menyiapkan berita wajib yang kukirim sore ini untuk terbit besok,” tegasku dengan niat agar perjalanan terus berjalan dengan lancar.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mengenal Ali. Tapi Bungker, Haji Udin, dan Obol sebagai angkatan setelahku di kampus lebih sering bercengkrama dan berbagi rasa bersama baik itu seputar urusan kampus dan kekeluargaan lainnya. Banyak cerita yang saya tidak bisa nimbrung terlalu banyak nantinya.

Saya tak menyangka jika peringatan Bungker sebelumnya menjadi kenyataan, saya juga menyayangkan karena saking nikmatnya santap siang ala desa, lupa memotonya, saya juga sangat menyayangkan… ah terlalu banyak sayang di Kota Ampah. Sayang… (bersambung)

 

 

 

 

 

Ar-Rumi Rayakan Harlah di 2 Lokasi

Brosur Harlah 13 cx6.jpgMARTAPURA, hirangputihhabang Jika tak ada aral melintang, Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam Martapura akan melaksanakan perayaan hari lahir yang ke- 13 di dua lokasi yakni Q Mall Kota Banjarbaru dan Aula Kampus STAI Darussalam Martapura di Jalan Perwira, Tanjung Rema.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Pelaksana Rajuk Rahman kepada penulis hirangputihahabang.wordpress.com. Dikatakannya, saat ini sedang menyiapkan berbagai macam persiapan tampilan di Q Mall yang dimulai pada sore Sabtu, (23/4), pukul 14.00 Wita hingga malamnya pukul 22.00 Wita.

“Jika pada perayaan harlah seblumnya kami menggelar sejumlah lomba, maka perayaan tahun ini sedikit berbeda. Dalam perayaan tersebut juga melibatkan sejumlah komunitas teater kampus dan pelajar andil dalam pementasan dan penampilan di panggung gratis. Dan juga acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Maka dari itu saya mengharapkan segala kalangan baik itu undangan fisik maupun undangan berantai bisa turut meramaikan perayaan ini,” ucapnya.

Sedangkan pada Rabu malam, (27/4), akan dilaksanakan perayaan puncak yang menampilkan sejumlah kesenian dari Ar-Rumi, Teaterikal Puisi, Hajir Marawis, Madihin Kontemporer, dan Teater Surealis berjudul Huda yang disutradarai oleh H Muhammad Ihsan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan pertunjukan terbaik. Tak lupa kami turut mengundang semua pelaku dan penikmat seni se-Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

3030, Pertunjukan Holografik dari Tri

P3 - Dewi Drupadi dengan Teknologi Holografik

 

PT Hutchinson 3 Indonesia telah meluncurkan pertunjukan spektakuler bertajuk 3030 Show di Kota Banjarbaru, Jumat, (13/6), di Lapangan sepakbola Unlam Jl A Yani km 34, Simpang Empat Banjarbaru, kemarin. Setiap hari, pertunjukkan ini mampu menjaring 1000 orang pengunjung.

Head of Brand Communication Andi Djoewarsa menuturkan, kegiatan masih bisa dinikmati sebagai pengalam menarik bagi masyarakat Kalsel hingga 18 Juni 2014 mendatang.

“Tak hanya itu, saat ini Tri sedang Gelar Uji Coba Teknologi LTE di Frekuensi 1800 Mhz, Tri memantapkan posisinya sebagai salah satu raksasa provider data di Indonesia. Uji coba ini berlangsung selama tiga bulan sejak 1 Mei hingga 31 Juli 2014 di DI Yogyakarta dan Bali,” katanya.

P2 - Arena Pertunjukan 3030Dijelaskannya, produk bertajuk AlwaysOn dari Tri telah dinobatkan sebagai The Best Data Plan pengakuan atas layanan data bergeraknya. Hal tersebut diberikan pada gelaran Indonesia Cellular Award 2014 (ICA 2014) pada tanggal 8 Juni 2014 lalu.

“Ajang tahunan penganugerahan kepada pelaku industri telekomunikasi Indonesia ini digelar oleh Tabloid SINYAL, dan Majalah FORSEL bekerjasama dengan Dyandra Promosindo dan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI). Tentu saja penghargaan diberikan berdasarkan pilihan konsumen Indonesia secara online melalui situs resmi Gramedia Majalah, Kompas Gramedia Group atau lewat situs Yahoo Indonesia,” terangnya.

P1 - Tokoh Punakawan SemarDiakuinya, menjadi suatu kehormatan bagi atas penghargaan yang diberikan oleh Tablod SINYAL, dan Majalah FORSEL dalam ajang Indonesia Cellular Award 2014.

ananda_pertunjukan panggung laser man dance dan teater komedi provider tri memberikan produknya2“Apresiasi yang tinggi kami berikan bagi masyarakat atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Penghargaan ini bukanlah tujuan akhir, tetapi menghadirkan layanan telekomunikasi inovatif terbaik kepada para pelanggan merupakan landasan utama kami,” ungkapnya.

Penganugerahan tersebut, jelasnya, diberikan melalui tiga tahap diawali dengan usulan dan seleksi untuk menentukan nominee dari 18 kategori dari dewan juri. Disusul dengan tahap rekonfirmasi data nominee pada setiap kategori.

ananda_pertunjukan panggung laser man dance dan teater komedi provider tri memberikan produknya“Tahap terakhir adalah proses voting yang berlangsung selama dua minggu. Konsumen dapat menentukan pilihannya melalui microsite yang tersedia di lebih dari tujuh website yang berada di bawah naungan Gramedia Majalah, Kompas Gramedia Group atau lewat situs Yahoo Indonesia. Mekanisme voting adalah satu orang untuk satu suara,” katanya.

Hingga batas akhir, terkumpul 13.208 vote yang selanjutnya diteruskan dengan sidang paripurna dewan juri untuk memastikan keabsahan pemenang yang merupakan murni hasil voting dari konsumen Indonesia.

“Oleh sebab itu, ICA 2014 merupakan satu-satunya ajang penghargaan yang melibatkan 100 persen konsumen dan tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Tri telah menghadirkan beragam layanan berbasis data yang memberikan pengalaman baru dalam berinternet. AlwyasOn merupakan salah satu layanan mobile internet yang telah dinikmati para pelanggan setia Tri sejak tahun 2012 hingga saat ini,” jelasnya.

AlwaysOn memberikan fleksibilitas karena memiliki masa berlaku sampai 12 bulan, sehingga pelanggan Tri tidak perlu khawatir kuota tidak dapat dipakai atau hangus sia-sia.

“Pelanggan mendapatkan bonus kuota 50 MB per bulan dan gratis akes ke 11 situs popular tanpa memotong pulsa maupun kuota. Pelanggan juga tidak perlu khawatir mengalami penurunan speed ketika kuota habis,” tambahnya.

Tri berkomitmen untuk menghadirkan kebebasan berinternet bagi Indonesia, mengkombinasikan akses cepat dan layanan yang lebih mudah digunakan. Ditambahkannya, Tri telah memperluas jangkauannya hingga mencakup sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia dengan jumlah pelanggan sebanyak 40 juta (per Q1 2014).

“Jaringan Tri diperkuat oleh 33.219 BTS, 14.512 diantaranya adalah BTS 3G yang terbentang di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Cakupan layanan HSDPA Tri telah melayani lebih dari 86% populasi penduduk Indonesia dengan sinyal di 278 kabupaten/kotamadya di 25 provinsi. Tri terus mengembangkan berbagai inovasi dan terobosan yang memaksimalkan keseluruhan pengalaman pengguna dalam menikmati layanan mobile internet,” pungkasnya.

Kekuatan Anak Muda Dalam Novel Kebisingan Hati karya Ananda Rumi

Kebisingan Hati_Ananda Rumi_Thumbnail Cover ReszeKebisingan Hati

Oleh: Ananda Rumi

Rilis : 2014
Halaman : 177
Penerbit : OnOff Project

Bahasa : Indonesia

 

“Semuanya terwujudkan dari mimpi yang terkadang dinilai sepele…

…jika ia memang gigih untuk menggapainya”. (hal.150)

Dalam beberapa minggu terakhir ini, teman-teman yang berdomisili di banjarbaru masih hangat membicarakan sebuah Novel karya Nanda dengan cover depan bergambar sebuah es krim bertuliskan Juice Heart Noise, yang mungkin tidak asing bagi muda-mudi pecinta musik lokal (band Indie), karena memang itu salah satu lambang sebuah band Indie dengan nama Juice Heart Noise tersebut.

 

Kebisingan Hati, kisah beberapa remaja menuju proses pendewasaan dalam menentukan arah hidup dan menemukan cara untuk menggapai sebuah mimpi. Sebuah novel yang cukup ringan, bahkan bagi seorang yang kurang suka membaca sekalipun. Kisah percintaan penuh konflik dan sekitar kesenangan bermusik tentu akan membuat pembaca betah berlama-lama memelototi tiap kata di dalamnya.

 

Mengisahkan tentang Andra dan Verda dua remaja yang terlihat sebagai pasangan serasi, mungkin sempurna, bahkan sering membuat orang sekelilingnya iri melihat mereka. Namun hal yang terlihat di luar tak selalu sama dengan hal yang ada di dalamnya. Bahwa hubungan mereka tak sesempurna yang orang lihat.

 

Andra remaja pindahan dari Jakarta ke Kalimantan, digambarkan sebagai seorang pria tinggi berbadan langsing, cerdas, keras kepala, bisa dibilang pria kutu buku berpenampilan keren. Anak kuliahan yang memiliki hobi bermusik namun juga berambisi menjadi wartawan.

 

Verda juga bukan orang asli Kalimantan, ia remaja pindahan dari  Medan. Andra dan Verda kuliah di kampus yang sama, Kampus Hijau. Sebuah kampus di daerah Martapura. Disanalah cinta mereka dimulai, berawal dari pertemuan di acara OSPEK mahasiswa. Di kampus itu pula awal Andra bertemu Ezha, Oliel, dan Udud yang akhirnya sepakat untuk membuat sebuah band. Band yang mereka bentuk ini berkembang dari nol sampai band mereka memunyai fans. Band yang dianggap Oliel sebagai tujuan hidupnya, bahkan Oliel rela berhenti dari pekerjaannya demi band itu.

 

Hubungan Andra dan Verda baik-baik saja sebelum Andra yang berprofesi sebagai freelanceyang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sebagai pemain gitar bass sebuah band yang iya buat bersama teman-teman sekampusnya. Andra semakin larut dalam kesibukannya hingga Verda merasa kehilangan Andra sebagai kekasihnya. Sampai-sampai ia merasa lebih nyaman berada di sisi Erland, penjual Drugslangganan Verda yang dulu juga pernah menyatakan cinta kepadanya. Hal ini yang membeuat hubungan Andra dan Verda tak seindah yang orang liat.

 

Verda yang ketergantungan drugstak bisa lepas dari Erland. Namun tak ada yang tau akan hal itu. Alanis, sahabat Verda yang bekerja di salah satu majalah ternama itu pun tak tau, apalagi Andra yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan karena kesibukan Andra dan ambisinya untuk menjadi seorang wartawan, membuatnya keluar dari bandnya yang mereka namai JUICE HEART NOISE. Akankah cinta Andra dan Verda dapat bertahan, Apakah JUICE HEART NOISE tetap bertahan dengan keluarnya Andra?

 

Setelah membaca novel ini, saya berandai-andai novel ini akan difilmkan untuk memberi warna di dunia perfilman Indonesia yang akhir-akhir ini didominasi oleh film-film bergenre horor-komedi. Yang tentunya film yang akan kaya dengan pesan moral. Seperti salah satu film Thailand kesukaan saya SuckSeed.

 

Ananda cukup handal dengan tulisannya membawa pembaca seperti menonton kisah di dalamnya. Andra, diambil dari nama panggilannya sendiri. Ezha, Oliel, dan Udud juga diambil dari nama teman sekampusnya yang memang mereka berempat peernah tergabung dalam sebuah band.

 

Meskipun novel ini cukup ringan, namun isinya penuh makna. Seperti, impian adalah salah satu dan satu titk awal dari goresan pena kehidupan yang akan anda tulis, impian juga merupakanbahan bakar manusia untuk tetap bisa bersemangat dalam menjalani hidup. Hingga hidup ini tidak  tanpa arah dalam menjalaninya, namun ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Upaya meraih impian tersebut mungkin tidaklahmudah, dan tidak semulus pipi bayi, tapi tetap terus diperjuangkan. Jugaperhatiandalam sebuah hubungan adalah jantungnya percintaan, yang tampanya sebuah hubungan tidak akan terasa nyaman.

 

Bagi para pemusik mungkin novel ini ingin berkata, “kebersamaan adalah pondasi utama dalam sebuah band, Sebuah band bukan kendaraan yang ditunggangi beberapa orang untuk mincapai mimpi seseorang, namun untuk mencapai tujuan bersama”…

 

@EzhaMahesa